
Takdir kedua,.
KEHIDUPAN MENYEDIHKAN.
Di takdir ini, Ailena di pindahkan jiwanya ke masa lalu, dan sekarang di kenal sebagai Tania. Di takdir kedua, Tania di buat menderita, dengan semua kenyataan. Hatinya beku, pikirannya beku, dan tujuannya tidak ada.
Dan, yang kita hadapi sekarang adalah takdir ke tiga. Dan, sepertinya kau paham, apa yang kumaksud. Benar, 'kan? TANIA?"
Mataku sontak membulat, ketika seorang wanita tiba-tiba saja muncul di belakangku dan menepuk bokongku kuat.
Wanita itu terkekeh geli, di susul beberapa wanita yang juga berperilaku sama sepertinya.
Huh, semoga saja ia tidak jadi, tepos karena di pukul oleh mereka.
"Hei, kalian ini! jangan begitu ah!"
"Hanya bercanda, kau serius sekali. Membosankan," Wanita berambut pirang menyahut dari belakang. Aku menoleh, menatapnya Bingung. Bukankah dia tadi wanita pertama yang memukul bagian belakangku?
Heh, awas saja!
"Astaga, kalian ini. Baiklah, Tania, sekarang sepertinya kita harus berkenalan secara resmi. Karena, jika begini terus, aku takut kedua setan itu akan mengganggumu," Aku mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, perkenalkan wanita berambut putih pucat, sebahu itu adalah Zia. Dan, wanita berambut hitam panjang di sebelah kananmu itu adalah, Cana. Dan aku adalah, Godiea. Seorang Dewi Bulan."
Lagi-lagi mengangguk. Aku menatap ketiga wanita di depanku itu dengan senyuman tipis. Menyambut tangan mereka satu persatu kemudian memeluk mereka.
Namun, anehnya entah kenapa, setelah berpelukan, tubuhku terasa panas, seperti tengah tersengat aliran listrik.
Aku melirik mereka sekilas, Karena merasa janggal dengan kondisi saat ini. Namun, sayangnya mereka juga kondisinya terlihat sama denganku. Terlihat menahan sakit.
Sekilas aku merasa seperti ada perasaan hangat di dada, kemudian sekilas lagi aku merasa ada perasaan benci yang meluap-luap di dalam sana.
***
Fallden mengacak-acak rambutnya kasar, kala kembali mendapatkan informasi bahwa Ailena Belum diketemukan dimana keberadaannya.
"Aku takut kau mengingat segalanya, Al. Aku takut!" Fallden berucap lirih. Air mata tiba-tiba turun dari kedua bola matanya yang berubah menjadi ke coklat-coklatan.
Allarick dan Allison yang mendengar lirihan Fallden, melirik satu sama lain. Mereka merasa bersalah, Karena tidak bisa menjaga Ibu mereka sendiri. Sedangkan, di sisi lain. Ada sebuah tengkorak yang sedang tersenyum miring. Membuat beberapa tulangnya bergeser, namun tidak menimbulkan bunyi.
"Ini sama sesuai ramalan dari dewa," Tengkorak itu berucap bahagia. Tanpa mengkhawatirkan dirinya ketahuan sama sekali.
Tengkorak itu mengambil beberapa potong tulang-tulangnya yang tadinya sudah di putus oleh Fallden dan kembali menyambungkannya. Hingga akhirnya, tubuh lengkapnya muncul di hadapan para penjaga yang di utus untuk menghukumnya.
"**SEKARANG TAKDIRMU SEDANG BERJALAN DEWA KEGELAPAN! LIHATLAH, BIBIT YANG KAU TANAM AKAN MENGHASILKAN APA. DAN KU HARAP, SETELAH ITU KAU MENGERTI, APA ITU ARTINYA MEMILIKI RASA DAN JUGA BELASUNGKAWA!"
"TERIMALAH KUTUKAN YANG DAHULU SUDAH KU UCAPKAN, DAN BERSENANG-SENANGLAH**!"
BRAK!
Deg.
Fallden meremat dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Butiran air tiba-tiba menetes dari keningnya yang perlahan-lahan membuat sebuah pola rumit. Dengan berbagai jenis tanaman rambat di sekitar polanya.
Pakaian Fallden pun perlahan berubah, yang tadinya rapi, kini perlahan terlihat terbuka. Dengan berbagai rantai yang tiba-tiba menjerat beberapa pergelangan tangan dan juga kakinya.
Ruang waktu tiba-tiba saja terhenti. Dengan beberapa, Alunan melodi yang bermunculan. Allarick dan Allison yang awalnya ingin menghampiri Fallden karena khawatir, berubah menjadi debu. Sedangkan, beberapa penjaga yang tadinya ingin mengecek kondisi Fallden berubah menjadi tengkorak hidup.
"Selamat datang dewa kegelapan!" Salah satu tengkorak bersorak gembira. Menyambut Fallden yang kini, memiliki sayap seperti burung Garuda, namun, dengan warna hitam pekat. Dan, kedua warna bola mata yang terlihat berbeda namun, juga menyala.
Tangan kanannya memegang, sebuah pedang, dengan tangan kiri memegang sebuah rantai. Fallden tiba-tiba saja menjatuhkan rantainya, hingga tanah yang di tempatinya retak dan berubah menjadi sebuah tempat duduk.
"Selamat, kutukan anda sudah bebas, Tuanku Oleanle Ceogyrn."
Fallden mengangguk. Menyentuh pakaiannya yang berubah menjadi warna hitam, kemudian menyentuh pipinya yang kembali, seperti semula.
Memiliki pola, unsur-unsur dari kejahatan alam baka.
'Apa kau sudah mengingat semua, sayang?'