I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Apakah Kamu Merindukanku?




...-----+-----+-----+-----...


Mo Xuan menunduk, dia menatap Rusa Coklat yang bertindak gelisah didepannya dengan raut wajah datar. Dengan lirih dia berkata, "Aku tidak bisa pergi".


"Kiiikk---?", Xiao Fei mengedipkan mata coklat almondnya yang bulat, dalam kesusahan dia tidak mengerti mengapa anak kecil ini menolak permintaannya.


Seolah-olah bisa mengerti keheranan pada Si Rusa, Mo Xuan kembali berkata, "Aku tidak bisa pergi karena Saudara Hua melarangku untuk pergi jauh dari Rumah Bambu ini". Lebih tepatnya Mei Hua menyuruhnya untuk menunggunya dengan patuh di Rumah Bambu, untuk menjaga kebun sayurnya yang terkasih.


Mendapat penolakan, Xiao Fei tidak bisa menahan diri dan menunduk dengan sedih, kedua telinga kecilnya terkukai dengan lemah kebawah, dan satu kaki belakangnya menyentak-nyentak tanah sebagai bukti protes.


Melirik Rusa yang cerdas dan spiritual didepannya, Mo Xuan tidak bisa menahan ******* penuh ketidakberdayaan. Sangat sulit untuk membuat keputusan, karena Tuan Rumah dari Rumah Bambu sedang tidak ada disini. Dia sebagai tamu sekaligus Pasien tidak berani membuat keputusan acak, karena takut membuat kesalahan yang mendatangkan masalah.


Jika saja Saudara Hua ada disini masalah apapun pasti akan terselesaikan, pikir Mo Xuan.


"Xiao Fei, kamu berkata ada dua orang anak yang muncul di Lembah Qiancheng, sekarang ada dimana mereka?".


"Kiiikk---Kiikk---", Xiao Fei menunjukkan suatu arah dengan moncongnya, Mo Xuan seketika mengerti.


"Sekarang mereka berada di kebun Buah milik Saudara Hua, sedang memetik buah dan memakannya?".


"Kiikk--!!", Xiao Fei dengan tegas membenarkan.


Sudut mulut Mo Xuan berkedut. Anak kecil yang hanya setinggi pinggang orang dewasa itu mendesah seperti orang tua yang kelelahan secara mental. Mo Xuan sejujurnya tidak perduli dengan adanya orang asing yang memasuki Lembah Qiancheng, dan menurutnya Saudara Hua juga tidak akan mau repot-repot perduli. Namun, itu berbeda jika poin utamanya berhubungan dengan kebun dan pohon buah miliknya.


Menurut pengamatan objektif Mo Xuan, dia mengetahui jika Saudara Hua adalah seorang penggila pertanian. Dia sangat suka menghabiskan waktunya untuk mengurus kebun-kebunnya. Entah itu bunga-bunga, tanaman sayur-sayuran, maupun pohon buah, semua itu dia rawat dan besarkan dengan sepenuh hati tanpa satupun kelalaian.


Singkatnya, Saudara Hua sangat menyayangi semua tanaman dan kebunnya. Berkali-kali Saudara Hua juga selalu mengingatkannya untuk tidak menyentuh ataupun memetik tanamannya tanpa seizinnya. Ketika Mo Xuan bertanya mengapa, Mei Hua menjawabnya dengan nada penuh keseriusan.


Mei Hua, "Tentu saja untuk dijual dan menghasilkan uang, apalagi?".


Mo Xuan, "..........", Setelah mendapatkan jawaban tersebut Mo Xuan sempat bertanya-tanya, apakah Saudara Hua miskin?. Dia ragu-ragu dan merasa tidak yakin, karena dilihat dari sisi manapun Saudara Hua hidup dengan bercukupan.


Orang yang cantik dan lembut seperti Saudara Hua sebenarnya adalah orang yang menyukai kesempurnaan yang tanpa cela. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika dia mengetahui tanaman-tanaman kesayangannya, yang dia rencanakan akan dijual, telah diambil dan dieksploitasi tanpa sepengetahuannya.


"Untuk saat ini lebih baik kita menunggu Saudara Hua kembali untuk memutuskannya. Nanti, apakah Saudara Hua akan menerima kedua orang itu, atau mengusirnya, semua itu terserah padanya".


Mo Xuan berjalan tertatih-tatih dengan bantuan kruknya, dia berdiri tepat di depan bingkai jendela, matanya yang hitam pekat melirik langit petang dengan tatapan muram.


