I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Jangan jadi Seperti Dia



Sudah seminggu semenjak kejadian, Fallden yang mengungkapkan kebenaran tentang jati dirinya padaku. Semenjak, saat itu Fallden tidak pernah lagi datang ke Faviliun milikku, untuk menyapa ataupun sekedar basa basi saja.


Rindu? Jelas. Aku rindu, dengan omelannya yang sangat cetar membahana. Terkadang, dunia memang se bercanda ini. Setelah, jatuh cinta se dalam-dalamnya, kini aku di lempar oleh kenyataan sekeras-kerasnya.


Kenyataan bahwa Fallden menghindar dariku. Bukan karena hari itu, melainkan karena ia sudah bertunangan dengan wanita lain sebelum kehadiranku. Dan, sialnya lagi upacara pernikahan mereka akan di adakan tepat 4 hari lagi.


Sedih? Oh jelas. Dua hari yang lalu aku berharap dia datang, kemari dengan membawa kabar manis yanng akan menyenangkan hati. Tapi, ternyata bukan. Ia malah menyuruh ajudannya, Dexter yang datang kepadaku, dan menyampaikan undangan pernikahannya.


Sebenarnya ia anggap apa diriku? Adik, atau bagaimana? Aku kecewa. Sangat, perasaan yang baru pertama kali aku rasakan kini malah berakhir dengan kenyataan yang menyakitkan. Ternyata begini rasanya jatuh cinta, aku benci cinta.


“Ibu.” Allarick datang menghampiriku yahh tengah melamun sembari memperhatikan keromantisan Fallden dengan tunangannya Selena- yang merupakan anak satu-satunya viscount. Keromantisan mereka terlihat sangat nyata. Jadi, selama ini, yang di lakukannya untukku, hanya untuk sekedar bercanda saja ‘kan? Iya kan?


Haha, dasar kau Tania. Baperan sekali!


“Iya, ada apa?” aku tersenyum. Merentangkan tangan dengan lebar. Menyuruh lelaki kecil ini memeluk tubuhku. Allarick tersenyum dengan amat manis, kemudian memeluk tubuhku. Tubuhnya yang hangat dan sedikit dingin. Mengingatkanku, dengan Fallden yang memiliki suhu tubuh yang sama dengan Allarick. Bisa berubah-ubah.


****, ayolah Tania. Kenapa mengingatnya terus! Ayo moveon, di dunia ini bukan hanya ada satu pria tampan. Melainkan berjuta-juta, jadi mari! Kita cari dia!


“Aku merindukan, Ayah.” Baru saja aku mengatakan akan melupakan Fallden, tapi Allarick langsung membahasnya. Allarick menatap mataku, dengan sorot mata penuh kerinduan. Aku tidak tahu, bagaimana hubungan Fallden dengan anak ini bisa sangat baik. Tapi, satu hal yang sudah kupastikan benar adanya. Kalau, Fallden juga sama sepertiku. Ber-reinkarnasi, karena dia tahu semua sejarah yang dahulu hanya di ketahui olehku dan putra mahkota. Selain mereka, tidak ada lagi.


Dan, soal membocorkan rahasia. Sepertinya, putra mahkota bukan orang yang seperti itu. Melihat dari kelakuannya yang sedikit tegas, ku rasa ia akan malu menyebar luaskan aibnya sendiri. Pasti.


“Lupakan saja pria aneh itu. Pokus saja pada, Ibu. Apa Ibu, kurang tampan untuk menjadi pria? Hm.” Tanyaku sedikit agak ragu. Aku melirik Allarick yang terlihat seperti sedang berpikir. Pose seperti ini sangat cocok sekali untuknya.


Wajahnya yang imut, terlihat semakin imut jika seperti ini.


“Tidak cocok! Ibu hanya cocok jadi bidadarinya, Allarick! Bukan yang lainnya!”


Akun terkekeh geli mendengar ucapannya. Gak nyangka anak se kecil ini bisa posesif juga ya? Tapi kenapa sikapnya harus sama persis dengan Fallden? Kenapa?


Kenapa mereka terlihat seperti pinang di belah dua? Huh. Mereka kembar sekali, dari sikap maupun segalanya. Beruntung sekali, Allarick memiliki wajah dan rambut yang hampir serupa denganku. Kalau tidak, sudah aku tendang dia dari sini. Seperti aku menendang Fallden dari pintu hatiku. Kalau bisa, ya. Soalnya aku juga belum yakin, bisa lupain setan kaya dia.


“Baiklah-baiklah.” Aku mengalah. Allarick tersenyum manis, memeluk erat pinggangku kemudian beberapa saat kemudian tertidur.


Aku diam, mataku tanpa sengaja melirik ke arah taman. Tempat dimana Fallden dan Selena tengah berkencan. Namun, pemandangan tidak mengenakkan justru terpampang di depanku.


