I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Bukan dari dunia ini



Heh, Fallden kau di mana? Tolong aku, aku ngeri melihat tengkorak bisa jalan seperti ini. Terlebih lagi, ia bisa bicara. Aku serem loh, ya ampun. Huwaa....


Muncul woi,. Muncul. Kau kan hebat, ya walaupun menyebalkan. Tapi, aku benar-benar minta tolong. Tulang ini, seram sekali!


“Oh, pantas saja. Oh, ya apa kau mau makan? Aku bawa bekal, loh.”


Sebentar. Tulang bawa bekal? Gak salah ini? Yang benar aja woi. Gimana cara bawanya? Bagi tipsnya dong.


“Bekal? Em, tapi, anu, bukannya ---,”


Crash.


Aku mengedipkan mata beberapa kali, sampai mataku perih. Aku tidak salah lihat ini kan woi? Tulang itu, nyabut dagingnya sendiri? Daging sendiri? Gak sakit? Iuwh.


Lagi-lagi aku mengedipkan mata berulang kali, tapi kali ini sambil berjalan mundur. Karena, tulang itu berjalan ke arahku. Sembari menyerahkan dagingnya, yang, err masih berlumuran darah. Darahnya bahkan terlihat mengalir deras dari sana. Ukh, ngeri gays.


Tanpa sadar, aku menutupi mulutku, dengan tangan yang tadi memegang bunga. Kemudian tersentak, aku mengipas-ngipas wajahku yang terasa sangat, bau. Dan, hidungku yang terasa sangat sakit. Sembari terbatuk-batuk.


Tulang itu, berhenti. Namun, ketika ia mendekatkan tengkorak kepalanya ke arahku, tengkorak kepalanya langsung terlepas. Tubuhnya melebur menjadi, air.


Aku melotot, namun tidak sampai beberapa menit. Karena, tiba-tiba air itu berubah lagi menjadi tulang, dengan sedikit daging yang menempel di bawahnya. Aku bergidik, lantas berlari dengan cepat.


Biarlah aku tersesat. Asalkan, tidak bertemu tulang itu lagi. Aku seram melihatnya. Terlebih, mereka terlihat sangat mirip seperti zombie di film aksi negara barat. Iuwh, aku serem pokoknya.


Aku berjalan tanpa tujuan. Menyusuri, taman sepanjang jalan tanpa sedikit pun berhenti. Hingga akhirnya, bau mawar dan Daisy meruak masuk ke dalam penciumanku. Aku mendongak ke atas, menghirup bau itu yang berasal dari langit. Kemudian terkekeh kikuk.


Melihat seorang wanita yang tengah berpakaian merah darah, saat ini tengah menatapku memuja. Wanita itu terlihat, bercahaya seperti di pasangi oleh lampu. Yang tugasnya menyorot orang lain hanb dirasanya berguna untuk ia mainkan setiap harinya.


Astaga, Tania kenapa kau jadi memikirkan hal yang aneh sih? Sudahlah lupakan saja. Karena, itu tidak penting. Dan, tidak ada gunanya sama sekali untuk saat ini.


“Akhirnya aku bertemu denganmu, tubuhku!” wanita itu bersorak girang. Membuatku semakin bingung. Lagi pula siapa tubuhnya? Aku? Tidak mungkin. Tubuhku hanya satu dan tidak bisa di bagi dunia. Ia pikir aku Raden kian Santang kah? Oh now bukan. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang mencintai seorang iblis biadab yang tak seharusnya ada.


Heh, lihat. Aku mulai ngawur lagi kan sekarang. Hadeh .... Apa ini terjadi karena aku belum makan ya? Atau karena aku tersesat? Atau karena zombie tadi pagi. Iya kan? Pasti ads penjelasannya. Memangnya siapa yang mau hidup dalam ketidak jelasan? Sudah pastinya tidak ada dong.


Kalaupun ada , dia bodoh.


“Aku bukan tubuhmu.” Gumamku datar. Wanita itu menatapku bingung. Kepalanya dengan sengaja ia miringkan, dengan tatapan yang seolah-olah bisa membuatku lupa akan dunia. Tatapan polos. Astaga.


