I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Cerita masa lalu (1)



Aku kembali ke rumah setelah hari mulai agak siang. Sedari tadi Allarick Belum juga kelihatan. Ah ternyata dia sangat senang bermain di desa seperti ini ya. Em, aku mewajari sih. Sebab di kota pergaulan kita tidak akan bebas, semua tindakan di cemoh. Sedangkan di desa, mau kita ngorok ataupun gimana tidak akan jadi masalah. Sebab itu sudah dianggap biasa untuk mereka.


Ah, entah kenapa aku tiba-tiba rindu dengan kehidupan lamaku. Walaupun tidak memiliki kenangan yang indah, tapi setidaknya dari kenangan itu aku berhasil bangkit melewati segala macam masalah. Aku bersyukur untuk itu.


“Allarick! Kau tidak mau makan?” setelah selesai memasak, aku keluar dari rumah, kemudian memanggil Allarick, namun sepi tidak ada jawaban. Padahal aku yakin tadi kalau mereka main di sekitaran sini.


“Allarick!” aku kembali berteriak. Kini rasa cemas mengalir di kepalaku. Astaga, bagaimana kalau Allarick hilang? Anak itu masih belum kenal dengan yang namanya kerasnya kehidupan. Dan aku tidak mau dia merasakannya.


Tiba-tiba aku melihat ibu-ibu lewat. Aku mendekatinya, kemudian bertanya, “Buk, lihat anak berambut emas tidak? Seperti rambut saya?”


Ini itu mengangguk, “Tadi ada pria yang datang ke sini. Terus ngaku, Ayahnya anak itu. Apa itu suami Ibu?” aku menggeleng.


“Watna rambutnya apa Bu?”


Kalau memang Fallden yang menjemput Allarick aku tidak masalah. Tapi kalau orang lain, aku,


“Merah, bu.”


Sial, Allarick di culik! Astaga, bagaimana ini? Terlebih lagi aku tidak tahu pria itu siapa dan apa dalang ia menculik Allarick. Kenapa tidak yang lain saja? Kenapa? Kenapa harus Allarick?


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung berlari ke tempat di mana terakhir kali aku melihat Allarick dan anak perempuan yang tadi bersamanya. Di sawah.


Aku berlari dengan air mata yang merembes keluar. Tanganku tiba-tiba merasa dingin, firasat buruk berlewatan di kepalaku. Astaga, Allarick. Kau memana, Nak? Jangan membuatku cemas. Kumohon.


Aku sudah cukup kehilangan cinta pertamaku. Kau jangan, aku tidak bisa. Tanpa sadar kakiku melangkah ke sebuah gubuk yang ada di tengah danau. Gubuk itu mengapung tanpa ada benda apapun yang menopangnya.


Seperti sihir. Tapi anehnya rumah itu terlihat menyala. Bukannya rumah para penyihir itu gelap ya?


Tanpa kusadari, ternyata ada orang yang sedari tadi berdiri di belakangku. Orang itu tersenyum menatapku, kemudian memelukku. Aku terdiam, tidak melawan. Aroma tubuh ini, jelas aku hafal. Aroma inilah yang sering kali menenangkanku ketika aku kesepian, ketika aku sendirian, dan ketika aku merasa di rendahkan.


Fallden. Orang itu adalah Fallden.


“Kenapa kamu tidak ikut pulang bersamaku saja? Kenapa harus kucing-kucingan seperti ini? Aku tidak suka, asal kamu tahu.” Fallden berbisik di telingaku dengan nada rendah. Aku tersenyum kecut menanggapinya. Andai saja ia tahu. Ini semua aku lakukan karena ulahnya. Karena dirinya, yang dengan teganya bermesraan di depanku. Padahal, sebelumnya ia pernah berjanji, bahwa aku ... ah sudahlah, itu tidak penting. Dan, tidak perlu diingat-ingat.


“Aku tidak kucing-kucingan. Aku sedang beristirahat, dari kepadatan. Dan, kau sedang apa di sini? Dan, bagaimana bisa kau tahu, aku ada di sini?”


Fallden melepaskan pelukannya, kemudian menatapku tajam. “Aku mencarimu ke mana-mana. Aku takut, kau tersesat atau di culik oleh salah satu pekerja rumah b*rdil,”


“Tapi, syukurlah, tidak.”


