I Choose A Sugar Daddy Route

I Choose A Sugar Daddy Route
Alur cerita yang berantakan



Aku menatap kedua pria yang saat ini sedang menggandeng ku malas. Tanganku rasanya sudah sangat kebas, saat ini.


Belum lagi, ini tangan mereka pada gede-gede loh. Sedangkan tanganku kecil banget.


“Aku pasti akan membunuhnya, Ailena. Kau sabar saja,” Fallden menyunggingkan senyuman manis menatapku. Tangannya yang berada di sebelah kiri, mengusap-usap kepalaku lembut. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja.


Aku sudah terlalu malas dan lelah menghadapi drama yang malah mereka ciptakan.


Flashback


“Mesum! Wil, tolong aku!”


Seketika mataku membulat. Menatap Elionar tajam, dengan tangan yang siap memukuk orang.


Tiba-tiba pintu yang terbuat dari perak itu di tendang sangat keras oleh seseorang. Aku dan Elionar, sontak mundur, dan mendongak. Menatap lelaki bermata merah, yang saat ini sedang menatapku tajam, dan menatap pria bermata abu-abu.


Seketika aku merasa, nyawaku hilang saat ini. Entah kenapa, aku rasanya sangat takut melihat ekspresi yang di keluarkan oleh Fallden. Ekspresi, kesal, sedih, dan kecewa. Aku bahkan bisa melihat jejak air mata di pipi dan di mata tajamnya.


Hidungnya yang kubuat memerah, semakin memerah. Matanya yang berwarna, merah terang, kini semakin terang. Aku merasa seperti, tengah di kepung oleh serigala yang sedang ingin memakanku. Seram.


“Ai-Ailena.” Aku mengangguk. Fallden segera berlari kearahku, kemudian memelukku erat. Tangannya bahkan sudah menelusup ke dalam gaunku. Risih? Oh tentu tidak. Aku malah merasa ini semua, seperti sangat dekat. Kejadian ini, seperti pernah terjadi di masa lalu. Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya.


Fallden mengecup, ah maksudnya menciumi seluruh rambutku. Tidak tersisa sedikitpun. Hingga rambutku sekarang sudah berubah aroma karena ulahnya. Sedangkan di belakangnya ada Robert yang menatapku dengan air mata.


Hidungnya memerah, begitu juga pipinya.


Seketika aku merasa seperti tengah memiliki banyak suami saat ini. Yang satu posesif tapi manja, yang satu lagi, playboy tapi hot, dan yang satu lagi polos tapi menggoda. Aih, aku boleh buat harem gak sih? Rasanya aku pengen deh, buat harem. Hehe, lumayan kan. Bisa liat cogan setiap hari.


“Syukurlah, kau tidak papa, Lady.”


Aku mengangguk di sertai senyuman. Robert mengulas senyuman menatapku. Sedangkan di ujung ruangan, Elionar tengah menunduk ketakutan, sembari menarik-narik, kemeja Wiliam -Sekretarisnya.


“Huhu, Wil, aku takut!” Elionar terus menangis. Ingusnya berceceran di kemeja Wiliam. Wiliam mendengus, namun, tak urung tetap menenangkan pemuda yang nantinya akan menjadi kaisar itu.


Tatapan Wiliam lembut, membuatku tersihir. Terlebih lagi, baru kali ini aku bertemu dengan seorang penyihir kastil yang merupakan sekretaris pangeran mahkota. Tangannya bahkan terlihat sangat mulus, tanpa sedikitpun goresan atau lekukan otot di sekitarnya.


Satu kata yang cocok. Yaitu, perfect.


“Bukannya, anda sendiri yang ingin menculik putri Ailena? Lalu kenapa sekarang anda menangis?” Wiliam mengusap rambut Elionar lembut. Seketika, aku merasa seperti tengah berada di sebuah anime, dengan tokoh utama yang gaya.


Ya, Wiliam dan Elionar cocok sebagai karakter gay. Dengan Wiliam yang sebagai same dan Elionar yang sebagai Uke. Tapi, sayang sekali sifat mereka tertukar. Seharusnya Wiliam lah yang memiliki sifat Elionar, dan Elionar lah yang memiliki sifat Wiliam. Ini malah kebalikannya. Hadeh. Ada-ada, saja.


“Di-di-DIA MESUM!”


Ok aku diam.


**


Flasback end.


