
...-----+-----+-----+-----...
Mei Hua merasa dia sedang bermimpi, mimpi yang sangat panjang.
Dalam mimpinya dia melihat seorang gadis kecil mengenakan Qipao merah muda sedang berkebun di halaman belakang rumah bersama Kakeknya.
Sambil bercanda, tertawa dan bersenda gurau, keduanya terlihat sangat bahagia menghabiskan waktu bersama.
Kakek tua memperlihatkan sebuah biji kepada cucunya, dan gadis kecil itu berteriak girang ketika melihat biji yang ditunjukkan Kakeknya.
Rupanya biji itu adalah bibit Pohon Bunga Persik.
Gadis kecil itu sangat menyukai bunga Persik, dan suka memakan buah persik, jadi dia sangat antusias dan bersemangat untuk menanamnya.
"Kakek, menurut mitos jika kita menanam Pohon Bunga Persik dengan hati yang tulus, akan ada roh yang lahir dari pohon itu. Nanti roh tersebut akan mengabulkan satu permintaan apapun dari orang yang telah menanamnya, apakah itu benar?".
"Hahaha... Itu hanya mitos. Hua'er, jangan terlalu mempercayainya".
"Tapi Hua'er ingin mencobanya".
"Maka cobalah, dan lihat apa itu nyata".
Sang Kakek menepuk pelan rambut cucu perempuan, wajahnya yang keriput tersenyum penuh toleransi dan cinta.
Ketika matahari bersinar terik, sang Kakek berjalan ke dalam rumah untuk beristirahat sejenak, sebelum pergi dia menyuruh cucunya, Hua'er, agar tidak lupa menyiram tanaman yang lain.
Gadis kecil itu dengan patuh mengangguk. Dia bersenandung bahagia sambil menikmati waktu berkebunnya.
Setelah Kakeknya pergi, gadis kecil itu diam-diam menyatukan kedua tangannya dan membuat gerakan berdoa.
Tepat di depan tanah yang ditanami Bibit Pohon Bunga Persik, dia mengucapkan permohonan nya yang paling tulus.
Oh...Peri Bunga Persik.
Tolong jagalah Kakek ku selama aku tidak ada sini. Besok aku akan kembali bersama kedua orang tuaku ke Ibu Kota, dan Kakek ku akan sendirian di Desa.
Aku sangat khawatir, kesehatan Kakek akhir-akhir ini tidak begitu baik. Aku tau penyakit yang dideritanya tidak memiliki obat dan tidak ada dokter yang bisa menyembuhkan nya.
Meskipun begitu aku masih berharap setidaknya Kakek tidak akan merasa terlalu sakit, aku masih ingin merayakan tahun baru bersama Kakek di tahun-tahun yang akan datang.
Ku mohon jaga Kakek untuk ku, wahai Peri Bunga Persik.
Sebagai gantinya, aku menawarkan setengah masa hidup ku. Tolong gunakan setengah masa hidup ku menjadi obat untuk Kakek...
Keesokan harinya gadis kecil itu berpisah dengan enggan dari Kakeknya dan mengikuti kedua orang tuanya kembali ke Ibu Kota.
Setelah gadis itu pergi, Pohon Bunga Persik yang ditanam di halaman belakang mulai tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan.
Tujuh tahun, hanya butuh tujuh tahun untuk bibit yang ditanam Kakek dan cucunya tumbuh menjadi Pohon Bunga Persik yang besar, kokoh, dan cantik.
Pohon Bunga Persik memiliki Roh di dalamnya, ketika masih menjadi bibit dia telah mendengar gadis kecil itu berdoa padanya, dan Roh pohon Persik tentu ingin mengabulkan doa gadis kecil itu.
Dengan kemampuan magisnya dia memotong setengah masa hidup gadis kecil Hua'er, dan menggunakannya sebagai obat untuk Kakeknya.
Roh Pohon Bunga Persik melakukan tugasnya dengan baik dan menempati janjinya.
Hanya....
Roh Pohon Bunga Persik yang baru lahir masih terlalu polos dan tidak memahami aturan yang berlaku di tiga alam.
Dia tidak tau jika apa yang dia lakukan sebenarnya melanggar tabu.
Roh Bunga Persik tidak tau jika kenyataan selalu berbeda dari harapan. Sebagai Roh yang terikat dengan alam, mencampuri urusan dunia fana, mengubah takdir dan hidup matinya seseorang adalah kesalahan besar. Dan apa yang telah dia lakukan sudah melanggar hukum alam.
Nyatanya gadis kecil Hua'er ditakdirkan untuk tidak memiliki umur yang panjang.
Karena dia menggunakan setengah umurnya untuk menukar dengan kesehatan Kakeknya, masa hidupnya menjadi tidak stabil.
Memotong setengah hidupnya yang pendek sama saja dengan membunuhnya.
Jadi sebelum gadis kecil Hua'er bisa tumbuh dewasa, dia telah meninggal karena penyakit yang mematikan.
Sementara itu, di Desa.
Sang Kakek yang mengetahui cucu kesayangannya telah meninggal lebih dulu darinya, merasa terpukul dan jatuh dalam kesedihan.
Dia tidak pernah menyangka akan menjadi orang tua berambut putih yang mengirim pergi cucunya yang berambut hitam.
