I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Aku Adalah Pria Jantan, ah!--!!!.




...-----+-----+-----+-----...


Melirik sebentar kebelakang, Mei Hua menemukan jaraknya sudah cukup jauh dari kedua temannya. Dia menghela nafas lega dan mempercepat gerakan kakinya.


Kali ini medan yang harus dia lalui sangat sulit, bukan ranting pohon mati yang mengganggu gerakannya, melainkan, bongkahan es yang tebal dan besar yang menumpuk dan tertancap dimana-mana.


Ketika lokasinya semakin dekat dan selulit seseorang mulai terlihat, Mei Hua mulai mengaktifkan Kekuatannya. Dia menggunakan kemampuan kayu untuk menghilangkan titik keberadaanya, sehingga wujud, bentuk dan bau tubuhnya tidak terlihat diudara dan menyatu dengan aroma alam.


"Xu Minghao, menyerahlah sekarang juga. Perjuanganmu semua sia-sia dihadapan Shihong-ku".


"Ke--hehe, haha... luar biasa. Seperti yang diharapkan dari si Salju Merah, Penatua Lan yang terhormat".


Mata biru Zircon Mei Hua berkedib melihat pemandangan menakjubkan didepannya.


Berdiri ditengah-tengah medan pertarungan, adalah seorang wanita dengan gaun Kultivator putih.


Wanita tersebut bediri tegak dengan postur lurus, sebilah pedang pajang yang tajam dia arahkan pada pria berjubah hitam yang terkapar dengan kondisi mengerikan diatas salju putih.


Warna merah terang menghiasi bilah pedang tersebut, tapi itu bukan darah, melainkan warna asli dari bilah pedang tersebut. Berbeda dengan warna perak dan logam dari pedang biasa pada umumnya, pedang yang dipegang wanita itu terlihat seolah-olah habis dicelupkan kedalam baskom berisi darah pekat yang merah dan gelap. Setelah diangkat, lalu dikeringkan, dan jadilah seperti sekarang ini. Warna merahnya sangat mempesona, hampir bisa mewarna semua bidang di dunia ini dengan warna kemerahan.


Mei Hua terpesona melihat pemandangan ini, matanya tidak bisa berhenti berbinar dengan cahaya kekaguman dan pujian. Dia pikir, mungkinkan ini adalah adegan sensasional dari penaklukan Kultivator wanita yang anggun dan perkasa?!.


"Wanita itu terlihat kuat, dia pasti termaksud salah satu dari karakter penting. Penatua Lan?, aku belum pernah membaca nama seperti itu di Novel "The Battle Of The Gods". Tapi bisa saja...ada kemungkinan namanya pernah muncul dibeberapa Bab yang ku lewatkan".


Dengan tegas Mei Hua mengalihkan pandangannya dari wanita bergaun putih. Kultivator adalah sosok yang kuat, mereka sangat peka dan intuitif, jika diperhatikan terus-menerus mereka akan menyadari jika ada yang sedang memata-matai mereka, meskipun berada di jarak yang jauh sekalipun.


Pandangan mata Mei Hua lalu jatuh pada pria berjubah hitam yang terbaring diatas salju.


Dengan sebelah alis yang terangkat Mei Hua menyaksikan adegan ketika pria itu dipermainkan secara brutal dibawah pedang Penatua Lan.


Penatua Lan memanggil nama pria itu dengan sebutan Xu Minghao. Jika pria itu benar-benar "Xu Minghao" yang dia tebak, maka Mei Hua tidak memiliki sedikit pun belas kasihan untuknya.


Jika memungkinkan Mei Hua justru ingin Penatua Lan menyiksa Xu Minghao ini sampai ayah, ibu dan tujuh keturunan leluhurnya tidak mengenalinya lagi!.


Kenapa?, karena pria itu adalah Xu Minghao!, si Umpan Meriam sesat yang telah menyiksa dan melakukan eksperimen keji pada Penjahat!.


Selain si ayah bajingan dan keluarga Mo dari Luoyang, Xu Minghao ini adalah satu dari sekelompok orang yang telah berkontribusi pada rasa sakit Mo Xuan ketika dia masih kecil.


Penjahat Mo Xuan, betapa menyedihkan nasibnya. Baru saja dia keluar dari cengkraman Singa, seketika dia langsung masuk lagi kedalam mulut Serigala. Baru saja dia mencoba menerima nasib dan belajar menerima kepergian ibunya, harga dirinya kembali direnggut dan kepolosannya yang murni dihancurkan di bawah siksaan dan perlakuan keji pria bajingan ini.


Sungguh betapa sial, sial, dan sialnya hidupnya. Saking sialnya ketika Mei Hua sedang membaca Bab berisi adegan penyiksaan tersebut, dia tidak bisa menahan diri dari memeluk dirinya sendiri dan mendesah dengan nafas berat.


