
Entah apa yang ada dalam pikiran Dave saat ini, hingga berniat membawa Safira pergi dari Jerman. Tidakkah lelaki itu tahu konsekuensi yang akan dia bayar tidak akan mudah.
Bara Pramana, sosok yang akan dia hadapi jika sampai dia ketahuan. Tentu Dave tahu betul seperti apa Bara ini. Tidak kenal ampun, maka sekali Dave akan merasakan amarah pria itu.
Tetapi kali ini, Dave tidak peduli sama sekali. Dave nekat, ia ingin Safira berada di sisinya, tanpa peduli Bara yang tidak akan melepaskannya suatu saat nanti.
Andai saja dia memiliki celah untuk bertemu Safira, tentu dia tidak akan seberani ini. Andai dia diberi kesempatan untuk mengambil hati wanita itu secara perlahan, dia tidak akan melakukan pemaksaan seperti saat ini.
Dave kehabisan akal, menggunakan anak buahnya untuk mengawasi Safira, tidak membuatnya puas. Dia ingin menjaga Safira dengan tangannya sendiri.
"Jangan gila! Aku tidak akan pergi kemana-mana! Aku mau pulang!" teriakan Safira masih histeris di kamar perawatan itu.
Sementara Dave yang menjadi objek kemarahannya tidak bergeming. Namun pikirannya berputar bagaimana caranya agar Safira mengerti niatnya.
Dave bukanlah sosok lelaki yang lembut. Lelaki itu tidak terbiasa memahami seseorang, malah dia sendiri yang harus dipahami oleh orang lain. Oleh sebab itu, saat ini dia hanya bisa memaksakan kehendaknya, tanpa tahu bahwa sebenarnya wanita ini akan luluh hanya dengan kelembutan.
Dave melirik perawat yang baru saja masuk, mengisyaratkan agar melakukan tugasnya. Mengerti maksud dari Dave, dua orang perawat mendekat, dengan sigap menahan Safira yang histeris, dan kemudian segera menyuntikkan obat penenang di lengannya.
Tidak butuh waktu lama, Safira kehilangan kesadarannya. Dave tidak punya pilihan lain, jika dia membawa Safira dalam keadaan sadar, rencananya akan gagal. Bahkan kemungkinan malah akan mencelakai bayi mereka.
***
Di dalam sebuah kabin pesawat, Dave tengah bicara dengan seorang anak muda yang sepertinya sepantaran dengan dirinya. Keduanya bicara cukup akrab, terlihat seperti sudah lama saling mengenal.
"Kau tenang saja, aku pastikan Bara tidak akan bisa menemukanmu." ujar lelaki yang cukup tampan dengan mata hijaunya yang tajam.
Ardon Cassano namanya. Salah satu dari pemilik gelar cassanova sejati, yang merupakan sahabat Dave sejak kecil. Ardon adalah putra dari pemilik perusahaan pasar bisnis komersil yang menguasai hampir seluruh dari negara bagian Eropa.
Dave yang kini benar-benar kesulitan memperjuangkan wanitanya, akhirnya mengambil keputusan untuk meminta bantuan sang sahabat. Dave yakin Ardon bisa membantunya, karena Ardon sama jayanya seperti Bara.
Nama perusahaan mereka tersohor dimana-mana, sehingga mereka begitu disegani dan dihormati. Tidak ada yang berani mengusik mereka, karena akan dipastikan orang itu akan hancur dalam sekali serangan.
Dengan bantuan Ardon, Bara pasti tidak akan mudah menemukannya, begitu pun menghancurkan perusahaan keluarganya.
Dave mengangguk, "Terima kasih Ardon. Tapi aku juga ingin kau melindungi perusahaan Daddy-ku dari Bara. Karena aku tahu, Bara akan mengancamku dengan kehancuran perusahaan keluarga kami."
"Kau seperti tidak tahu siapa aku saja. Sudah kubilang, fokus saja mengambil hati wanitamu. Karena jika kau sudah memenangkan hatinya, maka semuanya akan mudah."