
Aku menatap Fallden malas. Tanganku terus bergerilya mengusap wajahnya sampai perutnya. Kesal.
Ok, aku bosan.
Sudah lebih dari 5 jam kami terus saja berkuda. Kakiku mulai kebas, dengan pantat yang mulai terasa sangat ngilu. Aw, bisa-bisa aku tepos kalau begini.
Menurut informasi dari Duke. Jarak dari kediaman Duke dan istana kaisar lumayan, jauh. Ya, kami akan pergi ke istana kaisar.
Aku dan Fallden. Tidak ada orang lain. Hanya berdua.
Aneh? Hahaha, tentu. Aku bahkan sampai ingin memotong kepala Duke saat ini. Tapi mengingat, tatapannya yang ketika menatapku tajam, nyaliku seketika berubah menjadi debu. Kecil.
“Hiya!”
Brak, Brak, Brak, Brak.
Aku sedikit memundurkan badanku, menatap Fallden bosan. Posisi kami saat ini sangatlah intim. Dengan aku yang duduk di pahanya, sedangkan dia yang menunggang kuda. Kami berangkat menggunakan kuda. Hanya kuda.
“Kapan kita sampai?” tanyaku bosan. Mungkin ini pertanyaan ke seratus dari sepuluh detik yang lalu. Aku kurang ingat, tapi kurasa begitu.
Fallden terdiam, tangannya menarik tali yang berada di leher kuda. Seketika aku takut mati. Tanganku mencekik lehernya kuat.
Mati, kau Fallden! Mari kau siala*! Beraninya kau membuatku jantungan! Mati kau!
“Hei, kau sedang apa, huh?”
Aku cengo. Menatap Fallden yang tidak kenapa-napa. Oi, padahal tadi aku cekik kau loh. Masa nggak berasa.
“Membunuhmu!” jawabku kesal.
Fallden terkekeh, mencium rambutku pelan. Kemudian mengusap kepalaku. Ah, aku jadi merasa Fallden sudah seperti iblis yang akan mencintaiku sampai mati. Sedangkan aku adalah kenari yang akan selalu dimanja olehnya.
Aku membayangkan itu. Rasanya sangat seru jika benar-benar terjadi. Hahaha, Tuhan, tolong dong kutuk Fallden jadi iblis baik hati. Terus berkahi aku kekuatan agar bisa merubah diri menjadi kenari. Aku sangat ingin khayalanku terjadi, huhuhu.
“Bunuh saja. Lagipula, di dekatmu aku manusia biasa”
Seketika lamunanku bunyar. Nih, anak emang minta di bunuh atau gimana sih? Masih syukur loh aku Cuma becanda tadi. Ya, walaupun sebenarnya, kepengen juga sih. Tapi kalau di pikir-pikir aku tidak mau membuat rumor bertebaran. Dan, lagipula, jika aku melakukan itu. Nasib tidak akan berubah kan? Aku akan tetap mati. Ya, walaupun bukan di tangan Fallden, tapi aku pasti mati di tangan Duke.
Karena se-tahuku, Fallden dari dulu adalah anak kesayangan Duke. Rumornya, orang yang Mengadopsiku juga bukanlah Duke, melainkan Fallden. Duke hanya mengambil alih, karena takut akan datang banyak masalah jika Fallden ketahuan mengadopsi anak yang umurnya tidak jauh darinya.
Tapi itu juga tidak bisa di bilang fakta sih. Soalnya, itu hanya rumor. Ingat, hanya rumor. Dan rumor terkadang hanyalah sebuah kebohongan belaka.
“Manusia dari mana, heh? Dimataku kau seperti, setan.” Aku bergumam rendah. Memilin-milin kancing baju Fallden. Hm, aku mau cerita sedikit. Asal kalian tau. Kancing baju Fallden sangat berbeda jauh dengan kancing baju kita. Mungkin, jika kita mendapatkan kancing baju sepertinya, kita akan histeris dan langsung pingsan. Karena,
Kancing baju Fallden terbuat dari mutiara.
