I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Patah Hati



“Dan, apakah kau tahu, Ailena. Moon Goddess sebenarnya adalah Lilyna. Maka dari itu Moon Goddess tidak pernah memiliki bentuk seperti manusia. Tubuhnya hahya akan bisa menjadi rembulan selamanya, sebelum orang yang mencintainya dengan tulus hadir.”


“Bukannya, Will,. ---,”


“Selain orang itu. Kau percaya reinkarnasi? Mungkin saat ini mereka tengah ber-reinkarnasi kembali menjadi sosok yang mereka mau .”


Aku terdiam mendengar penjelasan, Fallden. Jika memang benar, mereka ada. Pasti saat ini surat cintanya sudah tersebar lewat koran dari mana saja. Iya kan? Tapi kenapa tidak ada? Fallden berbohong? Hah...


“Apa reinkarnasi dewa dan iblis itu ada?” Tanyaku, dan Fallden mengangguk mantap.


“Tentu saja. Bisa jadi, dia ber-reinkarnasi menjadi seseorang di dekat kita dengan bola mata ungu ke merah-an.” Fallden mengusap rambutnya yang basah ke belakang. Kemudian menyisirnya menggunakan jari-jari tangannya.


Aku mengangguk, meskipun ragu. Di jaman seperti ini, bukannya bermata ungu itu sangat sering,? Terlebih lagi, kalau memang dia iblis, seharusnya dia punya kekuatan magic atau seperti itu, ya kan? Dan, seharusnya selain itu ada ciri khas yang lain kan? Masa Cuma mata sama kekuatannya, doang?


“Selain itu apa lagi ciri-cirinya?” tanyaku, aku menatap Fallden dalam, sedangkan Fallden menatapku enggan. Entah enggan karena apa, tapi tiba-tiba perasaan aneh muncul di benakku ketika hampir melewati gerbang Immortal. Perasaan seperti, dendam? Marah? Dan benci, tiba-tiba menyerusup masuk ke dalam pikiranku.


Entah kenapa sekarang aku malah melihat seorang Wanita bergaun putih tengah di tuntun ke sebuah aula yang berwarna merah. Yang, menuntunnya adalah seorang pria berambut ungu muda. Dengan taring, dan tanduk yang ada pada kepalanya.


Pria itu menuntun wanita bergaun putih dengan cara yang menurutku sama sekali tidak lazim. Menyeretnya, secara paksa. Sampai gaun wanita itu tersobek-sobek menjadi beberapa bagian. Namun, anehnya wanita itu bukannya melawan, justru tersenyum menatap pria itu, tatapannya hangat dan penuh cinta.


Dan sekarang aku berada di tempat yang berbeda. Seperti tengah berada di sebuah kamar, namun dengan nuansa yang menyeramkan. Seorang wanita bergaun putih, tengah menggendong seorang bayi yang berambut pirang. Bayi itu terlihat tersenyum sembari berusaha meraih wajah ibunya.


Aku sedikit maju, kemudian terbelaak melihat wanita itu ternyata menggendong dua bayi sekaligus. Yang satunya memiliki rambut berwarna perak dan yang satunya lagi hitam ke unguan. Bola matanya juga sangat cantik, seperti kristal.


Andai, saja bayi itu ada di dunia nyata. Pasti orang tua, yang melahirkannya akan langsung shock melihatnya. Huh.


Lagi-lagi aku berpindah tempat. Kali ini di sebuah Danau dengan taburan bintang sebagai pelengkapnya. Di sana, di sebelah barat daya ada seorang wanita yang tengah memegang bunga Lily sembari tersenyum dengan Air mata yang berjatuhan dari pipinya.


Tiba-tiba entah kenapa aku merasakan apa yang wanita itu rasakan. Sesak, sangat sesak. Aku memukul dadaku dengan kencang, sembari berusaha menahan air mata yang siap akan tumpah. Kemudian menatap wanita itu lagi.


Namun, sayangnya wanita itu ternyata sudah menjatuhkan dirinya ke dalam kolam. Aku yang melihatnya, ingin membantu. Namun, ketika aku menyentuh air, tubuhku mengambang. Seperti roh, yang tidak bernyawa. Aku hanya bisa tertegun melihat wanita itu, beberapa saat, karena setelahnya ternyata ada cahaya yang terpancar dari tubuh wanita itu, dan memancar ke angkasa. Tepatnya membuat sebuah bola besar di atas langit yang sedikit senggang. Bola besar itu berwarna putih cerah, sama seperti baju dan warna rambut wanita itu. Aku terpukau, dengan bibir yang terus memuji.


Namun tiba-tiba aku melihat seorang pria berambut ungu tengah bersedih menatap rembulan. Tangannya memegang bunga mawar yang tampak layu sedangkan tangannya berdarah-darah. Aku tebak pasti tangan pria itu terkena duri dari mawar merah, makanya bisa seperti itu.


Di saat aku terdiam, ternyata pria itu berbalik dan menyentuh bahuku. Aku tersentak menatapnya heran.