"Sialan, jika ini di dunia asalku, pasti akan ku buat Pembudidaya Hantu itu menjadi suplemen dan tonik untuk Zombie".


Untuk saat ini dapat disimpulkan jika alur plot adalah ketentuan yang asli. Seluas apapun dunia Xianxia ini dan sekuat apapun para Kultivator, tetap saja nasib mereka semua akan tetap berjalan seperti yang tertulis di Plot.


Namun, ada sedikit pengecualian. Dibeberapa celah yang dapat diabaikan, Plot novel juga dapat diubah. Selama ada sedikit gangguan, maka plot juga bisa dipatahkan. Dan yang bisa mematahkan plot tersebut adalah orang luar yang ikut masuk dan ambil bagian dalam rancangan plot.


Sebagai orang luar dan seorang trasmigran, Mei Hua secara membabi-buta telah menyelamatkan penjahat, mencegahnya bertemu dengan pembudidaya hantu, dan mengubah nasib penjahat yang seharusnya disiksa sampai mati seperti dalam alur plot.


"Tapi jika plot akan terus berjalan seperti Novel aslinya, aku khawatir sesuatu yang buruk akan terus terjadi pada Mo Xuan".


"Bagaimanapun anak itu adalah Penjahat, sejenis Big Boss yang disiapkan penulis untuk menjadi batu sandungan bagi Protagonis".


"Jika aku terus melindungi Penjahat, menyelamatkanya dari bahaya, dan mencegahnya menjadi hitam, lalu mengubahnya manjadi bukan Penjahat, maka apa yang akan terjadi dengan alur plot dan protagonisnya?".


Mungkin dunia ini akan kacau balau, atau lintasan dunia akan berubah, dan Protagonis kemungkinan besar akan kehilangan kesempatannya untuk naik dan menjadi Dewa, dan Pejahat... dia mungkin akan kehilangan arti keberadaannya sendiri sebagai penjahat.


Sejujurnya, Mei Hua tidak ingin seperti itu. Dengan sepenuh hati dan keinginan yang egois, dia berharap Penjahat bisa terus menapaki kakinya di jalan yang jahat, terus mendaki tebing yang curam untuk menjadi yang terkuat, lalu menggunakan semua kekuatan dan prestasi yang dikumpulkan untuk membalas dendam.


Balas dendam untuk kematian ibunya, balas dendam untuk rasa sakit, penghinaan dan siksaan bertubi-tubi yang dia alami, membayar kembali semua keluhan hingga semua utang terbayar.


"Mencuci bersih Penjahat?, merevitalisasi Penjahat?, dan mengubah Penjahat menjadi orang baik?. Hah!, benar-benar konyol".


Dimasa lalu Mei Hua sering menemukan beberapa plot di buku novel tentang bagaimana cara seorang Transmigran mengubah nasib, menolong ataupun mengurangi nilai hitam Penjahat.


Untuk Novel-novel seperti itu, Mei Hua hanya merasa geli dan muak, bahkan walupun hanya melihat sampulnya saja.


Kenapa?, orang luar harus ikut campur dengan takdir penjahat?, mengapa begitu mudahnya orang luar yang tidak relevan itu mengubah lintasan balas dendam Penjahat yang epik menjadi novel cinta manis yang membuat orang sakit gigi ketika membacanya.


Rasanya sangat menggelikan memikirkan betapa naifnya mereka memegang kepercayaan diri yang tinggi untuk mengubah Penjahat menjadi individu yang baik.


Kepercayaan diri mereka yang konyol, belum lagi ditambah dengan cara-cara aneh yang mereka lakukan, seperti membuat penjahat belajar menjadikan orang baik, membuat penjahanam jatuh cinta pada mereka, dan lain-lain.


Mei Hua merasa semua tindakan mereka hanya akan menghalangi keberhasilan Penjahat.


Tidak taukah orang-orang luar itu, masa lalu kelam dan kehidupan seperti apa yang dialami Penjahat yang ingin mereka revitalisasikan?.


Menderita, tersiksa, terhina, dihancurkan, dibenci, dicacimaki, dan diinjak-injak layaknya semut!.


Begitu mudahnya orang-orang luar itu berpikir untuk menghapus keluhan dan kebencian dari masa lalu penjahat hanya dengan sedikit cinta dan perhatian?.


Apa itu sepadan untuk semua keluhan mereka?.


"Mo Xuan, Penjahat kecil..."


"Aku tidak berniat mengubahmu menjadi orang baik atau melakukan hal-hal sialan seperti dalam Novel menggelikan itu".


"Aku hanya ingin kamu terus menjadi jahat, menjadi kuat, lalu..."


"Balas dendam untuk ibumu".


Lakukanlah apa yang tidak pernah bisa ku lakukan dari masa lalu.


Hanya ada satu kesempatan untuk balas dendam, jika kamu menyerah maka kesempatan itu akan hilang, dan semuanya akan menjadi sia-sia.


