
Aku menatap kertas yang ada di tanganku lemas. Ini adalah hari kedua, aku-merawat anak laki-laki yang di bawa Fallden. Dan, hari ini adalah, Hari pemberian nama untuknya. Huh, semoga saja aku tidak mengumpat saat acara di laksanakan.
“Ailena, apa kau sudah menyiapkan nama untuk bocah itu?”
Aku menggeleng, menara Fallden yang saat ini tengah memeluk pinggang ku erat. “Aku bingung,” ujarku.
“Apa yang harus di bingungkan?”
“Apa, menurutmu, pilihan ini benar? Huh, aku takut menjadi bahan ejekan para la---“
Fallden, menarik tanganku. Kemudian meletakkannya di leher. Menggendong tubuhku kemudian tersenyum sembari melangkah.
Apa aku tidak salah ambil keputusan? Kenapa rasanya, aneh begini. Aku ini dari dulu jomblo. Eh tiba-tiba punya anak. Itu ngejelasinnya gimana? Ya kali aku bilang. Itu anakku, dan aku gak tau bapaknya mana.
Ntar yang ada aku malah di kira gak waras, dan di hina. Huhuhu, aku tidak mau. Umurku baru seuprit, lah ya kali langsung jadi emak? Huhuhu. Bisa gak ganti posisi? Fallden yang jadi emak aku yang jadi omnya?
Kalau begitu, aku setuju. Kan yang rusak citra Fallden bukan citraku. Huhuhu...
Aku mengulum bibir. Menahan tangis yang entah kapan akan keluar. Aku melirik Fallden sebentar. Dari bawah, seperti ini ia terlihat sangat tampan. Tapi, sayang. Walaupun tampan, kerjaannya ngerusuhin orang mulu. Aku gak like!
Selain itu, dia juga gak ngerti cara ngegombal. Aku ‘kan pengennya punya doi yang bisa ngegombal. Yah, seenggaknya disaat mood aku jelek, dia jadi berguna. Iya kan?
“Andai, para Lady meledekmu, katakan saja ‘Memangnya ini urusan kalian? Bukan, kan? Terlebih lagi aku membuatnya dengan bibit yang sangat unggul. Yang mungkin, saja suami kalian tidak memilikinya. Jadi, tolonglah, jangan membuatku menertawakan kalian.’ Begitu,”
Aku cengo. Hatiku berdebar. Bukan karena cinta, melainkan menahan perasaan geli, kesal dan ingin menarik Fallden menggunakan panci saat ini.
Hoh, andai saja kau tau Fallden. Jawaban dari dirimu itu pasti membuat para Lady semakin memojokkanku. Dan, mungkin saja, akan merusak namaku. Di masa depan, aku tidak akan memiliki suami jika aku mengatakan seperti apa yang kau bilang. Hadeh.
“Perkataanmu, terlalu ambigu. Untuk orang sepertimu,” ujarku gemas. Andai saja, Fallden bakpao. Pasti sudah aku gigit, sampai habis saat ini.
Fallden melirik ku, kemudian tersenyum miring. Mengangkat badanku, kemudian menggantikan posisi. Sekarang, posisiku seperti koala yang menempel pada pohon pepaya. Yah, anggap saja begitu. Jangan komen!
Aku mendengus. Melirik para pelayan yang sepanjang jalan menatap kami bersemu. Seketika perasaan tidak enak menguap dari dalam hatiku. Di dalam hati aku merutuki tingkah Fallden yang sama gilanya dengan Duke.
“Allarick Jeremie De Carsius.”
Aku mengusap papan nama, yang saat ini berada di tanganku. Papan nama ini milik anak laki-laki yang sudah resmi aku adopsi. Nama yang indah, seperti orangnya.
Allari yang berarti kuat. Arick yang berarti api. Jeremie yang berarti ketulusan. Aku berharap anak laki-laki yang aku adopsi saat ini menjadi seperti namanya. Lelaki tulus dengan kekuatan sebesar api.
Aku berdoa, semoga kehidupannya baik-baik saja, keinginannya terwujud, dan cita-citanya menjadi kenyataan. Semoga anak itu mendapatkan kebaikan di setiap langkahnya, semoga.
“Nama yang cantik, dan indah. Semoga saja, anak itu akan sama persis dengan namanya,” gumamku. Tanganku mengusap lembut papan nama itu. Kemudian meletakkannya.
Ternyata begini rasanya menjadi seorang Ibu. Aku merasa seperti, memiliki tanggung jawab yang besar. Aku merasa semua beban ada di pundakku. Sekarang, anak itu-Allarick adalah putraku. Putra dari Ailena De Carsius. Semoga saja kau kuat, Nak. Menghadapi orang seperti ku. Yang memiliki kadar otak melebihi orang rata-rata.
“Ibu.”
Pintu di buka. Aku menoleh, kemudian tersenyum lembut, menyambut Allarick yang datang ke kamarku, dengan memakai baju tidur.
Pipinya gembul, dengan warna merah alami. Matanya juga terlihat sangat polos. Ah, betapa indahnya surga di depanku saat ini.
“Iya, ada apa?” aku turun dari kursi tempatku bekerja. Kemudian menyamakan tinggiku dengannya. Ku lihat anak itu tersenyum malu-malu, kemudian memeluk tubuhku erat. Tubuh dinginnya, terasa seperti orang yang sedang gugup. Ingin berbicara sesuatu, tapi takut akan di marahi.
“A-aku ingin ---,”
“Ingin apa?”
“AkuInginPeluk!”
Aku mengedipkan mata berulang kali. Mencoba menatap anak yang saat ini tengah memelukku hangat.
