I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 42



Manik indah berwarna coklat milik wanita berparas cantik itu, perlahan terbuka, menyambut cahaya lampu di retinanya. Bola matanya berputar, menyusuri ruangan yang sunyi nan dingin.


Wanita itu melenguh, merasakan kepalanya yang berdenyut sakit. Lenguhan halus itu, rupanya sanggup membangunkan sosok lelaki yang tertidur di sisi kanan Safira. Pria itu segera menegakkan tubuhnya, yang awalnya bersandar di brankar.


"Dave.... bayi kita...." setelah Safira menyadari penyebab mengapa ia berada di sini, wanita itu histeris. Tangan mungilnya memeluk perutnya yang masih menonjol dan keras.


"Sstt... jangan menangis. Bayi kita tidak apa-apa." Dave menggenggam kedua tangan wanita itu, menciumnya serta mengusap dengan sangat lembut, agar Safira tenang.


Mendengar itu, Safira tidak histeris lagi, meski air mata tetap masih mengalir dengan deras.


"Dia masih di sini? Bayi kita baik-baik saja kan?" cecarnya masih belum yakin.


Dave mengangguk, mengusap kepala wanita itu lembut, "Dia masih di sini. Dia baik-baik saja."


Safira akhirnya bisa bernafas lega, namun dalam dirinya masih diliputi oleh perasaan bersalah. Karena dirinyalah biang dari kejadian ini. Kalau saja dia menurut dan tidak kekeuh dengan keinginannya, mungkin ini semua tidak akan terjadi.


"Maafkan aku... Aku yang salah. Aku bodoh, seharusnya aku menurutimu..." wanita itu mulai menyalahkan dirinya sendiri.


"No, kau tidak salah. Aku yang salah. Tidak seharusnya aku memarahimu hanya karena kelinci itu."


Safira terdiam, rasa bersalah itu semakin besar dalam hatinya. Sudah jelas-jelas dirinya yang salah di sini, tapi Dave malah menyalahkan dirinya sendiri.


"Dave..." lirihnya. Wanita itu akan menangis, tetapi sebelum itu terjadi, Dave segera mengecup bibir ranumnya. Hanya menempel saja, tapi itu terjadi cukup lama.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Tapi berjanjilah, jangan berlari-lari seperti tadi. Ingat, di sini ada calon anak kita." Dave meraba perut buncit itu.


"Jangan sedih, proses persalinanmu tergantung usahamu memulihkan diri dalam dua bulan ini. Lagi pula aku tidak peduli kau melahirkan secara normal atau caesar. Yang kupedulikan adalah, kau dan bayi kita selamat." jelasnya sambil mengusap surai panjang milik wanita itu.


"Mungkin hari ini kita masih beruntung, Tuhan tidak mengambil bayi kita. Tapi besok, tidak ada yang tahu. Maka dari itu, berjanjilah, demi anak kita."


Safira mengangguk cepat, "Emm. Aku janji. Aku akan menjaga bayi kita dengan baik."


Dave tersenyum, yang turut memancing senyum manis Safira.


"Terima kasih Dave. Kalau saja kau tidak ada, mungkin aku akan kehilangan anak ini."


"Auu..."


Safira meringis, pasalnya Dave menyentil keningnya. "Apa maksudmu? Anak ini juga milikku, untuk apa kau berterima kasih. Sudah menjadi tanggungjawabku melindungi kalian berdua." ucap Dave dengan nada kesal.


"Tapi..."


"Tapi tunggu..." Dave memotong ucapannya. "Bukankah seharusnya kau senang, jika sampai terjadi apa-apa dengan anak ini?" tanya pria itu.


Kening wanita itu berkerut dalam, "Apa maksudmu Dave?"


"Aku masih ingat saat kau sangat ingin menggugurkan bayi ini agar bisa bebas dariku. Tapi kenapa sekarang, kau bersikap seolah kau sangat menyanginya dan takut kehilangan anak ini?"