I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Malu



Aku menatap ke arah matahari yang akan segera terbenam. Jika kulihat dari arah terbenamnya matahari, Kira-kira sekarang adalah jam 18.00 (6) sore. Aku menghela nafas kasar, menatap Fallden yang terlihat biasa saja sembari memasangkan cincin ke jari manis Selena.


Jujur, aku gegana (Gelisah galau merana) melihat mereka. Kenapa? Karena walaupun aku bilang sudah melupakannya. Perasan itu tetap masih ada walaupun hanya sedikit Perasaan sakit ketika melihatnya mengulas senyum di hadapan perempuan lain membuatku sakit. Tapi, apakah boleh aku egois seperti ini? Egois dengan meyimpan rasa sedangkan sang puan yang tertulis namanya di hati ini sudah melingkarkan cincin di jari manis wanita lain?


“Ibu, ibu harus sabar ya. Ini hanya pernikahan kontrak, jadi Ibu jangan khawatir. Selama jalur kuning masih melengkung suami orang masih bisa ditikung!”


Aku mengangguk.


Tapi sebentar, ‘Jalur kuning masih melengkung.’


‘Suami orang bisa di tikung!’


Syialan, anak kurang akhlak. Lo nyuruh gue jadi pelakor hah?!


Astaga, Sabar Tania. Sabar, ingat dia masih anak kecil. Dia masih tujuh ta—sebentar. Darimana anak ini tahu bahasa gaul seperti itu heh?!


“Kau tahu darimana bahasa itu, huh?!” aku mencengkram baju Allarick sedikit kuat. Kemudian menggoncangnya berulang kali.


Astaga, Allarick, apa jangan-jangan kau juga sama sepertiku? Time travel? Reinkarnasi, atau transmigrasi?


Jika iya, YEAY AKHIRNYA AKU PUNYA TEMAN!


“Aku bisa melihat masa lalu, Ibu.”


“Ibu yang sabar ya, jangan nyerah.”


Allarick mengusap jari-jemari tanganku lembut. Aku tertegun, menatap bola matanya dalam. Jika benar Allarick bisa melihat masa lalu. Berarti ia sudah tahu masa laluku, benar?


Ahahaha, betapa menggelikannya ini.


Aku segera menepis tangan Allarick pelan. Kemudian berlalu meninggalkannya. Entahlah aku harus apa sekarang. Rasanya aku sangat malu dengan Allarick, sekarang pasti ia jijik melihatku kan? Hah, itu sudah pasti.


Aku hanya anak jalanan, yang makan saja mungkin seminggu hanya tiga kali. Sedangkan ia, dirawat dan di besarkan di keluarga mewah. Sebelum dan sesudah kamin adopsi. Hahaha, dia pasti malu kan?


Aku berlari menuju Faviliun dengan cepat. Mengabaikan sapaan dari Duke ataupun panggilan dari Duchess. Aku juga melewati, Fallden dan istrinya, Selena.


Rasanya saat ini aku malu melihat mereka. Kepercayaan diri yang selama ini aku genggam, seketika terbang jauh, di bawa angin.


Aku termenung di dalam kamar. Menatap sekeliling kamar yang terbuat dari mutiara kemudian mengelus nya lembut.


Pantaskah aku, menempati tubuh ini? Sedangkan jiwaku hanya jiwa orang miskin. Aku bukan orang kaya, ataupun orang berada. Pantaskah aku menerima semua ini?


Aku paling tidak suka di kasihani. Aku tidak suka.


“Aku tidak pantas, seperti ini. Benar kan?” aku bertanya pada cermin berlapis emas yang ada di sampingku. Cermin itu hanya diam, sembari menampilkan bayangan tubuh yang saat ini aku tempati. Ailena.


Oh, astaga. Kenapa kau mudah baper seperti ini, Tania. Ingatlah ini bukan tubuhmu. Ini bukan duniamu, ayo berpikir positif. Ayo! Jangan pikirkan hal yang lain. Kau cukup berjalan teguh di jalan yang kau pilih. Ya, benar. Kau hanya harus teguh di jalan yang kau pilih.


