I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Masa lalu (2)



Aku menatap ke arah kakiku miris. Saat ini, aku dan Fallden tengah berenang menuju pintu Immortal. Namun, menggunakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku bayangkan. Ekor duyung, dan terlebih lagi. Bagaimana bisa kakiku lepas seperti ini woi?


Coba kalian bayangkan saja. Jika pada film-film yang biasanya membahas tentang seseorang yang berubah menjadi duyung. Kakinya pasti berubah menjadi ekor ‘kan? Lalu, kenapa kami tidak? Kenapa kaki kami harus di copot dahulu, baru bisa di pasangkan ekor.


Euh, aku mengangkat kedua tanganku yang berisi patahan kakiku. Ihh, aku bergidik menatapnya. Karena darah mengalir dengan deras dari sana. Terlebih, lagi, ini kakiku sendiri loh ya! Ngeri woi!


“Fallden, aku lemas!” aku memanggil Fallden kemudian menatapnya sayu. Rasanya saat ini ekor yang kupakai ini sangat sakit, lebih tepatnya ngilu. Jujur aku sama sekali belum terbiasa memakai ekor seperti ini, dan aku merasa mungkin... Aku tidak akan pernah terbiasa.


Karena kakiku ternyata lebih baik dan lebih aesthetic dibandingkan ekor duyung ini. Ekor ini merepotkan, aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk membuatnya bergerak ke kanan ataupun ke kiri. Terlebih lagi, rasanya sangat berat. Seperti sedang mengangkat beton yang beratnya dua kali lipat dari tubuhku.


Uhhg. Aku lagi-lagi bergidik ngeri. Tanpa sadar, ternyata aku sudah banyak bicara pada Fallden. Padahal niatku sebelumnya tidak. Aku ingin membuat Fallden sadar akan diriku. Tapi ternyata tidak bisa, ya.


Fallden menoleh, menatapku dengan senyuman. “Capek?” aku mengangguk. Aku tidak menyangka, jarak antara tempat kami berada dan jalur mortal ternyata sejauh ini. Jika tahu, aku akan menyuruh Fallden masuk lebih dahulu. Kemudian meminta izin pada Moon Goddess agar aku bisa masuk.


Astaga, sial sekali kau, Tania.


Aku membatin, menatap mata merah Fallden kemudian menggeleng. Entah bagaimana caranya, saat ini aku bisa berada di pelukannya tanpa merasa sedikitpun pergerakan.


Sebenarnya aku kenapa? Atau jangan-jangan Falldeen mengnakan sihir untuk membuatku tidak merasakannya. Huh, awas saja jika itu benar. Akan aku omeli pria gila satu ini.


“Kau mau mendengarkan suatu cerita, Ailena?” tanya Fallden. Aku menatapnya sebentar, kemudian mengangguk. Cerita seperti apa? Apa orang yang sering kali memegang pedang dan pisau bisa bercerita? Terlebih lagi sepertinya yang ia ceritakan sepertinya adalah dongeng.


“Cerita ini bermula ketika 170 abad yang lalu. Ketika masa, Dewa dan Iblis masih menjadi teman.”


“Dahulu, hidup Dewa dan Iblis sangatlah akrab. Mereka sering membagi tugas, Iblis mengurus neraka, dan mengadili yang salah. Sedangkan Dewa menyambut yang memiliki hati mulia. Namun, karena sebuah pertemuan tidak disengaja, antara seorang Dewi dan seorang iblis merah ( Iblis merah : Iblis pendendam ) membuat banyak perubahan. Tatanan dunia berubah. Hal, itu membuat Dielix (Dunyeon (Ayah para dewa) marah. Dielix menghukum semua iblis, dan menyebarkan rumor bahwa iblis memiliki keinginan yang buruk untuk menguasai surga, yang padahal bukan tempat tinggalnya.”


“Para dewa dan Dewi percaya, karena itu adalah omongan Dielix. Namun, salah seorang Dewi tidak percaya. Dewi itu sering dipanggil Lilyna. Lilyna merupakan seorang Dewi cahaya, yang sama sekali tidak bisa memiliki keturunan, karena ---“


“Sebentar, kenapa tidak bisa memiliki keturunan?” aku menyela. Fallden terkekeh, mengusap kepalaku lembut.