“Kau bisa melihatku?” aku bertanya spontan, namun pria itu tidak menjawab. Aku menoleh ke belakang, menatap sosok wanita berambut merah yang menyambut pria itu dengan senyuman ramah, yang terkesan memiliki arti mendalam. Seperti, aku akan merebut posisimu, atau aku akan membunuhmu, seperti itu.


Pria itu mengangguk, meraih pergelangan wanita berambut merah, kemudian mengecupnya mesra. Aku bergidik, menatap tanganku yang berlumuran darah ngeri. Dih, ogah banget di cium sama taring kaya begitu.


Aku mengerjap, menatap Fallden yang terlihat berkunang-kunang, kemudian kembali memejamkan mata. Di sebelahku ada Fallden Yang sedang menghela nafas lega. Aku membuka mata lagi, dan untungnya kali ini tidak berkunang-kunang ataupun kabur seperti tadi.


“Astaga, Ailena untung sekali kau sadar! Aku hampir berpikir kalau kau akan meninggal!”


Aku menatap Fallden tajam. “KAU MENDOAKANKU, CEPAT MENINGGAL?!”


Fallden menggeleng cepat, tangannya meraih tanganku pelan, kemudian menggenggamnya dengan erat. “Tidak. Aku tidak ingin kau mati,”


“Kenapa?”


Aku menaikkan alis, ketika melihat Fallden yang mengecupi kedua tanganku. Mulai dari jari jempol sampai hari kelingking. Begitu seterusnya.


“Karena jika kau meninggalkanku. Aku tidak akan punya pelayan untuk disuruh-suruh lagi.”


Siala*! Kau anggap kehadiranku pelayan hah?! Dasar Fallden gila, brengsek, gak waras, bodoh! Mati saja kau! Aku ikhlas, lahir dan batin. Cih. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, terlebih lagi pada bidadari sepertiku.


Huu, untung saja aku masih sedikit waras, kalau tidak sudah ku bunuh kau Fallden. Gara-gara kau aku bermimpi aneh, dan gara-gara kau juga aku ---, sebentar, tujuanku kemari kan mencari Allarick. Lalu, Allarick di mana saat ini? Astaga, sial aku lupa.


“Allarick di mana, Fallden?!” tanyaku dengan tergesa-gesa. Nafasku naik turun, seiring dengan kekhawatiranku yang memuncak.


Bagaimana ini, sampai saat ini Allarick Belum di temukan. Dia sudah makan atau belum? Bagaimana nasibnya? Apa dia sudah pulang ke rumah, atau bagaimana? Astaga, ya Tuhan. Tolong beri tahu aku di mana si aktif Allarick?


“Sedang bermain dengan teman barunya.” Jawab Fallden sedikit, ekhem tidak suka? Aku mengangguk, kemudian bertanya di mana Allarick berada, Fallden menunjuk sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Aku mengangguk cepat.


Hah, aku baru sadar aku di tempat yang sangat aneh. Terlebih lagi, di sini memiliki banyak kamar. Tapi, entah kenapa hanya ada 4 kamar yang kulihat sedikit terbuka. Kamar satu yang tadi aku tempati, kamar dua yang bersisi SE sosok pasangan, kamar tiga yang isinya Entah apa Dan, kamar empat isinya Allarick dengan temannya ----, RAMBUTNYA HITAM KEUNGUAN? Sial, jangan-jangan ini, di ....


Fallden tiba-tiba muncul, memelukku dari belakang kemudian meletakkan kepalanya di bahuku. Ya, ini di istanaku. Istana para iblis. Apa kau ingat sayang?”


“Dan itu adalah kedua anak kita. Allarick si malaikat surga dan Allison si malaikat neraka. Mereka terlihat tampan, kan?” Fallden mengendus bahuku, bau kasturi tiba-tiba menyerbak dari ruangan yang berisi Allarick dan siapa tadi? Allison? Ah, ya Allison.


Hah, Astaga Bagaimana aku bisa tidak mengenali orang yang diceritakan oleh Fallden adalah dirinya sendiri di masa lalu. Astaga, Tania bodohnya dirimu. Sudah jelas, waktu itu ketika Fallden marah, warna rambut dan matanya berubah, dan kenapa kau baru sadar? Aish! Dasar bodoh.


“Hm, ya. Mereka tampan.” Gumamku. Em, sebentar. Jika Fallden adalah seorang raja iblis merah, maka istrinya saat ini adalah ...


“Istriku saat ini adalah, Ratu iblis merah.”


Tebakanku benar ternyata. Pantas saja, Fallden menikahinya kembali. Orang di masa lalu istrinya, di masa depan juga pasti begitu dong.


Tapi, jika Selena adalah ratu iblis merah, lalu wanita bergaun putih itu ... Siapa?


“Dia istri pertamaku sekaligus cinta terakhirku. Dia Lilyana, seorang Dewi cahaya.”


“Dan, sekarang tengah ber-reinkarnasi menjadi, Tania dan juga Ailena.”