I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Lilyana Febrioktar?



“Ailena, kumohon jangan tinggalkan, aku!”


“Ailena!”


“Hei, adik nakal. Jangan tinggalkan, aku yang tampan ini!”


Langkahku terhenti. Menghela nafas sebentar, kemudian membalikkan badan. Menatap Fallden tajam. Tanganku ku letakkan di leher, kemudian mengarahkannya seperti memberi isyarat, kalau ia ribut akan aku bunuh.


“Hei, Ailena! Kau kenapa sebenarnya?!” Fallden berjalan menghampiriku. Aku melirik nya sebentar, kemudian kembali menghela nafas. Lehernya masih berdarah, dengan wajah yang sangat pucat. Keringat juga terus bercucuran di wajahnya.


Tanganku tiba-tiba bergerak, menghapus keringat yang ada di wajahnya. Fallden terdiam, mengikuti gerakan tanganku yang menghapus keringatnya lembut. Kemudian menjilatnya.


Seketika aku tersadar, dengan ekspresi jijik.


Iyuh, itu bekas keringat loh. Asin! Dan kau malah menjilatnya. Huek ....


“Manis,”


Aku menatap Fallden tidak percaya. Aku mengangkat tanganku kemudian mengendus-endus baunya. Tidak seperti gula. Aku kembali melirik Fallden yang masih menjilati bibirnya. Seketika rasanya aku penasaran, apa bena4 rasanya manis? Tapi kalau dia berbohong bagaimana? Kan gak lucu, kalau aku bilang jijik tapi ikutan jilat. Itu namanya aku jilat ludah sendiri.


“Iyuh, aku menjilatnya?” tanyaku jijik. Fallden mengangguk. Lantas menyodorkan tangannya yang ia gunakan untuk menghapus keringat yang ada di wajahnya ke arah wajahku.


“Kau mau?” Fallden menatapku dengan tampang polos. Aku menggeleng, jijik. Iyu, membayangkannya saja sudah membuatku mual. Apa lagi menjilatnya. Gak akan!


“Ogah!” tolak ku mentah-mentah. Fallden mengernyit. Mungkin merasa tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan.


“Ogah? Apa itu, Ogah?”


Aku mendengus kasar. Menatap Fallden yang terlihat seperti kucing di depanku malas. “Ogah sama dengan Tidak. Paham?” ujarku lemas. Fallden mengangguk dengan polosnya.


Dengan cepat Fallden mengelap tangannya ke baju zirah, kemudian menggandeng tanganku. Fallden menarikku keluar dari istana, namun sebelum itu. Kami pergi dengan meninggalkan sebuah kenangan yang akan membuat kaisar berpikir seratus kali untuk bermain-main dengan keluarga duke.


Flasback.


“KAU YAKIN?” kaisar mengangguk semangat. Aku menunduk lirih, menatap Fallden yang tengah terdiam dengan tatapan tajam.


Detik berikutnya, aku melihat bagaimana Robert sang Singa Kekaisaran takluk dengan seorang pewaris kediaman Duke De Carsius. Robert terbaring lemah di atas ubin emas, dengan darah yang terus saja berkeluaran dari mulutnya.


Sudah bisa di tebak, kalau Fallden menggunakan mantra. Sedangkan kaisar di belakang sana, sudah meneguk ludah dengan ekspresi seperti orang nahan boker. Seketika, aku yang ketakutan, akan kematian merasa ingin tertawa lepas, melihat ekspresi ketakutan Kaisar.


Jarang-jarang loh, aku lihat ada kaisar yang takut sama orang yang derajatnya ada di bawahnya.


Aku diam, namun tertawa di dalam hati. Bahkan tidak hanya tertawa, aku bahkan sampai menghina Kaisar dan Archaduke di dalam hati. Ssutt, cukup kita saja yang tau yah. Orang lain, jangan! Bisa bahaya, kalau ada yang tahu.


“Kau ingin merebut Lily dariku? Kau mau merebutnya?! Tidak cukupkah karenamu, Lily, mati di tanganku sendiri! Tidak cukupkah!”


“Karenamu, Lily mati! Karenamu! Dan sekarang, di kehidupan keduanya. Kau membuatnya, mencari kematiannya sendiri, dengan mencalonkannya sebagai, Kandidat putri Mahkota. Kau tidak waras, Hah?!”


“Lily, dia, dia, dia,”


“Dia bukan bonekamu! Mungkin dulu aku mengikuti keinginanmu karena keinginan, Lilly. Tapi sekarang tidak. Aku tidak mau! Karena Lily juga pasti tidak mau!” Fallden berteriak dengan kencang. Taring dan tanduk tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Aku terdiam, dengan ekspresi kaku. Aku tidak salah dengar kan? Lily, Lily. Itu nama, Adik tiriku yang mati karena pernah menyelamatkanku.


