
"Segala berkat dewa, menyertakan setiap langkah para furua.” (Semua berkat, tuhan menyertai langkah dirinya :Allarick)
“Hunma!” aku dan Allarick menunduk dengan hormat. Mengibaskan tangan ke kanan empat kali dan ke kiri satu kali. Kemudian bangkit, dan saling melemparkan senyum. Aku beralih menatap Saintes Cornelis, Saintes wanita pertama di tahun ini.
Info untuk kalian, saintes di Kerajaan ini, bukan terlahir melalui rahim manusia. Melainkan, dari serbuk bunga Prodite atau yang biasa kita sebut bunga Phoenix. Kenapa? Karena kabarnya, dulu ada dewi yang sangat terobsesi dengan bunga itu, sampai akhirnya di kutuk. Dewi itu tidak akan pernah bisa memiliki anak. Dewi sangat sedih, dewa Fex yang melihatnya pun kasihan. Dewa Fex tidak tega melihat salah satu anaknya, tidak bisa melahirkan keturunan. Akhirnya, ia memberikan berkat. Bahwa dewi itu bisa memiliki anak, tetapi anak itu akan lahir dari serbuk bunga yang berterbangan. Sang dewi yang mendengar itu merasa bahagia. Akhirnya ia merelakan seluruh hidupnya untuk mengurus bunga itu seperti anaknya sendiri.
“Pemberian berkat sudah selesai. Sir Carsius, dan Lady Carsius, boleh pulang sekarang.” Ucap saintes Cornelis. Aku menatap Saintes Cornelis terpukau. Rambut putihnya terlihat sangat indah dengan orang mata berwarna putih yang sama dengan rambutnya. Perfect! Ini baru kecantikan alami.
“Baiklah, kami permisi.”
Aku dan Fallden menunduk hormat, kemudian pergi. Meninggalkan menara sihir. Selama di perjalanan menuju kereta, aku lebih banyak diam. Bayang-bayang, masa lalu menghantui isi kepalaku. Entah, kenapa tadi setelah saintes memulai upacara pemberkatan, hatiku mulai merasakan gejolak tidak nyaman. Rasanya, hatiku di paksa untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kuinginkan.
Terlebih lagi, sesuatu itu tidak mungkin. Dan, bagaimana bisa aku harus membunuh Fallden? Itu tidak mungkin. Oke, Ailena. Mari sekarang, kita pikirkan. Bagaimana cara supaya kamu kembali dengan tenang ke tubuhmu, dan hidup aman sebagai Tania dan bukan Ailena.
Hilangkan semua perasaan yang ada di hati dan otakmu. Anggap saja ini semua adalah dunia novel, dan kau tidak ingin hidup di dalamnya. Ya, Kau tidak ingin hidup di dalamnya!
“Ailena, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Fallden menarik tanganku. Aku tersentak, lamunanku segera buyar karena genggamannya yang terasa dingin.
Aku mengangguk, kemudian membalas genggamannya. Kami berjalan ke arah taman yang berada di sekitar menara sihir, lalu duduk di salah satu yang ia ciptakan melalui sihirnya.
“Tentang apa?” tanyaku sedikit curiga. Fallden menatapku dalam, kemudian memeluk tubuhku dari samping. Pelukan erat, yang terasa seperti mengandung kesedihan. Aku terdiam, menatap wajahnya yang tertutup oleh rambut. Aku bisa melihat, pipinya basah karena air mata. Mata merahnya juga terlihat semakin memerah.
Aku tersenyum, meskipun bingung dengan apa yang dilakukannya, tapi tetap membalas pelukannya. Memang, agak sulit, tapi melihatnya yang seperti ini. Tubuhku bergerak dengan sendirinya.
“Ada apa? Kenapa kau menangis, Hm? Kau kehilangan permenmu, ya?” tanyaku sedikit bercanda. Fallden terkekeh kecil, mengusap-usap wajahnya di lengan bajuku.
Ok, seketika aku merasa jijik melihat Fallden. Terlebih lagi, pasti ada ingus yang keluar dari hidungmu kan? Iuwww, itu pasti mengenai lengan bajuku. Huwa...
