I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Penjahat Menghitam




...-----+-----+-----+-----...


Di luar sedang turun hujan deras.


Kanopi nyaris terbang terbawa angin, untungnya rumah gubuk tua itu memiliki fondasi yang sangat bagus dan kokoh, dan dapat bertahan walapun berada ditengah badai yang mengamuk.


Baut petir biru menggelegar dilangit malam yang gelap, suaranya sangat kencang, begitu menggetarkan hati.


Little Mo Xuan sangat ketakutan. Suara petir yang menggelegar keras membut tubuh kecilnya terus-menerus bergetar. Begitu takutnya sampai-sampai dia tidak tahan dan mulai terisak pelan dipelukan ibunya.


Sang Ibu dengan wajah penuh cinta dan kesabaran mengelus dan menepuk pelan punggung putranya, berusaha menenangkan dan menghiburnya.


Little Mo Xuan bersarang lebih dalam dipelukan hangat ibunya, dengan suara sedih dia mengeluh.


"Buu... Aku takut, sangat takut..."


"Cup... Cup, jangan takut A-Xuan, badai ini akan segera berlalu dan kita bisa segera melanjutkan perjalanan kita".


Sang Ibu membisikan lagu-lagu hangat di telinganya, tubuh Little Mo Xuan yang semula tegang perlahan-lahan menjadi rileks


Mo Xuan kecil diam-diam memejamkan mata. Dia menutup rapat-rapat kedua matanya berusaha mencegah air mata kembali mengalir.


"Kenapa aku dan ibuku harus mengalami semua ini?".


Hati nurani Mo Xuan tidak mengerti, mengapa dia dan ibunya harus mengalami semua penderitaan ini. Mereka jelas tidak bersalah tetapi dituduh bersalah atas dosa yang tidak pernah mereka buat.


Pada akhirnya kenapa semua sampai berakhir seperti ini?. Kenapa dia dan ibunya harus terus menerus berlari dan bersembunyi seolah-olah mereka benar-benar seorang pendosa?!


Dia tidak tahan lagi...tidak tahan.


Setelah badai ini berakhir, Little Mo Xuan bertekad untuk membawa ibunya untuk pergi sejauh mungkin dari sini. Tidak peduli kemana mereka pergi, yang terpenting mereka harus jauh dari tempat ini, dan apapun yang terjadi dia dan ibunya harus bertahan hidup!.


Harus bertahan hidup!.


Zrrrassshhh----


Duar---!!!


Hujan turun lebih deras lagi, dan baut petir turun bagaikan pedang eksekusi dari langit.


Pintu gubuk tua di dobrak, dan sekelompok orang berpakaian brokat dan satin yang mewah dengan senjata tombak dan pedang yang lengkap, masuk kedalam.


"Itu dia!".


"Tangkap, anak iblis itu---!!!".


"Seret ibunya juga!, dia adalah penghianat--!!".


Malam itu hujan tidak pernah reda, langit tampak lebih gelap dan lebih pekat dari biasanya. Badai petir tidak pernah berhenti, suaranya terus menerus bertambah kencang seperti suara genderang perang yang menyiksa hati.


Hujan menutupi aroma darah di tanah, tapi Mo Xuan masih bisa mencium bau amis yang dalam dan pekat. Bau ini, adalah bau darah ibunya.


Panah, tombak dan pedang menyerang dan menghancurkan tubuh wanita itu.


Orang-orang mengelilingi mereka, menatap sepasang ibu dan anak dengan tatapan jahat dan haus darah. Berbagai macam mantra pengikat, elemen dan sihir terus menerus dilemparkan untuk menyiksa sepasang ibu dan anak itu.


Sang ibu sudah terluka cukup banyak dan dia nyaris saja goyah, namun dia menggertakan giginya dan berusaha untuk tetap bertahan. Dengan senyum tidak berdaya dia masih bersikeras memeluk putranya, bertekad untuk melindunginya, sampai akhir hidupnya...


"Anakku, A-Xuan....tetaplah hidup..., ibu...sangat mencintai mu, nak"


"Ibu... Ibu!---ibu--!!!".


Tangan ramping yang selalu memeluknya dengan lembut terkulai tidak berdaya, tubuh yang telah mendingin akhirnya tumbang ketanah, darah pekat mengalir bak sungai di neraka dari tubuhnya yang penuh luka.


Mo Xuan berdiri diam ditengah badai hujan. Dia menunduk, menatap satu-satunya api harapan hidupnya yang telah padam.


Mati... Ibunya telah mati.


Aku sekarang sendiri.


Kenapa?, padahal hanya beberapa detik yang lalu dia baru saja akan tidur terlelap dipelukan hangat ibunya. Rasanya seperti kehangatan sebelumnya hanya ilusi, atau apakah ini adalah mimpi buruk?.


Mo Xuan mencengkram dada kirinya.


