
...-----•°•°•°•-----...
Ketika mendengar ada orang lain di Lembah Qiancheng, pikiran pertama yang terbesit dibenak Mei Hua adalah tebakan dan keraguan.
Apakah orang itu adalah Kultivator?, atau hanya orang biasa?. Dan untuk alasan apa mereka ada disini?.
Jika hanya orang biasa Mei Hua yakin dia bisa mengalahkan mereka dengan mudah, namun jika itu seorang Kultivator....
"Huh...", Mei Hua mendengus, bagaimanapun dia masih memiliki pemahaman yang jelas tentang perbedaan antara dirinya, seorang Transmigran dengan kemampuan rata-rata, dengan penduduk asli dunia ini.
Terlebih lagi mengingat tempat ini adalah Dunia dari Novel "The Battle Of The Gods", yang notabennya merupakan cerita yang penuh dengan unsur magis, aksi pertarungan, pertualangan dan kekuatan spiritual.
Xianxia adalah genre dari Novel "The Battle Of The Gods".
Tokoh figuran dengan kemampuan aneh, teknik bertarung yang menakjubkan dan tak terlukiskan selalu muncul disetiap bab Novel Xianxia.
Ada yang bisa mengendalikan elemen angin, badai, api dan hujan, terbang diatas awan, memanggil binatang buas, alkimia, mendirikan Array formasi, dan melukis jimat. Dan kemampuan yang paling utama dan dianggap sebagai ciri khas yang istimewa dari Novel Xianxia adalah... kemampuan ilmu pedang yang solid.
Intinya semua tokoh-tokoh figuran itu keren, kuat dan memiliki kelebihan masing-masing yang unik, dan tentunya tempramental sesuai dengan karakter mereka tersendiri.
"Tapi sekuat apapun tokoh figuran, didepan aura Protagonis, mereka semua hanya akan menjadi vas hiasan yang tidak ada artinya".
"Memang, sebelum Protagonis muncul semua tokoh figuran terlihat hebat dan bersinar. Namun, setelah protagonis muncul, semua tokoh figuran langsung berubah kusam, dan hanya butuh waktu seperkian detik untuk mereka ditendang dari atas panggung cerita".
Mei Hua tidak perduli apakah orang-orang itu termaksud dalam kategori tokoh figuran, pejalan kaki, atau hanya Kultivator biasa tanpa nama.
Dia hanya berharap mereka bukan sekompok orang merepotkan yang sulit diajak berbicara.
"Xiao Chui, ada berapa jumlah mereka?".
Sejak mereka tiba di tempat ini Xiao Chui telah menyebarkan cabang daun Willownya kesegala arah. Setiap sudut, setiap celah dan ruang, semuanya ditepati oleh cabang Willow yang bergenerasi dan memanjang. Setiap cabang cukup panjang dan fleksibel untuk menyelinap dicelah-celah sempit, wujudnya juga kecil jadi sulit ditemukan oleh musuh.
Dengan menyebarkan cabang-cabang daunnya Xiao Chui dapat dengan mudah memata-matai semua pergerakan yang ada depan sana.
"Ada tiga, eh... tidak!, ada empat!. Hanya saja... mereka terlihat bukan berasal dari satu kelompok yang sama, karena ketiga orang tersebut secara bergantian menyerang satu orang pria".
"Apa yang harus kita lakukan, Mei Hua?". Mei Feng mengepakkan sayab birunya, dia terbang di udara.
"Kita harus mengamati terlebih dahulu. Lihatlah apakah kita bisa mengambil kesempatan dari pertarungan mereka, dan cari tau dulu mana yang musuh dan bukan".
Mei Feng menyentuh dagunya yang halus, otaknya secara gamblang terus berputar untuk membuat rencana.
"Xiao Chui, kamu bisa terus mengamati pergerakan mereka, dan Mei Feng turunkan sedikit intensitas anginmu, jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita".
"Ya, Hua'er".
"Oke!".
Mereka bertiga kembali bergerak, kali ini mereka melakukan pendekatan yang pelan dan sunyi.
Mei Hua menyeimbangkan tubuhnya diatas dahan pohon, matanya dengan cermat mengamati medan didepannya.
"Sangat berantakan". Mei Hua berkomentar.
Melihat kawah kosong ditengah hutan, batang pohon kering yang tumbang dan lapuk dimana-mana, dan tumpukan tanah yang tidak konsisten dengan ketinggian, Mei Hua membayangakan sebrutal apa pertarungan yang terjadi di tempat ini sebelum mereka datang.
"Ya ampun, orang yang menciptakan kawah itu pasti orang yang tidak biasa kan?. Dan serpihan es itu, mereka terlihat seperti efek sisa pertarungan yang dimiliki pengguna kemampuan Es dari dunia asalku".
Dari semua kekacauan ini sudah dipastikan 100% jika sekelompok orang yang sedang bertarung itu adalah seorang Kultivator.
