
“Mamah!”
“Fallden, anak siapa yang kau bawa, ke kediamanku, Hah? Kenapa ia memanggilku, Mamah?!”
Aku berteriak, sambil mencakar-cakar dan menjambak rambut Fallden yang saat ini tengah bersujud di bawah kakiku. Berulang kali aku mengulang gerakan yang sama seperti yang sebelumnya. Menjambak lagi, kemudian mencakar lagi. Begitu seterusnya. Sampai Fallden mengeluh. Harus!
“Mamah! Jangan begitu. Nanti, papah sakit, loh!”
Lagi-lagi suara bocah itu terdengar. Aku melepaskan tanganku yang berada di kepala Fallden. Kemudian menatap bocah itu sengit. Aku bukan Mamahmu, loh kak. Ya Tuhan. Aku masih jomblo, dan tiba-tiba punya anak? Kau pikir akun ini bagaimana hah? Dasar Fallden gila!
“Aku bukan, Ibumu, Nak. Sudah berapa kali aku katakan.” Ucapku lemas. Tanganku menarik tubuh kecilnya lebih dekat padaku.
Menghela nafas sebentar, kemudian menatapnya lembut. Aku pernah mendengar dari beberapa orang. Bahwa ketika menghadapi anak-anak, kita harus berbicara dengan intonasi lembut, dan jangan bersikap kasar di depannya. Ok, poin kedua aku sudah menentangnya. Tapi, itu bukan salahku, toh. Ini salah Fallden. Bukan salahku.
“Hei, Ailena. Apa kau, tidak kasihan dengan anak itu? Lihatlah rambut piringnya yang sedikit kusam. Dan mata birunya yang bercahaya. Bukankah ia terlihat sangat cantik, jika terawat? Dan terlebih lagi warna rambutnya sama denganmu. Orang lain tidak mungkin terpikir kalau dia bukanlah anak kandungmu.” Cuman Fallden. Aku menatapnya sejenak. Berpikir tentang ucapan yang baru saja Fallden katakan.
Benar, aku tidak menyangkal kalau rambut kami memang sama. Tapi, anak? Di usia yang terbilang masih muda? Dan terlebih lagi aku belum debutante. Orang lain pasti akan menganggap aku jelek, dan terhina. Aku pasti akan dijadikan bahan gunjingan di kalangan bangsawan kelas atas.
Oh, no. Aku baru saja menjadi bangsawan, dan harus kembali lagi menjadi orang miskin? Tidak, tidak. Aku tidak mau!
“Tapi, Fallden, aku tidak ---“
“Mamah,”
Aku menoleh, menatap anak lelaki yang saat ini tengah menatapku memelas. Yang entah kenapa membuat jiwa dewasa ku keluar. Ugh, kok kau menggemaskan sekali sih, Nak? Aku sampai ingin membunuhmu, sangking GEMAS-NYA!
“Jangan pergi!”
Tiba-tiba anak lelaki itu maju, dan memeluk kedua kakiku erat. Fallden yang berada di sebelahku, ikut-ikutan memelukku dengan posisi menyamping. Tangannya ia taruh di pingangku. Dan satunya lagi di, pucuk kepala anak itu.
“Kau tidak merasa kasihan dengannya, Ailena? Dia yatim piatu. Dan sepertinya di masa depan, ia akan menjadi sosok yang sangat membanggakan, kau yakin tidak mau?”
Fallden melepaskan pelukannya, kemudian menatap bola mataku lembut. Akun terdiam, benar juga yang dikatakan Fallden. Bagaimana jika di masa depan, anak ini ternyata akan menjadi seorang kaisar di sebuah negara? Atau seorang Archduke? Aku bisa rugi jika orang lain yang mengadopsinya.
Baiklah, mari kita ambil pilihan Ailena.
“Mamah,”
Aku menatap anak lelaki di depanku terpukau. Rasanya saat ini aku seperti tengah berada di tempat yang di kelilingi oleh bunga-bunga mawar di sekitarnya. Ukh, ini romantis sekali, guys.
“Baiklah, baiklah. Berhenti memelas seperti itu. Aku akan mengadopsimu. Tapi, bisa tidak jangan panggil aku, Mamah? Aku merasa sangat tua jika mendengarnya,” ucapku lembut. Berusaha bernegosiasi dengan anak lelaki di depanku. Dan, semoga saja ia mau.
Kalau tidak, aku tarik kembali ucapanku yang mau mengadopsinya.
“Jadi aku harus panggil, apa?”
“Sugar Mommy.”
“Ailena! Tolong dengarkan aku! Kenapa kau terus saja menjauhiku, Hah?”
“Ailena!”
“Aish!”
