
...-----+++-----•°•°•°•-----+++-----...
"Kamu memiliki warna rambut yang unik, merah muda, sangat cantik seperti warna bunga".
Wanita berjubah Tao putih mengulurkan tangannya, jari-jemarinya yang indah dan ramping mengambil segenggam rambut perak Mei Hua yang mengalir dipundaknya, dia memainkannya sebentar, mengait, dan memelintirnya, setelah itu dia menjentikkan tangannya dengan lembut, hingga helaian rambut bertebaran seperti hujan kelopak bunga.
Mei Hua menarik nafas, dengan sekuat tenaga dia berusaha menahan rasa sesak ketika rambutnya dimainkan.
Ingatannya tiba-tiba berputar dan kembali ke adegan ketika wanita berjubah putih itu mengayunkan pedang merahnya dan menebas kepala Kultivator Hantu.
Darah merah terlihat tumpah dimana-mana, itu mengalir dibilah pedang, menetes diatas salju putih, dan memercik ditangan Kultivator berjubah Tao Putih.
Mei Hua, "........."
Takdir selalu tidak dapat diprediksi, dia tidak pernah menyangka bahwa tangan yang baru saja melakukan pemenggalan kepala instan, kini sedang mengutak-atik rambutnya dan memainkannya dengan lembut, seolah-olah sedang mengagumi karya seni yang menakjubkan.
"Warna merah muda-perak, sungguh warna yang langka. Pasti sangat indah jika dijadikan pajangan...", Kultivator berjubah Tao putih bergumam pelan, suaranya terdengar berfluktuasi, seperti sedang membayangkan sesuatu yang menarik.
Mati rasa... kulit kepalanya mati rasa.
Mei Hua meringis, dalam seperkian detik dia merasa kepalanya akan segera dipenggal oleh Kultivator berjubah Tao Putih ini.
Dimasa lalu Mei Hua sudah terbiasa melihat kekejaman perang dan kelicikan manusia. Namun, keabnormalan dari wanita berjubah Tao Putih ini, dan auranya yang tajam dan menindas, belum pernah Mei Hua jumpai dalam dua kehidupannya.
Kembali beberapa saat yang lalu.
.
.
.
.
.
"Wah~, disini telihat ramai. Kalian pasti sedang bersenang-senang".
Wanita berjubah Tao Putih muncul tanpa sepatah katapun ditengah-tengah sekelompok orang yang sedang memperbincangkan masalah gender.
Xiao Chui dan Mei Feng yang memiliki insting yang kuat dan kepekaan bawaan yang alamiah, terkejut ketika melihat kemunculan wanita aneh dengan rok bersimbah darah.
Mei Hua juga terkejut, tapi hanya sementara, dia segera mengontrol kembali ekspresi wajahnya dan terdiam menyaksikan aksi reuni ketiga Kultivator tersebut.
"Shifu, kamu kembali~!".
"Shifu".
Fang Yuli dan Liu Feng Jue menyambut dengan antusias kedatangan Shifu mereka. Seperti ngengat, Fang Yuli langsung melemparkan tubuhnya ke pelukan Shifunya, namun dengan kejam ditarik kembali oleh Liu Feng Jue disampingnya.
"Ah! ah!, Saudara kedua, lepaskan aku, biarkan aku memeluk Shifu, aku sangat merindukannya, woo... woo..."
"Shimei, jangan menggangu Shifu. Shifu baru saja selesai bertarung dan dia telah menghabiskan banyak kekuatan Spiritual". Implikasi dari ucapan Liu Feng Jue adalah Shifu lelah, jadi jangan mengganggunya, dan menjauhlah sejauh-jauhnya.
"Lupakan saja Ah-Jue, jika dia mau Hanfu kesayangan kotor dengan darah, dia boleh memelukku semaunya".
"Wooo... tidak mau~".
Sampai detik ini Mei Hua baru tau jika Kultivator berjubah Tao Putih atau Penatua Lan, ternyata adalah Tuan dari Fang Yuli dan Liu Feng Jue.
Sangat luar biasa, pikir Mei Hua. Melihat adegan Tuan dan Murid yang Legendaris dari Novel Xianxia adalah pengalaman nyata yang tak terlupakan. Didalam hatinya Mei Hua berkata, dia harus mengagumi adegan ini dengan baik.
"Shifu, bagaimana dengan Kultivator Hantu itu?". Tanya Liu Feng Jue, alisnya yang tajam mengerut tajam.
"Dia sudah dibereskan, kita bisa segera kembali ke Sekte, sisanya dapat diserahkan pada orang-orang dari Paviliun Chuhua". Lan Mian berkata sambil dengan santai menunjukan sepotong kepala yang menyembul dari tas sub-ruangnya.