"Aku harus mencari tau, aku harus melihatnya lebih dekat, tapi....", Pandangan Mei Hua menyapu sosok Xiao Chui yang sedang berdiri dibawah pohon sambil berdiskusi pelan dengan Mei Feng.
Mei Hua mengkhawatirkan kedua teman baiknya. Dia cukup percaya diri untuk melindungi mereka berdua, tapi dalam premis selama keduanya masih dibawah pandangannya.
Mei Hua mengingat ucapannya, dia berjanji akan melindungi teman-teman baiknya serta rumah mereka, Lembah Qiancheng ini.
Dia ingin memenuhi janjinya bukan untuk memenuhi rasa bersalah dari pendahulunya, Roh Peri Bunga Persik yang asli, alasannya adalah karena dia ingin melindungi janjinya pada teman-teman yang dia temui didunia ini.
Mei Hua pernah berkata dengan percaya diri jika dirinya kuat, dan bisa melindungi semua orang.
Mengatakan jika dirinya kuat bukanlah suatu kebohongan. Sebagai pengguna kemampuan kayu Lv. 6, dia juga dianggap sebagai salah satu pembangkit tenaga listrik dan penggunaan kemampuan yang paling otentik di dunia aslinya.
Meskipun pada kenyataannya, dimata Mei Hua sendiri kemampuannya tidak sekuat yang orang lain pikirkan. Dan dia tidak pernah merasa berdiri setara dengan orang-orang kuat itu, mungkin lebih baik mengatakan dia berada di satu tingkat lebih rendah dari mereka.
Meskipun para pembangkit tenaga listrik senior selalu tersenyum sambil menepuk pundaknya sambil berkata, "Jangan terlalu rendah hati, serangan kayumu tidak buruk!"
"Kemampuanmu sebenarnya hebat, Xiao Mei!", atau, "Pertahanan kemampuanmu ini, Meimei!", tanggapan Mei Hua saat itu selalu sama, dihatinya hanya ada satu tanggapan.
"Tidak, kemampuanku tidak hebat, aku masih lemah".
Dan buktinya?, dia masih mati ditangan Zombie Mutankan?.
Ya, tapi memang rasanya terlalu rendah hati mengatakan kemampuannya sendiri berada dibawah rata-rata.
Walaupun kemampuannya masih jauh dari pembangkit tenaga listrik Lv. 8 yang bisa menghanguskan lautan Zombie dalam sekali sapuan tangan, kemampuan atribut air yang ramah lingkungan dan multi-fungsi, dan teknik menyerang yang kondusif dari atribut tanah, api, angin dan logam.
Tapi setidaknya dia masih memiliki serangan mematikan yang menjadi andalannya.
Mei Hua selalu tau, dia masih lemah, bahkan sampai saat ini.
Dirinya yang sekarang adalah Mei Hua, tapi disisi lain dia juga "Mei Hua", Si Peri Bunga Persik yang telah berumur seribu tahun.
Pendahulunya adalah Peri Bunga Persik yang bisa menggunakan kekuatan alam untuk memotong umur, mengubah nasib dan menambah kehidupan. Dilihat dari kemampuannya yang menakjubkan kita bisa tau betapa kuatnya dia.
Jadi tidak perlu khawatir, karena sekarang dia adalah Peri Bunga persik, maka semua kekuatan pendahulunya akan menjadi kekuatannya juga, penolongnya dan penyokongnya.
Mei Hua berkedip, pupil biru Zirconnya menjadi jernih seketika. Dia menoleh, menatap kedua temannya dibawah pohon, "Xiao Chui, Mei Feng, kalian tunggu disini sebentar. Aku akan mendekat untuk melihat situasi disana".
"Ah?, tapi---", Xiao Chui ingin menolak, dia tidak setuju membiarkan Mei Hua mendekati bahaya seorang diri. Namun, ucapan penolakannya buru-buru dihentikan oleh Mei Feng.
Kedua tangan mungil Mei Feng dengan tegas menyilangkan mulut Xiao Chui, mencegahnya mengeluarkan kata-kata.
"Kalau begitu berhati-hatilah, Mei Hua".
"Ya", Mei Hua tersenyum.
Xiao Chui hanya bisa menggigit bibirnya, dia melototi Mei Feng dengan kesal karena telah menghentikan ucapannya. Dengan mata frustasi Xiao Chui hanya bisa menatap punggung ramping Mei Hua yang perlahan bergerak menjauh.
Xiao Chui memperhatikan sosok Mei Hua yang bergerak gesit melompat dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya.
Beberapa detik kemudian sosoknya tidak terlihat lagi.
"Kami hanya akan menjadi penghambat bagi Mei Hua jika kita mengikutinya, Xiao Chui".
"Ck, aku tau", Xiao Chui mengecilkan bahunya, merasa frustasi dan tidak berdaya.
Angin dingin bertiup, menghempaskan dedaunan kering ke udara.
Matahari bersinar terang, namun cahayanya tidak bisa menebus kabut suram menyelimuti daerah disekitar mereka.
Tiupan hawa dingin membuat dua Roh yang dekat dengan alam itu merasa tidak nyaman.