Pemandangan bagaimana ketika, Fallden dengan mudahnya mencium Selena di ruangan terbuka seperti itu, tanpa memikirkan perasaan orang lain bagaimana. Aku tersenyum kecut. Seharusnya dari awal aku mengerti. Dunia ini hanya fantasi. Takdirku sudah di tulis akan mati, dan seharusnya aku tidak menentangnya. Karena ternyata semuannya sia-sia.


Perasaan ini, membuatku mati rasa terhadap semuanya. Pelangi yang tadinya aku lihat seketika lenyap bergantikan malam yang panjang. Tanpa cahaya. Jika boleh jujur. Terkadang aku ingin, menjadi seseorang yang bisa bahagia.


Kehidupanku sebagai, Tania bukanlah mudah. Aku harus mengamen hanya untuk membeli nasi kotak yang harganya sangat bejibun, dengan harga yang sedikit.


Aku harus ikhlas, ketika ada yang membentakku ketika merasa diriku mengganggu ketentramannya. Dan harus menahan nafsu, ketika melihat bagaimana orang lain bisa memakan ayam dengan mudah. Sedangkan aku, hanya bisa memakan itu, jika ada yang berbaik hati.


Jika, tidak aku hanya bisa menelan ludah, membayangkan bagaimana rasa dagingnya.


Haha, selamat untukmu Tania. Selamat untuk patah hati pertamamu, dan selamat karena telah kehilangan cintamu. Selamat!.


Aku tersenyum miris, di balik rambut yang menutupi wajahku. Air mata tiba-tiba saja mengalir dengan deras di sana. Aku terdiam membisu. Membiarkan tangis yang kini menjadi obat disaat aku sedang membutuhkan pijakan. Aku kini kembali seperti dulu.


Sendiri, dan seharusnya aku sadar diri. Ya, seharusnya aku sadar diri. Segala sesuatu yang dilihat oleh mata tidak selamanya nyata. Melainkan hanya fiksi belaka. Dan, kini aku mengalaminya.


Haha, kasihan sekali kau, Tania.


Aku mengusap air mataku menggunakan tangan Allarick. Biarlah, aku tidak perduli, dia mau bangun ataupun tidak. Tapi saat ini akun sedang membutuhkan seseorang untuk menghapus air mataku. Walaupun orang itu tertidur, aku tidak masalah.


“Ibu, jangan menangis!” Allarick merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku bisa merasakan tubuh anak ini bergetar seperti sedang menangis. Seketika tangisku berhenti. Dengan segera aku melepaskan pelukan itu kemudian menatapnya tajam.


“Kenapa menangis heh?!” tanyaku garang. Allarick menggeleng polos, kemudian menghapuskan ingusnya ke bajuku. Ck, dahlah.


“Aku hanya mengikuti, ibu saja.” Dan setelahnya, seketika aku merasa aroma-aroma galau yang tadi lengket di tubuhku menghilang semua. Digantikan aroma ingin membunuh seseorang, dan yang pasti orang itu bukanlah Fallden.


Melainkan Allarick.


Astaga, bocah satu ini. Kurang ajar, sekali! Untuk ganteng. Kalau gak, udah ku jual kau!


Aku menatap anak ini tajam, sembari terus mencibir dalam hati. Pandanganku sedari tadi tidak lepas dari matanya yang memancarkan cahaya keingin tahuan yang tinggi. Tangannya, berulang kali menghapus jejak air mata yang ada di pipiku, kemudian menjilatnya.


Sama sekali tidak jijik, Allarick malah terlihat seperti menikmati kelakuannya yang menjilati pipiku, seperti guguk. Aku terkekeh geli, ketika tanpa sengaja dia mengecup hidungku.


Aku dengan segera mengangkat Allarick keatas, kemudian memutar-mutar tubuhnya. Sedikit berat memang, karena kata pelayan yang mengawasi Allarick. Allarick makan dengan sangat lahap. Bahkan bisa sampai menghabiskan dua piring porsi orang dewasa. Yang, banyaknya tidak bisa di hitung itu.


“Apa tidak asin?” tanyaku spontan. Allarick menggeleng.


“Air mata dari orang yang kita sayang, biasanya akan berubah menjadi manis, ketika ada seseorang yang mau menghapusnya. Hehe,” Allarick mengusap kepalanya bingung, dengan senyuman mengembang.


Aku tersenyum maklum, merapikan sedikit anak rambutnya, yang keluar dari zona nya. Kemudian mengecup kepalanya.


Jangan jadi, seperti dia ya?


Yang datang hanya untuk memberikan luka.


Karena jujur, aku bukan wanita kuat, yang bisa menahan segala luka.


Aku hanya manusia biasa,


Memiliki hati dan juga rasa.


Aku bisa sakit dan juga kecewa.