
...-----+-----+-----+-----...
Di bawah penutup Langit malam, tanpa ada setitik cahaya bintang pun, muncul sebuah pemandangan gunung dan hutan yang sunyi.
Orang-orang menyebut Hutan dan gunung itu dengan nama Lembah Qiancheng.
Kebanyakan orang akan berpikir dua kali jika ingin memasukinya. Bukannya tanpa alasan, karena Lembah Qiancheng dirumorkan menyimpan misterius yang berbahaya.
Menurut kisah yang beredar, dikatakan jika Lembah Qiancheng memiliki nama lain, yaitu Lembah akhirat.
Menurut cerita jika ada orang yang tidak memiliki takdir berani memasuki Lembah Qiancheng, maka orang itu tidak akan pernah kembali lagi setelah melangkahkan kaki ke dalamnya. Artinya orang-orang bisa masuk, tapi tidak bisa keluar.
Orang yang tidak bisa keluar akan menghilang dan menguap dari dunia, tanpa menyisakan satu tulang pun, bahkan tidak satu ingatan pun tentangnya.
Tidak salah menyebut Lembah Qiancheng sebagai tempat terlarang.
....Karena tempat itu, adalah tempat yang terkutuk.
...-----•°•°•°•-----...
Meskipun Lembah Qiancheng berbahaya, namun anak kecil itu tidak punya pilihan lain selain tetap memasukinya. Baginya Lembah Qiancheng adalah tempat yang cocok untuk bersembunyi, terlepas dari resiko berbahaya apapun yang menantinya disana.
Angin dingin menusuk kulitnya, membuatnya menggigil kedinginan.
Tubuhnya yang kecil terkapar dengan menyedihkan di tanah, wajahnya tertutup lumpur, sekujur tubuhnya penuh luka, dan pakaiannya basah dengan darah dan keringat.
Saat ini Mo Xuan hampir setengah sekarat. Sekujur tubuhnya penuh dengan bekas luka panjang dan dalam yang terlihat sangat mengerikan. Luka yang paling parah ada di kaki kirinya yang patah dan di punggungnya yang tertusuk anak panah.
"Ibu... Ibu....", Mulut Mo Xuan kering, namun dia tidak pernah berhenti menyebut wanita yang paling dia cintanya.
Dalam ingatan Mo Xuan yang terkubur paling dalam, hanya ada satu orang yang selalu memperlakukannya dengan lembut dan perhatian.
Orang itu tidak lain adalah ibunya.
Ibunya, adalah wanita yang cantik, anggun, dan sehalus bunga pir. Dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mencintai dan percaya jika dia bukan Monster peminum darah seperti yang dikatakan orang.
Tapi sekarang Ibunya telah tiada. Dia mati karena melindunginya.
Ketika Mo Xuan mengingat kembali saat-saat ketika Ibunya dipermalukan, dihina, dan dibunuh tepat dihadapannya, hatinya mengeras dengan kebencian yang ekstrim.
Mata hitamnya berkilat dengan cahaya kemarahan, seperti mata iblis yang penuh kejahatan, itu terbuka lebar menatap langit malam yang gelap.
Langit malam terlihat begitu gelap dan sunyi, tanpa ada sedikit pun cahaya, sama seperti hidupnya. Dengan perginya orang yang dia cintai keberadaannya di dunia ini menjadi tidak berarti lagi.
Hidupnya berubah kosong dan hampa.
Mo Xuan tidak tahan lagi.
Dia ingin mengakhiri hidupnya dan mengakhiri semua rasa sakit ini. Dia ingin segera bertemu Ibunya di jalan Huangquan.
Dari pada hidup kesepian, Mo Xuan lebih memilih untuk mati.
Dia ingin mengakhiri hidupnya lebih cepat, agar rasa sakit ini bisa berhenti menggerogoti hatinya.
Mo Xuan meraba dadanya, dengan gerakan kaku dia mengeluarkan benda dingin dan panjang dari sakunya.
Benda itu adalah Pisau perak yang bersinar dengan cahaya dingin.
Dengan tatapan mata yang terbakar dan hati yang membara, tangannya mencengkram gagang belati erat-erat, dan tanpa ragu-ragu menusuk tepat di jantungnya!.
Tapi sebelum itu terjadi, sebuah ingatan samar tiba-tiba berkelebat dikepalanya.
Suara itu dengan lembut berkata, "Hiduplah anakku".
Tangannya yang mencengkram belati mulai bergetar.
Suara itu kembali terdengar, "Teruslah hidup untuk menemukan kebahagiaan mu sendiri".
"Sampai kamu menemukannya jangan pernah menyerah. Setelah memilikinya teruslah hidup dengan memegangnya erat-erat apapun yang terjadi".
Dengan marah Mo Xuan membuang belati ditangannya. Dia membanting kepalan tangannya ke tanah, dengan kesal dia mengerang seperti binatang kecil frustasi yang dirugikan. Sambil mencengkram dadanya yang terasa sesak dia tiba-tiba mencibir.
"Heeh... kebahagiaan... yah?".
Kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan kebencian bersatu dan bercampur aduk dihatinya. Hatinya yang dulu murni dan bersih mulai tertutupi kabut gelap.
Sebuah suara bergema dihatinya, seperti bisikkan iblis, suara itu memperdayanya agar dia jatuh kedalam jurang neraka.
Kehidupan apa?!
Kebahagiaan apa?!.
Apa kamu bercanda?!.
Saat ini yang bisa membuat jiwa mu yang haus akan darah berbahagia hanya balas dendam!.
Balas dendam!, kamu harus balas dendam!.
Ingatlah ketika ibumu mati, semua orang hanya tertawa dan menatap mayat ibumu dengan dingin!.
Tanpa belas kasihan sedikitpun mereka memutilasi tubuh ibumu dan memberi makan kepada Serigala liar!.
Ingat itu!, selalu ingat!
Mata ganti mata, darah ganti darah, dan nyawa diganti nyawa!.
Ketika membuka matanya lagi sepasang mata hitam telag digantikan dengan pupil merah gelap. Samar-samar ada garis vertikal halus berwarna emas gelap yang mewarnai pupil merahnya.
Iblis yang bersembunyi di dalam tubuhnya perlahan mulai melepaskan semua rantai dan batasan yang membelenggunya.
Hingga semua rantai dilucuti, Monster itu akhirnya bebas.
Monster itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan meraung penuh kebencian pada langit.
...-----•°•°•°•-----...
Mei Hua duduk berteduh dibawah Pohon Willow Xiao Chui, disampingnya ada seekor Rusa sedang menunduk, meminum semua air Sungai Ambrosia yang dia keluarkan.
Mengelus pelan bulu coklat Rusa yang halus, Mei Hua berkata dengan serius dan sungguh-sungguh. "Habiskan semuanya, air itu akan sangat berguna untukmu".
"Kkiiik---". Rusa itu meringkik pelan, tanpa disuruh pun dia patuh menghabiskan semua air yang dibawa Mei Hua.
Rusa itu tidak pintar, namun instingnya sangat baik. Secara alami dia tau dari aromanya jika air yang diberikan Mei Hua pasti akan sangat berguna untuk tubuhnya.
Xiao Chui memanjangkan dahannya, daun Willow yang hijau dan ramping melambai dengan genit didepan Mei Hua.
"Xiao Chui, apa kamu masih ingin air lagi?".
"Ya ya ya!. Hua'er aku menginginkan nya!. Tolong beri aku lagi!".
Mengelus cabang daun Xiao Chui, Mei Hua tertawa kecil. "Oke, aku akan memberikannya padamu. Tapi ini yang terakhir karena sedari pagi kamu sudah minum cukup banyak".
"Tentu Hua'er, aku berjanji ini yang terakhir kalinya untuk hari ini!".
Mei Hua mengeluarkan satu wadah daun berisi air sungai Ambrosia lagi. Dia menuangnya secara langsung ke akar pohon Xiao Chui yang mencuat di tanah.
"Ah ah ah!, enak!, begitu nyamann~", Xiao Chui asik mengerang penuh kenikmatan. Mei Hua bersandar pada batang pohonnya dan tersenyum pasrah melihat tingkah Pohon yang begitu energik dan imut.
Rusa yang sudah selesai minum perlahan menggerakkan tungkai kakinya, dia berjalan mendekati Mei Hua dan menanduknya dengan kepalanya.
Mei Hua menoleh dan menatap Rusa tersebut. "Kamu sudah selesai minum?, bagus anak yang pintar". Mei Hua dengan tulus memujinya.
Mei Hua bertemu Rusa tersebut di Padang rumput. Saat itu dia sedang dalam perjalanan menuju bukit tempat Xiao Chui berada. Di perjalanan secara tidak sengaja dia melihat seekor Rusa jantan dewasa sedang mencari makan.
Melihat Rusa cantik bermata almond, dengan bulu coklat-keemasan dan tanduk perak yang berkilau terang, Mei Hua langsung jatuh cinta padanya saat itu juga.
Itu Rusa!, hewan yang terancam punah ketika akhir dunia tiba!. Mei Hua tidak tau mengapa hewan yang cantik ini bisa punah. Tapi dari berita yang dia dengar, Rusa termasuk dalam kategori hewan yang gagal berevolusi ketika akhir dunia tiba.
Menurut riset dan penelitian, dikatakan kebanyakan hewan Herbivora adalah yang paling sulit berevolusi. Tidak berevolusi berarti tidak bisa memiliki kekuatan, tidak memiliki kekuatan berarti tidak bisa melawan.
Tanpa kekuatan untuk melawan tentu akan sulit bagi hewan yang tidak berevolusi hidup diakhir dunia Apocalypse yang kejam dan brutal.
Sama saja seperti segelintir manusia yang tidak bisa membangkitkan kekuatan. Mereka yang tidak memiliki kekuatan akan dicap sebagai bagian dari piramida terbawah. Atau yang paling buruk manusia tanpa kekuatan hanya akan dijadikan budak di era kekacauan itu.