“Ya. Aku kehilangan permen yang selalu memberikan rasa manis dalam hidupku.” Fallden mendongak, menatap bola mataku dari samping. Aku terdiam, merenungkan apa yang di katakan olehnya.
Sedikit perih, ketika ia mengatakan “Rasa manis dalam hidupku “ yang ternyata bukan diriku. Perih, mengingat aku yang sudah menaruh perhatian dan perasaan berlebih padanya. Namun, ternyata dirinya tidak.
Huhuhu, ternyata begini rasanya di ghosting.
Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana dulu ketika dia menggombaliku dengan setiap kata-kata manisnya. Andai, kalian tahu. Itu sangat membahagiakan.
Hadeh, memang penyesalan selalu datang terakhir.
“Kasihan sekali, kau, Nak.” Aku terkekeh. Sedikit mengejek dirinya yang menangis hanya karena wanita yang jelas-jelas bukan diriku. Padahal dulu, aku pernah colok matanya pakai garpu loh. Tapi dia, ngak nangis. Lah, ini hanya karena seorang perempuan yang tidak ku ketahui namanya dia nangis? Astaga, ternyata pengaruh perempuan itu begitu besar untuk Fallden ya.
“Jangan kasihani aku!”
“Karena orang itu adalah dirimu,” aku tersentak. Dengan segera aku mengorek telingaku yang sepertinya salah mendengar ucapan Fallden. Hah, mungkin ucapan itu untuk orang lain. Bukan untukku.
“Kau, Ailena. Jangan. Apa kau tadi tidak sengaja mendengar seseorang berbicara denganmu melalui pikiranmu?” aku mengangguk.
“Aku mendengarnya. Sesungguhnya, setiap apa yang kau pikirkan, selalu terdengar olehku. Aku juga bingung, kenapa bisa begitu. Aku bingung, kenapa setiap dekat denganmu, rasanya emosiku stabil. Rasanya, seperti banyak bunga yang bermekaran di mataku.
Di mataku, kau terlihat seperti, matahari, bulan, dan kehidupan. Berharga.”
Akun tertegun, menara Fallden tidak percaya. Baru kali ini, ada orang yang memujiku seperti itu. Tapi, apa Fallden tulus mengatakannya? Aku takut, dia hanya berbohong seperti sebelumnya.
“Kau pasti berbohong.”
“Aku tidak berbohong!” Fallden dengan cepat menolak perkataanku. Aku mengangguk, meskipun tidak percaya. Memangnya siapa yang akan percaya, ketika ada orang yang berada di posisiku?
Di dekati oleh pria yang katanya jarang sekali bicara, dan bengis. Tapi, anehnya, pria itu terlihat seperti kucing bila di dekatmu.
Aneh, sudah pasti. Iya kan?
Aku juga merasa seperti itu. Tapi, entah kenapa setiap perlakuan Fallden membuatku meragukan hal itu. Rasa curiga yang ada di hatiku perlahan sirna, digantikan perasaan yang sama sekali tidak pernah aku percaya akan tumbuh di dalam sana.
Aku tidak percaya, aku jatuh cinta pada pria di depanku – Fallden. Tapi, sepertinya perasaanku harus di sembunyikan dari pandangan semua orang. Karena, Fallden tidak mungkin akan menjadi sosok yang bisa menjadi pendampingku di masa depan. Karena kami berasal dari satu gelar yang sama. Walaupun hubungan se darah dan se gelar sudah biasa di kediaman duke. Tapi menurut agama dan peraturan dari dewa itu jelas ilegal.
Dan aku tidak ingin melanggar peraturan dari dewa. Aku hanya ingin melanggar peraturan, yang menurutku tidak menguntungkan tubuhku di dunia sana. Aku ingin tubuhku di dunia sana, baik-baik saja. Dan, semoga aku bernasib baik setelah kembali dari keadaan tidak jelas ini.
“Oke, oke. Aku percaya, tapi, Fallden. Kenapa kau terlihat aneh jika di dekatku? Apa itu memang faktor dari keturunan, atau bagaimana?” tanyaku bingung. Aneh, duke dan anaknya benar-benar aneh. Di depan orang lain bengis, di depan wanita yang di suka atau di cinta terlihat seperti kucing manja yang butuh elusan. Eugh, itu sedikit menggelikan.