“Setan itu apa?” Fallden menatapku bingung. Tiba-tiba entah kenapa, aku merasa seperti matahari sangat menyoroti tubuhku. Hei, matahari. Kau tidak lihat, huh? Ada banyak manusia dan tumbuhan lain yang perlu di soroti. Kenapa menyorot aku terus?!
“Manusia jadi-jadian!” jawabku asal-asalan. Terserah lah, dia mau mikir apa. Aku bodoamat, gak peduli. Aku udah terlanjur kesal sama Duke, dan sekarang di buat kesal lagi sama Fallden.
Cih.
“Berarti itu kau.”
Apalagi Fallden, sebentar.
Aku?
Kau samakan dengan SETAN?
FALLDEN GILA!
Fallden merintih, sesekali berteriak kencang, ketika aku menjambak rambut putihnya. Tanganku bukan hanya menjambak, bahkan sudah menarik telinga, bibir dan juga hidungnya. Mampus, kau!
“Hei, Ailena, berhenti, Hei! Ini sakit! Awas, aws, Ailena! Aws,”
Aku semakin garang. Menyerang apa yang aku lihat. Bahkan bibir Fallden sudah maju ke depan karena tarikanku. Hidungnya sudah memerah, dan rambutnya sudah acak-acakan. Mantap!
Aku tersenyum puas, menatap tanganku. Kemudian mendongak menatap wajahnya.
OMG, Ya Tuhan! Aku mau pingsan!
Bagaimana tidak? Saat ini Fallden terlihat seperti badboy yang selama ini aku idolakan. Dengan rambut acak-acakan, bibir tebal, dan hidung mancung yang kemerah-merahan. Aw, ya Tuhan. Cabut saja jantung Fallden. Aku tidak kuat!
Aku membatin kegirangan. Tatapku tidak bisa berpaling dari ketampanan Fallden. Wajahnya, bibirnya, rambutnya, hah, rasanya aku ingin itu semua menjadi milikku sendiri saat ini. Oke, aku sudah gila.
Ailena, ingatlah. Dia kakakmu, dan dialah penyebab Ailena yang asli mati. Hapuskan perasaanmu, oke? Ingat, hapuskan perasanmu!
“Sakit sekali. Kau memang berniat membunuhku ternyata. Kupikir kau hanya bercanda.” Fallden mengusap rambutnya lembut. Seketika aku tersentak. Dengan cepat, tanganku menghalangi tangannya yang ingin merapikan helai rambut yang berjatuhan di sekitar telinga.
Fallden mengernyit, menatapku aneh. Kau tidak kesal sama sekali, hah? Tidak kesal! Woi, tolong, kesal dong! Aku pengen liat kau kesal loh! Aku pengen liat kau marah! Astaga.
“Kau tidak marah padaku? Tidak kesal?” tanyaku spontan. Kulihat Fallden menggeleng polos. Tiba-tiba, tangannya terulur mengusap pipiku lembut, dan mengecupnya.
“Aku tidak bisa marah pada nafasku sendiri.” Fallden menatapku lembut. Aku terdiam, menatapnya dengan mata yang kurasa sudah membesar sempurna. Bibir aku gigit kuat-kuat. Menahan perasaan, akan teriak di depannya.
“Bukan gombal.”
“Terus?”
“Aku hanya jujur pada hatiku. Hanya itu, percayalah.”
Oh Tuhan! Aku baper! Tolong aku. Mama, anakmu baper, gimana dong?!
“Ish!” aku terdiam dengan senyuman mengembang. Memeluk tubuhnya erat, sambil sesekali mengendus-endus tubuhnya. Menenangkan. Aku sama sekali tidak pernah bosan mencium bau yang menguar dari tubuhnya.
Fallden menggeleng, mengusap kepalaku lembut. Lagi. Mengecupnya lama, kemudian menarik tali kuda, dan kembali melanjutkan perjalanan.
