
"Turun kau, Allarick. Aku ingin memarahimu, sekarang.” Panggilku pada Allarick. Allarick menganguk, kemudian meloncat bebas. Bagaikan memiliki 100 nyawa di tubuhnya.
Aku melotot, melihatnya yang turun dengan selamat. Menarik telinganya, kemudian
Mengiringnya menghadap ke depan rumah.
“Angkat kaki!” perintahku. Allarick menganguk meskipun ragu.
“Satu kaki aja.” Aku berujar tegas, Allarick menganguk bosan.
“Tangannya taruh di telinga, kemudian tarik!” Perintahku lagi. Allarick menganguk ragu, mendekatkan tangannya ke arah telinga, kemudian menarik nya kuat.
“Ah, sakit!” Allarick meringis. Melepaskan tarikan pada telinganya, kemudian
Menatapku memelas. Aku tersenyum sangat manis menatapnya, memiringkan kepala kemudian
Mengubah senyumanku.
Se ketika Allarick yang ingin melawan, terdiam members. Tersenyum kecilnya, kemudian, menjalankan hukuman yang aku berikan.
Aku tersenyum, menatap bagaimana Allarick yang sangat menurut denganku. Aku suruh ini itu mau, padahal kadang, biasanya keinginanku itu tidak mask anal. Tapi dia tetap melakukannya.
Awww, aku sayang, Allarick!
“IBU.” Allarick melirih. Menatapku dengan pandangan memelas, kemudian dengan kedua tangan di satukan. Allarick me mohon maaf, Dan ku setujui.
Karena sejatinya, mau semarah apa pun aku pada Allarick. Itu semua tidak akan bisa bertahan Lama. Karena IBU, mana yang bisa marahi pada anaknya lebih Dari 1 hari. Tidak bisa kan? Sama aku juga. Aku tidak bisa marah-marah pada Allarick lebih Dari dua jam. Karena selain, imut. Allarick juga sangat penyayang, hal itu membuat Tania mudah dekat dengan nya. Tanpa memikirkan apa pun di ke depan hari nya.
“Jika memiliki se sakit ini. Aku akan memilih melepaskan sedari dulu. Karena Cinta tidak bisa di oaks akan, tanpa keinginan dua orang.”
Fallden de Carsius-
“Tidak se mudah itu Percaya pada manusia. Karena terkadang gila sendiri bisa menjadi penyakit. Kapan pun dia punya /mau.”
Allarick de Carsius-
“Hidup Itu simple, yang gak simple Cuma senyuman kamu.”
Tania-
Aku kembali ke dapur, setelah acara memarahi Allarick. Memasak untuk pagi ini, kemudian membasuh wajah.
“Bagaimana ya kabar Fallden sekarang?” aku bergumam. Memikirkan orang itu membuatku dilanda galau yang meresahkan. Kehadirannya sempat kuanggap berkat, tapi sepertinya aku harus mulai menganggapnya kesialan. Benar bukan?
Terlebih lagi dia sudah menikah. Huh, sadarlah Ailena. Sadar! Dia pasti saat ini tengah bergulung selimut dengan Selena. Lalu kenapa kau masih memikirkannya? Huh, daripada memikirkan pria itu bagaimana kalau aku mencari pria tampan saja? Mana tahu ada yang kepincut kan?
Gak papa deh jabatannya di bawah Fallden, yang penting ganteng dan baik hati. Itu saja sudah cukup kok.
Aku bergegas keluar dari dapur, beranjak ke kamar kemudian menatap Allarick kecil yang tengah menatap keluar dengan hangat. Astaga, anak itu. Apa dia mau keluar dari rumah ya? Tapi takut aku marah?
Hah, maafkan aku ya, Nak. Aku salah ternyata. Aku bergumam dalam hati, kemudian menghampiri Allarick. Menepuk-nepuk bahunya pelan, kemudian menggendongnya.
“Mau jalan-jalan keluar? Di luar udaranya bagus loh.” Allarick mengangguk dengan senyuman lebar. Aku mengusap rambutnya kemudian mencium tangannya.
“Kalau mau sesuatu, bilang. Jangan di tahan. Karena tidak semua orang, mengerti arti dari keterdiaman. Paham?” aku menurunkan Allarick, memberinya sedikit nasihat kemudian menggandeng tangannya.
“Aku salah ya?” tanya Allarick.
Aku tersenyum, menatap Allarick yang terlihat sangat bahagia. Senyuman tak kunjung pudar dari bibirnya. Kudengar Allarick beberapa kali memuji desa yang kami tempati. Pujian yang sangat tulus dan tentu saja itu berasal dari hati.
