I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Pohon Weeping Willow




...-----+-----+-----+-----...


"Puncak kebahagiaan tertinggi adalah ketika kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita."


Itu adalah motto kehidupan Mei Hua yang selalu dia pegang teguh didalam hatinya.


Setidaknya sebelum ibunya bunuh diri, ayahnya membawa pulang selingkuhannya, dan keluarganya hancur tercerai-berai, dia masih berpegang erat dengan mottonya.


Ketika akhir dunia tiba, dia tidak bisa peduli lagi dengan kebahagiaan orang lain. Saat itu yang ada dipikirannya adalah bagaimana cara untuk bertahan hidup di dunia yang kacau balau ini. Jadi dia mengabaikan ayahnya yang pilih kasih, ibu tirinya yang licik, dan saudara tirinya yang mengganggu.


Mei Hua tidak memiliki waktu untuk mempedulikan ketiga orang tersebut, dia sudah muak dan lelah berurusan dengan topeng busuk dan munafik mereka.


Mereka mengatakan dia egois, Mei Hua tidak marah, malahan didalam hatinya dia mengangguk setuju.


Tidak masalah jika dia dibenci atau dianggap jahat oleh orang lain, karena pendapat mereka tidaklah penting. Sejak ibunya meninggal dia telah melepas topeng "anak baik" dari wajahnya, dan sepenuhnya memperlihatkan tabiat aslinya.


---Suka mengeluh, menanggapi segala hal dengan perasaan dan bukan dengan logika, emosional, pesimitif, sensitif, mudah tersinggung dan memendam emosi.


Seperti itulah dia.


Setelah melepas topeng "anak baik", dia pun memulai kehidupan barunya tanpa menutupi semua keburukannya.


Itu adalah kehidupan masa lalunya.


Menyebarkan kebahagiaan dan melakukan kebaikan adalah hal yang mustahil dia lakukan, entah di kehidupan masa lalu atau sekarang.


Tapi...


Kali ini mungkin pengecualian.


Roh Pohon Bunga Persik memohon padanya untuk mengabulkan keinginannya.


Roh Pohon Bunga Persik ingin dia menyebarkan kebahagiaan dan melakukan kebaikan atas namanya.


Alasannya adalah karena Roh Pohon Bunga Persik sangat bahagia telah terlahir ke dunia ini. Dan dia bertekad membagikan kebahagiaannya pada semua orang, terutama pada gadis kecil Hua'er, orang yang telah menanamnya.


Sayangnya kebahagiaan yang dia bagikan malah menjadi malapetaka untuk gadis kecil Hua'er, dan berimbas pada kematian.


Menggunakan kata-kata kosong untuk menghibur dan menenangkan Roh Pohon Bunga Persik sepertinya kurang cukup. Mei Hua ingin melakukan lebih. Dia pikir, mengabulkan keinginan Roh Pohon Bunga Persik bukanlah hal yang buruk. Jika melakukannya bisa membebaskan jiwanya dari beban dan rasa bersalah, Mei Hua ingin melakukan untuknya.


Sebelum dia datang Roh Pohon Bunga Persik awalnya juga berniat melakukan itu, namun dia sangat terpukul dengan kematian gadis kecil Hua'er dan tidak bisa bangkit hingga bertahun-tahun lamanya. Rasa bersalah telah membuat hatinya ketakutan, bingung, dab kosong. Tanpa Roh Pohon Persik sadari hatinya sudah lama mati rasa dan menyerah hanya masalah waktu.


"Aku akan mencoba sebaik mungkin untuk menggantikanmu menebus semua dosamu".


Menyebarkan kebahagiaan dan melakukan kebaikan bukanlah hal mudah, tetapi juga bukan hal yang sulit. Melakukannya tergantung hati kita sendiri, apakah kita rela atau tidak.


Tapi bagi Mei Hua yang telah menjalani satu masa kehidupan, semua itu cukup sederhana.