Disini terasa dingin.


Hujan yang terasa dingin, malam tanpa bulan, angin yang menusuk hati dan jiwa, dan suara petir yang menakutkan.


Darah merah lebih pekat, lebih gelap, dan lebih indah.


Tapi keindahan ini begitu menyiksa.


Matanya terbakar dengan warna darah, kebencian yang tak tertahankan dan keputusasaan meletus detik itu juga.


"Aaaaaakkkhhhh----!!!!".


Di malam yang suram itu, Mo Xuan kecil yang terjebak didalam badai telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.


...-----+-----+-----+-----...


"Semuanya tumbuh dengan baik".


Ladang sayurnya sekarang telah menumbuhkan berbagai macam buah. Dari tomat, terong, kubis, hingga sawi semua telah mencapai waktu untuk dipanen.


Padahal belum sampai sebulan dia mulai bercocok tanam, tapi semua sayur dan buah di ladangnya telah matang semua.


"Air Ambrosia benar-benar ajaib. Air ini akan menjadi Legenda untuk para petani di dunia fana".


Mei Hua memetik satu buah tomat seukuran kepalan tangan. Warna merah pada kulit tomat terlihat segar dan mulus, terlihat sangat menggiurkan. Mei Hua menjilat bibir merahnya, dia penasaran dengan rasanya jadi dia langsung menggigitnya detik itu juga.


Setelah dia mencicipinya, Mei Hua tidak bisa menahan tangis.


"Betapa... Buah tomat yang sangat enak. Ini pertama kalinya aku merasa jika rasa asam dan manis pada tomat begitu tak tertahankan!, lezat!, sangat lezat--!!!".


Semua ini berkat air Ambrosia. Untunglah dia memiliki ruang dan mata air Ambrosia, jadi dimasa depan bercocok tanam akan sangat mudah dan menyenangkan!.


Mei Hua menjilat bibirnya, dia ingin makan satu lagi.


Memetik satu buah tomat lagi Mei Hua mulai menggigitnya lagi.


Ketika rasa manis pecah dan mulutnya terisi dengan jus merah segar, Mei Hua mengerang senang.


Dia mengunyah secara perlahan-lahan, dan baru saja dia ingin menelannya, hingga sebuah suara teriakan yang menggoncang langit tiba-tiba meletus saat itu juga!.


"Aaaaaakkkhhhh----!!!!".


"Ughh... Uhuk--!! Uhuk--!!".


Mei Hua menutup mulutnya, dia tersedak buah tomat.


Dia tertegun, dia tidak tau harus langsung menelan semua isi dimulutnya atau memuntahkannya. Buah tomatnya terlalu enak, dibuang akan sangat di sayangkan, tapi jika terus ditahan dia akan mati tersedak!, ah!. Apa yang harus dilakukan!?.


"Ahhh....aku selamat". Mengelap sudut bibirnya yang basah, Mei Hua mendesah lega.


Tersedak makan tomat, adalah pengalaman yang sangat buruk.


"Tapi suara teriakan apa tadi itu?, begitu kencang!".


"Asalnya dari rumah bambu ku...


"Eh?, tunggu... Rumah bambuku?".


Mei Hua melirik kearah rumah bambu nya dengan bingung, setelah merenung sebentar dia tersadar.


"Akhh--!!!, pasienku--!!!".


Mei Hua bergegas berlari memasuki halaman rumah, dengan tergesa-gesa dia melompati pagar, melompati meja dan mendobrak pintu.


Setelah memasuki kamar, apa yang dilihat Mei Hua adalah kondisi pasiennya yang terlihat tidak terkendali.


"Apa yang sedang terjadi?!, apa yang sedang kamu lakukan!?".


Mei Hua tanpa sadar berteriak. Teriakannya membuat anak kecil yang berdiri diam ditengah ruangan perlahan menoleh kearahnya.


Mulanya anak kecil itu berdiri sambil membelakanginya, jadi Mei Hua tidak bisa melihat dengan jelas wajah dan ekspresinya. Jadi ketika anak kecil itu berbalik dan memperlihatkan wujudnya, Mei Hua tidak bisa menahan diri dan tersentak kaget.


"Ah... Apaan..."


Apa itu masih manusia?.


Itu adalah satu kalimat yang terus terngiang dipikirannya saat ini.


Apa yang terjadi dengan penampilan Penjahat?.


Ujung rambut hitamnya berubah menjadi warna kemerahan, kulit putihnya sangat pucat dengan urat nadi berwarna biru-hijau yang terlihat menonjol, wajah tanpa ekspresi seperti mayat tanpa jiwa.


"Kamu... nak?, apa kamu baik-baik saja?".


"........"


