I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Surga Yang Hilang




...-----•°•°•°•°•-----...


Tulisan merah diatas kepala Penjahat kecil berfluktuasi, nilai menghitam yang semula berada pada angka 10% tiba-tiba naik menjadi 15%.


Mei Hua, "........"


Melihat adegan penambahan angka secara spontan, Mei Hua nyaris tidak bisa menahan diri dari mengutuk.


Sial!, ucapannya benar-benar menyinggung dan membuat nilai menghitam penjahat naik!.


Logika mencengangkan macam apa ini!!??


"Umn... Kamu sudah bangun?, ah, apa kamu ingin minum teh?".


"Saudara Hua, tolong jawab pertanyaan ku".


Ting~


Mei Hua meletakan cangkir tehnya diatas meja batu, dengan gerakan santai dia mengambil beberapa kue dan mulai mencicipinya.


Mata biru Zircon Mei Hua menatap bunga Westeria yang melambai tertiup angin, dalam suasana keheningan yang aneh dia membuka mulutnya.


"Kamu ada benarnya juga. Dunia ini memang tidak layak disebut sebagai Surga, karena surga seharusnya adalah tempat tanpa penderitaan dan rasa sakit, berbeda dari dunia yang kejam ini".


"Tapi...", Mei Hua tersenyum, mata birunya menatap Mo Xuan dengan lembut.


"Dunia ini juga penuh dengan keajaiban. Ada Matahari yang cerah dan hangat, Bulan yang dingin dan lembut, langit berbintang tanpa batas, sebuah rumah untuk pulang, cinta, harapan dan impian".


"Aku menganggap dunia ini seperti surga karena disini, dan ditempat inilah aku lahir, bersama cinta yang bersemi, kenangan yang diciptakan, teman yang didapatkan, serta tawa dan kebahagian yang tidak pernah berakhir."


Mendengar ucapan Mei Hua, tanpa sadar mata emas vertikal Mo Xuan melebar. Dengan keterkejutan, ketidakpercayaan, dan sedikit kerinduan, dia menatap kontur wajah pria yang menyerupai ibunya dengan rasa sakit juga kebahagiaan.


Kedua matanya berkedib, dalam sekejam dua pasang mata Vertikal berubah kembali menjadi hitam gelap. Samar-samar aura gelap disekelilingnya mulai menghilang.


Mei Hua lega ketika melihat emosi penjahat mulai tenang. Dari awal hingga akhir, Mo Xuan sendiri seperti tidak pernah menyadari perubahan pada matanya, Mei Hua ragu-ragu apakah harus memberi taunya atau tidak.


"... Juga Mo Xuan", Mei Hua memanggil namanya. Mo Xuan diam, tapi tatapannya tidak pernah bergeser dari wajah Mei Hua.


"Asalkan di dunia ada orang yang peduli padamu, mencintaimu, dan menganggapmu penting, maka tempat dimana orang itu berada adalah surga".


"Surga adalah tempat dimana kamu memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin". Lanjut Mei Hua dengan sungguh-sungguh, setelah itu dia meneguk tehnya lagi hingga habis.


Mo Xuan bersenandung pelan, "Aku paham Saudara Hua".


"Bagus jika kamu mengerti. Nak, ayo duduk dan minum teh bersamaku".


Mo Xuan menerima cangkir dari Mei Hua, dia menunduk dan mulai meminum tehnya dalam diam.


Rasa teh yang harum dan lembut, dengan aroma manis bunga mawar terasa menggelitik lidahnya.


Meminum secangkir teh ini membuat hatinya yang dingin dan kelabu, menjadi hangat seketika.


Tapi kehangatan itu hanya sementara, karena ingatan kelam yang penuh dengan gambar berdarah yang kejam terus bergulir dan berputar diingatannya.


Saudara Hua, yang kamu ucapkan mungkin benar. Surga adalah tempat dimana kamu bisa menghabiskan hari-hari yang bahagia bersama orang yang kamu cintai.


Tapi sayangnya, Surga yang kamu katakan tidak pernah bisa kumiliki. Ibuku sudah mati, selain dia aku tidak berpikir akan ada orang yang mencintaiku seperti dirinya.


Karena dia sudah pergi dan menghilang ke tempat yang tidak bisa kucapai, maka bersamaan dengan itu, kebahagiaanku juga pergi mengikuti nya.


Surga ku kini telah menjadi surga yang hilang.


...-----+-----+-----+-----...


Bangau putih mendarat dengan anggun ditanah. Dengan gerakan lembut lehernya yang ramping dan kedua sayabnya jatuh terkulai ketanah sebagai tanda penghormatan.


Sekelebat angin bertiup, dengan suara desingan yang tajam sosok pria berjubah hitam muncul tepat disamping bangau.


"Ah-Jue, apa kamu sudah menunggu lama?".


Lan Mian turun terlebih dahulu, diikuti dengan Fang Yuli yang berwajah masam dibelakangnya.


Liu Feng Jue dengan sopan memberi hormat pada Shifunya sembari berkata, "Tidak, Shifu. Murid ini juga baru sampai beberapa menit yang lalu".


Mata hitam Liu Feng Jue yang setajam Elang sekilas melirik wajah adik juniornya. Dia merasa aneh, biasanya adik juniornya suka banyak bicara dan berkicau seperi burung, tapi sekarang dia sangat diam, seperti sepotong tubuh yang kehilangan jiwanya.


"Shifu, ada apa dengan Shimei?".


"Adikmu baru saja melihat bencana fana yang menimpa manusia. Ini mungkin pertama kalinya dia melihat hal-hal seperti itu jadi hatinya sangat terpukul. Yah... tidak apa-apa, setelah misi selesai adikmu akan kukirim untuk menjalani latihan pintu tertutup".


