
Entah apa yang terjadi padaku. Rasanya, semua yang diucapkan Fallden, seperti kebohongan. Tatapan hangatnya, kebohongan. Semuanya kebohongan. Tidak ada yang benar, soal Allarick dan Allison, aku tidak bisa bilang kalau hubunganku dengan mereka Bohong. Karena, aku melihat ada sedikit percikan api surga dari tubuh mereka.
Sejak kapan, aku bisa melihatnya? Sejak aku hidup di tubuh ini. Awalnya aku pikir, itu wajar saja, karena di sini, masih menggunakan mana dan mantra. Jadi, kemungkinan besar, api itu hanya hasil dari mantra atau mana.
Tapi, lama kelamaan, aku mulai melihat banyak keganjalan. Api di setiap tubuh beberapa orang berbeda-beda. Contohnya di tubuh Ronald api di tubuhnya berwarna biru pekat, api di tubuh kaisar merah terang, dan api di tubuh Duke berwarna merah darah.
Hampir semua orang, memiliki api yang berbeda-beda. Hampir terlihat sama, namun terkadang warna dan bentuknya berbeda. Aku pernah, menanyakan hal ini kepada Duches. Dan, Duches menjawab bahwa, “Yang kau lihat, bukanlah api dari mantra ataupun mana. Melainkan kedua api dari surga dan neraka. Surga memiliki 7 api, dan neraka memiliki 5 api. Maka dari itu, api di tubuh ,setiap orang berbeda.”
Aku mengangguk, ternyata begitu. Aku pikir, sebelumnya bahwa semua api yang terlihat di atas kepala seseorang adalah lambang kekuatan, atau memang mereka sedang mencoba mantra. Tapi, ternyata bukan.
Dan, ada satu lagi yang membuatku bingung. Apa semua orang bisa melihat hal yang sama denganku? Dan, bagaimana bisa Duchess tahu? Apa Duchess sama sepertiku?
“Em, Duchess tahu dari mana?”
“Hanya menebak.”
Em, kok aku pengen nyekek orang ya?
Aku berjalan-jalan sekitar taman, sendirian. Padahal, tadi pagi aku ingin berjalan-jalan bersama Allarick. Hah, ini semua karena Fallden. Gara-gara dia membuatku, marah aku jadi melupakan semuanya. Untung saja aku tidak lupa, untuk mengganti gaun tidurku dengan baju yang baru. Jika, tidak ... Duh pasti malu sekali aku.
“Haah, aku rindu bumi.” Aku bergumam, sembari menyambut salah satu tangkai bunga. Menggenggamnya erat, sembari menghirup baunya. Tidak ada. Heh, aku baru ingat, kalau aku sekarang bukan berada di tanah yang nyata, melainkan tanah neraka. Bunga di sini juga pasti berbeda dengan tanah biasanya.
“Bunganya bau, amis.” Kau mengiusap tanganku yang tadi menyentuh, bunga itu, kemudian mengelapnya ke baju. Kira-kira sekarang aku sedang berada di sana ya? Semua tempat terlihat sama saja. Berwarna merah, dan sepertinya hanya aku saja di sini yang belum berwarna marah.
Em, meskipun aku berwarna merah, aku tetap akan kembali menjadi wujud asliku sih. Sebab, kekuatan Dewi yang kubawa, tertinggal di tubuh ini. Jadi, aku tidak akan, kenapa-napa. Pantas, saja di sini tidak panas.
“Aku sepertinya tersesat.” Gumamku rendah, sekeliling terlihat aneh. Orang yang berlewatan juga bukan manusia sepenuhnya. Melainkan tulang setengah manusia. Seram, tapi aku sepertinya harus terbiasa melihatnya. Karena, aku harus di sini, sampai Allarick mau pulang. Dan, Allison bertemu dengan Ayahnya.
Membahas soal Allarick. Aku bingung, bagaimana bisa anak itu mewarisi kekuatan cahaya yang ku miliki? Padahal, sebelumnya aku sudah di kutuk tidak akan memiliki kekuatan cahaya. Seharusnya kutukan itu terus berlanjut, kepada Allarick, iya 'kan?