Jangan menyerah sampai kamu bisa menarik semua musuh-musuhmu dari atas altar, biarkan mereka semua jatuh dan merasakan siksaan neraka yang sesungguhnya.


Hati Mei Hua penuh dengan perasaan astringen yang pahit. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, memejamkan mata sejenak untuk mendinginkan darahnya yang mendidih karena semangat dan kemarahan.


"Jika wanita yang panggil Penatua Lan itu tidak bisa mengalahkan Pembudidaya hantu tersebut, maka biarkan aku saja yang turun tangan".


Tepat ketika Mei Hua berpikir seperti itu, matanya melihat sosok putih Penatua Lan menggerakan pedangnya secara horizontal.


Pedang berwarna merah itu berputar seperti lingkaran cicin api, dengan sekali tebasan langsung memenggal kepala Pembudidaya Hantu dalam satu gerakan.


Segera Bunga merah memercik diudara, dan bau berkarat dan amis melayang diseluruh penjuru hutan.


Mei Hua tercengang, "........"


Masih belum cukup sampai disitu, Mei Hua lalu menyaksikan Penatua Lan dengan wajah acuh tak acuh mengambil kepala Xu Minghao dan memasukannya kedalam tas sub ruangnya.


Astaga, apa ini sudah selesai?, semudah itukah Pembudidaya Hantu itu mati?.


"Hm... sepertinya aku tidak harus turun tangan", Mei Hua menjilat bibirnya yang sedikit kering, dia lalu berbalik berniat untuk pergi, "Ya, karena masalah disini sudah selesai lebih baik aku kembali menemui Xiao Chui dan Mei Feng, untuk melihat apakah segel Iblis kabut hitam masih harus diperbaiki".


Tepat disaat Mei Hua ingin beranjak dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba saja terdengar suara mendesing, dan sebuah panah angin menembak lurus kearahnya.


"Apa--!!", Memutar bahunya lalu bergerak kesamping, Mei Hua berhasil menghindari panah tersebut.


Sambil bersandar pada batang pohon yang kering dan mati, Mei Hua melirik anak panah yang tertancap dipohon.


Jaraknya anak panah itu hanya sejengkal dari lehernya. Jika telat menghindar sedikit saja bisa-bisa lehernya akan bolong karena anak penah tersebut.


Tap... tap...


Suara langkah kaki terdengar dan selulit pria berjubah hitam muncul dari bidang penglihatan Mei Hua.


"Mau pergi kemana?, apa kamu ingin lari meninggalkan teman-temanmu?".


Suara Pria itu seperti angin dingin yang gersang dan kasar, suaranya yang magnetis membuat telinga Mei Hua terasa kebas.


"Teman-teman?, apa maksudmu?".


Mei Hua awalnya bingung, namun kebingungannya langsung terpecahkan ketika melihat wanita cantik dengan Hanfu merah muda muncul dari sisi lain hutan.


Wanita itu tidak datang seorang diri, karena dia terlihat sedang membawa dua orang disisinya.


"Saudara kedua, maaf karena datang sedikit terlambat. Butuh waktu yang lama untuk menangkap dua orang ini. Mereka lari dengan sangat cepat, untungnya perangkap yang telahku pasang tidak sia-sia dan berhasil menjebak dua orang yang lincah ini".


Gadis dengan Hanfu merah muda adalah Fang Yuli. Dengan bangga dan penuh percaya diri dia menunjukan hasil tangkapannya pada Saudara keduanya.


Pria berjubah hitam, Liu Feng Jue hanya mengangguk datar, namun tatapan matanya penuh dengan apresiasi dan pujian.


Ada seorang wanita dengan Hanfu hijau tengah digendong seperti karung beras di pundak Fang Yuli. Wanita itu adalah Xiao Chui.


Di telapak tangan yang tergenggam erat ada sosok makhluk kecil tengah terjepit diantara jari-jari ramping Fang Yuli, makhluk kecil itu adalah Roh Angin, Mei Feng.


"Ah!, apa yang terjadi?. Xiao Chui, Mei Feng!". Melihat teman-temannya berada dalam keadaan berantakan, tanpa sadar Mei Hua berteriak panik.


"Wah~, siapa Jiejie itu?, dia cantik sekali!. Oh, apa mereka bertiga berteman?".


"Kelihatannya seperti itu".


Siapa Jiejie-mu?!, siapa yang kau sebuat cantik!?, aku adalah Pria jantan, ah!--!!!.


Mei Hua meraung dengan marah didalam hatinya.


...-----•°•-----•°•-----•°•-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Sejujurnya aku tidak telalu pintar membuat adegan perkelahian. Jadi untuk musuh-musuhnya aku buat agar mereka mati lebih cepat.


See you later~(●'▽'●)ゝ🌼💛🍀