I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
(Tidak) Munafik



"Kau terlalu munafik, Ailena.”


Aku terdiam. Mendengar perkataan Fallden.


Munafik? Akun tidak munafik. Aku hanya berusaha untuk menghindari, kematian, lalu kenapa kau menganggap aku munafik Fallden? Ya kuakui, memang awalnya aku ingin munafik. Aku ingin, semua ini kekal, aku ingin tinggal disini selama mungkin. Tapi, kenyataan menghempasku jauh.


Kenyataan mendorongku untuk keras pada hatiku. Dan menolak semua yang ada.


“Aku tidak munafik, Fallden.” Lirih ku.


Aku membalas pelukan Fallden tak kalah erat. Menyembunyikan air mata ke dadanya yang kekar. Suatu saat, aku pasti akan rindu kehangatan ini. Aku pasti rindu semua ini.


Flashback.


LII. Novel.


Ailena terbangun dengan luka bakar, yang memenuhi tubuhnya. Bajunya compang-camping dengan darah yang mengalir deras di setiap lekukannya.


Sementara di ujung sana, terdapat seorang pria yang tengah menyeringai puas. Pria itu adalah, Fallden, yang tak lain adalah Kakak Tiri Ailena.


Asli.


Aku terbangun di tempat yang sama sekali tidak ku ketahui. Tempat ini sangat sejuk, dengan segala jenis bunga yang bermekaran. Aromanya juga sangat manis. Ini semua membuatku tenang.


“Tania.”


Aku menoleh, menatap orang yang memanggil namaku dari kehidupan sebelumnya. Dan ternyata, yang memanggilku adalah, Ailena asli. Lebih tepatnya jiwa Ailena asli.


“Aku berterimakasih, karena selama ini kau mau menempati tubuhku. Karena kehadiranmu, perlahan-lahan, takdir berubah. Semua orang akan bahagia, takdir sebelumnya tidak akan terulang lagi!”


Aku menatapnya bingung. Setahuku, Ailena dalam novel adalah gadis angkuh nanti irit bicara. Lah, ini kok? Bawel banget.


Ailena asli tersenyum, menarik tanganku kemudian menggenggamnya erat. “Tapi, ada satu hal yang harus kau tahu, Ailena. Ini semua dunia sihir, tidak akan berlangsung lama. Kau tidak boleh, terpaku pada dunia ini. Ingatlah, kau memiliki dunia yang asli, dan kebahagiaanmu ada di sana.”


Aku terdiam.


Benarkah? Kebahagianku ada di sana? Tapi di mana? Kapan? Kenapa selama ini tidak pernah ada?


Apa kesendirianku adalah kebahagiaan? Aku rasa tidak. Justru, disinilah aku merasa bahagia. Aku merasa dianggap keberadaannya. Aku merasa di butuhkan, dan sangat disukai banyak orang. Aku terlanjur bahagia disini. Apa, aku harus merelakan semuanya?


“Aku tahu, kau pasti sudah terpikat dengan dunia ini. Tapi, apa kau lupa? Ini novel. Bukan dunia asli. Dan, penulis cerita ini pasti kesal karena kau rusak alurnya.”


“Jadi tolong. Jangan bawa perasaan dalam cerita ini.”


Flashback end...


Aku terdiam dalam pelukan hangat Fallden. Ingatan tentang perkataan Ailena asli berputar-putar di kepalaku. Di sana, ada Ailena yang terlihat sedikit gelap. Dengan wewangian mawar di tubuhnya. Ailena asli sangat cantik, bahkan wanita tercantik yang selama ini aku lihat.


Lagi-lagi, Fallden mengecup kepalaku. Memang ini sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur. Aku tidak tahu, kenapa, tapi aku hanya bisa diam menerimanya. Bukan karena takut, jika aku mau aku bisa saja saat ini sudah membunuhnya. Tapi, perasaan di hatiku membuatku memilih diam, dan menikmatinya.


“Ailena, apa aku salah?” Tanya Fallden. Aku menggeleng dalam pelukan hangatnya.


“Salah? Kau tidak salah.” Jawabku. Aku melepas pelukannya paksa, kemudian meraih wajahnya.


Kesepian, itu pasti. Karena selama disini, Fallden lah yang selalu ada untukku. Ia sudah bagaikan jadi dalam tubuhku. Katakanlah aku bodoh, karena bergantung pada kematianku sendiri. Tapi, perlakuan Fallden.


