I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Liu Feng Jue




...-----+-----+-----+-----...


"Jadi disini tempatnya..."


Dalam balutan jubah Kultivator hitam, pria itu berjalan dengan langkah tegap dan mantap.


Sepatu bot hitamnya menapaki tanah, namun tidak ada satu debu pun yang menempel. Sebuah pedang panjang disampirkan dipunggungnya, dan diujung pegangannya digantung sebuah hiasan liontin batu Giok hijau.


Rambut panjang hitam legamnya diikat menjadi kuncir kuda yang tinggi, beberapa helaian berjatuhan dan bergantungan dengan santai di pundaknya.


Dengan sudut-sudut wajah yang sempurna, tampan, sedikit dingin dan kharismatik, pria itu adalah orang yang dijuluki sebagai 'Angin Hitam Padang rumput'.


Nama pria itu adalah Liu Fengjue.


Pria ini adalah Kakak senior kedua yang dibicarakan oleh murid kecil, Fang Yuli dan Shifu nya, Lan Mian.


Lu Feng Jue menghentikan langkah kakinya tepat didepan area luar hutan. Dengan wajah dingin seperti embun es dan salju dia menatap pemandangan disekitarnya.


Sunyi dan sepi, tidak ada suara dan aura yang seharusnya dimiliki suasana hutan. Bahkan tidak terdengar bunyi kicauan burung atau suara jangkrik musim panas, seolah-olah hutan ini mati dalam senyap.


Jelas sekali, ada yang janggal dari hutan ini.


Tatapan mata Lu Feng Jue berhenti pada bekas jejak kaki ditanah, alisnya berkerut sempit ketika melihat ada sisa-sisa jejak manusia fana.


"Seseorang baru saja memasuki hutan".


"... Jika dilihat dari kedalaman jejak kakinya, orang itu pasti juga sedang membawa satu orang bersamanya".


Lu Feng Jue memejamkan matanya, dia merasa konyol.


Apa masih ada manusia fana yang begitu berani memasuki hutan dan lembah Qiancheng?. Apa orang itu tidak tau tempat seperti apa Lembah Qiancheng?.


...Sebuah lembah yang dapat dengan mudah membinasakan manusia fana dan ratusan Kultivator tahap Jindan.


...Tidak ada yang tau alasan yang menyebabkan hutan Qiancheng berbahaya, dan juga tidak ada yang tau bahaya apa yang ada didalam sana.


...Selama beratus-ratus tahun tempat ini selalu diselimuti kabut misteri dan kegelapan.


Rumor yang mengatakan seseorang bisa masuk kedalam, tapi tidak bisa keluar adalah benar adanya. Itu benar-benar nyata dan sudah dibuktikan sendiri kebenarannya.


Lembah Qiancheng, tempat yang penuh dengan keajaiban, harta, rahasia, dan potensi adalah tempat lokasi misinya saat ini.


"... Aku hanya perlu menunggu Shifu dan Saudari ke tiga".


Liu Feng Jue mengadah, menatap langit biru dan awan putih.


Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apa yang membuat Shifu dan Shimei-nya terlambat.


...-----+-----+-----+-----...


"Shifu, lihatlah!, begitu banyak orang. Mereka siapa?".


"Hm?", Merasakan ujung bajunya ditarik, Lan Mian menoleh kebelakang.


Dia melirik kearah yang ditunjuk murid kecilnya, tepat dibawah mereka ada ribuan manusia fana yang terlihat sedang berkumpul pada satu tempat yang sama. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, dengan berbagai jenis, ras, dan asal-usul yang berbeda.


"Mereka adalah korban dari bencana perang, jika tidak salah bermil-mil jauhnya dari sini ada Kekaisaran Chu dan Kekaisaran Wen, akhir-akhir ini mereka dikabarkan sedang memulai perang. Untuk menyelamatkan diri dari kerusuhan, rakyat jelata dari Kekaisaran Chu yang tinggal diperbatasan memilih untuk mengembara dan menjadi mengungsi. Mereka mungkin kehabisan makanan saat ini dan terpaksa harus berhenti dan menetap sebentar untuk mengisi pembekalan".


Mata perak Lan Mian yang tajam melirik beberapa manusia fana yang terlihat kurus, kotor dan tidak terawat. Orang-orang itu adalah korban perang yang lebih tragis, karena mereka tidak punya uang, makanan ataupun harapan untuk hidup.


Ditengah-tengah bencana krisis Perang seperti sekarang, mereka tidak lebih dari umpan meriam yang ditakdirkan untuk binasa lebih awal.