"Sudah hampir malam, kapan Saudara Hua kembali?. Apa masalahnya susah dibereskan?, ataukah menjadi lebih buruk?".


Mendengar ucapan lirih Mo Xuan, Xiao Fei langsung menjadi lesu. Hari ini dia sangat lelah, lelah setelah berpatroli seharian. Awalnya dia masih cukup bersemangat untuk melapor pada Mei Hua, tapi setelah kembali dan menemukan Mei Huanya tidak ada, dia menjadi kurang termotivasi dan sedih.


Sebelumnya Xiao Fei pergi menemui Xiao Chui, namun setelah mencari cukup lama dia tidak menemukan keberadaan Sahabat Pohon Willownya. Xiao Fei merasa heran memikirkan Xiao Chii yang selalu bercokol ditanah tiba-tiba menghilang begitu saja. Sedangkan untuk Mei Feng, Xiao Fei tidak tau keberadaannya, mereka kurang akrab karena tempramen pedas dan galak Mei Feng sangat mengusik ketenangan batin Xiao Fei.


Xiao Fei berhenti meringkik dan membuat masalah, dia melipat kakinya dan berbaring dengan lemah dilantai Bambu yang hijau.


Keduanya sama-sama terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun, suasana tiba-tiba berubah menjadi hening, sampai seketika...


Terdengar suara berderak dari halaman depan, diikuti dengan suara langkah kaki dari sekelompok orang yang berjalan masuk.


"Kiiik--!!". Xiao Fei berdiri, dia meringkik dengan penuh semangat.


"Ya, Saudara Hua telah kembali, tapi sepertinya dia tidak datang seorang diri".


Mo Xuan berdiri, dengan bantuan tongkatnya dia berjalan menuju halaman depan. Tepat ketika dia sampai disana, selulit orang yang familiar dan menggertarkan hati muncul di bidang penglihatannya.


Rambut yang berwarna eksotis berkibar tertiup angin, warnanya yang terang mengingatkannya pada Bunga Persik. Dia memiliki senyuman yang lembut dan penuh kasih, mata biru yang luas dan terang menyerupai langit, serta perawakan yang tinggi dan ramping bagaikan bambu hijau yang kurus namun elegan.


Dia terlihat cantik dan halus, sedikit feminim, tetapi tidak membuatnya terlihat banci dan lemah, melainkan membuatnya mengeluarkan aura lembut yang tidak tersentuh dan memikat.


"Hai, nak. Apa kabar?, apa kamu merindukanku?". Melihat Penjahat kecil muncul dipintu, Mei Hua menyapanya dengan sadar.


"Saudara Hua, jangan bercanda... bagaimana mungkin aku...", Mo Xuan ingin menyangkalnya, tapi penyangkalannya tidak berarti didepan senyum tulus Mei Hua.


Mata biru Mei Hua memindai area taman dan ladang sayur yang berada di halaman depan, setelah memastikan tidak ada yang kurang maupun yang rusak, dia mengangguk dengan puas.


"Kerja bagus, kamu menjaga taman dan ladang sayur ku dengan sangat baik. Terimakasih nak".


Mei Hua tersenyum, dia mendekati Mo Xuan kecil dan menepuk pelan puncak kepalanya dengan kekuatan ringan.


"Hebat... hebat", Mei Hua memuji dengan mudah hati.


Mo Xuan mengeratkan cengkraman tangannya pada tongkat, dia mengalihkan pandangannya kesamping, disadari atau tidak ada semburat merah dikedua sisi pipinya.


"Wahh~, halaman yang cantik!, pemandangan di tempat ini terlihat lebih cantik dari pada yang ada di Puncak Lanfen!".


Suara penuh rasa takjub seketika menarik perhatian Mo Xuan, dia melirik ke belakang Mei Hua, rupanya ada tiga orang dengan penampilan yang luar biasa dan tidak berdebu ikut masuk kedalam halaman.


Merasakan kehadiran orang asing, Mo Xuan merasakan perasaan krisis yang tidak nyaman. Ada rasa tidak suka, jijik dan penolakan dimatanya terhadap kehadiran orang asing. Ada keinginan untuk mengusir orang-orang, namun segera dia tekan ketika memikirkan dia tidak memiliki hak untuk melakukannya.


Fang Yuli adalah wanita yang memuji keindahan halaman rumah Bambu Mei Hua. Setelah melihat jenis dekorasi taman yang unik dan belum pernah dia lihat sebelumnya, dia tidak bisa berhenti memuji dan mengeluarkan suara takjub akan segala sesuatu yang ada disana.