Lan Mian menghela nafas berat. Dia merasa kasihan pada murid kecilnya. Penghiburan dangkal menjadi tidak berarti ketika kenyataan pahit sudah dipentaskan didepan matanya, jadi dari pada berpikir jenuh, lebih baik mengkondisikan pikiran untuk memulihkan ketenangan batin.


"Jangan terburu-buru Shifu. Shimei hanya membutuhkan sedikit waktu untuk belajar. Selama Shimei mau bersabar dan tekun melakukan berbagai misi, dimada depan dia pasti akan jauh lebih stabil dan tenang".


"Aku berharap juga seperti itu".


Lan Mian mengangkat wajahnya, matanya menatap ke arah masuk hutan dengan tatapan yang dalam.


"Oh, Lembah Qiancheng, tempat yang cukup menarik".


Liu Feng Jue berdiri diam di belakang Shifu-nya dengan kedua tangan terlipat didada. Fang Yuli menatap punggung Shifunya, entah mengapa dia merasa ucapan Shifunya terdengar dingin dan sedikit sarkastis?.


"Ayo masuk dan mulai menjelajah anak-anak".


"Baik, Shifu".


"... Ya, Shifu".


Fang Yuli dengan keras menggosok matanya yang merah, dengan bibir yang tercantum rapat, dia membulatkan tekad di hatinya.


'Serius!, aku harus serius!. Setelah menyelesaikan misi ini aku pasti akan menemukan cara untuk menolong orang-orang itu'.


Bagi Fang Yuli, ucapan Shifu nya adalah benar. Namun, dia tidak bisa menerima hal itu sepenuhnya.


Kami, para Kultivator memiliki banyak peluang dan kemungkinan untuk naik dan menjadi Dewa.


Akan tetapi manusia berbeda. Karena manusia fana adalah sekelompok orang yang ditakdirkan untuk tidak bisa menginjakkan kaki ke dunia keabadian. Sebab mereka terlahir tanpa akar Spiritual, hal itu membuat mereka tidak bisa mengolah keabadian dan berkultivasi untuk menjadi abadi.


Karena mereka tidak bisa menjadi abadi maka mereka ditakdirkan untuk hidup di alam semesta yang paling rendah, mengalami ujian dan kesusahan hidup, kematian, retribusi dan reinkarnasi tanpa akhir.


Kejam dan tidak adil bukan?.


Mau bagaimana lagi?, karena memang seperti itulah aturan dunia ini.


Yang kuat pantas dihormati, dan yang lemah layak untuk diinjak-injak.


Seperti manusia fana itu, yang keberadaannya tidak memiliki banyak arti ataupun kegunaan yang layak untuk mereka yang disebut 'Kultivator' ataupun 'Dewa'.


Mungkin, dimata para Dewa yang dingin dan acuh tak acuh, keberadaan manusia seperti semak belukar yang masih keras kepala untuk hidup meskipun telah berkali-kali dibasmi.


Sebagai objek hiburan dan belas kasihan para Dewa, keberadaan manusia fana tidak berarti apapun.


...-----•°•°•°•-----...


"Yingying!, lihat apa yang Saudari temukan!".


Yan Chen dengan tergesa-gesa berlari, dalam dekapannya ada banyak buah persik berwarna merah mudah yang telah matang.


Mendengar suara Saudaranya,


Yan Ying berusaha menggerakan badannya yang lemas. Dia bangun dari posisi berbaring, lalu mengambil posisi bersandar pada batang pohon.


Melihat Saudaranya muncul dari balik semak belukar, Yan Ying menghela nafas lega. Untungnya, Saudaranya baik-baik saja dan tidak terluka. Akan sangat sial jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya.


"Saudara ku, kamu kembali..."


"Yingying, lihat ini, aku menemukannya di kedalaman hutan".


"Ah?, itu... Buah persik?". Mata Yang Ying berbinar ketika melihat setumpuk buah persik berwarna merah muda.


"Ya, ini masih sangat segar. Saudara baru memetiknya tadi. Yingying ayo makan dulu, cepat!".


Yan Ying dengan linglung menerima buah persik yang telah dibelah dua oleh Saudaranya. Menatap buah matang yang harum ditangannya, mata Yan Ying tiba-tiba basah karena air mata.


'Ah... Akhirnya, aku dan Saudaraku bisa memakan sesuatu yang layak'.


Yan Chen lelah dan kelaparan sejak tadi, tanpa ragu-ragu dia mulai memakan buah persik dengan lahap. Melirik adiknya yang masih belum memakan bagiannya, dia bertanya.


"Yingying, ada apa?, kenapa tidak memakannya?".


"... Tidak apa-apa". Yan Ying menggelengkan kepalanya. Tanpa menahan diri lagi dia menunduk dan melahap buah ditangannya sampai habis.


Begitu lembut, harum dan manis!. Betapa buah persik yang sangat enak!.


Kedua Saudara dan Saudari kembar itu tenggelam dalam sukacita setelah menemukan makanan yang enak.


Mereka tidak tau dan tidak menyadarinya, jika dibalik semak belukar dan rimbunan pohon Oak, ada sepasang mata Almond yang jenih sedang menatap mereka berdua dalam diam.


...-----+++-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Yan Chen bukan Protagonis asli dari Novel "The Battle Of The Gods".


Protagonis asli tidak akan muncul sampai Penjahat kecil kita tumbuh menjadi Penjahat besar!.


Nantikan, lanjutannya yahh~


(✿❛◡❛)🌹🌷💚