
Fallden menggeleng cepat, tangannya meraih tanganku pelan, kemudian menggenggamnya dengan erat. “Tidak. Aku tidak ingin kau mati,”
“Kenapa?”
Aku menaikkan alis, ketika melihat Fallden yang mengecupi kedua tanganku. Mulai dari jari jempol sampai hari kelingking. Begitu seterusnya.
Karena jika kau meninggalkanku. Aku tidak akan punya pelayan untuk disuruh-suruh lagi.”
Siala*! Kau anggap kehadiranku pelayan hah?! Dasar Fallden gil*, brengsek, gak waras, bodoh! Mati saja kau! Aku ikhlas, lahir dan batin. Cih. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, terlebih lagi pada bidadari sepertiku.
Huu, untung saja aku masih sedikit waras, kalau tidak sudah ku bunuh kau Fallden. Gara-gara kau aku bermimpi aneh, dan gara-gara kau juga aku ---, sebentar, tujuanku kemari kan mencari Allarick. Lalu, Allarick di mana saat ini? Astaga, sial aku lupa.
“Allarick di mana, Fallden?!” tanyaku dengan tergesa-gesa. Nafasku naik turun, seiring dengan kekhawatiranku yang memuncak.
Bagaimana ini, sampai saat ini Allarick Belum di temukan. Dia sudah makan atau belum? Bagaimana nasibnya? Apa dia sudah pulang ke rumah, atau bagaimana? Astaga, ya Tuhan. Tolong beri tahu aku di mana si aktif Allarick?
“Sedang bermain dengan teman barunya.” Jawab Fallden sedikit, ekhem tidak suka? Aku mengangguk, kemudian bertanya di mana Allarick berada, Fallden menunjuk sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Aku mengangguk cepat.
Hah, aku baru sadar aku di tempat yang sangat aneh. Terlebih lagi, di sini memiliki banyak kamar. Tapi, entah kenapa hanya ada 4 kamar yang kulihat sedikit terbuka. Kamar satu yang tadi aku tempati, kamar dua yang bersisi SE sosok pasangan, kamar tiga yang isinya Entah apa Dan, kamar empat isinya Allarick dengan temannya ----, RAMBUTNYA HITAM KEUNGUAN? Sial, jangan-jangan ini, di ....
“
Fallden tiba-tiba muncul, memelukku dari belakang kemudian meletakkan kepalanya di bahuku. Ya, ini di istanaku. Istana para iblis. Apa kau ingat sayang?”
“Dan itu adalah kedua anak kita. Allarick si malaikat surga dan Allison si malaikat neraka. Mereka terlihat tampan, kan?” Fallden mengendus bahuku, bau kasturi tiba-tiba menyerbak dari ruangan yang berisi Allarick dan siapa tadi? Allison? Ah, ya Allison.
Hah, Astaga Bagaimana aku bisa tidak mengenali orang yang diceritakan oleh Fallden adalah dirinya sendiri di masa lalu. Astaga, Tania bodohnya dirimu. Sudah jelas, waktu itu ketika Fallden marah, warna rambut dan matanya berubah, dan kenapa kau baru sadar? Aish! Dasar bodoh.
“Hm, ya. Mereka tampan.” Gumamku. Em, sebentar. Jika Fallden adalah seorang raja iblis merah, maka istrinya saat ini adalah ...
“Istriku saat ini adalah, Ratu iblis merah.”
Tebakanku benar ternyata. Pantas saja, Fallden menikahinya kembali. Orang di masa lalu istrinya, di masa depan juga pasti begitu dong.
Tapi, jika Selena adalah ratu iblis merah, lalu wanita bergaun putih itu ... Siapa?
“Dia istri pertamaku sekaligus cinta terakhirku. Dia Lilyana, seorang Dewi cahaya.”
“Dan, sekarang tengah ber-reinkarnasi menjadi, Tania dan juga Ailena.”
Sebentar, sebentar. Jika aku adalah Tania sekaligus Ailena. Berarti yang di maksud olehnya adalah aku begitu? Astaga naga. Yang benar saja, aku ini Manusia tulen, darahku bukan berwarna biru ataupun emas. Jadi mana mungkin aku Dewi. Aneh-aneh saja!