“Kau mau di peluk?” tanyaku dengan nada menggoda. Seketika ia mengangguk, dengan kepala yang disembunyikan di ceruk leherku.
“Tidurlah. Aku akan memelukmu. Atau kau, ingin yang lain? Dongeng? Atau susu? Kau mau sesuatu?” aku memeluk Allarick lembut. Sesekali menepuk punggungnya yang basah oleh keringat. Kemudian mengecup pucuk kepalanya.
Astaga, ternyata begini rasanya memiliki anak. Rasanya sangat menyenangkan. Aku merasa seperti memiliki semuanya. Huh Tuhan. Aku tidak berharap ini akan berlangsung secara lama. Tapi, selama aku masih bernafas, aku berharap Allarick selalu bahagia, meskipun tanpa aku di sampingnya.
“Tidak,” gumam Allarick pelan. Nyaris tidak terdengar. Namun, sayangnya aku mendengarnya. Aku tersenyum, mengelus rambut halusnya lembut.
“Jangan tinggalkan aku, Ibu. Aku sayang, Ibu.”
Di ruangan Fallden. Saat ini pria itu tengah menunduk, menyembunyikan bola matanya yang basah. Di belakangnya terdapat, mayat seorang lelaki berambut uban yang sama dengannya. Pria itu berseragam ksatria, dengan lambang keluarga “Viscount “.
“Andai, kau tidak mengutuk Ailena saat itu. Mungkin saat ini kau akan kulepaskan. Viscount Helena.” Gumam Fallden. Tangannya ia letakkan di atas dada. Dengan posisi seperti seorang ksatria yang sedang memberikan hormat kepada seorang kaisar.
Pria itu diam tidak bergeming. Nafasnya terasa berat, dengan darah yang terus saja keluar dari mulutnya. Fallden tersenyum, kemudian tertawa. Menatap pria itu tajam, kemudian menggerakan tangannya.
Seketika tubuh pria itu hangus terbakar, tanpa tersisa. Debunya berterbangan di bawa oleh angin. Fallden tersenyum, kemudian berucap lirih sebelum sebuah tangan menutupi matanya.
“Kau keterlaluan Fallden! Aku tidak suka!” aku menutup rapat-rapat mata Fallden, dengan sebelah tangan. Tangan satunya lagi, kugunakan untuk menarik telinganya.
Fallden mengaduh, tapi aku tetap menjewernya. Pria ini sudah keterlaluan. Nyawa seseorang bukanlah mainan. Yah, memang Viscount Helena salah, tapi, yang diucapkannya ketika pemberian berkat pada Allarick tidaklah salah.
FLASHBACK...
“Aku bingung, bagaimana bisa keluarga Duke Carsius, menerima anak dari panti asuhan seperti itu.”
“Terlebih lagi, rumornya dia anak dari seorang jala*gnya kaisar terdahulu. Cih, menjijikkan!”
“Ssut, kau bicara apa Viscount?! Jika Duke dengar bisa bahaya!”
“Aku tidak peduli. Toh, memang itu kenyataannya, ‘kan?”
Flashback end...
Viscount benar. Aku memang anak dari seorang jala*gnya kaisar terdahulu. Aku tau itu, dari tanda lahir yang hanya di miliki keturunan kaisar yang ada di bahu sebelah kananku. Aku tidak bisa menyangkal, fakta itu, karena itu benar adanya.
Namun, kenapa Fallden emosi? Disini aku lah yang dihina? Kenapa ia merasa terhina juga?
“Tidak! Itu tidak benar!” Fallden mencampakkan tanganku. Kemudian berdiri, menatapku tajam.
Keningku berkerut, pertanda tidak setuju dengan apa yang dikatakannya.
“Kau bukan anak dari seorang penghibur! Bukan! Kau jangan merendah, Ailena! Kau keturunan kaisar murni! Tanda di bahumu adalah buktinya. Mereka tidak seharusnya berbicara omong kosong tanpa mengetahui kebenarannya,”
“Fallden,” aku memanggilnya namanya lembut. Pria itu terdiam menunduk, menghela nafas kemudian menatapku sendu.
“Aku sangat tidak perduli apa perkataan orang lain. Asal kau tahu. Tapi, aku tidak Terima jika mereka mengatakan tentangmu ataupun tentang Duke dan keluarganya.”
Fallden menggeleng, mendorongku ke dalam pelukannya, kemudian menyembunyikan wajahnya di leherku.
Kebiasaan, dasar uban!
Aku tersentak, namun tak ulung tersenyum senang. Selama ini, setiap ada masalah tentang diriku, atau aku membuat masalah. Fallden tidak akan sampai membentakku, paling hanya diam, memelukku, atau tidak memberiku izin keluar dari kamarnya.
Ya, begitu. Fallden tipikal orang yang tidak mau membuat orang di sekitarnya takut dengan amarahnya. Maka dari itu, ketika emosi ia akan memilih memeluk orang yang di rasanya bisa ia jadikan sandaran untuk ke depannya. Dan, ternyata orang itu adalah diriku.
Senang? Tentu saja. Awalnya aku sedikit canggung, karena walaupun aku penggemar cogan. Aku sama sekali belum pernah di peluk oleh lelaki mana pun. Bisa di bilang, Fallden lah orang pertama yang memelukku.
Tapi, lama kelamaan, aku merasa biasa. Seolah-olah, semua yang dilakukannya pernah terjadi di masa lalu. Dan aku hafal semuanya.
“Kau terlalu, munafik, Ailena. Kumohon, jangan terlalu Munafik. Dunia ini kejam, aku tidak ingin melihatmu pergi dengan tangan menggendong keranjang bunga.” (Mati/meninggal)