
“Jiwamu dari surga!”
Aku menghela nafas, kenapa wanita di depanku ini sangat keras kepala, sih? Aku ini bukan wanita dari surga. Aku dari bumi! Bumi! Dimensi lain yang berseberangan dengan dimensi ini! Aish, susah sekali menjelaskannya.
Lagipun, di lihat dari segi kanan ataupun kiri, aku sama sekali tidak memiliki kelebihan. Paling, kelebihan ku cuma, suka makan dan suka rebahan. Selain itu tidak ada lagi..
“Bukan, dari bumi!” Ucapku tegas. Tanganku mengepal, berusaha agar tidak terpengaruh dengan kecantikan wanita di depanku ini. Namun sepertinya sia-sia, saja. Karena, ketika aku melihatnya bersedih, hatiku langsung luluh.
Jiwa pencinta kecantikan milikku keluar. Aish, mati deh aku.
Lagi pula dia kenapa cantik sekali sih? Insecure kan! Untuk gak jadi belok. Kalau belok, bahaya banget itu.
“Kamu dari surga. Kita satu tubuh, dengan empat roh. Huhuhu, masa kamu tidak mengingatku? Padahal aku sudah memberikan separuh ingatanku padamu, loh!”
Wanita di depanku ini menangis tersedu-sedu. Namun, aku sangat tahu, bahwa itu hanyalah drama belaka. Lihatlah, matanya sama sekali tidak ber-air. Matanya justru memerah, seperti di paksa untuk menangis.
Hah, segitunya sekali wanita ini. Padahal aku sudah berulang kali bilang, aku bukan dari surga, aku bukan dari surga. Tapi, dia tetap ngeyel. Minta di apain, sih kamu? Minta di pukul? Ayo sini, walaupun aku gak tega, kalau soal mukul-memukul aku ahlinya.
Mau coba?
"Astaga, jangan bilang kamu lupa? Ah, bagaimana bisa rohku yang lain sifatnya seperti ini? aku malu sekali, huh." wanita ini mendengus, namun dengan cara yang elegan.
Uwh, sangat mirip seperti artis. Iya, artis, Anj**g kritis.
"Boleh mukul gak?"
"Engga lah, mana boleh. Dosa mukul tubuh sendiri,"
TAPI AKU GAK MENGAKUI LOH? Astaga, sabar, orang sabar jodohnya kaisar. Uhuk.
Tiba-tiba wanita itu menoleh. Menatapku dengan tatapan yang terbilang tidak mengenakkan kemudian tertawa geli. Bahkan, sampai air liurnya mengenai wajahku.
Tapi, mungkin inilah salah satu, kehebatan orang cantik karena selain wajahnya yang menarik, air liurnya juga wangi.
Wangi, keirian pastinya.
Aku mendengus kesal. Mengusap wajah dengan kasar. Terlebih lagi, di titik yang terkena air liurnya. Hah, bahaya ini, mana di sini gak ada kembang tujuh rupa.
Hiks, aku takut kena pelet woi. Ntar, kalau aku kena gimana dong?
"Omong-omong, apa kau tidak merindukan, Lucia, Dermian, Xalendri, dan Hilman? Padahal mereka setiap hari menanyakan kabarmu padaku,"
Lucia?
Dermian?
Xalendri?
Hilman?
Ekhem siapa lagi yang di maksudnya kali ini? apa, ke empat orang itu, aku kenal? dan, kenapa nama Xalendri mirip sekali dengan seledri sih?
Kan jadi laper.
Terlebih lagi nama, Dermian. Aku jadi ingat pelajaran matematika tentang ilmu SPLTV, metode Determinan. Ukh, lihatlah bahkan namanya tidak terlalu berbeda.
Bisa jadi, orang yang namanya Dermian sama ribetnya dengan metode Determinan.
Lalu, Hilman. Namanya terdengar sangat lembut sekali. Aku tebak, orangnya pasti sangat beriman. Orang namanya aja, "Hilman" yang kalau di plesetan bisa jadi "IMAN" ya kalau H, sama L nya di buang sih.
Tapi kan mirip banget?!
"Kau tidak ingat juga? Kalau Abel bagaimana? masa kau tidak kenal dengan dewa yang satu itu. Dia itu, dewa paras loh." Wanita itu kembali berbicara. Tapi kali ini dengan pipi yang memerah sempurna.