“Tidurlah, perjalanan menuju istana sepertinya masih lama. Aku takut, kau kembali bosan.” Tangannya dengan lembut mengusap kepalaku. Aku tidak tau bagaimana caranya ia bisa menunggangi kuda dengan satu tangan. Tapi aku tidak perduli. Aku mengantuk. Aku merasa seperti di keloni, dengan segala kata-kata memuja.
Perlahan-lahan, mataku terpejam. Yang terakhir kali aku lihat, adalah senyumnya yang terukir indah dan rambutnya yang tadi aku buat acak-acakan.
“Selamat tidur.”
Aku menatap sosok berambut coklat di depanku bingung. Saat ini aku tengah berada si ruangan yang sama sekali tidak aku tahu. Dan, Fallden tidak ada disini. Cemas? Tentu, bahkan sangat cemas. Aku ketakutan, Fallden pergi dan meninggalkanku di tempat ini.
Aku takut, Fallden dendam padaku karena kejadian tadi pagi, dan menjualku ke rumah bordir. Aku takut.
“Kau sudah bangun, Lady?”
Kau tengok, aku ini udah bangun atau belum hah? Gak lihat kah?!
“Menurutmu?” tanyaku ketus. Tanganku mengusap ranjang yang saat ini aku duduki kasar.
Sial, ini kasur lembut sekali. Seperti sutra. Bahkan rasanya kasur disini lebih lembut daripada kasur di kediaman Duke. Terlebih lagi, dekorasi serba berwarna ke emasan ini membuat mataku gembira. Hehehe, semoga saja semua ini terbuat dari emas. Dan semoga saja orang di pojokan itu cepat menghilang, agar aku bisa mencuri salah satu perabotan yang ada di sini.
Kan, lumayan buat si jual. Setidaknya nanti aku bisa beli sebuah rumah, dengan kolam renang dan lain-lainnya. Membayangkannya saja aku sudah bahagia.
“Kau siapa? Dan, Fallden dimana?”
Orang itu menatapku lama. Kemudian maju.
“Perkenalkan, nama saya, Elionar Celestial Falerue.”
“Oh, y-ya?” aku mengerjap, ketika mendengar nama yang tidak asing di telingaku.
Elionar Celestial Falerue.
Elionar Celestial Falerue.
Tokoh utama pria.
Dan calon kaisar selanjutnya.
Oh TUHAN?! Nasib apa ini? Fallden kau dimana?! Aku akan mati saat ini?!
Aku melirik sosok di depanku takut-takut. Jika benar ia tokoh utama pria. Bukankah saat ini jabatannya adalah putra mahkota? OMG. Sial sekali nasibmu, Ailena.
“Lady, Ailena?”
Aku mengangguk.
“Salam kenal, ya. Katanya, anda sosok yang berhasil membuat Sir Fallden emosi. Apakah benar?”
Apa? Fallden emosi? Heh, yang benar saja. Bagaimana bisa Fallden emosi kalau ....
“Hei, kau menculik ku ya?!”
“iya.”
Aku mengangguk lagi. Owalah, pantas saja Fallden marah. Aku di culik toh.
“Tapi syukur sih. Setidaknya aku bisa terbebas dari Fallden si posesif itu. Hoam, aku mengantuk. Kau mengantuk tidak? Kalau iya. Kemari, tidurlah. Ranjang ini terlalu lebar untuk satu orang.”
“Ka-kakau, kau, kau!”
Hah? Kau mau ngomong apaan woi?
“k-kau,”
Kau apa?
“Mesum! Dasar perempuan gila! Mesum! Pantas saja Fallden menyukaimu. Kau mesum, dan kalian cocok!”
“Wil, tolong aku! Bukakan pintunya, aku takut se-ruangan dengan wanita mesum! Wil, kau dimana? Tolong aku?!”
Aku di bilang mesum?
Aku? Mesum? Kau perlu aku tabok kah? Aku mesum dari mananya woi?! Astaga, anak orang. Negatif thinking sekali kau.