Aku menghela nafas panjang. Menatap kaisar yang ada di depanku malas. Aku bahkan sampai hampir ketiduran, jika saja saat ini Robert tidak memegangi tanganku. Hus, dasar pengganggu suasana saja!


“Lady Carsius?”


Aku mendongak, menatap kaisar dengan senyuman manis. Melepaskan kaitan Fallden dan Robert, kemudian menunduk, memberi salam, ala-ala putri kerajaan.


“Ada apa yang mulia memanggil kami?”


“Aku akan langsung jujur saja, padamu, Sir Carsius. Aku ingin Lady Ailena Dengan Carsius untuk menjadi salah satu kandidat putri Mahkota yang akan diadakan tahun depan.”


Kandidat putri Mahkota...


Kandidat putri Mahkota....


Kandidat putri Mahkota...


TIDAK! Fallden tolak! Kumohon tolak! Aku tidak mau takdirku berjalan sesuai cerita! Huhuhu ....


“Putri Mahkota?”


Kaisa4 mengangguk. Aku menunduk lemas, menatap ubin yang terbuat dari emas tidak bersemangat. Di sebelahku Fallden juga menunduk, entah kenapa. Tangannya yang mengait tanganku tiba-tiba terasa melemas. Tubuhnya yang dingin juga tiba-tiba menghangat. Aneh.


“PUTRI MAHKOTA?”


Seketika ruangan sepi. Aku, Robert, dan kaisar. Terkejut melihat Fallden yang tiba-tiba berubah.


Warna matanya yang berwarna merah pekat, perlahan menjadi ungu, dengan rambut yang berwarna abu-abu keunguan. Ciri-ciri keturunan iblis murni. Robert yang berdiri di sebelahku langsung maju. Mengacungkan pedangnya tepat ke arah leher Fallden.


Detak jantungku berirama dengan cepat. Aku sama sekali tidak tau kalau ada bab yang berisikan tentang Fallden adalah keturunan iblis murni. Aku selama ini berpikir, Fallden hanya bercanda dan membual agar aku bisa akrab dengannya, dan bukannya canggung. Sebab itulah aku selalu bergantung padanya. Aku menganggapnya Kakakku sendiri, tanpa aku sadari.


“Kau yakin, KAISAR?”


Fallden mengambil langkah dengan lebar. Pedang yang saat ini sedang berada tepat di samping lehernya ia hiraukan. Hingga pedang itu mengenai lehernya.


Darah mengalir dengan deras, dari leher Fallden, sampai membasahi bajunya. Aku terdiam, masih membisu dengan apa yang saat ini terjadi.


“Kau ingin merebut, milikku, HAH?!”


“Robert!” kaisar terdiam. Menatap Robert, kemudian menyuruhnya untuk berdiri tepat di belakangnya. Robert yang merupakan pengabdi sejati kaisar mengangguk. Mendekati kaisar, dan kembali mengacungkan pedang ke arah Fallden.


Ini salah.


Ini bukan seperti yang ada di novel.


Ini semua salah besar! Di novel, Fallden bukanlah iblis! Dia, dia, dia keturunan Felix. Malaikat cahaya, bukan keturunan iblis. Ini salah! Ini salah besar!


Dia bukan Fallden! Itu pasti bukan Fallden! BUKAN!


Aku meluruh. Sekarang rasanya semua susunan bab yang selama ini aku ingat-ingat sia-sia. Disini tidak ada yang bisa aku percaya. Disini, seharusnya aku tidak menaruh rasa. Tidak, seharusnya tidak.


Ini salahku. Andai, aku tidak hadir. Cerita pasti akan terus berlanjut sesuai kenyataannya.


‘Ini bukan salahmu. Ini semua keinginannya. Dia, menukarkan jiwanya untuk dirimu kembali. Kau bukanlah jiwa lain, melainkan jiwa asli tubuh itu. Ingatan tentang novel yang kau baca itu semua hanyalah mimpi. Dia sengaja, agar kau berpikir mereka semua hanya fiksi. Dan, kaulah yang merupakan tokoh asli disini,”


Aku tercengang. Tiba-tiba ada suara yang masuk ke telingaku. Suara itu seperti berbisik lembut. Membuat hatiku tenang. Tapi kenapa? Kenapa aku mengulang waktu kembali, dengan ingatan yang sengaja di buat berbeda? Kenapa takdir ini begitu aneh! Kenapa? Tidak bisakah jika bukan aku?


Kenapa? Dan siapa orang yang mengorbankan jiwanya untukku? Fallden, atau Zyurei?