Lan Mian memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan, "... Yah, meskipun tidak semua dari mereka bisa mengisi pembekalan".


Duduk manis diatas bangau, Fang Yuli melihat pemandangan dibawahnya. Mata seorang Kultivator sangat tajam, jadi dia bisa melihat segalanya dengan jelas dari atas sini.


Tatapan mata Fang Yuli lalu jatuh pada seorang anak laki-laki yang kurus dan lemah, dia memperhatikan anak itu dengan seksama, Fang Yuli melihat anak laki-laki itu dengan putus asa berusaha menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk memakan akar pohon ditangannya.


Dengan paksa menelan benda yang tidak layak dimakan dan ditolak oleh perut, anak kecil itu tetap berjuang hingga akhir untuk memakannya. Hingga akar pohon berhasil ditelan, anak kecil itu akhirnya bisa menghela nafas lega.


Namun, sebelum dia merasa senang bisa mengisi perutnya, anak kecil itu terkejut dengan reaksi tubuhnya yang mengejang tiba-tiba. Rasa sakit dan mual membuat kepalanya pusing, perutnya terasa perih seperti terbakar, dengan suara debuman tubuh kecilnya oleng dan jatuh ke tanah.


Tanpa bisa mengerti apa yang telah terjadi padanya, anak kecil itu menghembuskan nafas terakhirnya dalam kesusahan dan rasa sakit.


Sebelum menutup kedua matanya setetes air mata diam-diam mengalir dipipi tirus anak kecil itu, didepan gerbang kematian dia mungkin bertanya-tanya, dosa apa yang dia buat hingga dia harus merasakan penderitaan ini?, kenapa hidupnya harus berakhir seperti ini?.


Dan untuk para Dewa-Dewi di langit, mengapa hanya diam saja menyaksikan manusia fana seperti mereka menderita?.


Tidakkah Dewa dan Dewi mencintai manusia?, lantas mengapa tidak menyelamatkan mereka?.


Mengapa?.


Seolah-olah mata anak kecil itu bisa menerawang jauh, tatapannya yang suram dan mati rasa seperti dapat menatap lurus kearah bagau putih yang terbang dengan anggun diatas dilangit.


Duduk diatas bangau, menyaksikan sebuah nyawa seperti nyala api yang padam, Lu Mian tetap duduk dengan sikap acuh tak acuh, tapi tidak dengan murid kecilnya.


Tiga pandangan gadis itu terguncang, dia sangat syok, dan dia tidak mengerti apa yang dia lihat.


Namun, disini, di dadanya, dia merasa sangat perih. Rasanya seperti jantungnya sedang diremukkan dengan tangan-tangan besi, itu sangat menyakitkan. Apalagi ketika tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan mati rasa anak laki-laki itu, Fang Yuli bahkan bisa membaca arti tatapannya.


Tatapan itu berkata, mengapa tidak membantuku?.


Yang mulia abadi?.


"Shifu aku ingin menolong orang-orang itu". Tanpa sadar sederet kalimat itu keluar dari mulut Fang Yuli.


Mendengar ucapan murid kecilnya, Lan Mian menghela nafas panjang. Lengannya terulur dan jatuh pada puncak rambut Fang Yuli.


"Nak, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Semua ini adalah takdir mereka".


"Tapi, tapi kami bisa menolongnya, dengan memberi makanan atau tempat tinggal!".


"Nak, muridku, di dunia ini berapa banyak manusia yang hidup menderita selain mereka?, mungkin ada ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan. Jika hanya menyelamatkan seratus atau seribu kami mungkin bisa, tapi jika lebih dari itu...itu jelas mustahil".


Mata hitam Fang Yuli basah karena air mata, dengan keras kepala dia menghapus air mata yang akan mengalir dipipinya.


"Ughh... tapi..."


"Nak, Yang Abadi memang mencintai manusia, namun mereka tidak bisa memahami emosi, kesulitan dan kesedihan manusia, sejatinya mereka hanya ekstensi yang acuh tak acuh.".


"Jadi Shifu, apa takdir manusia seperti ini?, tidak bisakah itu diubah, bahkan oleh Dewa sekalipun?".


"Ya dan tidak. Aku sejujurnya juga tidak tau. Di dunia ini takdir mungkin adalah sesuatu yang rumit dan sulit dijelaskan. Sama seperti perputaran kehidupan dan kematian, jatuh bangunnya Dinasti, atau bergantinya musim, siang dan malam, sebuah takdir bagaikan misteri dalam ceruk kabut yang tidak pernah bisa terpecahkan".


"A-Aku mengerti Shifu".


