I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Tumpukan Batu Permata




...-----+-----+-----+-----...


Xiao Chui menghela nafas lega, dengan nyaman daun-daun willow nya bergetar-getar takala esensi cahaya Matahari menyelimuti tubuh pohonnya.


"Sangat nyaman~. Berkat Hua'er tubuhku menjadi lebih mudah menyerap esensi cahaya Matahari dan Bulan. Tanpa banyak usaha kultivasi ku bisa segera ditingkatkan~".


"Hm... Ini sudah siang, tapi aku belum melihat Hua'er dan Xiao Feifei".


Xiao Chui menatap sekelilingnya, dia tidak bisa melihat tanda-tanda kedatangan Hua'er. Dia bertanya-tanya, ada dimana dia?, dan apa yang sedang dilakukannya?.


Tepat pada saat itu...


Dakk---dakk---dakk---!!!


Sesuatu melintas melewati Xiao Chui. Sesuatu itu bergerak begitu cepat, seperti angin ribut dan petir yang bergemuruh. Dia datang begitu cepat, dan menghilang dengan cepat pula.


Asap dan kabut mengaburkan pandangannya, alhasil dia tidak bisa melihat dengan jelas.


"Ughh... uhuk--! uhuk--!!".


Xiao Chui tidak punya hidung, namun dia merasa tenggorokannya tersedak detik itu juga.


Tanpa harus melihat Xiao Chui bisa tau jika sekelebat angin yang baru saja melewatinya pasti adalah Xiao Fei yang sedang berlari kencang dengan Mei Hua dipunggungnya.


Xiao Chui terdiam sejenak, daun willow nya menjulur keatas, dan dengan gerakan fleksibel menggaruk-garuk puncak pohonnya dengan kecepatan konstan.


Perilakunya saat ini persis seperti manusia yang sedang menggaruk-garuk rambut belakangnya mereka ketika merasa bingung.


Dengan emosi campur aduk dia bertanya-tanya, "Jika persepsi ku tidak salah seharusnya ada satu orang lagi yang sedang duduk dipunggung Xiao Feifei. Hmm... Kira-kira itu siapa yah?".


...-----+-----+-----+-----...


Xiao Fei menghentikan laju kecepatannya tepat didepan pagar rumah bambu. Mei Hua melompat turun dari punggungnya sambil membawa anak kecil yang sekarat di punggungnya.


"Terimakasih untuk kerja kerasnya hari ini, Xiao Fei. Jangan khawatir, aku pasti akan melakukan sebaik mungkin untuk mengobati anak kecil ini. Kamu lebih baik pergi ke tempat Xiao Chui untuk menemaninya. Oh!, dan katakan padanya jika hari ini aku tidak bisa bermain bersamanya untuk sementara".


"Kiikk--!!", Xiao Fei dengan patuh menganggukan kepala berbulunya. Dia pun berbalik dan mulai berlari dengan langkah ceria dan santai.


Mei Hua tersenyum kecil melihat arah perginya Xiao Fei. Dalam hatinya dia tertawa lucu, 'Pffftt...Aku baru tau pantat Xiao Fei ternyata berwarna putih, sungguh!, imut sekali!'.


Dia tertawa cekikikan ditempat, jika tidak ingat masih ada anak kecil yang sekarat di punggungnya, dia mungkin bisa berdiri diam disana sambil tertawa seharian.


Mei Hua memikirkan anak kecil yang sedang sekarat dipunggungnya, dalam sekejab senyum menghilang dari wajahnya, dan digantikan dengan wajah cemberut.


Dengan beban tanpa berat dipunggungnya, Mei Hua berjalan memasuki rumah bambu dengan langkah stabil dan tenang.


Dia memasuki ruang kamar, lalu berjalan kearah satu-satunya ranjang yang diletakkan dalam posisi diagonal didekat jendela. Dengan gerakan cepat dia menarik selimut dan membaringkan anak kecil itu diatas ranjang.


