I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Perbedaan Api



"Hei, berhenti!” teriakku, ketika ia sudah hampir terlihat. Anak itu terlihat panik, dari caranya berlari saja sudah kelihatan. Kemudian semakin mempercepat, larinya sampai aku tidak dapat melihat bayang-bayangnya.


Aku mendengus, namun juga tersenyum. Setidaknya, aku bisa melihat rupa Fallden ketika kecil. Jadi, rasa kecewaku hari ini sedikit berkurang. Dan, juga sepertinya anak itu benar-benar anak Fallden. Huh, tapi kenapa ia tidak mau mengaku ya?


Apa karena sebuah ancaman? Heh, jika iya, siapa yang berani mengancam anak kecil yang imut seperti itu? Pasti orang sinting! Hih.


Tanpa kusadari, ternyata anak itu sebenarnya masih ada di sekitarku. Ia bersembunyi di balik gelapnya malam, sembari menutupi rambutnya dengan sebuah kain berwarna hitam.


Bolehkah aku berbalik?


Aku tahu, kau ada di sini, anak kecil. Aku membatin, lantas berbalik ketika merasakan ada pergerakan. Tapi nihil, tidak ada orang. Seolah-olah, anginlah yang sedang bergerak, melaju pesat mengejar tempat yang di tujunya..


Ok, skip itu tidak mungkin. Karena angin bukan di kejar ataupun mengejar. Ia bebas, dan tidak tergapai. Dan, aku yakin, pasti anak itu bisa di gapai. Lagi pula, jika memakai sihir seperti ini, bukankah ini sedikit aneh? Lagi pula, kenapa harus terkejut melihatku?


Apa karena aku terlalu cantik? Em, mungkin?


Atau karena, Fallden? Oh ya, pasti karena Fallden.


Dasar, lelaki sinting. Anak sendiri, di perlakukan layaknya musuh. Kau tidak takut, apa dia kedepannya akan menjadi Antagonis seperti di novel-novel yang sering bertebaran di ibu kota? Aish.


Aku kesal sekali denganmu Fallden. Andai, aku bisa membunuhmu, pasti sudah ku lakukan. CK, kau menghancurkan karakter masa depan saja.


Aju menatap Allarick dan Allison hangat. Saat, ini kami tengah berada di tengah-tengah kebun bunga api neraka. Mereka berdua terlihat, sangat semangat, menyambut tempat yang selama ini mereka rindukan. Terlebih lagi, Allarick. Sepertinya anak itu begitu sangat menyayangi, Allison sampai sedari tadi aku melihat ia lebih banyak mengalah, dari pada memperjuangkannya. Yah, setidaknya untuk saat ini itu tidak apa-apa. Tapi, untuk kedepannya, itu tidak boleh terjadi.


Karena, milik Allarick tetap miliknya, begitu pula dengan milik Allison. Tidak ada yang boleh egois di antara mereka, baik Allarick atau Allison. Karena, aku tidak mau, mereka berdua menjadi anak yang egois, dan tidak memikirkan perasaan orang lain.


“Allarick, ke sini!”


“Haha, kau lambat sekali!”


“Cepat, kejar aku!”


Ha-ha-ha.


Aku menatap kedua orang itu hangat. Lihatlah, betapa bahagianya mereka, seketika aku merasa seperti tidak memiliki masalah. Kehidupanku terasa sangat sempurna, walaupun hanya dengan kehadiran mereka berdua.


Karena, mereka penyemangatku, dan selalu begitu. Di masa lalu, Fallden sering sekali menghianatiku, segala macam yang di ucapkannya tidak pernah ada satu pun yang benar. Semuanya, salah. Seolah-olah memang sengaja melakukan, itu agar aku menjauh dari Fallden?


Iya?


Hah, Fallden. Jika boleh, apakah aku boleh bertanya? APA ALASANMU, MENIKAHI SELENA?!


Namun, sayangnya pertanyaan itu hanya bisa terlontar di dalam hati. Karena, ternyata Fallden tidak terlalu memperdulikan, kehadiranku. Lalu, di sini aku apa? Pajangan, atau bagaimana? Aku sangat merindukan, Fallden. Tapi, apa ia juga akan merindukanku.


“Pagi, Kak. Kebetulan, hari ini aku mau keluar dari sini, dengan membawa Allarick, karena hanya Allarick lah yang tahan menghadapi sinar matahari langsung. Bagaimana?”