“Karena ia dikutuk, oleh Dielix. Karena mencintai Iblis merah. Dan, kau tahu. Karena mengetahui bahwa Dielix menyebarkan informasi palsu ke seluruh penjuru surga. Lilyna marah, ia melepaskan mahkota yang selama ini pertanda bahwa ia Dewi cahaya. Kemudian berlari ke Zian tempat di mana iblis pendendam berada. Sesampainya di sana, ia disambut dengan mewah oleh Will seorang raja sekaligus orang yang dicintai Lilyna. Mereka menikah, 'tak lama setelah Lilyna pindah. Dan, kejadian tidak terduga pun terjadi. Lilyna hamil, dan melahirkan bayi kembar, berjabatan Malaikat neraka dan malaikat surga. Kedua-duanya tampan. Namun, sayangnya karena sebuah kesalahan. Mereka harus terpisah. Lilyna menjauh dari yang namanya kehidupan dan memilih mati menjadi rembulan. Sedangkan Will memilih mati dalam bayangan, tanpa cahaya. Menyakitkan, 'kan?”


“Itu nyata,”


Aku menatap Fallden, dengan tatapan tidak bisa diartikan. Kemudian menatap ke arah pintu yabg berada di depanku. Pintu berwarna emas ke perakan. Benarkah ini jalan menuju dunia Immortal? Apa Allarick benar-benar ada di sana? Aku takut tidak. Karena Allarick termasuk anak yang aktif dan ceria. Haaahh...


Tapi entah kenapa setelah mendengar cerita dari Fallden rasanya hatiku perih. Aku merasa seperti ada gejolak aneh di dalam sana. Terlebih lagi, apa alasan Lilyna memilih meninggalkan cintanya beserta anak-anaknya? Dan apa alasan Will mengakhiri hidupnya sendiri?


Dan maksudnya di balik bayangan, dan menjadi rembulan apa?


Mengapa semua ini terlihat aneh. Dari mulai aku yang ber-time travel ke dunia aneh ini. Kemudian fakta aneh yang bahkan tidak terdapat sedikitpun dalam novel. Dan, oh ya aku lupa. Di dalam novel, Allarick tidak pernah muncul namanya. Jadi, ia sebenarnya tokoh apa di novel itu?


Apa alur berubah karena kesalahan yang ku perbuat? Tapi, jika iya kesalahan yang mana? Seingatku aku tidak melakukan sesuatu yang membuat alur seharusnya melenceng. Aku tidak pernah berkeinginan menjadi tokoh utama. Aku hanya ingin menjadi tokoh pendamping, yang selalu bahagia bersama orang yang di cintainya.


Karena aku tahu, menjadi tokoh utama tidak enak. Harus banyak ujian yang kami lewati, mulai dari ujian perasaan dan kehadiran orang ketiga sampai seterusnya. Ahh, seperti di drama-drama saja. Iya kan?


“Kau tahu, Ailena. Kabarnya, Lilyna memiliki paras yang sangat cantik. Parasnya melebihi Fiola (Dewi kecantikan). Tubuhnya juga bersinar seperti rembulan. Jadi, pantas saja banyak lelaki yang jatuh pada pandangan pertama melihatnya.”


“Dan, apakah kau tahu, Ailena. Moon Goddess sebenarnya adalah Lilyna. Maka dari itu Moon Goddess tidak pernah memiliki bentuk seperti manusia. Tubuhnya hahya akan bisa menjadi rembulan selamanya, sebelum orang yang mencintainya dengan tulus hadir.”


“Bukannya, Will,. ---,”


“Selain orang itu. Kau percaya reinkarnasi? Mungkin saat ini mereka tengah ber-reinkarnasi kembali menjadi sosok yang mereka mau .”


Aku terdiam mendengar penjelasan, Fallden. Jika memang benar, mereka ada. Pasti saat ini surat cintanya sudah tersebar lewat koran dari mana saja. Iya kan? Tapi kenapa tidak ada? Fallden berbohong? Hah...


“Apa reinkarnasi dewa dan iblis itu ada?” Tanyaku, dan Fallden mengangguk mantap.


“Tentu saja. Bisa jadi, dia ber-reinkarnasi menjadi seseorang di dekat kita dengan bola mata ungu ke merah-an.” Fallden mengusap rambutnya yang basah ke belakang. Kemudian menyisirnya menggunakan jari-jari tangannya.


Aku mengangguk, meskipun ragu. Di jaman seperti ini, bukannya bermata ungu itu sangat sering,? Terlebih lagi, kalau memang dia iblis, seharusnya dia punya kekuatan magic atau seperti itu, ya kan?