Aku tersenyum, membulatkan tekad yang akan aku bangun untuk kedepannya. Aku menatap bayangan Ailena dengan senyuman tipis. “Aku pasti bisa bertahan, sampai akhir waktu yang di tentukan. Aku percaya dewa itu ada di zaman ini. Jadi, aku memohon padamu, Dewa. Jika kau memang ada, tolong buat aku segera kembali ke tempatku semula. Aku tidak ingin menjadi tamak hanya karena semua kejadian ini. Aku tidak ingin, hatiku kotor karena keinginan untuk merebut apa yang bukan milikku. Aku mohon, ya dewa.”


“Dan, ya Tuhan. Jika kau memang ada, aku percaya pada kehendakMu, aku percaya segala yang kau lakukan hanya untuk kebahagiaanku. Tapi, bisakah kau, buatku kembali ke duniaku? Aku lebih merasa terhormat di hina oleh banyak orang. Daripada di tinggal oleh seseorang yang ku anggap penting hadirnya.”


Pagi-pagi sekali, aku sudah siap membawa baju, dan beberapa perhiasan yang akan aku bawa kabur dari Faviliun ini. Tali untuk turun ke bawah juga sudah siap, aku hanya tinggal menyiapkan niat dan juga tekad. Dan semoga saja, Tuhan melindungiku.


“Semangat, Tania. Kau pasti bisa.” Aku bergumam. Aku menggendong tas yang berisi semua yang aku butuhkan untuk bertahan hidup kemudian merosot menggunakan kain yang tadi pagi sudah aku ikat sampai ke bawah.


Sesampainya di bawah, dengan kecepatan kilat aku berlari. Melewati gerbang yang kebetulan sepi kemudian tersenyum tipis. Menyadari, bahwa saat ini aku sudah agak jauh. Dan mungkin saja kisahku di mulai saat ini.


Semoga saja aku akan menemukan takdir yang baik di desa ini.


Aku memang belum bisa melupakan segala sesuatu yang selama ini terjadi padaku. Tapi, setidaknya dari pada melupakan, aku lebih baik mengikhlaskan. Karena aku tahu, melupakan tidak semudah itu.


Tapi setidaknya, mengikhlaskan itu sedikit mudah, kan?


Aku tersenyum menatap kawasan desa yang terlihat asri, kawasannya sama sekali tidak tercemar dengan bau-bau asap ataupun uang seperti yang ada di kota.


Sedikit berbeda memang, tapi setidaknya disini lebih baik. Untuk soal nama, aku akan memakai nama asliku Tania, dan untuk pekerjaan, aku bisa menggunakan kepandaianku dalam kehidupan sebelumnya.


Menghirup nafas sejenak, kemudian membusungkan dada ke depan. Tersenyum manis, kemudian berteriak girang, melewati jalanan yang padat dengan tanaman bunga dan padi-padian.


“Aku pernah salah berharap pada manusia, tentang takdirku. Tapi sekarang aku mengerti, takdirku adalah milikku. Semuanya ada di tanganku. Jika bukan aku yang mengatur takdirku, maka siapa yang akan bersedia?”


“Lagipula siapa yang mau menerima wanita tanpa takdir yang menyenangkan? Hahaha tidak ada. Ini akhir zaman. Dimana ada kuasa, ada cinta. Pria mana yang mau menerima wanita tanpa takdir yang nyata?”


“Tidak ada. Jikapun ada, coba lihatlah. Fisikmu sempurna atau bagaimana? Jika sempurna kamu beruntung. Jika tidak, sayang sekali nasibmu buntung.”


Aku menatap pria di depanku hangat. Pria itu adalah kepala pokok (desa) dari yang akan aku tempati saat ini. Ku kira pria itu pasti kasar seperti yang ada di film-film atau setidaknya cuek dan dingin. Tapi sayangnya bukan. Pria itu malah hangat, dan selalu menyebarkan senyum ketika melihat ada seseorang yang lewat.


Entah itu anak-anak ataupun orang dewasa. Kalangan? Sudah pasti berbeda. Tapi pria itu tetap tersenyum menatapnya.


Ini, yang selama ini aku cari. Orang yang bisa menghargai orang lain. Dan, semoga saja aku betah di desa ini.