Karena terlalu larut dalam kesedihan dia pun menjadi enggan makan dan minum. Dalam sekejab tubuhnya yang sudah menua menjadi lebih tua. Tidak butuh waktu lama kesehatannya yang semula baik jatuh menjadi lebih buruk.
Bagaimanapun penyakit memiliki obat, tapi usia tua tidak. Kematian pasti akan terjadi cepat atau lambat, dan umur adalah buktinya.
Perkarangan rumah sang Kakek menjadi sepi setelah dia pergi, tidak ada yang menjaga dan merawat rumahnya. Rumah sang Kakek pun menjadi gelap, suram dan kotor, dipenuhi hama dan serangga.
Satu-satunya warna yang tersisa disana adalah keberadaan Pohon Bunga Persik yang subur dan cantik.
Pohon Bunga Persik begitu indah dan cantik. Batangnya berwarna kecoklatan, bunga-bunganya berwarna merah muda keperakan, dan buahnya sangat manis dan segar. Jika berada di dekatnya makan akan tercium aroma memabukkan yang mengingatkan orang akan musim semi.
Namun, dibalik kecantikannya yang mempesona, ada sosok roh tanpa wujud sedang menangis di dalamnya.
Roh itu selalu menangis dan meratap. Hatinya penuh dengan rasa bersalah. Setelah kematian dua manusia baik hati yang telah menanamnya dia perlahan mengerti segalanya.
Seharusnya dia tidak boleh mengabulkan permintaan gadis kecil itu, seharusnya dia tidak boleh mengganggu siklus hidup dan mati manusia, seharusnya dia tidak boleh ikut campur...
Dia melakukan kesalahan besar, dia berdosa.
Roh Bunga Persik itu hanya bisa menangis dengan getir, dia menangis sepanjang masa, hingga empat musim silih berganti, sampai bunga-bunganya layu dan berguguran, dia tidak pernah berhenti menangis.
Bahkan sampai sekarang....
...-----+-----+-----+-----...
Mei Hua membuka kedua matanya. Dalam kebingungan kedua pupil mata birunya basah karena air mata dan terselimuti kabut.
"Mimpi tadi...."
Mimpi yang dia lihat tadi terasa begitu nyata. Seolah-olah dia telah melihat dan mengalaminya sendiri.
Kasih sayang sang Kakek pada cucu perempuannya, kegigihan Gadis kecil Hua'er untuk menyembuhkan penyakit Kakeknya, dan rasa bersalah yang dirasakan Roh Bunga Persik.
Semua tampak nyata.
Mei Hua mengusap air matanya, dia berdiri dan berjalan kearah sungai.
Menatap penampilannya dengan cermat, Mei Hua membuka mulutnya.
"Apa aku adalah Roh Bunga Persik itu?".
Sejujurnya hati Mei Hua penuh keraguan. Dia awalnya tidak mengerti mengapa dia bisa mengalami mimpi aneh seperti tadi, tapi setelah memikirkan terus menerus dia mulai memahami sesuatu.
Roh Pohon Bunga Persik adalah dirinya sendiri.
Atau lebih tepatnya tubuh yang dia tepati ini adalah milik Roh Pohon Persik yang asli.
Dan mimpi tadi bukanlah sekedar mimpi, melainkan potongan memori tubuh ini.
Sekarang Mei Hua mengerti jika dia tidak hanya asal-asalan terlahir kembali, ternyata jiwanya telah menepati tubuh Roh Pohon Bunga Persik yang telah lama kosong tanpa roh.
Sepotong ingatan yang muncul dimimpinya tadi membuat Mei Hua lebih mudah menerima semua kebenarannya.
Mei Hua tersenyum.
Dia menepuk-nepuk dadanya dan menatap pantulan wajah dia permukaan air dengan senyum lembut.
"Aku tau kamu bersedih dan menyesal karena kematian gadis kecil itu. Tapi aku pikir semua ini bukan salahmu, dan bukan salah siapapun juga".
Gadis kecil Hua'er dan kakeknya telah berbuat baik padamu, dan kamu juga ingin membalas kebaikan mereka. Meskipun caranya salah, namun itu tidak bisa menutupi kenyataan jika kamu hanya ingin membalas budi.
"Jadi jangan bersedih lagi, tolong bebaskan hati dan jiwamu dari rasa sakit ini"
"Dan terimakasih telah memberiku izin menepati tubuhmu, aku pasti akan menggunakannya dengan baik".
Mei Hua tidak tau apakah jiwa milik Roh Pohon Persik masih ada ditubuh ini atau tidak. Tapi yang jelas dia masih ingin mengucapkan ketulusan hatinya dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tiba-tiba semilir angin musim semi bertiup, rambut panjang Mei Hua berayun pelan mengikuti arah angin, dan beberapa kelopak bunga ikut bertebaran di langit, berputar-putar dalam bentuk lingkaran.
Mei Hua memejamkan matanya, menikmati angin lembut yang membelai pipinya.
Bersama dengan suara angin yang bertiup, sebuah suara yang sendu namun indah bergema di samping telinganya.
"Sama-sama, dan terimakasih juga..."
Setelah itu angin berangsur-angsur behenti dan menghilang. Mei Hua membuka matanya, menatap langit malam yang tidak pernah berubah dan tersenyum.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Masih ada dua Bab lagi untuk bertemu Mo Xuan. (☆/>u</)💛🌼🍀