Aku menatapnya curiga. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fallden. Tidak mungkin 'kan ia mencariku, sedangkan di kediaman pasti saat itu mereka tengah --- Cih, dasar buaya. Aku tidak percaya dengan omonganmu.


Aku menghela nafas sejenak, kemudian menunjuk ke arah rumah itu. “Allarick, hilang. Aku berpikir, mungkin Allarick ada di sana. Karena hanya tempat itu saja yang belum aku, chek ke seluruhannya.” Ujarku. Fallden mengangguk, mengangkat tangannya kemudian membacakan mantra. Aku terdiam, ketika tanpa sengaja tubuhku dan Fallden bersenggolan. Tidak seperti biasanya, namun, kali ini tubuh Fallden terasa berbeda. Tubuhnya terasa seperti orang mati, tidak memiliki suhu tubuh. Sedangkan dulu --- ah sudahlah, lupakan saja.


“Itu bukan rumah. Melainkan jalur lintas, antara dunia manusia dengan dunia mortal. Dan, Allarick masuk ke sana.”


Deg.


Immortal? Bukankah itu dunia yang penuh dengan ----,


“Benar, dunia itu penuh dengan hal-hal aneh yang tidak nyata. Kadang juga, berbau mistis. Biasanya hanya orang tertentu atau orang yang menerima undangan dari kaum Fairys saja yang bisa masuk. Selebihnya, tergantung dari keinginan Moon Goddess.”


Aku mengangguk. Seperti itu ya? Lalu bagaimana caranya agar aku bisa masuk? Sedangkan aku sama sekali tidak mengenal Fairys. Jangankan mengenal, sosoknya saja aku tidak tahu seperti apa. Astaga, Allarick.


Bagaimana ya, keadaan, Allarick sekarang? Apa ia sudah makan? Sekarang 'kan sudah siang. Bagaimana ini?


“Jangan khawatir, anak itu di bawa oleh Moon Goddess ke sana. Nanti juga akan di kembalikan.”


Di kembalikan? Hahaha, HEI KAU PIKIR, ALLARICK BENDA HAH?!


Plak!


“Cih.”


Aku menatapnya sengit, kemudian dengan tekad yang kuat menyebur ke dalam danau yang warnanya agak aneh itu. Tapi, eh tapi. Sepertinya aku kelupaan sesuatu deh. Ah, iya aku kelupaan ....


Kalau aku gak bisa berenang! Sial, ini mah namanya mau jadi super hero tapi bisanya jadi super bobok.


Aku menatap ke arah kakiku miris. Saat ini, aku dan Fallden tengah berenang menuju pintu Immortal. Namun, menggunakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku bayangkan. Ekor duyung, dan terlebih lagi. Bagaimana bisa kakiku lepas seperti ini woi?


Coba kalian bayangkan saja. Jika pada film-film yang biasanya membahas tentang seseorang yang berubah menjadi duyung. Kakinya pasti berubah menjadi ekor 'kan? Lalu, kenapa kami tidak? Kenapa kaki kami harus di copot dahulu, baru bisa di pasangkan ekor.


Euh, aku mengangkat kedua tanganku yang berisi patahan kakiku. Ihh, aku bergidik menatapnya. Karena darah mengalir dengan deras dari sana. Terlebih, lagi, ini kakiku sendiri loh ya! Ngeri woi!


“Fallden, aku lemas!” aku memanggil Fallden kemudian menatapnya sayu. Rasanya saat ini ekor yang kupakai ini sangat sakit, lebih tepatnya ngilu. Jujur aku sama sekali belum terbiasa memakai ekor seperti ini, dan aku merasa mungkin... Aku tidak akan pernah terbiasa.


Karena kakiku ternyata lebih aesthetic dibandingkan ekor duyung ini. Ekor ini merepotkan, aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk membuatnya bergerak ke kanan ataupun ke kiri. Terlebih lagi, rasanya sangat berat. Seperti sedang mengangkat beton yang beratnya dua kali lipat dari tubuhku.


Uhhg. Aku lagi-lagi bergidik ngeri. Tanpa sadar, ternyata aku sudah banyak bicara pada Fallden. Padahal niatku sebelumnya tidak. Aku ingin membuat Fallden sadar akan diriku. Tapi ternyata tidak bisa, ya.