"Pertama-tama bersihkan dulu kotoran dan luka ditubuh anak ini, lalu mulai mengobatinya".


Mei Hua menggulung dan menyisikan lengan bajunya yang panjang, dalam hitungan detik dia memasuki mode sibuk.


Dia melepas baju kotor dan compang-camping milik anak kecil itu, dengan jijik membuangnya ke luar halaman.


Mei Hua mengeluarkan wadah daun berisi air sungai Ambrosia. Air yang dia ambil cukup banyak. Mei Hua berniat menggunakan air itu untuk mencuci tubuh anak kecil yang kotor dan sisanya untuk diminumkan padanya.


Dengan hati-hati dia mulai membersihkan kotoran dan darah pada tubuhnya yang penuh luka. Dari tangan, badan, kaki, dan terakhir wajah...


"Ah--!!", Mei Hua terkejut, tanpa sadar dia menjerit kecil.


Setelah membersihkan wajahnya yang kotor dan hitam barulah dia bisa melihat penampilan sebenarnya dari anak kecil itu.


Yang mengejutkan, ternyata penampilan dibalik wajah yang semula penuh kotoran dan tanah terlihat cukup tampan, putih dan imut.


"Ini sangat kenyal, seperti jeli". Tangan Mei Hua menoel pipinya yang putih namun tirus.


Setelah pindah ke dunia ini dia juga terbangun dalam tubuh anak kecil. Tidak hanya wajahnya memiliki baby face, tapi bahkan penampilannya sepuluh poin mirip seperti boneka Lolita.


Tapi jelas penampilannya seribu kali lebih lucu, cantik dan imut dibandingkan anak kecil ini.


Mata biru Mei Hua bergerak lurus ke bawah, ketika tatapannya jatuh pada tubuh kurus yang dipenuhi dengan luka dan memar yang mengerikan, alisnya terpelintir dengan wajah tidak sedap.


"Dunia macam apa yang telah ku datangi ini?, sangat mengerikan!. Mengapa seorang anak bisa diperlakukan kejam seperti ini?. Bahkan seorang budak pun tidak akan disiksa sedemikian rupa oleh majikannya".


Setelah selesai membersihkan, Mei Hua mulai mengaktifkan kekuatan penyembuhan nya.


Seberkas cahaya hijau zamrud muncul dari telapak tangannya yang putih dan halus.


Cahaya itu bersinar dengan lembut, penuh vitalis yang ulet, dengan efek yang menyembuhkan. Dengan gerakan halus, cepat dan telaten dia mengarahkan cahaya hijau zamrud pada semua luka yang ada ditubuh anak kecil itu.


Hanya butuh dua jam, Mei Hua telah menyembuhkan semua luka ditubuhnya. Yang tersisa hanya bekas luka dengan koreng yang hampir mengering.


"Luka dibahunya tidak bisa disembuhkan sekaligus, dan butuh waktu lama untuk kaki kirinya bisa bisa digunakan dengan normal kembali".


"Apa boleh buat. Aku sudah melakukan semua yang ku bisa lakukan. Dan sisanya biarkan waktu yang akan menyembuhkan luka di tubuh anak kecil ini".


Mei Hua berniat beranjak dari kursinya, namun baru saja dia ingin bangun, perhatiannya seketika teralihkan dengan tulisan yang kembali muncul di atas kepala anak kecil itu.


Nama: Mo Xuan


Identitas: Penjahat


Love: 0%


Black: 0%


Keheranan dan keterkejutan melintas dimata birunya, tapi itu hanya sebentar.


"Mo Xuan?. Terdengar familiar. Dimana aku pernah mendengarnya yah...?".


Melihat tulisan aneh yang mewakili nama, identitas dan kesukaan seseorang padanya, Mei Hua tidak bisa tidak berpikir, "Selain pindah dan membangkitkan jari emas, apa aku juga mendapatkan Sistem?".


...-----+-----+-----+-----...


Setelah menutup luka di bahu dan kaki dengan kain bersih, Mei Hua berjalan keluar rumah bambu dengan pakaian kotor ditangannya.