Fallden menatapku dalam. Seusai memberikan salam kepada anak-anak, dia mengambil posisi duduk di dekatku, kemudian menggenggamnya lembut. Memperlakukan aku seperti seorang kaca, yang sudah ia buat pecah berkeping-keping -hatinya.


“Ada apa?” tanya Fallden. Aku menggeleng, kemudian tersenyum simpul untuk meyakinkannya. Meskipun aku sendiri tidak yakin. Aku merasa ada sesuatu yang janggal di hatiku. Tapi, ya sudahlah. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air.


Yang terjadi akan terjadi, yang terlewatkan biarlah terlewatkan. Lagipun aku sudah malas, menentang takdir. Jika akhirnya sama-sama menyedihkan. Heh...


“Tidak ada,” jawabku. Fallden terdiam, menatapku tajam.


Hah, kau kenapa lagi? Aku ada salah? Kenapa harus di tatap setajam itu. Aku berasa seperti pencuri yang ketahuan saja.


“Kau berbohong.” Fallden bergumam rendah. Aku menatapnya, bingung. Berbohong? Aku? Kapan, kapan aku berbohong padanya? Bukankah dia yang sering berbohong tapi padaku? Cih, dasar lelaki kurang ajar.


“Apa, kau masih marah padaku, karena ---,”


“Diamlah, Fallden. Jangan bicara, kepalaku sedang pusing. Aku keluar dulu,”


Entah apa yang terjadi padaku. Rasanya, semua yang diucapkan Fallden, seperti kebohongan. Tatapan hangatnya, kebohongan. Semuanya kebohongan. Tidak ada yang benar, soal Allarick dan Allison, aku tidak bisa bilang kalau hubunganku dengan mereka Bohong. Karena, aku melihat ada sedikit percikan api surga dari tubuh mereka.


Sejak kapan, aku bisa melihatnya? Sejak aku hidup di tubuh ini. Awalnya aku pikir, itu wajar saja, karena di sini, masih menggunakan mana dan mantra. Jadi, kemungkinan besar, api itu hanya hasil dari mantra atau mana.


Tapi, lama kelamaan, aku mulai melihat banyak keganjalan. Api di setiap tubuh beberapa orang berbeda-beda. Contohnya di tubuh Ronald api di tubuhnya berwarna biru pekat, api di tubuh kaisar merah terang, dan api di tubuh Duke berwarna merah darah.


Hampir semua orang, memiliki api yang berbeda-beda. Hampir terlihat sama, namun terkadang warna dan bentuknya berbeda. Aku pernah, menanyakan hal ini kepada Duches. Dan, Duches menjawab bahwa, “Yang kau lihat, bukanlah api dari mantra ataupun mana. Melainkan kedua api dari surga dan neraka. Surga memiliki 7 api, dan neraka memiliki 5 api. Maka dari itu, api di tubuh ,setiap orang berbeda.”


Aku mengangguk, ternyata begitu. Aku pikir, sebelumnya bahwa semua api yang terlihat di atas kepala seseorang adalah lambang kekuatan, atau memang mereka sedang mencoba mantra. Tapi, ternyata bukan.


Dan, ada satu lagi yang membuatku bingung. Apa semua orang bisa melihat hal yang sama denganku? Dan, bagaimana bisa Duchess tahu? Apa Duchess sama sepertiku?


“Em, Duchess tahu dari mana?”


“Hanya menebak.”


Em, kok aku pengen nyekek orang ya?


Aku berjalan-jalan sekitar taman, sendirian. Padahal, tadi pagi aku ingin berjalan-jalan bersama Allarick. Hah, ini semua karena Fallden. Gara-gara dia membuatku, marah aku jadi melupakan semuanya. Untung saja aku tidak lupa, untuk mengganti gaun tidurku dengan baju yang baru. Jika, tidak ... Duh pasti malu sekali aku.


“Haah, aku rindu bumi.” Aku bergumam, sembari menyambut salah satu tangkai bunga. Menggenggamnya erat, sembari menghirup baunya. Tidak ada. Heh, aku baru ingat, kalau aku sekarang bukan berada di tanah yang nyata, melainkan tanah neraka. Bunga di sini juga pasti berbeda dengan tanah biasanya.


“Bunganya bau, amis.” aku mengusap tanganku yang tadi menyentuh, bunga itu, kemudian mengelapnya ke baju. Kira-kira sekarang aku sedang berada di sana ya? Semua tempat terlihat sama saja. Berwarna merah, dan sepertinya hanya aku saja di sini yang belum berwarna marah.