
Sementara di kediaman keluarga Pramana, kebahagiaan tengah meliputi keluarga besar itu. Bagaimana tidak, karena sebentar lagi, rumah ini akan diramaikan oleh hadirnya dua cucu yang akan menjadi penerus keluarga ini.
Safira dan Rara, kedua wanita hamil ini begitu kompak dalam masa kehamilan mereka. Hampir setiap waktu mereka habisnya waktu bersama. Seperti mengikuti kelas senam khusus untuk ibu hamil, konsultasi ke dokter yang sama dan banyak hal lainnya.
Davina sebagai calon nenek, dengan senang hati membimbing kedua putrinya. Dia menikmati setiap momen bersama kedua putrinya.
Akan tetapi Davina lebih banyak memberikan perhatiannya pada Safira. Kehamilan pertama Safira ini cukup berbeda dari Rara. Safira sering mengalami muntah di pagi hari dan merasa pusing. Safira lebih sensitif dari sebelumnya, terutama saat mencium bau yang tidak enak.
Apalagi Safira tidak memiliki suami yang selalu siap siaga menjaga dan merawatnya. Oleh karena itu, Davina selalu ekstra siap di sisi putri keduanya tersebut.
Sore itu, Bara baru saja pulang dari pekerjaannya. Tentu saja pria itu langsung mencari istri tercintanya yang sangat dia rindukan satu harian ini.
"Sayang, apa yang kalian lakukan?" rupanya Rara sedang melihat-lihat pakaian bayi di sebuah katalog dari internet.
"Kakak sudah pulang?" Rara memeluk suaminya. Sementara Bara mengusap kepala Safira lembut. Safira tersenyum hangat, Bara juga sangat perhatian padanya. Dia tidak pernah membiarkannya merasa sendirian.
"Kalian sudah makan?" tanya Bara.
Kedua wanita hamil itu mengangguk dengan kompak, "Tapi kami masih lapar."
Bara menggelengkan kepalanya, kemudian meletakkan sebuah paper bag di atas meja. Bagai memenangkan lotre, kedua wanita yang tengah berbadan dua itu dengan semangat membuka paper bag yang ternyata berisi makanan.
"Terima kasih Kak."
"Makanlah. Kakak melebihkan porsinya." ujar Bara.
"Sekali lagi aku minta maaf Davina. Putraku memang jahat. Aku tidak bisa mendidiknya dengan baik." terdengar suara isak tangis dari seorang wanita paruh baya, berwajah sendu penuh kesabaran.
Di hadapannya, Davina duduk dengan wajah datar. Wanita itu adalah Ilyana, ibu kandung dari Dave, yang tiba-tiba menghubunginya pagi ini dan mengajaknya bertemu.
Awalnya Davina menolak, tetapi saat terakhir dia melihat Ilyana di Spanyol, Ilyana terlihat menyedihkan akibat ulah putranya yang bajingan.
Lihat kerutan di wajah wanita itu, Davina tahu kerutan itu muncul begitu cepat karena menghadapi putranya yang sering berulah.
Davina kasihan pada Ilyana, beruntung dirinya memiliki anak-anak yang baik dan selalu patuh padanya.
"Jangan berkata seperti itu. Kita sebagai orang tua sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik anak-anak kita dengan baik. Dan aku yakin kau juga melakukan hal yang sama. Mungkin, putramu tidak menerima didikan itu dengan baik, hingga dia menjadi seperti sekarang." ucap Davina, tidak ingin membuat mental seorang ibu penyabar seperti Ilyana, hilang.
Ilyana masih terisak, penuh penyesalan memohon ampun atas nama putranya.
"Biarkan putraku bertanggung jawab Davina. Biarkan Dave menanggung semua perbuatannya." pinta Ilyana.
Davina menggeleng, "Tidak semudah itu Ilyana. Aku menghargai pertanggungjawaban putramu. Tapi trauma pada putriku akibat perbuatan putramu masih membekas sampai sekarang. Saat ini, mental putriku terguncang. Apakah kau tidak berpikir, bagaimana nantinya reaksi putriku jika tahu dia akan dinikahkan dengan orang yang telah memperkosanya?" cetus Davina.
Ilyana mengangguk, mengakui kebenaran perkataan Davina. Perbuatan putranya memang tidak bisa ditoleransi sedikit pun.
"Lalu bagaimana dengan nasib putrimu nantinya? Bagaimana jika orang-orang tahu dia hamil tanpa suami? Dan bagaimana nanti jika cucu kita lahir, tanpa hadirnya seorang ayah?" Ilyana mencoba bernegosiasi. Dia merasa bertanggung jawab penuh atas penderitaan Safira.
"Kau tenang saja. Segala masalah yang akan terjadi sudah kami tindaklanjuti dari jauh-jauh hari. Itu adalah urusan kami. Jadi aku harap kalian tidak mengganggu kehidupan putriku lagi. Biarkan putramu dan putriku memiliki kehidupan masing-masing, karena dari awal kalian hanyalah orang asing bagi kami."