“Ibu, aku mau ke sana! Ibu disini saya ya!” teriak Allarick. Aku hanya tersenyum, melambaikan tangan ketika melihat Allarick berlari dengan anak-anak yang lain.
Tapi, entah mengapa perasaanku tidak enak. Ada yang ganjil di sini. Dan aku tahu itu. Bagaimana bisa desa yang kutempati saat ini penduduknya tidak pernah bertambah? Selalu saja sama? Terlebih lagi. Bagaimana besa desa ini makmur hanya dengan mengandalkan penghasilan dari tanaman padi.
Bagaimana mungkin? Sedangkan di kota saja, harus menggunakan banyak pekerjaan dahulu baru makmur.
Aneh tapi nyata. Begitulah saat ini menurutku. Aku mengerutkan kening, kemudian tersenyum kikuk ketika melihat ada beberapa warga desa yang tersenyum sembari menyapaku hangat.
“Semua ini nyata, atau palsu?” aku bergumam. Menatap ke sekeliling dengan tatapan bingung. Sebenarnya aku belum mengenal desa ini teramat jauh. Tapi, dari penglihatanku, desa ini amat bagus.
Tentram, dan juga nyaman. Dan aku sangat menyukainya.
“Pagi, Kakak!”
“Hei, jangan ambil ikan milikku! Jangan ih!”
“Kabur, ada si pendek!”
“Huwa, ikanku!”
Aku menoleh, ketika mendengar suara teriakan anak kecil di telingaku. Suaranya melengking, namun terdengar sangat lembut. Aku tanpa sadar berjalan ke arah suara anak itu.
Aku terhenti, ketika melihat sebuah anak berambut biru, dengan mata merah tengah menangis tersedu-sedu, sembari memukul-mukul anak lelaki yang mengambil ikan yang sepertinya hasil tangkapannya.
“Dasar, anak-anak.” Ucapku. Aku menatap mereka semua sambil tersenyum. Bahagia sekali mereka. Seketika perasaan aneh yang tadi menggerogoti pikiranku hilang entah kemana. Digantikan, perasaan bahagia yang membuncah di dalam sana.
Andai dulu aku punya masa kecil seperti mereka. Pasti indah sekali. Tugasku hanya bermain dan belajar, selebihnya dikerjakan orang tua. Ah, kenapa aku jadi berangan-angan untuk yang tidak pasti, aish.
Lagipula itu masa lalu, dan akan tetap menjadi masa lalu. Tidak akan bisa berubah, sekuat apapun kita berusaha merubahnya.
Aku menghampiri anak perempuan ini, namun, sebelum mendekat kearahnya, ternyata sudah ada Allarick di sana. Allarick melindungi anak perempuan itu dari ledekan anak lelaki yang tadi mengambil ikan milik si anak perempuan.
Ah, aku tidak tahu kalau ternyata Allarick se baik itu. Aku bangga memilikimu, Nak.
Aku kembali ke rumah setelah hari mulai agak siang. Sedari tadi Allarick Belum juga kelihatan. Ah ternyata dia sangat senang bermain di desa seperti ini ya. Em, aku mewajari sih. Sebab di kota pergaulan kita tidak akan bebas, semua tindakan di cemoh. Sedangkan di desa, mau kita ngorok ataupun gimana tidak akan jadi masalah. Sebab itu sudah dianggap biasa untuk mereka.
Ah, entah kenapa aku tiba-tiba rindu dengan kehidupan lamaku. Walaupun tidak memiliki kenangan yang indah, tapi setidaknya dari kenangan itu aku berhasil bangkit melewati segala macam masalah. Aku bersyukur untuk itu.
“Allarick! Kau tidak mau makan?” setelah selesai memasak, aku keluar dari rumah, kemudian memanggil Allarick, namun sepi tidak ada jawaban. Padahal aku yakin tadi kalau mereka main di sekitaran sini.
“Allarick!” aku kembali berteriak. Kini rasa cemas mengalir di kepalaku. Astaga, bagaimana kalau Allarick hilang? Anak itu masih belum kenal dengan yang namanya kerasnya kehidupan. Dan aku tidak mau dia merasakannya.
Tiba-tiba aku melihat ibu-ibu lewat. Aku mendekatinya, kemudian bertanya, “Buk, lihat anak berambut emas tidak? Seperti rambut saya?”
Ini itu mengangguk, “Tadi ada pria yang datang ke sini. Terus ngaku, Ayahnya anak itu. Apa itu suami Ibu?” aku menggeleng.
“Watna rambutnya apa Bu?”
Kalau memang Fallden yang menjemput Allarick aku tidak masalah. Tapi kalau orang lain, aku,
“Merah, bu.”
Sial, Allarick di culik!