Mendengar pujian Fang Yuli, Mei Hua diam-diam bangga didalam hatinya. Hmp!, tentu saja taman dan kebunnya terlihat indah, mereka semua didekorasi dengan cermat olehnya dengan mengikuti Taman Castle dalam negeri Dongeng Eropa. Dekorasi jenis ini belum pernah ditemukan didunia ini, dan hanya ada satu-satunya didunia Xianxia ini.



"Hunian yang sangat nyaman. Aku tidak pernah menyangka ada tempat seindah ini di Lembah Qiancheng. Sungguh, jika orang-orang diluar sana mengetahuinya, betapa terkejutnya mereka...", Lan Mian mengulurkan tangannya, kelopak bunga Westeria jatuh diatas telapak tangannya yang pucat.


Lan Mian mengangkat kepala keatas, mata peraknya menatap penuh takjub pada Pohon Westeria Ungu yang tubuh dengan indah dan subur ditengah halaman.


Liu Feng Jue berdiri diam ditempat, dia tidak berkomentar ataupun mengeluarkan kata-kata, namun ada kenyamanan diantara kedua alisnya yang tajam dan selalu berkerut.


"Mohon jangan tersinggung. Rumahku sedikit kecil, jadi aku hanya bisa menjamu kalian dihalaman. Silakan buat diri kalian nyaman, aku akan membuatkan makanan terlebih dahulu".


Mei Hua membiarkan ketiga orang itu duduk, setelah itu dia masuk kedalam ruangan untuk membuat minuman dan mengambil beberapa makanan ringan.


Mo Xuan dengan sadar mengikuti punggung Mei Hua. Dia tidak ingin tinggal bersama ketiga orang asing yang tidak dikenal. Bukan karena canggung, tapi kerena ketidaknyamanan batin dan mental yang dia rasakan ketika melihat orang luar.


"Shifu, anak kecil itu...."


"Mmn, jangan khawatir, aku tau".


Liu Feng Jue melihat wajah penuh pertimbangan dari Shifu nya, dia hanya bisa menelan bulat-bulat kalimat yang ingin dilontarkan.


"Anak kecil yang penuh dengan energi gelap yang kental dan pekat, sangat mengejutkan menemukannya ditempat seperti ini".


Lan Mian dengan ringan menjelaskan, "... Jika anak kecil itu tidak bisa mengendalikan kebencian didalam hatinya, maka hanya butuh sedikit waktu untuk kegelapan menelan kesadarannya. Ketika hatinya benar-benar dikuasai oleh kegelapan, energi kegelapan tersebut akan menjadi senjata pemusnah massal yang sangat berbahaya dimasa depan".


"Lalu bagaimana caranya untuk menghentikan energi kebenciannya, Shifu?".


"Ada dua cara untuk menghentikannya. Pertama, dengan cara mengendalikan anak kecil tersebut seutuhnya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menumbuhkan energi kebencian, dan cara kedua...", Dalam sekejab pupil perak Lan Mian bersinar dengan cahaya dingin.


"Temukan sumber dari semua energi kegelapan itu, lalu membunuhnya".


...-----+-----+-----+-----...


"Saudara Hua, mereka itu siapa?".


Mei Hua yang sibuk menyusun Dimsum menghentikan gerakan tangannya sejenak. Dia melirik Mo Xuan dan mendapati anak itu sedang menatapnya dengan mata gelapnya yang dalam dan menghipnotis


Mei Hua mengalihkan padangannya, tangannya dengan alami menghentikan moncong Xiao Fei yang berniat mencuri sepotong Dimsum dari atas piring.


"Ketiga orang itu adalah Kultivator dari alam Keabadian. Mereka adalah penolong, dermawan kita".


Mei Hua menceritakan secara singkat seluk beluk pertemuan mereka, dari awal hingga akhir dia menceritakan semuanya tanpa sedikitpun kekurangan, hanya saja dia sedikit memotong adegan ketika dia ditipu oleh ancaman Penatua Lan yang jahil.


"Jadi begitu...", Mo Xuan menunduk, tanpa Mei Hua sadari wajah penjahat kecil berubah menjadi muram, dan mata hitamnya menjadi lebih gelap daripada jurang.


...-----•°•-----•°•-----•°•-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Shy Crab: "Silakan!, lebih banyak like dan komentar~".


(☆/>u</)🌸💚🌷