I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Tak berarti



Matahari kini tenggelam. Aku dengan kaki yang masih di rantai, melihat dari balik balkon. Menatap matahari langsung yang terlihat menyeramkan. Dari balik pohon, salah seorang pasukan Fallden mengawasi. Pedang dengan lapisan darah itu mengkilap, membuatku beberapa kali harus meneguk ludah. Sial, ini sangat menyeramkan!


Di kurung dalam menara terpisah, dengan keadaan bagai tahanan hukum mati, ternyata membuat otak encer ku jadi tersumbat.


"Berhentilah melihat matahari, Nona. Itu sesungguhnya hanyalah sebuah bayangan dari kehidupan di dunia. Jika anda terlalu sering melihatnya, saya mungkin akan berpikir untuk memasukkan anda ke sana,"


Gil*! Aku langsung menoleh, menatap wanita berkepala setengah manusia, setengah hewan itu dengan tajam. Setelahnya nyaliku langsung ciut, wajah wanita itu ternyata jauh lebih seram dari yang ku bayangkan.


"Apa anda berani? cih, jangan banyak berbicara kalau tidak ada buktinya." Oke, sekarang aku memang sedang baik sekali. Buktinya aku berani nantang maut sendiri.


"Tentu. Tuan, tidak akan mencari anda karena istrinya lebih cantik dari pada anda. Kemungkinan setelah sadar akan kejelekan anda, Tuan langsung berpaling atau malah menjadikan anda sebagai makanan untuk hewan peliharaannya."


Aku melongo, tak percaya bahwa Fallden memiliki istri. Setahuku di dunia sebelumnya, dia bahkan seseorang yang ... yah, memang agak mes**m, tapi memiliki istri? laku juga ternyata laki-laki itu. Ku kira selain aku, tak ada yang mau dekat dengannya.


"Tuan dan Nyonya menikah sebelum anda, ada. Bukankah itu jelas-jelas bukti bahwa anda dianggap menarik, karena anda masih muda? ah memang benar. Para Dewi dari surga tak semuanya bisa di anggap baik."


Setelah berucap seperti itu, wanita dengan mulut rasa cabe pedas itu pergi. Meninggalkanku yang sekarang tengah meratapi nasib. Sia* sekali ternyata diriku ini. Sudah dijadikan tahanan, di hina pula, dan sekarang aku ternyata seorang simpanan! what the f*ck!


Boleh gak sih kalau langsung ngilang aja? Fallden bahkan belum datang, bahkan sudah selama ini. Pria itu memang benar-benar gi*a. Tak peduli di dunia mana pun dia berada.


Mungkin, pesona seorang Fallden di hadapan penghuni neraka tidak bisa di abaikan. Buktinya, banyak wanita dengan tubuh yang begitulah malah menyukainya.


Sebenarnya, jujur aku ini sama sekali tidak ilfil kepadanya, hanya saja bayangan aku yang berada di posisi orang kedua membuat hatiku lemah.


Padahal dulu aku menghindari yang namanya punya pacar, pun dekat dengan pacar orang. Lah sekarang? malah langsung jadi perusak rumah tangga orang, dan di bayar kontan pula. Lengkap memang.


***


"Berhentilah memanggilku. Telingaku cukup lelah mendengarmu berbicara." aku menutup telinga, mengabaikan Fallden yang membawakan bunga aneh dengan gaya ala anak remaja.


"Kau bahkan tidak melihatku."


"Tak perlu melihatmu. Aku cukup tahu, kalau kau akan membawakan bunga aneh yang bisa membuatkan sakit jantung saat melihatnya."


Aku menggeleng, menatap kearah lain agar tidak menatap Fallden yang kini terlihat menunduk. Sesekali aku melirik, menatap bunga yang Fallden pegang.


Bunga itu bahkan menangis saat di genggaman Fallden. Tangannya berwarna merah pekat, dengan cairan yang merembes bagai darah. Inilah alasan aku membenci bunga di neraka, sebagian di neraka, tumbuhan yang tumbuh bukanlah indah melainkan akan merusak mata.


"Ini berbeda! aku mendapatkannya dari perbatasan Surga dan Neraka! Bunga, ini hanya mekar seribu abad sekali. Kebetulan saat kelahiranmu, bunga ini juga mekar, dan melindungi tubuh polosmu."


Sebentar. Tubuh polos? maksudnya ....


Sia**an, Fallden brengsek! mengapa dia malah mengingat tubuhku yang polos, dan bukan tanggal tepat kejadian itu? setidaknya jika dia ingat, aku mungkin akan bisa dengan mudah keluar dari sini.


"Hentikan, bodoh! Kau membuatku malu, saja!"


"Tapi, itu sungguhan. Tubuhmu yang polos, saat itu benar-benar menawan. Lengkungan manis di bibirmu juga berhasil membuatku tertawan. Pada hari pertama kita bertemu, aku langsung merasa bahwa, takdir yang menyatukan kita meski dalam keadaan yang berbeda."


Aku termenung, sesungguhnya kalimat Fallden barusan cukup meyakinkan. Namun, membayangkan bahwa kemungkinan kalimat itu sudah di ucapkan ke beberapa orang, aku langsung ilfil mendengarnya.


Maaf, mas! aku tidak bisa tergoda akan gombalan murahan seperti itu! aku ini cantik lagi baik Budi. Jadi, aku lebih menerima bukti dari pada omong kosong, tak berarti.