I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Cinta itu buta



Semoga kau tidak sepertinya.


Karena, jujur aku tidak bisa menerima adanya luka kedua.


***


Hari ini adalah hari pernikahan Fallden dan Selena. Sedari tadi aku sudah melihat bagaimana kesenangan Fallden mengenai acara ini.


Ah, Fallden juga tadi secara tidak sadar mengucapkan seluruh perasaan yang selama ini ada dalam hatinya kepada Selena.


Aku senang. Tentu, saja, bagaimana tidak. Karena, hari ini adalah pernikahan Kakak satu-satunya, milikku. Tidak mungkin aku tidak senang 'kan?


Sedangkan disisi lain, Allarick sudah siap dengan pakaian yang terbilang wow untuk anak seusianya. Allarick terlihat sangat menawan, dengan baju khas Kaisar.


Ah, apa ini pertanda bahwa di masa depan, Allarick akan menjadi kaisar? jika iya, aku akan sangat menantikan nya!


Dan semoga saja, di saat itu, Allarick tidak menjadi kacang yang lupa pada kulitnya. Awas saja jika ia menjadi kacang yang lupa pada kulitnya, Akan aku kuliti dia, lalu aku kirim ke kandang buaya, supaya tuh buaya yang ada di danau-danau sekitar Kekaisaran pada makan enak plus empuk semua.


"Ibu." Allarick tiba-tiba memanggilku. Aku sontak, menoleh menatap anak itu hangat, kemudian menariknya agar berdiri tegak di sisiku.


Fallden melirik, tapi secara diam-diam. Aku tahu itu. Sedari tadi pandangannya tidak pernah terlepas dari arah sini.


Mungkinkah, ia sedang memandangi diriku secara diam-diam? ah, Haha jangan berharap deh Tania. yuk, ayuk, moveon! berharap pada masa lalu itu tidak enak loh.


Atau jangan-jangan lagi liatin Allarick? Hoh, mungkin iya. mungkin, karena ketampanan Allarick, Fallden jadi menatap kami.


Hohoho, cemburu ya, ngeliat anakku lebih tampan dibandingkan dirimu?!


Aku membatin, seraya tersenyum manis, sangat manis menatap para tamu undangan yang secara terang-terangan mencibirku.


Hei, berani sekali mereka? Kau punya berapa nyawa, huh? sampai berani mencibirku di hadapan duke dan Duchess?


10? 20? atau 100?


Heh, astaga. Mau sebanyak apapun nyawamu, Duke pasti akan tetap membunuhmu, karena menganggap dirimu lalat yang mengacau ketenteramannya.


Hahaha.


"Astaga, lihat, Bu, Kuenya banyak sekali!" lamunanku seketika buyar melihat Allarick yang tengah menatap kue lapar.


Aku menatap ke arah, tempat yang Allarick kemudian tersenyum kecil. Ternyata jeli juga matamu, Nak. Seperti elang, padahal jarak dari kue dan tempat kita lumayan jauh.


Dan terlebih lagi, banyak orang yang menutupi tempat itu.


Aku menatap Allarick kemudian mengangguk. Allarick tersenyum, dengan semangat menarik tanganku ke arah tempat kue berada, tanoa6 menghiraukan banyak orang yang terjatuh karena dorongannya.


"Hei, dasar anak tak tahu diri. Dari kalangan mana kau hah?! berani sekali menabrak calon ratu sepertiku!"


"Hei, siala*! dasar tak punya etika!"


"Astaga, anak siala*!"


Aku menutup kedua telinga Allarick dengan tanganku, ketika orang yang kami tabrak mengeluarkan umpatan yang seharusnya tidak didengar oleh anak-anak seusia Allarick.


Namun, tiba-tiba aku merasa seperti ada seseorang yang menarikku menjauh dari Allarick. Anehnya Allarick malah diam saja, seperti membiarkanku hilang diantara semua kerumunan.


Lihat saja, jika aku kembali. Akan akun jadikan sate, kau, Nak!


***


Aku menatap ke sekelilingku tajam. Ruangan serba berwarna hitam ini mengganggu pandanganku yang suka sekali warna-warna cerah. seperti wajahku yang cerah ketika melihatnya. Astaga!