Kepala manusia dengan wajah pucat yang bersimbah darah, siapa lagi jika bukan Kultivator Hantu, Xu Minghao?.
Fang Yuli memainkan keliman bajunya, dengan ragu-ragu di bertanya. ".... Emm, Shifu, lalu bagaimana dengan para pengungsi perang itu?. Mereka...mereka tidak akan dijadikan tumbal lagi kan?".
Melihat keraguan, ketakutan, dan sedikit harapan yang muncul dimata polos muridnya, Lan Mian tidak bisa menahan senyum. "Jangan khawatir, mereka sudah aman saat ini, percaya saja dengan orang-orang dari Paviliun Chuhua, mereka pasti akan menanganinya dengan baik".
"Yaa!". Mendengar jawaban pasti dari Shifu nya, Fang Yuli seketika bersorak bahagia.
Liu Feng Jue tidak mengatakan sepatah katapun perihal masalah pengungsi perang. Bukannya dia tidak perduli, dia hanya tidak tertarik untuk ikut campur dengan hal yang bukan bagian dari tugasnya. Alih-alih perduli dengan hal itu, Liu Feng Jue lebih memikirkan satu masalah yang belum diselesaikan.
Mata tajamnya melirik kearah pemuda berambut merah muda yang sedang sibuk menenangkan kedua temannya.
"Shifu, masalah ketiga orang ini..."
"Ah-Jue, kamu bisa melepas mereka, mereka bukan musuh", Mata perak Lan Mian jatuh pada sosok kecil Mei Feng yang berada dalam sangkar, lalu bergeser pada Xiao Chui yang terkulai lemah ditanah, dan terakhir tatapannya matanya berhenti pada Mei Hua.
"Mereka adalah roh, tapi bukan roh biasa. Mereka adalah roh yang baik hati dan polos yang hanya ingin mempertahankan wilayah mereka". Ketika dia mengatakan kalimat tersebut, mata perak Lan Mian bertabrakan dengan mata biru Zircon Mei Hua.
"Ah, jadi begitu!. Pantas saja Tuan Mei dapat bertahan hidup di Lembah Qiancheng, ternyata alasannya karena itu!". Seru Fang Yuli, dengan mata berbinar-binar dia menatap Mei Hua dengan tatapan takjub.
"Jadi begitu", Ucap Liu Feng Jue dengan nada lirih.
Xiao Chui yang dibebaskan dari ikatan tali merah segera melompat masuk kedalam pelukan Mei Hua, dan dia pun menggigil sejadi-jadinya sambil berujar, "Ya, ampun. Manusia itu sangat aneh, sangat menakutkan..."
"Makhluk kecil, sepertinya aku tidak memiliki kesempatan untuk membawamu pulang", Atas perintah Shifunya, Fang Yuli dengan berat hati membuka pintu sangkar untuk Mei Feng.
Mei Feng segera mengerahkan sayang birunya dan terbang menuju Mei Hua, dengan gerakan alami dia mengebor masuk kedalam rambut merah muda Mei Hua sambil berujar dengan marah, "Mau membawaku pulang?, kamu bermimpi gadis busuk!".
Melihat kedua temannya kembali kesisinya, Mei Hua akhirnya dapat sepenuhnya menghela nafas lega. Dengan senyum penuh ketulusan dia berkata pada Penatua Lan.
"Terimakasih banyak, sudah mau mempercayai kami dan membiarkan kami pergi".
"Senang bisa membantu kecantikan yang indah dan langka". Ujar Lan Mian dengan santai.
Merasa semuanya telah aman dan beres, Mei Hua berpikir dia bisa segera kembali ke rumah bambunya. Sejujurnya saat ini dia sangat merindukan ladang sayurnya, dan sedikit merindukan penjahat kecil yang pendiam tapi imut.
"Kalau begitu, kami akan segera---", Kata "Pergi" terpaksa Mei Hua telan kembali, dengan mata membulat lebar Mei Hua menyaksikan Penatua Lan yang cantik dan anggun mengulurkan tangan padanya.
Mei Hua, "...!!!". Eh, Kapan!?, sejak kapan wanita ini muncul didepanku?, bukankah sedari tadi dia ada sisi murid-muridnya!?.
"Kamu memiliki warna rambut yang unik, merah muda, sangat cantik seperti warna bunga".