Sebelum bangau putih terbang menjauh, Fang Yuli menatap kearah mayat anak laki-laki itu lagi. Kali ini dia tidak bisa melihat mayat anak kecil yang utuh, melainkan mayat yang sudah terbelah dan terpotong-potong, yang siap dipanggang untuk dimakan oleh pengungsi lain yang kelaparan.


Fang Yuli hanya bisa menutup matanya dan meringis. Semangatnya untuk melakukan misi padam setelah melihat semua adegan kejam ini.


...-----+-----+-----+-----...


Mei Hua berjalan ke halaman belakang dengan keranjang anyaman besar dipunggungnya.


Dia berdiri di depan deretan lobak yang siap dipanen, tangannya gatal karena tidak sabar untuk mencabut mereka semua.


"Ah... Panen besar, lihat berapa banyak keuntungan yang ku dapat setelah menjual semua ini".


Jika tidak ada masalah dikemudian hari Mei Hua berniat untuk turun gunung lagi untuk menjual sayuran.


Ya, untuk memastikan sayuran yang dia tanam tidak terbuang sia-sia Mei Hua memutuskan untuk menjualnya di pasar.


Mei Hua sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan pengeluaran uangnya, karena semua batu kristal merah muda yang dia jual sudah cukup untuk menghasilkan uang banyak. Jika Mei Hua kekurangan uang di hanya perlu menjual satu atau dua.


Namun, Mei Hua tidak mau hidup terlalu bergantung dengan batu kristal itu, karena dia merasa tidak aman menjualnya secara terus-menerus. Dia takut keberadaan batu kristalnya menjadi incaran orang-orang yang memiliki niat dan pikiran buruk.


Setelah mengisi sekeranjang penuh dengan lobak, Mei Hua menghela nafas lega. Akhirnya semua selesai, dan dia bisa beristirahat.


Duduk diteras halaman, dibawah naungan pohon Wisteria yang cantik, dengan secangkir teh hangat ditangannya, dan cemilan enak yang menemani, Mei Hua merasa hidupnya penuh dengan kepuasan.


"Dunia ini... Tidak, kehidupan ini tidak jauh lebih buruk dari surga".


Di hari-hari ketika kiamat tiba, dia bahkan jarang duduk-duduk dihalaman sambil menikmati teh. Mei Hua tidak pernah merasa sesantai dan senyaman ini.


"Bagaimana mungkin dunia yang kejam ini bisa sama dengan surga".


"...!!!".


Mei Hua yang sedang menyeruput teh dikejutkan dengan suara muram dari belakangnya. Jika dia tipe orang yang menyia-nyiakan makanan dan minuman, Mei Hua pasti akan menyemburkan teh dimulutnya tanpa ragu-ragu. Tapi sayangnya dia adalah orang yang menghargai makanan dan tidak suka membuang-buangnya, jadi... Mei Hua terpaksa harus menelan semuanya dalam sekali teguk.


"Ughh.. Uhuk!... Uhuk!, bocah kamu mengejutkan ku!".


Penjahat kecil, Mo Xuan, dengan balutan jubah hitam sederhana berjalan dengan terpincang-pincang kearah Mei Hua. Tubuhnya lebih kecil dan lebih kurus dari Mei Hua, namun entah mengapa berdiri dibelakangnya Mei Hua merasa terintimidasi dengan auranya yang gelap dan suram.


"Katakanlah Saudara Hua, dari sisi mana dunia ini terlihat seperti surga?. Perang, perebutan kekuasaan, penghianatan, pembunuhan, dan penindasan, semua itu terjadi setiap hari, setiap saat, setiap waktu di dunia ini. Tanah dibasahi menjadi warna merah darah, dan bukit tulang-belulang terus-menerus muncul, iblis, setan, dan siluman merajalela, tetapi yang abadi dilangit tetap dingin dan acuh tak acuh".


Mendengar ucapan yin dan yang Mo Xuan, Mei Hua tertegun, mata birunya terbuka lebar.


Di dalam mata hitam Mo Xuan seolah-olah ada magnet yang menariknya, Mei Hua tidak bisa berpaling, dia merasa sekujur tubuhnya seperti tersedot kedalam pusaran kegelapan yang rumit.


Samar-samar Mei Hua melihat, mata hitam Mo Xuan mulai berubah menjadi emas yang gelap dan vertikal.


...-----+-----+-----+-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Untuk para Fujoshi, apakah adegan Bromance ini cukup?, mau lebih???. Ψ(≧ω≦)Ψ🌺💜🍀


Kalau mau silakan memperbanyak komentar!. (^_^♪)💛🌻🌼