Pakaian itu milik anak kecil bernama Mo Xuan. Pakaian yang robek dan rusak sudah tidak layak dipakai lagi. Mei Hua berniat membuangnya karena merasa itu sudah terlalu kotor dan bau.


Mei Hua tidak memiliki pakaian ganti, karena dia sendiri tidak pernah mengganti pakaian semenjak pindah ke dunia ini. Untungnya dia rajin mencuci di sungai Ambrosia, jadi pakaian tidak pernah kotor dan bau.


"Tidak ada pilihan lain. Mungkin aku harus pergi turun gunung untuk melihat-lihat dunia luar. Lebih baik menemukan pasar untuk menjual sesuatu dan mendapatkan uang".


Dan tentang apa yang akan dijual nanti Mei Hua memiliki ide dikepalanya.


Tangg---


Suara benda yang jatuh menginterupsi pikirannya. Mei Hua terkejut, dia menunduk menatap benda mengkilap yang meluncur turun dari sela-sela pakaian kotor ditangannya.


"Apa ini?... Kalung batu giok?".


Benda yang jatuh adalah sebuah kalung. Itu adalah kalung dengan tali hitam dan bandul giok merah berbentuk bulat dengan pola totem Naga diatasnya.


Mei Hua menunduk, dia menatap kalung Giok ini dengan seksama. Dia mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk menjelajahi batu Giok tersebut.


Kesadaran spiritualnya tidak menemukan apa-apa, yang berarti kalung Giok ini hanya kalung biasa.


"Benda ini pasti milik anak kecil itu. Nanti setelah dia bangun aku akan mengembalikan padanya".


Memasukkan kalung ke sakunya, dia melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat.


...-----+-----+-----+-----...


Setelah seharian sibuk mengurus anak kecil yang dia bawa pulang, Mei Hua akhirnya mendapatkan sedikit waktu luang untuk beristirahat sejenak.


Tubuhnya tidak terlalu kotor, namun ada bau darah yang samar-samar tercium ketika dia mengendus dengan hati-hati. Mei Hua tidak tahan, dia ingin pergi mandi untuk menghilangkan bau neraka ini!.


Tanpa ragu-ragu dia memasuki ruang spiritual nya, membuka pakaian dengan tergesa-gesa, dan melompat kedalam sungai.


Cepluk...


Gelombang muncul di permukaan air, Mei Hua mengikuti arus yang membawanya tenggelam lebih dalam.


Dengan tubuh ringan dan tanpa bobot dia melayang didalam air. Kedua matanya terpejam, pernafasannya ditahan, dan pendengarnya melemah, namun meskipun indranya dibatasi kesadaran spiritual nya dapat bergerak dengan bebas kesegala arah.


Bahkan tanpa melihat dan tanpa mendengar apapun, Mei Hua bisa mengetahui dengan jelas situasi didalam sungai Ambrosia.


Bagian tengah sungai adalah perairan yang cukup dalam. Menurut perkiraan Mei Hua sendiri kedalamannya mencapai 120 meter dibawah permukaan air.


Dengan mudah dia melawan arus dan berenang kebawah. Seperti Putri duyung yang lincah dan anggun, dia berbakat untuk berenang dan melawan arus air.


Semakin dalam dia menjelajah maka semakin banyak hal mengejutkan yang dia temukan.


Di kedalaman air sungai ada banyak sekali benda eksotis yang ingin Mei Hua dapatkan.


Ya, benda yang dia maksud adalah tumpukan gunung batu permata yang tenggelam di dasar sungai.


Mei Hua berniat mengambilnya untuk di jual.


"Hehehe... aku kaya", Sudut mulutnya naik menjadi bentuk seringai.


...-----+-----+-----+-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Di Bab berikutnya Mei Hua baru akan sadar jika dia ada di dunia novel....


(Β΄ο½₯Ο‰βˆ©`*)πŸŒΊπŸ’™πŸ’šπŸŒΌ