I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 44



Tawa Safira terdengar nyaring di dalam kamar VIP yang hanya dihuni oleh dirinya dan Dave. Wanita itu tengah asik menonton kartun dari brankarnya, tidak peduli pada Dave yang keheranan melihatnya.


Bagi Dave, Safira adalah sosok wanita kaku, tanpa ekspresi dan cukup dingin untuk wanita seumurannya. Sejak bertemu, Dave tidak pernah melihat Safira tertawa selepas ini.


"Kau tertawa hanya karena boneka itu?" Dave menimpali.


Safira menoleh, masih tersisa sisa tawa di wajahnya. "Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Padahal, sebelumnya aku tidak suka menonton kartun."


Dave menggelengkan kepalanya, dia yang tadinya duduk di kursi kini berpindah ke brankar. Kemudian menarik Safira agar bersandar padanya.


Salah satu tangannya masuk ke dalam baju longgar Safira, kemudian mengelus buah hati mereka.


"Anak ini mengubah dirimu dengan sangat drastis. Apakah kau menyadari itu?" tanya Dave.


Safira berpikir sejenak, kemudian mengangguk, mengiyakan ucapan Dave. Dirinya memang mengalami banyak perubahan sejak memiliki bayi ini dalam perutnya. Dimulai dari tingkah lakunya, selera makan hingga hobinya pun berubah. Tidak lupa, rasa ingin selalu dekat dengan ayah sang bayi, Safira pun merasakannya.


"Apakah kau marah?" tanya Dave.


"Kenapa aku harus marah?" mengangkat alisnya.


"Dia sudah terlalu banyak merepotkanmu. Mungkin aku belum mengenalmu sepenuhnya. Tetapi dari yang kulihat, kau adalah sosok wanita yang memiliki kehidupan yang datar. Kau begitu kaku dalam kehidupanmu, tidak ada tawa, tangis atau hal lainnya. Dengan hadirnya bayi ini, kehidupanmu berubah seratus delapan puluh derajat."


"Aku tidak merasa direpotkan, satu hal yang harus kau ketahui." sanggah Safira.


"Kau tahu, sebenarnya aku tidak pernah membenci anak ini. Hanya saja, aku benci kenyataan bahwa ayah dari bayi ini adalah seorang cassanova bajingan." ucap Safira telak.


Dave yang awalnya memiliki banyak kata untuk diucapkan, seketika terdiam. Hatinya yang dulu merasa senang menindas dan mempermainkan wanita, tersentil. Matanya menatap Safira intens.


Safira adalah wanita suci, yang dikotori oleh dirinya yang telah menyentuh entah berapa banyak wanita di luaran sana. Sangat tidak pantas memang.


"Maaf." ucap Dave lirih.


Keduanya diam dalam waktu yang lama, berlarut-larut dalam pikiran masing-masing.


"Kapan kau akan membebaskanku?" tanya Safira, mengisi kesunyian di antara mereka.


Dave yang tadinya merutuki perbuatannya di masa lalu tersadar.


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak berniat membuatku menjadi tawananmu selamanya bukan?"


Dave meraup oksigen dalam-dalam, "Safira, kurasa kita sudah membahas ini. Apakah kau masih belum mengerti ucapanku tempo hari?" suara yang tadinya lembut, kini tak bersahabat lagi.


Karena tidak ada jawaban dari Safira, Dave menangkup wajah wanita itu, dan mengunci pandangannya.


"Tatap mataku Safira! Dengarkan aku baik-baik dan sematkan dalam memorimu!" tegas Dave. "Hari dimana kau mengandung bayiku, hari itu juga, kau sudah menjadi milikku sepenuhnya. Kau hanya akan berada di sisiku selamanya, dan tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku, termasuk kakakmu! Mengerti?"


Kening Safira berkerut, bukan ini yang ingin dia dengar. Wanita itu tidak suka pemaksaan seperti ini.


"Kau egois Dave! Aku membencimu!" sentak wanita itu.