I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Merubah takdir



Aku menatap ke depan lama. Bayangan akan masa lalu yang terus di jelaskan, membuatku perlahan merasakan sesuatu yang selama ini hilang.


Perasaan sedih, kesal, dan dendam tercampur menjadi satu. Aku menghela nafas, menghapus air mata yang mengalir deras. Ah, pantas saja sejak awal aku datang ke dunia ini, aku selalu merasa kesal dengan orang itu. Ternyata karena ini.


Zia menatap ku lama. Aku sadar itu, tatapannya pun seperti kasihan dengan diriku yang terlihat mengenaskan. Karena emosi, aku tidak sadar sudah merobek pakaianku sendiri, dan membuatnya jadi jelek.


"Kami minta maaf, tapi kau memang harus tahu. Dewa kegelapan sejujurnya bukan suamimu. Hubungan antara kalian itu terlarang. Kau seorang Dewi yang kebetulan bisa di tawan oleh Dewa kegelapan." Zia menepuk punggungku. Namun, tangannya menembus. Aku tersentak, kala melihat bayangan seorang pria dengan sayap elang hitam berdiri, wajahnya menghitam, dengan mata merah darah.


Di sampingnya dua orang anak tengah di rantai, dan mata mereka juga berubah menjadi merah darah. Aku tersentak kedua anak itu ... mirip seperti dua anak kembar yang aku pikir anakku sendiri.


"Kamu sudah tahu, sayang?" Fallden menatapku lama. Wajahnya yang berubah membuatku tanpa sadar merasakan emosi, sesuai yang mereka gambarkan.


Zia menatapku lama, kemudian tiba-tiba mendorongku mundur perlahan. Mengambil posisi tepat di depanku, kemudian memberikan kode padaa Cana dan Godia. Kedua wanita itu langsung membawaku entah kemana. Yang terakhir kali kulihat adalah bayangan Zia yang tengah bertengkar dengan Fallden, setelahnya semuanya langsung gelap.


***


Fallden mengeram. Matanya menatap tajam pada Zia yang tiba-tiba menyerang. Posisinya sekarat, karena di dunia para Dewi, posisinya sebagai pemegang kejahatan sangat menghabiskan tenaga. Berada terlalu lama pada zona di luar batas, membuatnya dengan terpaksa harus mengeluarkan tenaga ekstra.


"Sudah selesai, Dewi?" Fallden menyungging senyum sinis. Pedang hitam yang di pegangnya, berkilau. Sedangkan Zia yang di tantang diam. Sama sekali tidak menjawab.


Melihat itu, Zia dengan sengaja mengeluarkan kekuatannya. Mengembalikan waktu, hingga Fallden kembali ke alam baka. Setelahnya, mengembalikan waktu seperti semula.


"Kesalahan kalian telah membuat keseimbangan menjadi hancur. Kejahatan dan Takdir tak pernah bisa menjadi satu. Tak ada kejahatan yang benar-benar sudah di takdirkan." Zia menunduk, menghapus jejak kegelapan dari daratan surgawi. Kemudian membelah sebuah cahaya. Masuk ke dalamnya, dan menyusul Cana dan Godia yang sudah lama pergi.


Sementara itu Fallden yang dilempar ke neraka murka. Kemarahannya menghempas beberapa arwah berkeliaran hingga habis menjadi abu. Beberapa penjaga ikut menjadi korban kemarahan Fallden.


Salah seorang wanita datang, membawakan Fallden sebuah kain putih. Kemudian mundur secara perlahan. Fallden menatap kain itu lama, sebelumnya kain itu lah yang membuatnya dan Qeina ( Ailena ) bertemu. Kain itu pertama kali jatuh di perbatasan antara neraka dan surga saat acara suci di adakan.


Saat itu, adalah hari kelahiran dari anak Dewi bintang yang akan menjadi Dewi Takdir. Fallden melihatnya, melihat bagaimana kain itu berubah menjadi sebuah bunga dengan aroma memikat, kemudian berubah menjadi sebuah pohon dengan kemilau bintang lalu setelahnya tiba-tiba menjadi seorang gadis berpakaian putih dengan kain yang menutupi kedua matanya.


Fallden yang saat itu tergoda dengan aroma yang menguar, membuatnya nekat mengambil penutup wajah Qeina, hingga keduanya bertatap.


Wajah Qeina yang putih bersih, dengan senyuman manis yang membuat Fallden terpaku, membuatnya tak sadar bahwa tindakannya mengacau runtutan garis yang di gambarkan.


Beberapa Dewi yang mencari keberadaan Qeina terlonjak kaget melihat Fallden yang saat itu sedang mencium Qeina.


Kejadian pada waktu itu membuat Fallden di kutuk oleh sang dewa utama. Dan, Qeina yang di kurung jiwanya dalam sebuah kurungan surgawi, dan diberikan jiwa baru dengan keadaan tak sesuci sebelumnya.