Lagi pula bagaimana bisa, dia mengenaliku, sedangkan aku saja tidak mengenalnya? Cih, aneh. Aku menatap wanita itu dengan raut wajah bingung plus kesal. Saat ini entah kenapa, di benakku terlintas sebuah pemikiran yaitu, kembali ke tempat dimana ada Fallden dan Semuanya. Tapi, tersesat seperti ini juga bagus sih sebenarnya.


Ia jadi tidak perlu, bersusah payah kabur dari Kastel dengan alasan yabg tidak jelas. Sekiranya hari ini, ia tidak akan apa-apa. Karena walaupun Fallden marah padanya, ia akan langsung beralasan bahwa ia tadi tersesat kemudian akhirnya mengikuti seorang wanita yang tubuh putih, pucat.


Sementara aku yang tengah sibuk memikirkan Fallden, wanita di depanku mengulurkan tangan kemudian menggambarkan sesuatu. Membuatku bingung sekaligus ingin tertawa. Karena gambarnya terlihat sekali bukan di gambar oleh orang yang berpengalaman soal hal itu melainkan di gambar oleh seseorang yang sangat terburu-buru dalam melakukan tugasnya.


Dan, aku tidak suka orang seperti itu.


***


"Menggambar, apa?” Aku mendekati wanita itu. Sembari menatapnya intens. Tidak ada yang aneh, dari wajahnya. Namun, di bagian dadanya, aku merasa sedikit aneh. Kenapa bagian itu terdapat, bekas tusukan. Terlebih lagi, kenapa tidak bergerak sedikit pun? Seolah-olah, wanita ini tidak bernafas.


Apa jangan-jangan ia memang tidak bernafas? Apa ia Dewi? Malaikat? Atau ... bidadari?


Ah, kalau ia salah satu dari mereka. Aku akan sangat bersyukur, dan aku akan memohon supaya aku di kembalikan ke duniaku sebelumnya. Meskipun dunia itu palsu, tapi aku menyukainya. Aku memang mulai nyaman dengan dunia ini, tapi ini bukanlah kuanggap duniaku. Duniaku ada di dimensi lain.


Dan, aku menyukainya.


“Takdir kita,”


Aku menggeleng. Bagaimana bisa takdir di gambar? Bukankah takdir di tulis. Dan yang menulisnya adalah dewa, apa ia benar-benar adalah seorang Dewi. Tapi, bukannya Dewi takdir adalah Zionic (Laki-laki)?


“Takdir bisa digambar?”


“Tentu. Karena ini, tentang kita. Tentu saja, bisa.”


Tentang kita, siapa? Aku? Mana mungkin. Lagi pula, aku tidak ada sangkut pautnya di dunia ini. Jiwaku bukan orang dari dunia ini. Jiwaku dari dimensi yang berbeda, bukan dari sini. Pemilik tubuh inilah yang jiwanya asli dari dunia ini. Aku? Bukan.


“Kita? Kamu maksud, aku dan kamu?” wanita itu mengangguk. Menatap mataku dengan binar cahaya, sembari mengerling jahil. Aku terkekeh, namun sedikit merasa kesal. Entah kenapa, akhir-akhir ini perasaanku tidak terkendali. Kadang kesal, kadang marah, dan juga kadang benci.


Dan, itu hanya di tujukan pada orang yang mengeluarkan api berwarna merah. Seperti wanita di depanku ini. Sedangkan yang mengeluarkan api berwarna, biru tidak sama sekali. Aku malah merasa tenang bila dekat dengannya. Seperti, Allarick dan Allison contohnya.


“Ya. Tentu saja, memangnya ada orang lain, selain kita di hutan ini?” wanita itu memiringkan kepalanya. Membuatku gemas, wajahnya putih pucat namun terlihat manis ketika sedang memikirkan sesuatu ataupun tersenyum.


Eit, aku hanya memuji, bukan mengagumi. Oke? Lagi pula, aku masih waras. Jika bisa menyukai, pria kenapa harus wanita?


“Ada,” ucapku. Wanita itu langsung menatapku, dengan tatapan bingung. Menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti memastikan apa yang aku katakan.


“Tidak ada!”