Sederhananya mungkin seperti menolong orang miskin atau berbagi makanan dan minuman, seperti yang pernah dia lakukan pada pengungsi menyedihkan di hari kiamat.


"Benar juga, terakhir kali berendam di dalam air sungai aku merasa tubuhku seperti telah disegarkan kembali. Mungkinkah air sungai itu punya manfaat khusus?".


Mei Hua melirik air sungai yang jernih dan tenang, sebuah ide terbentuk dikepalanya.


"Ya, aku bisa melakukan ini untuk bereksperimen", Memetik daun yang agar besar, tangan kecil Mei Hua dengan terampil mengubah daun tersebut menjadi bentuk wadah berukuran sedang.


"Baiklah!, ayo kita keluar!. Ini juga sudah waktunya untukku menjelajahi dunia luar".


Menyentuh dahinya, Mei Hua dengan percaya diri berkata, "Keluar!".


Seberkas cahaya menyelimuti tubuhnya, dan sosok Mei Hua pun menghilang dari pinggir sungai.


...-----+-----+-----+-----...


Mei Hua menatap pepohonan hijau segar dan tumbuhan hijau yang tumbuh lebat disekitarnya dengan apresiasi dimatanya.


"Hutan yang begitu indah, masih sangat alami dan segar. Mungkin karena belum pernah dijamah dan dieksploitasi oleh manusia".


Sekali lagi, Mei Hua berdiri di tempat yang sama ketika pertama kali dia keluar dari ruang spiritual.


Mendengar suara desingan angin, kicauan burung yang merdu dan suara serangga musim panas, hati Mei Hua merasa terhibur.


Mungkin karena terlalu lama sendirian di dalam ruang Spiritual, Mei Hua jadi merindukan keramaian dan hiruk-pikuk.


Karena tidak memakai alas kaki Mei Hua bisa merasakan dengan jelas tekstur kasar dan padat dari lumut dan rumput yang dia injak.


Mei Hua merasa agak masam dan lucu. Di akhir dunia bahkan rumput kecil sekalipun bisa menjadi karnivora yang beringas dan ganas. Orang-orang bisanya takut dengan jenis tanaman rumput, karena metode serangan mereka sangat licik, fatal dan mematikan.


Di dunia ini rumput berbentuk sangat kecil, lembut dan halus. Mereka tidak memiliki ciri-ciri ganas dan bukan karnivora.


Melihat segala sesuatu yang berbeda dari masa lalunya membuat Mei Hua terpesona. Dia menggosok hidungnya, entah mengapa dia merasa cukup terharu.


Dengan wadah daun berisi air sungai ditangannya, Mei Hua berjalan perlahan mengitari hutan rimbun.


Berjalan cukup lama dia masih belum menemukan objek yang cocok untuk eksperimennya, Mei Hua sedikit berkecil hati.


Tepat ketika Mei Hua ingin menyerah, sudut matanya yang terkulai secara tidak sengaja melihat seonggok pohon willow yang hampir layu di tepi hutan.


"Menemukan!". Mata biru Mei Hua bersinar cerah, dengan langkah seribu dia berlari menuju pohon willow tersebut.


Batang tubuh Pohon Weeping Willow tumbuh mencapai ketinggian 25 meter. Ukuran ini sudah dianggap cukup besar diantara spesies Pohon Willow lainnya.


Daun-daunnya tumbuh panjang dan tersusun rapih, berwarna hijau dengan margin bergerigi yang halus. Ranting-rantingnya menjuntai kebawah, melambai pelan ketika tertiup angin.


Tangan Mei Hua menyentuh ranting tersebut. Dia memejamkan matanya berusaha melihat situasi spesifik dari pohon Willow.


Dengan ingatan tubuh milik Roh Pohon Bunga Persik, Mei Hua sedikit demi sedikit telah belajar cara menggunakan kekuatannya. Salah satu kemampuan yang dimiliki Roh Pohon Bunga Persik adalah menggunakan kesadaran Roh untuk memindai makhluk dengan jenis yang sama.