Nama lengkapnya Lilyana Febriokta, tapi aku lebih suka memanggilnya Lily. Selain sifatnya yang mirip seperti Lily. Lilyana juga sangat, baik hati. Dia jarang sekali marah, walaupun aku pernah melemparkan sepatuku ke wajahnya. Aku jahat ‘kan? Iya aku tau.


Kepalanya berbalik menatapku tajam. Seketika aku mengedipkan mataku berkali-kali dengan cepat. E-e-eh, itu-itu gimana? Kok bisa begitu?!


Aku terdiam dengan jantung yang sudah pindah ke usus. Fallden menoleh, membalikkan badannya, hingga selaras dengan kepalanya, menghadapku.


Kemudian dengan kecepatan kilat, berdiri di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku kuat. Tatapannya melembut, menatapku. Aneh. Ini bukan pertama kalinya, aku melihat keanehan Fallden. Namun, sudah ke sekian kalinya. Sikap Fallden ini aneh, tidak sama seperti yang ada di novel.


Di novel, Fallden diceritakan sebagai karakter yang sangat dingin. Tidak bisa merasakan emosi apapun, selain ketakutan. Hanya, emosi itu. Tubuhnya mudah sekali sakit, dan tubuh bagian dalamnya juga penuh dengan luka-luka.


Tapi selama yang aku lihat ini. Tubuhnya baik-baik saja. Bukannya aku sok tau, ataupun bagaimana. Tapi aku bicara sesuai fakta.


Ekhem, sebelumnya Fallden pernah menunjukkan seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang sekalipun di hadapanku. Merona? Ah tidak. Kenapa? Karena saat itu, aku bahkan tidak kepikiran dengan tubuh polos Fallden. Melainkan, aku terpikir dengan luka yang ada di perutnya. Karena bekas goresan yang aku ciptakan.


Dari situlah aku menyadari, bahwa tubuh Fallden tidak terdapat luka serius yang akan menyebabkan dirinya diabaikan tokoh utama wanita.


“Nona?” aku tersentak. Menatap Fallden yang tengah menunduk, sembari memeluk jari-jariku erat. Aneh, sejak kapan ini anak berlutut di depanku?


“Berdiri, woi. Kau kira kita lagi lamaran kah? Bukan, kan. Jadi tolong dong, jangan buat aku keliatan miris. Mentang-mentang aku jomblo!” ketusku. Kali ini gantian, Fallden lah yang tersentak. Tatapannya tiba-tiba tajam, dan genggaman tangannya semakin erat.


Tiba-tiba aku terpikir, bagaimana jika tanganku yang digenggaman Fallden meleleh seperti eskrim? Dan rasanya sangat manis? Rasanya aku ingin mencobanya.


“Kau ingin eskrim?”


Aku mengangguk.


“Akan aku buatkan.”


Aku mengangguk.


Kemudian tersadar, ketika tangan Fallden sudah tidak menggandengku lagi. Begitulah ceritanya, bagaimana kaisar mungkin akan takut dengan penerus kediaman Duke. Dan bagaimana Robert yang sepertinya mulai besok akan menjauhiku.


Huhuhu, selamat tinggal, Hot daddy.


“Kenapa tidak menginap di Kekaisaran saja?”


Sesampainya di kediaman Duke. Bukannya di sambut. Aku dan Fallden ditanyai segala hal oleh Duke dan Duchess. Pertama : Tentang bagaimana fisik putra mahkota. Kedua, bagaimana rupa putra mahkota, pertanyaan ini diberikan oleh Duchess. Yang menyebabkan Duke menatap Duchess sedih, seolah-olah merasa tidak tampan lagi. Dan berakhir, dengan Duchess yang terpaksa mengeloni, Duke di depan kami berdua.


“Tidak ada kamar tersisa.” Singkat, tepat dan padat. Begitulah Fallden ketika bicara kepada Duke ataupun Duchess. Tapi, berbeda lagi jika denganku. Jika denganku, Fallden pasti tidak berani berbicara seperti itu. Aku menjaminnya seratus persen.


Alasannya apa?


Alasannya karena aku menyimpan aib terbesar Fallden.


Aib Fallden yang tidak bisa tidur jika tidak mendengar suara nyamuk.


Aneh? Hohoho, SANGAT ANEH! Aku bahkan berpikir itu bukanlah aib, melainkan keanehan Fallden. Tapi, ketika melihat Fallden yang memang tidak bisa tidur tanpa mendengar suara nyamuk. Aku akhirnya mengangguk, dan berpikir itu benar-benar aibnya.


Yah, anggap saja. Itu aib.


Walaupun menurutku, itu terlihat seperti kebiasaan. Bukannya aib.