"Hei, lihatlah. Kita hanya terkontaminasi dengan sedikit energi kebencian, tapi tubuh kita tidak bisa menahannya lebih dari ini. Sekarang kami tidak sekuat dulu. Aku tidak bisa mengendalikan semua Roh Pohon sebagai prajurit petarungku, kamu kehilangan otoritas untuk mengendalikan kemampuan angin dan Xiao Fei, ah... dia yang paling buruk, karena kehilangan kemampuan untuk berubah wujud menjadi bentuk manusia karena inti emasnya hancur".
Mei Feng duduk dibahu wanita berhanfu hijau, sayab birunya mengepak pelan, dengan lelah sosok kecilnya bersandar pada Xiao Chui. Dia menyahut dengan nada emosional, "Kamu benar sekali Xiao Chui, sekarang kami tidak sekuat dulu lagi, semakin lama kami hidup semakin kita melemah".
Mei Feng tersenyum masam, "....Menjadi lemah hingga tidak berdaya, kehilangan kekuatan, kesadaran dan akal. Dengan semua kemunduran itu sangat ajaib kita masih belum menjadi gila sampai sekarang".
"Haha... kamu benar", Xiao Chui merasa lelah mengobrol sambil berdiri, jadi dia pun duduk ditanah.
"Sebelum Yang Mulia Abadi naik ke Surga, dia sudah meramalkan nasib kami semua. Semua yang dia katakan sejauh ini telah menjadi kenyataan bukan?". Mei Feng tersenyum, senyumnya begitu muram hingga tidak terlihat seperti tersenyum, melainkan menangis.
"Ya, Ramalan Yang Mulia Abadi selalu benar. Untungnya kami memiliki Hua'er, jadi kami bisa bertahan sampai saat ini".
Di dalam benak keduanya yang paling dalam, sebuah ingatan yang tidak pernah terlupakan, namun disimpan jauh dialam bawah sadar mereka, perlahan naik ke permukaan.
Bertahun-tahun yang lalu, Yang Mulia Abadi yang paling ditakuti di tiga alam datang ke Lembah Qiancheng mereka.
Yang Mulia Abadi tidak datang seorang diri, dia datang sambil membawa seorang bayi merah merah muda yang lucu dan manis dalam rengkuhannya.
Yang Mulia Abadi lalu melemparkan Bayi merah muda itu pada mereka dan berkata dengan nada bersungguh-sungguh.
"Rawat dan besarkanlah dia, suatu hari nanti dia akan menjadi Santo pelindung untuk Lembah Qincheng yang kalian cintai ini".
Setelah mengatakan itu Yang Mulia Abadi langsung pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang menatap satu sama lain dalam kebingungan.
Dengan bayi merah muda yang hampir menangis ditanah, ketiga Roh alam yang hanya tau cara makan, minum dan bersenang-senang, jatuh kedalam kompleksitas yang mengerikan.
Bayi merah muda itu bernama Mei Hua, dia adalah Roh Pohon Persik yang dikatakan berusia jauh lebih tua dari pada mereka.
Meskipun dia lebih tua dari mereka, dan dalam hal senioritas dia harusnya lebih berwibawa dari pada mereka, namun tanpa malu-malu dia masih mengenakan fasad seorang bayi yang lucu. Ketika ditanya mengapa dia tidak mengubah wujudnya menjadi dewasa, bayi merah itu tidak menjawab. Dia hanya berbalik kesamping, memperlihatkan dua pantat yang tembem pada mereka.
Baik Xiao Chui, Mei Feng, dan Xiao Chui tidak berdaya.
Mau tidak mau mereka hanya bisa membesarkannya seperti membesarkan leluhur.
Tapi seramah apapun mereka, sebaik apapun mereka, si bayi tetap saja tidak mau menghiraukan mereka.
Dia pendiam, acuh tak acuh, dan tidak suka berbicara. Terkadang dia suka bertingkah laku histeris, berteriak-teriak, dan terisak pelan sambil menggumamkan kata-kata lirih disetiap isakan tangisnya.
"Wuu.... Maaf, maafkan aku...", dia selalu bergumam seperti itu.
Xiao Chui tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Mei Hua. Dia hanya tau jika Mei Hua pasti sedang kesakitan.
Xiao Chui tidak bisa mengerti, apa yang menyebabkan Mei Hua mengabaikan semua yang ada di sekelilingnya, hidup seperti mayat berjalan, putus asa dan kehilangan harapan seperti itu?.
Yang tidak diketahui Xiao Chui adalah, rasa sakit yang dirasakan Mei Hua adalah penderitaan yang disebut dengan....
....rasa bersalah.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Mungkin agak sedikit membingungkan. Yah, anggap ajah ini sejenis plot twist. Mengenai hubungan Xiao Chuo, Mei Feng dan Xiao Fei dengan Peri Bunga Persik yang asli yang sebenarnya sudah saling mengenal sejak lama, nanti akan dijelaskan dia bab berikutnya.
Oke, bye-bye!, 😊🍀🍁🌹