Disaat Lan Mian muncul secara tiba-tiba didepan Mei Hua, baik Xiao Chui yang bersembunyi dalam pelukan Mei Hua, maupun Mei Feng yang bersembunyi dirambutnya, mereka dengan cepat merasakan bahaya dan segera mundur sejauh mungkin, meninggalkan Mei Hua yang tercengang ditempat.
Didalam hatinya, Mei Hua mengeluh, "Xiao Chui!, Mei Feng!, kalian meninggalkanku sendiri, kalian penghianat! QAQ".
Rambut merah muda-perak Mei Hua sangat panjang, ketika dia masih dalam wujud Lolita kecil rambutnya sudah sepanjang lutut dan hampir mencapai betis, dan sekarang setelah dia beranjak dewasa rambutnya juga tumbuh lebih panjang dari sebelumnya, hampir menyeret ketanah ketika dia berjalan.
Ada saat-saat dimana Mei Hua ingin memotong pendek rambutnya. Namun, dia segera berhenti tepat ketika dia merasakan rasa sakit seperti kulit kepalanya sedang dikuliti hidup-hidup. Dari pengalaman menyakitkan itu Mei Hua tau jika rambut merah mudanya ternyata adalah "bunga" bagi Pohon persik, selain sebagai bukti keindahan dan kesuburan, "bunga" atau "rambutnya" juga merupakan sumber kekuatan dan inti dari hidupnya.
Jadi, memotong rambut sama artinya dengan memotong hidupnya. Setelah mengetahui semua itu Mei Hua hanya bisa pasrah, mau tidak mau dia harus membiasakan diri dengan rambut panjang sambil mencoba mempelajari beberapa macam trik untuk menguncir rambutnya dengan jepit rambut.
"Warna merah muda-perak, sungguh warna yang langka. Pasti sangat indah jika dijadikan pajangankan..."
Ketika helaian rambutnya diambil Mei Hua merasa inti hidupnya seperti akan segera dipotong.
Mati rasa... kulit kepalanya mati rasa.
Mei Hua tidak berani bergerak, dia takut, takut jika dia berani bergerak bilah pedang merah akan menebas kepalanya detik itu juga.
"Aku sebenarnya benci melakukan hal yang menjijikan itu, tapi sayangnya Shihong sangat menyukainya, dan aku tidak bisa menolak hobinya".
Apa?, apa yang sedang kamu bicarakan?, kenapa menyebut-nyebut nama pedangmu?.
"Siapapun yang ditebas mati olehnya, mau dia orang baik atau jahat, cantik atau jelek, berharga atau tidak berharga...."
"Tidak perduli siapa, semua yang mati dibawah bilah pedang Shihong, kepalanya harus diambil untuk dipersembahkan untuknya".
Apa?, kepala?, tunggu, kenapa harus kepala?.
"Shihong-ku, dia adalah pedang ajaib yang sangat suka mengoleksi kepala dari orang-orang yang telah dia bunuh".
"Terutama... jenis kepala milik kecantikan yang mati dengan indah dibawah belas kasihan tebasannya".
Mei Hua, "......"
Mei Hua, ".....!!!"
Sungguh!, hobi sesat macam apa yang pedang jahatmu lakukan!?. Tidak, bukankah kalian adalah Kultivator jalan kebenaran?, tapi kenapa kalian bertingkah laku lebih sesat dari Kultivator jahat!!??
"Shihong berbisik padaku, katanya dia suka wajah dan kecantikanmu".
Lan Mian memasang senyum main-main, matanya berkerut menjadi bentuk bulan sabit, jika tidak ada kilatan cahaya dingin dimatanya, Mei Hua pasti percaya jika dia adalah orang baik.
"...Shihong, ingin mengoleksi kepalamu".
Rasanya seperti diberi kematian telak dengan dijatuhi bom dari langit, Mei Hua sangat terkejut sampai-sampai dia berteriak.
"Apaa!!!", Mendengarnya, otak Mei Hua tiba-tiba terasa kosong, kesadaranya hampir melayang, dan tubuhnya terasa akan ambruk detik itu juga.
Tekanan dan aura yang dipancarkan Kultivator terlalu kuat dan terlalu menindas, sungguh sangat mengerikan. Penindasan seperti ini hampir membuat Mei Hua kewalahan dan nyaris saja dia ingin menyentuh tatto Bunga Persik didahinya untuk kabur dari kenyataan dengan memasuki Ruang Spiritual.
"Ahaha, aku bohong, itu hanya bercanda".
".........."
"Jangan tersinggung, roh kecil..."
Tidak, aku tidak tersinggung. Aku hanya mau pingsan....
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Shy Crab: Di Bab berikutnya, Penjahat kecil akan Online.
(*ゝωб*)b 🌼💛🍁