Lalu, soal Allison. Anak itu, terlihat berbeda dari beberapa anak iblis sebelumnya. Anak iblis seharusnya memiliki kesombongan yang tinggi, dan tidak mudah di ajak bicara. Namun, sekarang kenapa sebaliknya? Allarick yang jarang bicara dan Allison yang banyak bicara?
Apa jangan-jangan jiwa mereka tertukar? Sama sepertiku dahulu? Tapi kalau ia, kenapa tidak ada yang sadar? Api dari tubuh mereka juga kenapa tidak berubah? Bukannya api itu mengikuti jiwa pemiliknya?
Jika jiwa pemiliknya meninggal, maka api itu akan padam. Tapi, Allarick dan Allison ...
“Hei, manusia. Kau sedang apa di sini?”
Aku menoleh ke belakang, menatap orang yang tadi memanggilku. Kemudian meneguk saliva dengan kasar. Sial, kenapa harus begini huwa? Padahal aku seneng, loh karena ada yang nyapa. Terus kenapa yang nyapa harus, tengkorak hidup kayak begini?
Serem banget, Astaga. Mana ada api di tubuhnya. Aku jadi merinding 'kan.
“Eeh, aku? Sedang tersesat.” Aku tersenyum kikuk. Menatap tengkorak itu, takut-takut.
Heh, Fallden kau di mana? Tolong aku, aku ngeri melihat tengkorak bisa jalan seperti ini. Terlebih lagi, ia bisa bicara. Aku serem loh, ya ampun. Huwaa....
Muncul woi,. Muncul. Kau kan hebat, ya walaupun menyebalkan. Tapi, aku benar-benar minta tolong. Tulang ini, seram sekali!
“Oh, pantas saja. Oh, ya apa kau mau makan? Aku bawa bekal, loh.”
Sebentar. Tulang bawa bekal? Gak salah ini? Yang benar aja woi. Gimana cara bawanya? Bagi tipsnya dong.
“Bekal? Em, tapi, anu, bukannya ---,”
Crash.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, sampai mataku perih. Aku tidak salah lihat ini kan woi? Tulang itu, nyabut dagingnya sendiri? Daging sendiri? Gak sakit? Iuwh.
Lagi-lagi aku mengedipkan mata berulang kali, tapi kali ini sambil berjalan mundur. Karena, tulang itu berjalan ke arahku. Sembari menyerahkan dagingnya, yang, err masih berlumuran darah. Darahnya bahkan terlihat mengalir deras dari sana. Ukh, ngeri gays.
Tanpa sadar, aku menutupi mulutku, dengan tangan yang tadi memegang bunga. Kemudian tersentak, aku mengipas-ngipas wajahku yang terasa sangat, bau. Dan, hidungku yang terasa sangat sakit. Sembari terbatuk-batuk.
Aku melotot, namun tidak sampai beberapa menit. Karena, tiba-tiba air itu berubah lagi menjadi tulang, dengan sedikit daging yang menempel di bawahnya. Aku bergidik, lantas berlari dengan cepat.
Biarlah aku tersesat. Asalkan, tidak bertemu tulang itu lagi. Aku seram melihatnya.
Heh, Fallden kau di mana? Tolong aku, aku ngeri melihat tengkorak bisa jalan seperti ini. Terlebih lagi, ia bisa bicara. Aku serem loh, ya ampun. Huwaa....
Muncul woi,. Muncul. Kau kan hebat, ya walaupun menyebalkan. Tapi, aku benar-benar minta tolong. Tulang ini, seram sekali!
“Oh, pantas saja. Oh, ya apa kau mau makan? Aku bawa bekal, loh.”
Sebentar. Tulang bawa bekal? Gak salah ini? Yang benar aja woi. Gimana cara bawanya? Bagi tipsnya dong.
“Bekal? Em, tapi, anu, bukannya ---,”
Crash.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, sampai mataku perih. Aku tidak salah lihat ini kan woi? Tulang itu, nyabut dagingnya sendiri? Daging sendiri? Gak sakit? Iuwh.