Mei Hua menyukai Rusa dan berniat berbagi air sungai Ambrosia dengannya. Dia ingin mendekat tapi ragu-ragu karena takut membuat Rusa tersebut merasa terancam.
Mei Hua tidak berani maju. Dia hanya bisa berdiri diam disudut, dengan wadah berisi air ditangannya, sambil menatap Rusa cantik dengan tatapan terpesona.
Hanya sampai Mei Hua mengeluarkan air Sungai Ambrosia, barulah Rusa tersebut menoleh kearah Mei Hua. Mata almond nya yang polos dan lugu menatap Mei Hua dengan penasaran.
Tatapan si Rusa seperti bertanya-tanya, 'Siapa orang aneh itu?, kenapa sadari tadi dia terus menatapku?. Kenapa aku bisa mencium aroma harum darinya?'.
Menyadari jika air sungainya memiliki godaan fatal untuk Rusa tersebut, Mei Hua tiba-tiba memiliki ide.
Jadi dengan senyum bengkok, Mei Hua menggoda Rusa yang masih ragu-ragu mendekat ke arahnya dengan air sungai Ambrosia.
"Rusa cantik, mendekatlah jika kamu menginginkan air ini. Dan biarkan aku menyentuh tandukmu sebentar".
Pada akhirnya Rusa tersebut termakan rayuannya dan dengan patuh masuk keperangkap manisnya.
Nah, begitulah kisah awal pertemuan Mei Hua dengan sang Rusa.
"Xiao Fei, aku akan memberi mu nama Xiao Fei. Bagaimana?, apa kamu suka?".
Rusa tertentu yang sekarang bernama Xiao Fei, mendengkur manis pada Mei Hua. Tindakannya berarti dia setuju.
"Baiklah, mulai sekarang Xiao Chui dan Xiao Fei adalah temanku!. Kita akan menghabiskan waktu bersama di hutan dan pegunungan ini selama-lamanya!".
"Teman, teman!. Hua'er dan Xiao Fei adalah teman!". Daun Willow Xiao Chui melambai-lambai dengan gila, rupanya dia juga sangat senang dan bersemangat memiliki teman baru.
"Kkiikk---!!!", Xiao Fei melompat-lompat kecil di atas petak rumput, dia juga terlihat cukup antusias.
Dua daun Willow yang panjang menyebar ke kiri dan ke kanan, Mei Hua dan Xiao Fei yang masih belum bereaksi tiba-tiba ditarik ke dalam pelukan penuh kasih sayang Xiao Chui. Seperti kue adonan, mereka digulung bersama-sama ketengah. Alhasil mereka bertiga pun berakhir dalam posisi berpelukan yang aneh karena tubuh mereka terikat ke batang pohon Xiao Chui.
"Hahahaha---".
Mei Hua tertawa lepas, dia merasa lebih dan lebih menyukai kehidupan barunya yang indah, damai dan santai ini.
...-----+-----+-----+-----...
Setelah mengetahui dia juga membawa kekuatan atribut kayu, Mei Hua memiliki ide baru dibenaknya.
Mei Hua merasa datang dan pergi dari tempat Xiao Chui terlalu merepotkan dan membuang banyak waktu. Jadi dia berpikir untuk membangun tempat hunian yang letaknya tidak jauh dari Pohon Xiao Chui.
Mei Hua dengan tegas menyatakan, "Aku akan membangun Rumah bambu sederhana dan rumah Pohon!".
Kemampuan Kayunya hanya pada Level 6. Di dunia asalnya Level itu sudah dianggap cukup kuat dan berada di atas rata-rata.
Awalnya Mei Hua berpikir membangun rumah akan sangat merepotkan dan sulit. Tapi ketika Mei Hua mencobanya dia sangat tercengang....
"Ah, ini...agak terlalu mudah?".
Ketika Mei Hua sedang mengaktifkan kekuatannya untuk menumbuhkan bambu, sebuah kejadian yang ajaib terjadi.
Bambu yang membutuhkan waktu 4-5 jam untuk tumbuh, dalam sekejab bisa tumbuh menjulang tinggi dalam hitungan menit. Setiap bambu yang tumbuh di tanah seperti hidup, mereka seperti bisa mengerti keinginan batin Mei Hua yang ingin membangun sebuah Rumah. Jadi tanpa butuh campur tangan Mei Hua, semua batang bambu berkerja sama dengan tertib, mereka bergerak sendiri, mendesain model sendiri, dan mempercantik diri sendiri. Alhasil, hanya butuh waktu 12 jam untuk sebuah rumah bambu minimalis yang segar dan elegan berdiri dengan kokoh di hadapan Mei Hua.
"..........", Mei Hua disisi lain masih syok melihat semua ini.
Dia pikir, mungkin ini ada hubungannya dengan tubuh barunya yang merupakan tanaman juga, alias Pohon Bunga Persik.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Bab ini mungkin agak berantakan. Tapi biarlah...
Nah, Mo Xuan si Penjahat kecil akan segera muncul di Bab berikutnya. (↑ω↑)💚🌼🌺🍁