Ketika kesadaran jiwanya menebus tubuh roh Pohon Willow, Mei Hua bisa melihat dengan jelas situasinya secara terperinci.


Ternyata Pohon Willow ini merupakan pohon tertua di hutan ini, umurnya sudah sangat tua, mungkin sekitar tujuh ratus tahun atau bahkan lebih.


Mei Hua tertegun, dia takjub dengan betapa tuanya usia pohon Willow ini. Jika ingatannya tidak salah seharusnya kisaran umur pohon Willow di alam liar hanya sampai 40-75 tahun.


Tapi rasa takjubnya menghilang ketika dia mengingat umur tubuh yang dia tepati. Ya, Roh Pohon Bunga Persik sendiri sudah berumur seribu tahun, sungguh angka yang fantastis.


"Sepertinya masa hidup pohon dan tumbuhan di dunia ini jauh lebih lama dari pada yang ku tau di duniaku".


"Dunia kuno ini... Sepertinya bukan dunia biasa".


Mei Hua merasa penasaran, untuk sesaat dia merasa ingin mencari tau jenis dunia kuno seperti apa yang dia datangi ini. Tapi dia menekan keinginannya dan kembali fokus dengan urusan didepannya.


"Aku bisa merasakan vitalitas pohon ini akan segera habis. Juga dia seperti telah tercemar dengan energi negatif yang bertolak belakang dengan sifat energi alam".


Menatap wadah air ditangan kirinya, Mei Hua merenung.


"Jika air sungai di ruang spiritualku bukan air biasa, maka itu pasti bisa menolong pohon ini".


"Baik, mari kita coba!".


Mei Hua perlahan mulai menyirami akar pohon Willow. Dia menuang semua air di wadah daun tanpa menyisakan setetes pun. Setelah air mulai menyerap ke akar, Mei Hua perlahan bergerak mundur kebelakang.


"Hanya tinggal menunggu dan melihat apakah hal ini akan berhasil".


Mei Hua menatap pohon Willow dan memperhatikan secara seksama, daunnya yang hijau masih sama seperti sebelumnya dan struktur pohon tidak ada yang berubah, tidak ada pergerakan sama sekali.


Mei Hua diam, dia sangat sabar.


Setelah menunggu hampir satu jam lamanya barulah hal yang dia tunggu-tunggu terjadi.


Rasanya seperti sedang menonton film pertumbuhan tanaman yang dipercepat, Mei Hua terpukau dengan pemandangan ini.


Vitalis Pohon Willow perlahan-lahan mulai terisi. Daunya yang hijau menjadi lebih subur, warnanya bahkan berubah menjadi hijau-keemasan. Ranting dan dahan pohonnya memanjang dengan kecepatan yang signifikan, mereka menjalar kesegala arah, dan diujung tangkai mulai tumbuh dedaunan baru.


Dalam satu jam Pohon Willow yang hampir layu dan mati telah dimurnikan kembali menjadi wujud baru yang paling sempurna!.


"Ya!, aku berhasil--!!!".


Menatap Pohon Willow yang sudah diperbaiki dan dilahirkan kembali, Mei Hua tersenyum dengan kepuasan dimatanya.


"Maka sudah jelas, air sungai diruang spiritual ku adalah air ajaib!".


Dalam sekejab ribuan cara muncul di kepala Mei Hua tentang bagaimana cara menggunakan air sungai dengan baik.


Tentunya masih dalam rangka menyebarkan kebahagiaan dan melakukan kebaikan!.


...-----+-----+-----+-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Mei Hua: "Aku Mahakuasa!!!, hahahaha--!!".


Mo Xuan: ".....abnormal".


MC senang karena memiliki Ruang dan mata air spiritual. (↑ω↑)🌻🌻🌼🌼