“Aku bukan dari dunia ini,”


Wanita itu merenggut. Memajukan bibirnya beberapa centimeter, sambil berdecak. Tangannya menggambar di atas tanah, sambil sesekali meliuk-liuk ke atas ataupun ke bawah.


Gambar yang sedikit aneh menurutku, karena tidak ada pemandangan ataupun manusia di dalamnya. Hanya ada pegunungan, air, api dan juga rumah. Lalu siapa yang menempatinya? Setan? Tidak mungkin. Lagi pula, ada-ada saja.


“Iya, tahu. Kamu kan dari surga. Bukan dari dimensi ini!”


“Aku bukan dari surga,” aku menatap wanita ini datar. Tidak mengertikah ia ketika aku berkata ; 'Aku bukan dari dunia ini,'? Lagi pula, sudah jelas kan. Aku sama sekali tidak memiliki ciri-ciri seorang Dewi ataupun yang lainnya.


Kulitku sama seperti manusia pada umumnya. Rambut, juga. Tidak ada yang berbeda, kecuali takdir yang sedikit mengenaskan. Mungkin, hanya itu perbedaannya.


Derajat? Aku merasa aku dan semua orang di sini berbeda. Sebab, dunia ini sangat maju. Rakyatnya tidak sengsara, pemerintahannya pun adil. Walaupun di pimpin oleh rubah sekalipun, karena kerajaan ini memiliki kekayaan yang setara dengan kekayaan hampir seluruh dari kerajaan.


Bisa di bilang, kalau ada yang menikah dengan kaisar, ataupun anaknya. Kehidupannya selama 20 turunan, akan terjamin bahagia. Nasib anak dan cucunya akan sangat baik, dengan kekayaan yang melimpah.


Jodoh mereka juga bukan orang biasa. Biasanya, jodoh mereka berpangkat 'Kaisar' atau tidak 'Archaduke' seperti Robert.


Ngomong-ngomong soal Robert. Pria itu, apa kabar ya? Apa baik-baik saja? Bagaimana keadaannya setelah hari itu? Apa ia masih mengharapkan kehadiranku atau tidak? Jika boleh jujur, aku sedikit merindukan pria playboy yang satu itu.


Karena meskipun playboy, ia selalu menepati apa yang di katakannya. Tidak pernah sekalipun aku menemukannya, berbohong. Yang selalu di ucapkannya adalah kebenaran, dan fakta yang apa adanya. Tidak ada penambahan, ataupun pengurangan. Rinci dan juga jelas.


“Jiwamu dari surga!”


Aku menghela nafas, kenapa wanita di depanku ini sangat keras kepala, sih? Aku ini bukan wanita dari surga. Aku dari bumi! Bumi! Dimensi lain yang berseberangan dengan dimensi ini! Aish, susah sekali menjelaskannya.


Lagipun, di lihat dari segi kanan ataupun kiri, aku sama sekali tidak memiliki kelebihan. Paling, kelebihan ku cuma, suka makan dan suka rebahan. Selain itu tidak ada lagi..


“Bukan, dari bumi!” Ucapku tegas. Tanganku mengepal, berusaha agar tidak terpengaruh dengan kecantikan wanita di depanku ini. Namun sepertinya sia-sia, saja. Karena, ketika aku melihatnya bersedih, hatiku langsung luluh.


Jiwa pencinta kecantikan milikku keluar. Aish, mati deh aku.


Lagi pula dia kenapa cantik sekali sih? Insecure kan! Untuk gak jadi belok. Kalau belok, bahaya banget itu.


“Kamu dari surga. Kita satu tubuh, dengan empat roh. Huhuhu, masa kamu tidak mengingatku? Padahal aku sudah memberikan separuh ingatanku padamu, loh!”


Wanita di depanku ini menangis tersedu-sedu. Namun, aku sangat tahu, bahwa itu hanyalah drama belaka. Lihatlah, matanya sama sekali tidak ber-air. Matanya justru memerah, seperti di paksa untuk menangis.


Hah, segitunya sekali wanita ini. Padahal aku sudah berulang kali bilang, aku bukan dari surga, aku bukan dari surga. Tapi, dia tetap ngeyel. Minta di apain, sih kamu? Minta di pukul? Ayo sini, walaupun aku gak tega, kalau soal mukul-memukul aku ahlinya.