Tidak mendapatkan jawaban, Mei Hua tidak terlalu terkejut, karena dia sudah lama menebaknya. Kebanyakan Pasien setelah bangun dari koma masih sangat rentan dan lemah. Dan otak mereka masih belum bisa berkerja secara konsisten dengan tubuh. Tapi tetap saja pasiennya yang ini memang, agak sedikit... abnormal?.


Tapi meskipun begitu Mei Hua tidak menyerah, dia akan tetap mengajukan pertanyaan ringan untuk menenangkan pasien yang linglung.


Baru saja dia akan membuka mulut lagi, dia langsung dibisukan dengan sepasang mata berwarna emas vertikal yang menatap lurus kearahnya.


Mei Hua terdiam, dia tidak tau apakah dia harus bergegas maju untuk mendekati anak itu atau berbalik dan berlari untuk menyelamatkan diri.


Sejujurnya ketika melihat pupil vertikal emas itu dia merasa takut, dan ada keinginan untuk berlari detik itu juga. Rasa takut seperti ini entah mengapa terasa sedikit familiar.


"Ini seperti ketika saat aku sedang berhadapan dengan Zombie mutan".


Perasaan mati rasa dan rasa sakit ketika kuku beracun zombie mutan melubangi dadanya, kengerian dan penyesalan ketika maut datang menjemput...


Rasanya begitu perih, menyiksa, dan sesak sampai mati.


Setiap malam ketika dia terbangun dari mimpi buruk, dia selalu merasakan rasa sakit yang sama.


Ini mungkin yang disebut dejavu.


"Penjahat besar, Mo Xuan", Mei Hua tanpa sadar menyebut namanya. Anak kecil itu tidak bergeming, tapi pupil emas vertikal nya yang buas masih menatapnya dalam-dalam.


Mei Hua juga menatap Penjahat Mo Xuan dengan cermat, mata biru Zircon menatap penampilan penjahat masa depan dengan sungguh-sungguh.


Tubuhnya yang kecil dibalut dengan perban, sekarang perban itu sudah basah dengan darah. Bisa dilihat luka di bahunya robek lagi. Sedangkan untuk kaki kirinya Mei Hua yakin itu masih patah. Dia bisa melihat dari getaran kecil di pergelangan kaki kirinya ketika dia berusaha berdiri.


Hanya saja kaki kiri Mo Xuan tidak sepenuhnya berpijak, dia hanya berdiri menggunakan kaki kanannya.


"Tubuh penuh luka tetapi hanya menopang seluruh tubuh hanya dengan bantuan satu kaki, anak kecil ini, benar-benar..."


Mei Hua tanpa sadar melirik ke atas kepalanya, disana ada empat baris kalimat yang familiar, tentunya dengan sedikit perubahan kata dan warna.


Nama: Mo Xuan


Identitas: Penjahat


Love: 0%


Black: 10%


Nilai menghitam nya naik menjadi 10!


Begitu cepat?!.


Anak ini baru saja bangun dan nilai menghitamnya langsung naik?!.


Apa yang terjadi padanya?. Apa yang membuat nilai menghitam tiba-tiba naik?.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dikepalanya, Mei Hua merasa langit seperti berputar dan tanah tergoncang, pikirannya menjadi kacau saat itu juga.


Matahari diluar terasa hangat, namun hatinya merasa dingin saat ini.


Penjahat mulai menghitam, jadi apa yang harus kulakukan?.


Pada saat itu, ketika Mei Hua sibuk bergulat dengan pikirannya yang kacau, Mo Xuan dengan wajah kosong berjalan dengan langkah tertatih-tatih menuju Mei Hua.


Melihat anak kecil yang berjalan terpincang-pincang seperti itu, Mei Hua tidak tahan.


Jadi dia berkata untuk menghentikannya. "Berhenti, jangan bergerak!, tulang kaki kiri mu baru saja disambungkan dan masih belum konsisten untuk digunakan berjalan!".


Tapi Mo Xuan tidak mendengarkan nya, dia masih berjalan langkah demi langkah, perlahan-lahan menuju Mei Hua.


Mo Xuan berdiri lima langkah dari Mei Hua, tiba-tiba saja dia mengulurkan tangannya.


Tangannya yang kurus dan lemah seperti ranting pohon terangkat ke udara, kelima jarinya tebuka lebar, seperti jaring pengait, terbuka lebar hanya dengan harapan bisa menangkap sesuatu.


....Sesuatu yang teramat sangat penting.


Penjahat itu mengulurkan tanganya kearah Mei Hua, wajahnya kosong, tapi matanya bersinar dengan secercah cahaya.


"I-Ibu...."


Di tengah kesunyian rumah bambu yang tentram, Mei Hua bisa mendengar suara seperti rengekan anak binatang buas yang menyedihkan memanggil dirinya.


...-----+-----+-----+-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Me: Seseorang akan mengemban tugas menjadi ibu setelah ini.


(´∧ω∧`*)


Mei Hua: Untuk diam!. ( ̄へ  ̄ 凸