Tiba-tiba bunyi suara sepatu yang melangkah mendekat terdengar. Aku dengan segala ingatan, tentang bagaimana caranya melawan bersiap-siap, kemudian ketika pintu terbuka, mengangkat kakiku yang akhirnya mengenai wajah orang kurang aj--FALLDEN.


Astaga, Fallden? anak ini kenapa bisa disini woi?! jangan-jangan ni, anak memang sengaja, mancing aku kesini, supaya bisa bunuh aku seperti di alur cerita? Hahaha tidak mungkin. Akan aku bunuh duluan kau!


Dengan segera, aku melangkah mundur, kemudian kembali berlari dan menyepak tulang kering Fallden. Lelaki itu tidak melawan, melainkan hanya meringis. Menerima segala apa yang kulakukan.


"Ka-kau tidak melawan?" aku bertanya ketika berulang kali menyerangnya, tapi sekalipun tidak di balas. Fallden mendongak, menatapku dengan tatapan memelas. Kemudian dengan tertatih berdiri.


Ternyata, tendangan ku kuat juga ya. Aku bangga, padamu, Kaki cantikku.


"Tidak. Aku tidak akan pernah melawan, orang yang aku cinta."


Aku terdiam, dengan tatapan datar. Menatapnya jijik, kemudian mundur ke belakang.


Cinta? Heh, jangan berkata seperti itu kepadaku siala*! karena aku tidak pernah mencintaimu. Setelah kejadian itu.


Perasaan ini, sudah berubah. Walaupun terbilang sangat cepat, tapi menurutku ini wajar. Karena aku, wanita yang kuat. Kuat dalam mental ataupun yang lainnya.


Jadi, tolong jangan membohongiku, Calon Tuan Duke.


"Terserahmu. Jadi, ada alasan apa kau menculikku seperti ini?" aku bertanya, sarkas. Menatapnya tajam, kemudian menghela nafas.


Aneh sekali kau, Fallden. Setelah membuatku jatuh, kau ingin kembali lagi? Hah tidak akan. Hatiku ini bukan, mainan, asal kau tahu itu.


"Aku terpaksa. Maaf, kumohon!" Fallden berlutut di bawahku. Tangannya memeluk lututku erat.


Aku terdiam, entah kenapa sekarang rasanya aku seperti jijik ketika Fallden menyentuh tubuhku.


Apakah ini pengaruh, karena perasaanku yang mulai pudar atau bagaimana? jujur melihat Fallden yang menempel padaku seperti ini. Aku merasa risih.


Ada sesuatu yang menolak ketika di sentuh di dalam sana. Seolah-olah memang tidak suka, ketika masa lalumu datang kembali. Hadeh.


"Terpaksa apa maksudmu? aku tidak mengerti!"


"Aku terpaksa melakukan ini semua! aku sengaja, aku sengaja melakukannya untuk menyelamatkan nyawamu! Tapi, aku juga tidak tahan ketika menjauhiku! Kumohon tolong jangan jauhi aku! kumohon! Aku tidak bisa jauh darimu, kumohon!"


"Pergilah aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Menyelamatkan diriku? kau tidak waras, Hah?"


"Mencium seorang gadis di depanku, dengan dalih menyelamatkan ku, kau tidak waras kah? apa aku perlu membunuhmu supaya kau waras, bahwa semua yang kau lakukan itu atas dasar keinginanmu. Jadi, tolong! aku minta tolong padamu. Jangan libatkan aku, lagi dalam hidupmu. Aku lelah, kau tahu!"


Aku berteriak, mengeluarkan segala unek-unek yang ada di hatiku. Kau, tega sekali Fallden. Mengatakan, semua tindakanmu atas dasar menyelamatkanku. Tapi, sayang sekali alasanmu itu tidak wajar, dan tidak bisa di Terima olehku. Maaf, sekali lagi maaf. Aku tidak Terima alasan itu.


Terlebih lagi, kau tahu apa tentangku? tidak ada kan? jadi tidak usah sok peduli lagi. Aku bosan melihatmu berakting seperti itu.


"Sudahlah, sana. Pernikahanmu sudah menunggu mempelai prianya. Pergilah." membalikkan badan. Kemudian tersenyum kecut Aku baru saja sadar, bahwa ternyata Fallden orang yang seperti ini. Suka sekali menjadikan orang alasan, atas kesalahannya.


Apa cinta memang sebuta, itu?