Apa jangan-jangan wanita ini suka dengan pria itu ya? Pipinya sampai memerah seperti itu. Memangnya setampan apa sih? apa lebih tampan dari Fallden dan Robert? kalau iya, aku mundur alon-alon deh.
Dari Fans Fallden jadi Fans Abel.
"Kau seperti orang pikun. Astaga, kepalaku rasanya mau pecah. Zia, Cana, dan kau sudah berkumpul. Tinggal beberapa orang lagi, dan kita sudah bisa kembali ke tempat kita yang seharusnya,"
"Kau bagaimana? apa kau ingin ikut?"
Ke tempat yang seharusnya? Maksudnya bagaimana?
Apakah tempat yang saat ini ku pijak bukanlah tempat yang seharusnya? Apa, yang di katakannya benar? bahwa aku bukan jiwa dari Bumi melainkan dari surga.
Aku salah satu roh dalam tubuhnya, dan bukan roh bebas seperti dalam pikiranku. Tapi, jika ia, apakah aku akan berpisah dengan Allarick dan Allison?
Kedua anak itu. Meskipun mana dalam tubuh mereka, tidak sebanyak mana dalam tubuhku. Tapi, apakah jika aku kembali ke tempat yang seharusnya aku masih bisa menemui mereka?
"Kau jangan khawatir. Kita itu satu. Anakmu, anakku juga. Kita terbagi karena satu alasan, dan ini keputusan yang bagus supaya semuanya tidak merasa terbeban."
Terbeban ya?
Apa Fallden pernah terbebani karena ulahku? Semoga saja tidak. Sebab, aku tidak mau meninggalkan hutang untuknya.
***
Flasback
"MASA LALU DAN KUTUKAN
Dahulu kala ada seorang Dewi yang kecantikannya di atas rata-rata. Kehadirannya yang tiba-tiba muncul dari dalam api kemarahan, membuat Dewi itu menjadi bahan pergosipan.
Namun, karena muncul dari dalam api kemarahan. Banyak para Dewa yang tidak setuju akan kehadirannya dan memutuskan untuk membagi tubuhnya menjadi enam bagian, dengan masing-masing satu roh.
Tangan, dengan roh bermanna Air.
Kaki, dengan roh bermanna Tanah dan Api.
Kepala, dengan roh Aura.
Dan bagian lainnya dengan, keistimewaan yang lain. Contohnya keistimewaan menjadi Dewi.
Apa ada yang iri? Tentu tidak, karena mereka tidak memiliki perasaan. Tangan, hanya memiliki kekuatan, begitu juga dengan kaki. Sedangkan kepala hanya selalu mengandalkan pemikiran.
Oleh karena itu, ada beberapa Dewi yang berniat menghancurkan setiap bagian itu, dengan cara memberikan perasaan dan berkat kepada mereka.
KEBANGKITAN DEWI
Namun, karena hal itu ketahuan oleh Dewa Lorde, Mereka semua di kutuk. Akan terus berenkarnasi, dan harus mencari semua tubuh beserta rohnya.
RAJA IBLIS
Kemudian, di buka ke chapter berikutnya. Di chapter ini, di jelaskan tentang tujuan di bentuknya sebuah GARIS TAKDIR pada seseorang yang di berkati lahir dari api.
Garis takdir di artikan sebagai tujuan dari kehidupan mereka. Dan, karena mereka di bagi menjadi enam bagian, maka ada enam takdir pada masing-masing tubuh mereka.
Takdir pertama,
MATI DALAM GELORA ASMARA. Di takdir ini, Fallden dan Aiden di hadapkan dalam sebuah takdir yang tidak bisa di elakkan. Takdir yang sudah di tulis secara terperinci, demi menyadarkan satu bagian.
Tubuh mereka berjalan sesuai cerita dalam takdir. Tapi, hati mereka tidak.
Takdir kedua,.
KEHIDUPAN MENYEDIHKAN.
Di takdir ini, Ailena di pindahkan jiwanya ke masa lalu, dan sekarang di kenal sebagai Tania. Di takdir kedua, Tania di buat menderita, dengan semua kenyataan. Hatinya beku, pikirannya beku, dan tujuannya tidak ada.
Dan, yang kita hadapi sekarang adalah takdir ke tiga. Dan, sepertinya kau paham, apa yang kumaksud. Benar, 'kan? TANIA?"