I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Pergi



Aku menatap pergelangan tanganku sendu. Jujur, saat ini aku sudah sangat merindukan Allarick. Anak itu, bagaimana kabarnya sekarang? Ia sudah makan atau belum? Bagaimana hari pertama belajar tata kramanya?


Aku terus saja bertanya, meskipun tidak Ada yang menjawab. Anggaplah aku gila, karena itu faktanya. Aku gila, padahal aku baru saja tinggal di desa ini SE llama Satu hari. Astaga, aku tidak mengerti, bagaimana sebenarnya hati ku ini?


“Permission, nona, Ada yang mencari anda,” aku yang sedang melamun sedikit merasa terkejut. Namun, itu tidak bertahan Lama, karena setelahnya aku malah tersenyum kikuk, menatap Allarick yang menenteng tas di tangan kirinya sembari menangis tersedu-sedu di kedua kakiku.


Aku sedikit terkekeh, menatap Pak Ferlon yang tengah menatap Allarick dengan senyuman hangat. Senyuman yang sangat tidak mengenakan untuk ku. Kenapa? Karena pak Ferlon belum memiliki anak, setelah menikah se Lama 20 tahun dengan istrinya. Dan, kabarnya mereka rela menjual harta benda mereka sekali pun, jika Ada orang yang mau menjual anak ya untuk mereka.


Dan, aku sangat tahu arti pandangan Ferlon. Pandangan itu Mengartika ketertarikan yang besar. Terlebih lagi, Allarick memiliki sitat yang hangat. Aku jadi takut, pak Ferlon akan macam-macam dengan nya.


“Kalau begitu, saya permission ya, Pak.” Ucapku sedikit agak kuat. Aku membalikkan badan, kemudian Menatap pintu sedikit agak keras, agar pak Ferlon paham bahwa Allarick adalah


Anak ku, Dan tetap menjadi anak ku. Bukan anaknya.


“Ibu, jangan pergi lagi! Aku minta maaf, kalau kata-kataku waktu itu Ada yang salah. Aku mohon!” Allarick terus memeluk tubuhku erat. Aku tersenyum, sedikit tersenyuh dengan tingkahnya yang lucu, dan polos. Allarick yang seperti ini sangat lucu, dan aku menyukainya.


Biarlah hubunganku dengan Fallden kandas, tapi hubunganku dengan Allarick jangan. Karena aku sudah terlanjur menyayangi anak Satu ini.


“Iya, iya.” Ucapku. Aku mengelus Rambutnya pelan, kemudian mengangkat tubuhnya. “Berat sekali huh.” Keluhku. Allarick tertawa bahagia, karena meilihatku sudah memeluk ya. Allarick membalas pelukan itu lebih erat, dengan leher yang di sembunyikan di leherku.


“Ngantuk, ya?” tanyaku. Ketika melihat Allarick sedikit menguap. Allarick menganguk, tapi dengan posisi yang masih tetap memeluk ku erat. Aku tersenyum, membawa Allarick ke kasur tempat ku tidur, kemudian menepuk-nepuk punggungnya lembut.


Allarick sedikit bergerak tidak nyaman, tapi aku dengan segera menguap tangannya dan menguap dadanya. Allarick yang tadinya, bergerak, kembali tertidur lelap. Entah kenapa, melihatnya tertidur seperti ini malah membuatku mengantuk. Aku dengan kesadaran yang hampir lenyap, berbaring di samping Allarick kemudian memeluk tubuh kecilnya.


“Selamat tidur, sayang.” Ujarku Sebelum akhirnya terjatuh ke dalam mimpi indah yang Panjang.


Fallden menggeleng lemah. Menatap diriku dengan pandangan meminta di kasihan. Tapi, aku yang sudah terlanjur kecewa dengan nya hanya menggeleng kemudian menggait lengan seorang pria yang berjalan Elderixk.


Aku sebenarnya tidak tahu, bagaimana bisa aku kenapa dengan Elderixk, tapi bagai yang di tengah


Kemiskinan. Aku tidak mungkin menolak kehadiran pria itu kan? Terlebih lagi bajunya terlihat


Seperti bangsawan kelas atas. Jika aku bisa menjadi istrinya ataupun sahabatnya aku pasti beruntung.


“Aku terpaksa Ailena! Kau paham tidak sih?!” bentak Fallden. Aku tersentak menatapnya takut-takut kemudian mencengkram lengan mulus Elderixk sedikit agak kuat.