Aku berdecak, semakin mempercepat langkahku. Ketika mendengar, Fallden yang terus-terusan memekik memanggilku. Dari nada bicaranya, sepertinya Fallden cemburu karena aku meminta anak lelaki kecil itu memanggilku “Sugar Mommy “ sedangkan dirinya “Bapak”.
“Ailena!”
Aku terhenti, menatap ke bawah. Di mana saat ini tanganku sedang di genggam oleh seseorang, dan ketebak itu pasti Fallden.
“Ada apa sih, Fallden?!” tanyaku kesal. Aku menoleh, kemudian menutup mulut. Malu!
Woi, astaghfirullah. Kenapa Fallden tiba-tiba bisa berubah menjadi Robert? Ini gimana ceritanya? Duh, gimana nih? Aku takut ketahuan sudah berpindah haluan. Yang tadinya mengincar Hot dady, malah sekarang mengincar Sugar Dady. Huhuhu ....
Robert menatapku bingung. Tapi, detik berikutnya ekspresi wajahnya berubah. Robert menunduk, dengan bibir yang melengkung ke bawah.
“Kau menyukai, pria uban itu ternyata.”
Aku menggeleng panik. Namun, dalam hati mengangguk. Memangnya siapa sih yang tidak suka sama cogan? Aneh-aneh saja kau Robert!
“Ti-tidak.” Aku menjawab terbata-bata. Takut, Fallden akan mendengarnya. Kemudian menjauh dariku.
Ya setakut itu. Entah, kenapa akhir-akhir ini, kebersamaan kami menumbuhkan sesuatu perasaan perasaan yang aneh di hatiku. Aku tidak bisa menepis perasaan itu. Karena sedari awal, perasaan itu sudah ada, semenjak Fallden yang selalu bertingkah manja padaku.
Aku belum tahu dengan jelas, itu cinta atau hanya sekedar perasaan nyaman yang kebetulan lewat saja. Tapi, untuk sekarang aku tidak bisa berbohong soal itu.
“Kau berbohong.”
Robert menatapku kecewa. Aku menghela nafas kasar. Menatapnya jengkel, kemudian mundur beberapa langkah.
“Baiklah, baik. Aku jujur. Aku memang mulai memiliki perasaan pada Fallden. Tapi, untuk sekarang aku tidak tau, itu perasaan apa. Aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci, untuk sekarang. Untuk besok, mungkin aku tidak tahu.” Kelanjutan dari kalimat itu hanya bisa aku ucapkan di dalam hati.
Biarlah Robert dengan perasaannya, dan aku dalam perasaanku sendiri. Sebab aku juga masih tidak yakin dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Ikhlas? Aku belum sepenuhnya ikhlas harus hidup di dunia ini.
Menyukai seseorang? Itu mungkin benar adanya. Karena hatiku perlahan-lahan, mulai merangkai na seseorang di dalam sana. Tapi aku belum tahu, ia akan merangkai nama siapa.
Apakah ia akan merangkai nama, Fallden? Robert? Atau Zyuren? Pria yang pernah, sangat-sangat mencintai Ailena. Namun, mati dalam kondisi mengenaskan. Hanya karena kecintaannya pada, Ailena.
Aku jelas-jelas belum bisa menerima semuanya dengan sepenuh hati. Karena faktanya, di suatu bagian tertentu. Aku masih berharap bisa kembali, ke duniaku sebelumnya. Aku masih berharap, bisa bebas, tanpa segala peraturan yang menghadang. Seperti di dunia ini.
Aku ingin kembali, tapi rasanya juga aku ingin tinggal.
“Ternyata memang benar.” Robert menunduk. Menggerakkan tangannya, menghapus sebuah genangan air yang sudah membasahi pipi tirusnya.
Aku tersentak. Seketika aku merasa seperti, seorang PHP saat ini.
“Baiklah, jika kau memang sudah menyukainya. Tapi, jika nanti kau bosan. Kau bisa kembali padaku, karena aku akan menunggumu, sampai kapanpun!”
Aku menatap koran yang saat ini di baca oleh Fallden datar. Bagaimana tidak, karena di halaman pertama koran tertera kalimat yang sangat-sangat membuatku kesal.
“Berita terhangat pagi ini. Kabarnya, Archaduke Roberto De Sbastianlenio menceraikan seluruh selir yang selama ini menempati haremnya.”
Cih, Robert sialan! Kenapa harus seperti itu bodoh! Jika seperti ini, kau sama saja mempercepat kematianku!
Karena, Ibu dari sang tokoh utama wanita, merupakan salah satu selir Robert, dan jika Robert, menceraikannya. Selirnya pasti bebas. Dan sang tokoh utama wanita pasti akan terbebas dari yang namanya, anak Ryuen (Haram).
Ck, sial! Semoga saja, Fallden tidak berpindah haluan, setelah membuatku mati jantungan. Semoga saja.