
Sebelum pagi menjelang, Safira segera beringsut dari tempat tidurnya. Wanita itu sedikit kesulitan menyingkirkan tangan Dave yang memeluk tubuh polosnya.
Keningnya berkerut dalam, merasa risih di seluruh tubuhnya yang lengket akibat keringat yang dihasilkan dari pergulatannya bersama pria di sampingnya.
Safira ingin mengumpat, merutuki Dave yang semena-mena padanya. Dia benci perasaan ini. Dirinya sangat membenci pria ini, tetapi dengan mudahnya ia membiarkan Dave menyentuhnya.
"Mau kemana?" saat Safira akan meninggalkan ranjang, rupanya Dave terbangun. Pria itu menahan tangannya.
Safira menarik tangannya paksa, tanpa menjawab pertanyaan Dave, dia pergi melenggang ke dalam kamar mandi.
Dave mendudukkan tubuhnya bersandar di kepala ranjang. Pria itu masih belum melepas pandangannya dari pintu kamar mandi. Terdengar suara gemericik air, membuat pria itu mengerutkan keningnya.
Beberapa menit kemudian, Safira keluar hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Kenapa mandi sepagi ini? Kau bisa masuk angin." Dave menginterupsi Safira yang tengah sibuk memilih pakaiannya dari lemari.
Safira tidak bergeming, tidak peduli sama sekali ucapannya. Dave berdecak, entah mengapa dia tidak suka Safira mengabaikannya. Pria itu bangkit dari ranjang, menghampiri Safira dalam diam.
Pria itu berdiri tepat di belakang Safira, membuatnya lebih leluasa mengamati wanita itu. Pandangannya tertuju pada bahu putih yang terpampang nyata di depannya.
Dave menelan ludahnya susah payah. Dave merutuki dirinya, gairahnya tersulut hanya karena pemandangan bahu saja.
"Astaga!" teriak Safira yang terkejut ketika dia berbalik, mendapati Dave yang entah kapan di belakangnya.
Wanita itu hampir terjatuh, tetapi Dave segera menangkapnya.
"Hati-hati." lirihnya.
Safira segera melepas dirinya, "Kau yang salah! Kenapa tiba-tiba berdiri di belakang!" wanita itu mendengus.
"Maaf." Dave tidak marah ketika Safira mengomel. Justru dia malah senang Safira menunjukkan ekspresinya, biar itu kemarahan sekali pun.
Safira mendesau, kemudian menyingkir dari hadapannya. Namun Dave tidak membiarkannya, pria itu merebut pakaian Safira, lalu membentangkannya.
"Kenapa masih memakai celana sempit ini? Bukannya aku sudah membelikan baju hamil untukmu?" protes Dave.
Safira diam, sebenarnya dia tidak tahu bahwa dia salah mengambil baju. Semua itu karena mata Dave yang selalu mengawasi setiap pergerakannya, membuatnya gugup hingga tidak fokus.
Dave melempar baju itu ke sembarang tempat, kemudian membuka kembali lemari dan mengambil sebuah gaun hamil sepanjang betis.
"Pakai ini." memberikan gaun padanya. "Dan mulai besok jangan sampai aku melihat kau memakai pakaian kekecilan lagi. Jangan menyiksa anak kita!" cetusnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Hari sudah mulai terang, Safira menghabiskan waktunya hanya di kamar saja sambil menonton televisi. Sementara Dave di sofa sedang bekerja dengan laptopnya sambil mengawasinya.
Sebenarnya Safira tidak menikmati acaranya, tetapi tidak ada yang lebih menarik yang bisa mengurangi kebosanannya.
"Aku akan mengambil sarapanmu." ucap Dave, mengalihkan perhatiannya.
Sebelum pria itu keluar dari kamar, Safira menegakkan punggungnya.
"Tunggu." wanita itu menyimpan keraguan.
"Ada apa?"
Safira diam cukup lama, "Biarkan aku keluar dari kamar ini." pintanya.
Dave mengerutkan keningnya, "Kumohon. Aku sangat bosan hanya berada di kamar terus. Aku ingin keluar, dan beraktifitas di rumah ini."
Safira menunjukkan wajah semenyedihkan mungkin, berharap Dave menuruti permintaannya.
Tapi nampaknya Dave masih ragu, membuat Safira mengerahkan segala usahanya.
"Aku tidak akan lari." mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, tanda perjanjian. "Aku janji. Aku hanya akan berkeliling rumah ini saja."
Tanpa Safira sangka, Dave mengusap kepalanya. Pria itu tersenyum, "Baiklah, kau boleh keluar dari kamar. Tapi jangan coba-coba menginjakkan kaki di gerbang pintu masuk." cetusnya.