“Aku terpaksa! Kau tahu aku terpaksa menikahinya agar kau selamat di masalah depan, kelak!”


Aku mengusap bulir ker ingat yang mentalir Dari keningku. Aku bisa Mengingat dengan jelas, mimpi itu. Mimpi yang membuatku berharap pada Fallden. Dan sekarang justr9di campakkan.


Hahaha, sia-sia saja Bergantung padaya.


“Astaga, ini sudah jam betapa? Allarick di mana?” aku yang baru menyadari bahwa Allarick tidak Ada di sebelahku langsung kalang kabut mencarinya. Astaga, di mana anak itu? Jangan bilang anak itu benar-benar bilang? Ah, jangan sampai deh!


“ALLARICK! KAU DI MANA?!”


“ALLARICK, WOI?!”


“AKU DI SINI IBU,”


Aku menghela nafas Panjang, ketika mendengar suara Allarick yang menyahut Dari arah dapur. Aku bergegas ke arah dapur kemudian menoleh ke sana Dan ke sini mencari keberadaanya. Tapi tidak Ada.


Lalu di mana anak itu sekarang? Astaga. Allarick, ku mohon tolong jangan membuatku


“Kau di mana hei?”


“Sedang berada di atas IBU, dong!”


Mendengar ucapannya aku refleks menatap ke atas. Melihat Allarick yang tengah


Menempel seperti cecak di langit-langit kamar. Terlebih lagi, itu loh. Celananya belum ganti


Dari semalam. Haduh, pasti bau sekali. Apa jangan jangan dia juga belum mandi Dari semalam? Jika iya, aku bisa marahi besar saat ini.


Karena aku sangat membenci yang namanya, kotor. Walaupun aku sendiri memang jarang mandi. Tapi tubuhku tidak pernah sebau, itu loh!


“Turun kau, Allarick. Aku ingin memarahimu, sekarang.” Panggilku pada Allarick. Allarick menganguk, kemudian meloncat bebas. Bagaikan memiliki 100 nyawa di tubuhnya.


Aku melotot, melihatnya yang turun dengan selamat. Menarik telinganya, kemudian


Mengiringnya menghadap ke depan rumah.


“Angkat kaki!” perintahku. Allarick menganguk meskipun ragu.


“Satu kaki aja.” Aku berujar tegas, Allarick menganguk bosan.


“Tangannya taruh di telinga, kemudian tarik!” Perintahku lagi. Allarick menganguk ragu, mendekatkan tangannya ke arah telinga, kemudian menarik nya kuat.


“Ah, sakit!” Allarick meringis. Melepaskan tarikan pada telinganya, kemudian


Menatapku memelas. Aku tersenyum sangat manis menatapnya, memiringkan kepala kemudian


Mengubah senyumanku.


Se ketika Allarick yang ingin melawan, terdiam members. Tersenyum kecilnya, kemudian, menjalankan hukuman yang aku berikan.


Aku tersenyum, menatap bagaimana Allarick yang sangat menurut denganku. Aku suruh ini itu mau, padahal kadang, biasanya keinginanku itu tidak mask anal. Tapi dia tetap melakukannya.


Awww, aku sayang, Allarick!


“IBU.” Allarick melirih. Menatapku dengan pandangan memelas, kemudian dengan kedua tangan di satukan. Allarick me mohon maaf, Dan ku setujui.


Karena sejatinya, mau semarah apa pun aku pada Allarick. Itu semua tidak akan bisa bertahan Lama. Karena IBU, mana yang bisa marahi pada anaknya lebih Dari 1 hari. Tidak bisa kan? Sama aku juga. Aku tidak bisa marah-marah pada Allarick lebih Dari dua jam. Karena selain, imut. Allarick juga sangat penyayang, hal itu membuat Tania mudah dekat dengan nya. Tanpa memikirkan apa pun di ke depan hari nya.


“Jika memiliki se sakit ini. Aku akan memilih melepaskan sedari dulu. Karena Cinta tidak bisa di oaks akan, tanpa keinginan dua orang.”


Fallden de Carsius-


“Tidak se mudah itu Percaya pada manusia. Karena terkadang gila sendiri bisa menjadi penyakit. Kapan pun dia punya /mau.”


Allarick de Carsius-


“Hidup Itu simple, yang gak simple Cuma senyuman kamu.”


Tania-