Lagi-lagi aku mengedipkan mata berulang kali, tapi kali ini sambil berjalan mundur. Karena, tulang itu berjalan ke arahku. Sembari menyerahkan dagingnya, yang, err masih berlumuran darah. Darahnya bahkan terlihat mengalir deras dari sana. Ukh, ngeri gays.
Tanpa sadar, aku menutupi mulutku, dengan tangan yang tadi memegang bunga. Kemudian tersentak, aku mengipas-ngipas wajahku yang terasa sangat, bau. Dan, hidungku yang terasa sangat sakit. Sembari terbatuk-batuk.
Aku melotot, namun tidak sampai beberapa menit. Karena, tiba-tiba air itu berubah lagi menjadi tulang, dengan sedikit daging yang menempel di bawahnya. Aku bergidik, lantas berlari dengan cepat.
Biarlah aku tersesat. Asalkan, tidak bertemu tulang itu lagi. Aku seram melihatnya. Terlebih, mereka terlihat sangat mirip seperti zombie di film aksi negara barat. Iuwh, aku serem pokoknya.
Aku berjalan tanpa tujuan. Menyusuri, taman sepanjang jalan tanpa sedikit pun berhenti. Hingga akhirnya, bau mawar dan Daisy meruak masuk ke dalam penciumanku. Aku mendongak ke atas, menghirup bau itu yang berasal dari langit. Kemudian terkekeh kikuk.
Melihat seorang wanita yang tengah berpakaian merah darah, saat ini tengah menatapku memuja. Wanita itu terlihat, bercahaya seperti di pasangi oleh lampu. Yang tugasnya menyorot orang lain hanb dirasanya berguna untuk ia mainkan setiap harinya.
Astaga, Tania kenapa kau jadi memikirkan hal yang aneh sih? Sudahlah lupakan saja. Karena, itu tidak penting. Dan, tidak ada gunanya sama sekali untuk saat ini.
“Akhirnya aku bertemu denganmu, tubuhku!” wanita itu bersorak girang. Membuatku semakin bingung. Lagi pula siapa tubuhnya? Aku? Tidak mungkin. Tubuhku hanya satu dan tidak bisa di bagi dunia. Ia pikir aku Raden kian Santang kah? Oh now bukan. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang mencintai seorang iblis biadab yang tak seharusnya ada.
Heh, lihat. Aku mulai ngawur lagi kan sekarang. Hadeh .... Apa ini terjadi karena aku belum makan ya? Atau karena aku tersesat? Atau karena zombie tadi pagi. Iya kan? Pasti ads penjelasannya. Memangnya siapa yang mau hidup dalam ketidak jelasan? Sudah pastinya tidak ada dong.
Kalaupun ada , dia bodoh.
“Aku bukan tubuhmu.” Gumamku datar. Wanita itu menatapku bingung. Kepalanya dengan sengaja ia miringkan, dengan tatapan yang seolah-olah bisa membuatku lupa akan dunia. Tatapan polos. Astaga.
Lagi pula bagaimana bisa, dia mengenaliku, sedangkan aku saja tidak mengenalnya? Cih, aneh. Aku menatap wanita itu dengan raut wajah bingung plus kesal. Saat ini entah kenapa, di benakku terlintas sebuah pemikiran yaitu, kembali ke tempat dimana ada Fallden dan Semuanya. Tapi, tersesat seperti ini juga bagus sih sebenarnya.
Ia jadi tidak perlu, bersusah payah kabur dari Kastel dengan alasan yabg tidak jelas. Sekiranya hari ini, ia tidak akan apa-apa. Karena walaupun Fallden marah padanya, ia akan langsung beralasan bahwa ia tadi tersesat kemudian akhirnya mengikuti seorang wanita yang tubuh putih, pucat.
Sementara aku yang tengah sibuk memikirkan Fallden, wanita di depanku mengulurkan tangan kemudian menggambarkan sesuatu. Membuatku bingung sekaligus ingin tertawa. Karena gambarnya terlihat sekali bukan di gambar oleh orang yang berpengalaman soal hal itu melainkan di gambar oleh seseorang yang sangat terburu-buru dalam melakukan tugasnya.
Dan, aku tidak suka orang seperti itu.