Aku menatap Fallden dengan muka yang memerah, menahan tawa. Sedangkan Fallden tetap diam dengan muka serius.
Sudah pasti yang dia ceritakan itu adalah dirinya sendiri dan pasti orang terdekatnya, dan selama ini akulah orangnya. Bukannya aku sombong, tapi itu kan hanya fakta. Lagi pula kenapa aku bisa se tidak peka seperti ini sih? Kenapa aku tidak menduga bahwa dari awal sebenarnya Iblis merah itu adalah Fallden. Padahal dahulu aku pernah melihatnya berubah menjadi iblis merah.
Matanya ungu, persis seperti yang ia katakan. Jadi, kalau begitu, aku sia-sia saja ya memikirkan akan mencari pria yang merupakan reinkarnasi iblis merah untuk melakukan perjanjian. Huh, padahal aku ingin sekali kembali ke dunia asalku.
Ya walaupun semua itu tidak nyata dan benar adanya. Tapi, aku nyaman ada di sana. Aku nyaman terkurung di sana, dan aku menyukainya. Huft. Aku menghela nafas lelah. Menatap ke arah Allarick dan Allison yang terlihat sedang bertengkar.
Kedua bocah lelaki itu terlihat sangat menawan dan cocok ketika bersama seperti itu. Terlebih lagi, Allison terlihat seperti duplikat diriku sendiri. Sedangkan, Allarick lebih mirip dengan wajah kami berdua (Aku dan Fallden).
Tapi sebentar, sepertinya aku kelupaan sesuatu.
Ya, dia adalah ratu iblis merah.
Seketika perasaan senang yang tadi membuncah di hatiku lenyap digantikan perasaan sesak dan juga sedih. Bagaimana bisa aku lupa bahwa Fallden dan Selena sudah menikah secara sah? Mereka juga sudah memiliki anak (Keturunan Iblis Merah) yang saat ini tengah menjabat sebagai salah satu penghukum di neraka Bawa (Neraka atas).
Aku tersenyum kecut, memikirkan bagaimana bahagianya mereka, hidup dengan segala tawa. Kemudian terkekeh, kenapa harus tersakiti sih? Jika sudah begini ya syukuri saja. Lagi pula apa yang mau di sesali? Tidak ada kan?
Cinta itu kan anugrah terindah,
Jadi, jika cintamu berpaling ya anggap saja kau tengah di beri uji coba,
Pantas bahagia, atau malah sebaliknya.
-Tania : I Choose a Sugar Dady Route-
“Allarick, Allison.” Aku memanggil, kedua bocah yang terlihat sedang bertengkar itu. Mereka menoleh menatapku berbarengan, kemudian berlari dengan sangat cepat menerjang tubuhku.
Allison yang paling cepat, ia langsung meloncat kemudian memeluk leherku dari bahu sebelah kiri. Kemudian di susul oleh Allarick yang juga meloncat dan kemudian memeluk leherku dari bahu sebelah kanan.
Mereka berdua mengecupi pipiku bergantian seraya tersenyum manis. Aku membalasnya dengan senyuman lebar, kemudian mengecup mereka satu persatu. Di mulai dari Allarick baru, Allison.
Dan, ekhem, aku juga baru tahu bahwa anakku memiliki satu sifat yang sama dengan Fallden. Yaitu, mesum. Buktinya, Allison tidak mau pipinya di cium olehku, ia malah lebih memilih di cium ujung bibirnya untuk menggantikan pipinya.
Aku hanya tersenyum, menanggapinya. Namun, tak urung melakukannya. Lagi pula, Allison anakku. Jadi, itu tidak apa-apa kan?
Terlebih lagi, aku dan Allison sudah lama tidak bertemu. Setidaknya sekarang aku harus memberikan kesan baik untuknya, agar ketika aku kembali ia tidak akan rindu ataupun bosan di dunia tidak nyata ini.
“Ibu, aku rindu.” Allison bergumam manja di telingaku, seraya mengecupinya beberapa kali. Aku terkekeh, merasa lucu dengan sikapnya yang ternyata terlampau aktif. Lalu menatap Allarick yang terlihat menatapku sendu, sambil memainkan tangannya.
Aku tersenyum menyambut, tingkah lucu darinya. Haha, ternyata anakku bisa cemburu juga ya..