Ini membuatku merasa spesial. Di kehidupanku sebelumnya aku tidak pernah di perlakuan seperti ini. Cacian dan umpatan adalah makanan sehari-hariku, sedangkan disini, Fallden telah menjadi kebiasaan sehari-hariku, sebelum memulai pagi.


Dari membangunkannya, sampai memakaikan bajunya. Itu, sudah seperti kebiasaan untukku. Lalu, bagaimana cara menghilangkan kebiasaan ini?


Huh, aku tau tubuhku di dunia sana masih bernyawa. Jiwaku hanya ber time-travel. Bukan reinkarnasi ataupun transmigrasi yang akan membahayakan tubuhku. Tapi, bolehkah ini lebih lama lagi?


Aku,


Aku


Aku,


Aku ingin mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu pada, Fallden.


Pagi harinya, aku dan Fallden bersiap-siap menuju ke menara Faluco. Menara sihir, tempat dimana para Sirkles akan mendoakan Allarick.


Dan, jika kalian bertanya Allarick apakah akan ikut? Jawabannya tidak. Allarick harus di kurung di dalam rumah selama kami di perjalanan, sampai kami pulang. Dan, selama kami belum pulang, Allarick diwajibkan harus membaca mantra penyucian di setiap jamnya.


“Ibu, aku mau ikut!” Allarick kembali menarik tanganku. Saat ini aku tengah memakaikan baju kepada, Allarick dan juga kepada Fallden. Mereka berdua memang masih bocah. Hadeh.


Aku menghela nafas, menatap Allarick pasrah, kemudian mengecup kepalanya. “Tidak boleh. Lain, kali saja, bagaimana? Aku pasti akan membawamu ke sana? Ok?” tanyaku negosiasi. Allarick diam, tidak menyahut.


“Tapi, aku kesepian disini.”


“Jangan cengeng, bocah! Minggirlah dari tubuh Ailena. Kau mengganggu!”


Aku menatap Fallden tajam. Lihatlah anak satu ini. Tidak tahu umur sekali. Tidak bisa kah kau mengalah pada anak kecil? Heh...


“Apa? Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku ingin memakanmu, kau tahu?” Fallden menaikan alisnya, menggoda. Aku tersenyum kecut, kemudian kembali menatap Allarick yang tengah menunduk.


Sepertinya anak ini takut salah bicara pada Fallden. Astaga.


“Allarick.” Panggil ku. Anak itu menoleh, dengan mata yang memerah.


“Ibu janji, akan membawakan sesuatu yang spesial untukmu. Kau tidak mau? Atau kau mau, apa? Akan Ibu, bawakan. Tapi untuk ikut. Jangan dulu ya? Ini sudah peraturan dari abad ke abad, Allarick mengerti kan?” tanganku mengusap rambutnya lembut. Sambil sesekali mengarahkan tanganku kepada Fallden seperti akan memukulnya.


Anak itu hanya diam, tapi mengangguk. Aku tersenyum memaklumi. Mungkin sulit baginya menyesuaikan diri. Karena mau bagaimanapun, aku dan Fallden lah orang pertama yang di ingatnya dalam malamnya.


Anak ini akan menangis jika tidak melihat, Aku ataupun Fallden. Hubungan kami memang tidak sedarah. Tapi tingkah lakunya padaku, seperti anak yang memiliki hubungan darah denganku dan Fallden.


Ia sama sekali tidak bisa membuatku kesal bagaimanapun caranya. Aku juga pernah melihat, emosi Fallden menghilang setelah menatapnya. Anak ini istimewa, dan semoga saja itu berkat yang bagus untuknya.


“Aku tidak mau, apa-apa. Aku hanya mau, Ibu dan Ayah kembali. Janji ya?” tangan Allarick terulur ke depanku. Dengan cepat, aku menutup beberapa jarinya, dan hanya membuat jari kelingkingnya yang masih terbuka.


“Janji!” aku menyatukan kelingking kami, kemudian tersenyum menatapnya. Allarick mengangguk, dengan pipi yang memerah.


Ok, masalah pertama selesai. Sejarah tinggal masalah ke dia.


Semoga saja, takdir berubah. Fallden tidak menyukai tokoh utama wanita, dan Elionar juga begitu. Semoga saja.