
Tapi sebentar, sepertinya aku kelupaan sesuatu.
Ya, dia adalah ratu iblis merah.
Seketika perasaan senang yang tadi membuncah di hatiku lenyap digantikan perasaan sesak dan juga sedih. Bagaimana bisa aku lupa bahwa Fallden dan Selena sudah menikah secara sah? Mereka juga sudah memiliki anak (Keturunan Iblis Merah) yang saat ini tengah menjabat sebagai salah satu penghukum di neraka Bawa (Neraka atas).
Aku tersenyum kecut, memikirkan bagaimana bahagianya mereka, hidup dengan segala tawa. Kemudian terkekeh, kenapa harus tersakiti sih? Jika sudah begini ya syukuri saja. Lagi pula apa yang mau di sesali? Tidak ada kan?
Cinta itu kan anugrah terindah,
Jadi, jika cintamu berpaling ya anggap saja kau tengah di beri uji coba,
Pantas bahagia, atau malah sebaliknya.
-Tania : I Choose a Sugar Dady Route-
“Allarick, Allison.” Aku memanggil, kedua bocah yang terlihat sedang bertengkar itu. Mereka menoleh menatapku berbarengan, kemudian berlari dengan sangat cepat menerjang tubuhku.
Allison yang paling cepat, ia langsung meloncat kemudian memeluk leherku dari bahu sebelah kiri. Kemudian di susul oleh Allarick yang juga meloncat dan kemudian memeluk leherku dari bahu sebelah kanan.
Mereka berdua mengecupi pipiku bergantian seraya tersenyum manis. Aku membalasnya dengan senyuman lebar, kemudian mengecup mereka satu persatu. Di mulai dari Allarick baru, Allison.
Dan, ekhem, aku juga baru tahu bahwa anakku memiliki satu sifat yang sama dengan Fallden. Yaitu, mesum. Buktinya, Allison tidak mau pipinya di cium olehku, ia malah lebih memilih di cium ujung bibirnya untuk menggantikan pipinya.
Aku hanya tersenyum, menanggapinya. Namun, tak urung melakukannya. Lagi pula, Allison anakku. Jadi, itu tidak apa-apa kan?
Terlebih lagi, aku dan Allison sudah lama tidak bertemu. Setidaknya sekarang aku harus memberikan kesan baik untuknya, agar ketika aku kembali ia tidak akan rindu ataupun bosan di dunia tidak nyata ini.
“Ibu, aku rindu.” Allison bergumam manja di telingaku, seraya mengecupinya beberapa kali. Aku terkekeh, merasa lucu dengan sikapnya yang ternyata terlampau aktif. Lalu menatap Allarick yang terlihat menatapku sendu, sambil memainkan tangannya.
Aku tersenyum menyambut, tingkah lucu darinya. Haha, ternyata anakku bisa cemburu juga ya..
“Hei, ada yang cemburu loh,” ujarku. Allison dan Allarick sontak menatapku dengan raut wajah bingung, membuatku tertawa lepas melihatnya.
Hm, ternyata bahagia se simpel ini ya? Kenapa aku baru menyadarinya, ya?
Tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di tanganku. Aku menoleh, ke belakang berniat untuk memarahi orang yang usil padaku. Namun, tidak ada. Aku akhirnya menunduk, kemudian tercengang. Menatap seorang anak laki-laki berambut ungu sedang menatapku dengan tatapan dingin. Namun, aku tahu di balik tatapan itu, ada jiwa yang kesakitan. Karena kehadirannya tidak dianggap oleh dunia, ataupun orang di sekitarnya.
Aku kasihan? Tentu. Karena aku juga pernah berada di posisi yang sama dengan anak di depanku ini.Aku menunduk, kemudian menatapnya hangat.
“Ada apa? Kau mencari sesuatu?” tanyaku dan di balas anggukan olehnya. Aku tersenyum, sembari mengusap rambutnya lembut.
Apa jangan-jangan, dia anak dari Fallden dan Selena di masa lalu? Ahh, pasti iya. Hanya keturunan iblis murni lah yang hanya memiliki, warna rambut ataupun bola mata yang keunguan. Sedangkan, jika ia memang bukan anak dari Fallden, pasti tidak akan ada warna ungu di tubuhnya.
Huh, rasanya seperti ada yang menusuk di hatiku. Ternyata, selama ini aku menerima barang bekas ya? Tidak di kehidupan lama dan di kehidupan sekarang. Semuanya benar-benar, menyedihkan. Aku jadi, penasaran bagaimana itu surga.
Apa bisa mereka menerima aku yang kotor? Berlumuran dengan api dan tanah dari neraka? Apakah bisa?
Tanpa sadar aku menangis, anak lelaki itu sedikit tercengang. Tubuhnya bahkan sampai bergetar, sebelum akhirnya ia memelukku dan membuatku sadar, bahwa aku sedang tidak di tempat yang kosong maupun sendiri.
Melainkan sebuah tempat yang ramai, akan jeritan kesakitan, dan hal-hal yang lainnya. Hah, astaga kenapa aku bisa lupa sih? Padahal, aku sudah lama tinggal di di sini.
“Jangan menangis, aku tidak ingin, lord Fallden marah kepadaku,” anak itu berucap dengan nada yang teramat datar. Aku mendengar ucapannya, namun, hanya kuhiraukan saja. Lagipula siapa yang ia maksud 'Lord?’ Fallden? Tidak mungkin, ha-ha-ha. Sejak kapan dia tahu bahasa gaul seperti iru.
Aku jadi curiga, jangan-jangan Falldeen juga pernah sepertiku? Jika iya, aku senang. Akhirnya aku bisa memiliki, teman ya walaupun teman itu sudah memiliki, garis takdir dirinya sendiri.
“Kau anaknya, Fallden bukan?” tanyaku. Anak itu menggeleng, kemudian melangkah mundur. Menjauhkan badan, kemudian memberi hormat seperti para Lady. Aneh, sejak kapan, seorang sir, melakukan salam ala, seorang lady?
Dan, lagi pula, dari mana, anak ini tahu, salam itu semua?
“Lalu, kau siapanya?”
“Aku muridnya!”
Alisku mengkerut. Tidak mungkin, tidak mungkin Fallden mau menjadi seorang guru untuk anak lelaki yang, jarang bicara. Orang, ketika aku bicara cuek saja, ia sudah malas, menanggapinya. Hadehh...
“Tidak mungkin.” Aku menggeleng, kemudian berlari, mengejar anak lelaki itu yang ternyata, sudah meninggalkan aku sendirian, di lorong sepi tidak punya nama ini.
“Hei, berhenti!” teriakku, ketika ia sudah hampir terlihat. Anak itu terlihat panik, dari caranya berlari saja sudah keliatan. Kemudian semakin mempercepat, larinya sampai aku tidak dapat melihat bayang-bayangnya.
Aku mendengus, namun juga tersenyum. Setidaknya, aku bisa melihat rupa Fallden ketika kecil. Jadi, rasa kecewaku hari ini sedikit berkurang. Dan, juga sepertinya anak itu benar-benar anak Fallden. Huh, tapi kenapa ia tidak mau mengaku ya?
Apa karena sebuah ancaman? Heh, jika iya, siapa yang berani mengancam anak kecil yang imut seperti itu? Pasti orang sinting! Hih.
Tanpa kusadari, ternyata anak itu sebenarnya masih ada di sekitarku. Ia bersembunyi di balik gelapnya malam, sembari menutupi rambutnya dengan sebuah kain berwarna hitam.
Bolehkah aku berbalik?
Aku tahu, kau ada di sini, anak kecil. Aku membatin, lantas berbalik ketika merasakan ada pergerakan. Tapi nihil, tidak ada orang. Seolah-olah, anginlah yang sedang bergerak, melaju pesat mengejar tempat yang di tuju nya.
Ok, skip itu tidak mungkin. Karena angin bukan di kejar ataupun mengejar. Ia bebas, dan tidak tergapai. Dan, aku yakin, pasti anak itu bisa di gapai. Lagi pula, jika memakai sihir seperti ini, bukankah ini sedikit aneh? Lagi pula, kenapa harus terkejut melihatku?
Apa karena aku terlalu cantik? Em, mungkin?
Atau karena, Fallden? Oh ya, pasti karena Fallden.
Dasar, lelaki sinting. Anak sendiri, di perlakukan layaknya musuh. Kau tidak takut, apa dia kedepannya akan menjadi Antagonist seperti di novel-novel yang sering bertebaran di ibu kota? Aish.
Aku kesal sekali denganmu Fallden.