
...-----+-----+-----+-----...
Cahaya Matahari merambat masuk dari celah jendela, tirai kasa berayun tertiup angin sejuk, angin masuk ke dalam ruangan sambil membawa aroma bunga yang segar.
Anak kecil yang terbaring diatas kasur memiliki getaran samar di kelopak matanya. Setelah berjuang sejenak, kelopak matanya lalu terbuka dan menampilkan sepasang pupil mata berwarna hitam gelap.
Mo Xuan telah tersadar sepenuhnya.
Dalam kebingungan dia berjuang untuk bangun. Namun, rasa sakit yang mengerikan terpaksa menghentikannya.
"Aku...ukhh..."
Setiap tarikan nafas yang dia hirup membuat dadanya terasa berat dan pengap. Tenggorokannya yang kering membuatnya kesulitan bahkan untuk menelan ludah.
Merasakan perasaan amis dan astringe di mulutnya, Mo Xuan tidak tahan dan memuntahkan semuanya dalam sekaligus.
"Uhuk--uhukk!", Dia mulai terbatuk, dan disela-sela batuknya darah merah kehitaman keluar dari sudut mulutnya, darah terus mengalir dan jatuh keatas selimut lembut yang menyelimuti setengah tubuhnya.
Setelah memuntahkan darah hitam dan kotor yang telah membuatnya sesak nafas, Mo Xuan merasa jauh lebih baik. Nafasnya tidak sesak lagi dan dadanya tidak terasa berat.
Sambil mengelap bercak darah disudut bibirnya, mata hitam Mo Xuan diam-diam memindai ruangan di sekitarnya.
---Ruangan ini terlihat bersih dan ditata dengan gaya yang sederhana, tidak ada banyak hiasan kecuali beberapa tanam pot yang diletakkan di jendela.
Aroma bambu, wangi teh dan bau obat-obatan herbal bercampur menjadi satu, samar-samar baunya bisa tercium di seluruh penjuru ruangan.
Mo Xuan mengerjab, dia baru menyadari jika ruangan ini, tidak lebih tepatnya rumah ini mungkin terbuat dari bambu asli. Dan masih rumah bambu yang didesain sedemikian rumit dan bagus.
Mo Xuan menatap kearah pintu yang tertutup, sentuhan kewaspadaan dan rasa tertekan muncul dimata hitamnya.
Mo Xuan merasa tidak nyaman, dia tidak tau ada dimana dia sekarang dan apa yang telah terjadi padanya.
Seseorang telah menyelamatkan ku?.
Tapi kenapa?.
Siapa orang yang begitu bodoh mau menyelamatkan orang yang sekarat?.
Tiga pertanyaan itu muncul terus-menerus dipikiran Mo Xuan. Dia tidak percaya akan ada pejalan kaki yang mau menolongnya, seorang bocah laki-laki yang sekujur tubuhnya penuh luka dan hanya butuh selangkah lagi menuju kematian.
Mencium sisa aroma obat-obatan herbal di udara dan melihat perban dan kain putih yang melilit luka-lukanya, Mo Xuan merasa matanya terasa perih.
Awalnya dia pikir hatinya sudah lama mati rasa. Semenjak kepercayaannya telah dicabik-cabik dengan pisau yang paling tajam yang disebut dengan keluarga, Mo Xuan tidak pernah berpikir dia bisa membuka matanya lagi dalam keadaan aman dan hidup seperti sekarang.
Namun, ketika hatinya sedang terluka dan sudah tidak memiliki harapan lagi untuk berdetak, tiba-tiba muncul secercah cahaya yang diam-diam mendekat dan menyembuhkan nya.
"Orang macam apa yang telah menolong ku, kenapa dia mau menyembuhkan ku?. Apa dia punya rencana lain?".
Mo Xuan tidak bisa tidak berperangsangka buruk. Dia sudah melihat begitu banyak orang munafik, egois dan tidak tau malu yang menyembunyikan sifat tercela mereka dibalik topeng kebaikan. Dia juga telah merasakan bagaimana rasanya dikhianati dan didorong ke jurang maut oleh kerabat terdekatnya sendiri.
Mengetahui jika ada seseorang yang menyelamatkannya meskipun dia telah menderita luka parah, Mo Xuan tidak merasa senang sedikitpun. Dia justru merasa lelah, bosan dan dekaden dengan kenyataan pahit jika dia masih hidup namun kehilangan ibunya.
"Kenapa aku masih hidup?. Bukankah lebih baik jika aku mati saja. Tanpa ibu disisiku, apa yang bisa kulakukan?".
Tidak ada yang menginginkan ku, tidak ada yang mencintaiku, dan tidak ada orang yang mau aku hidup.
Jadi untuk apa aku masih terus bernafas?.
Semuanya tidak ada gunanya.
Mo Xuan mencengkram erat lehernya sediri, dia mengencangkan tekanannya hingga hanya ada sedikit udara yang mengalir ditenggorokannya.
"Akan lebih baik jika aku mati..."
Mo Xuan menutup matanya, dengan pernapasan yang hampir terputus dan udara yang perlahan-lahan menipis, dia tersenyum menatap pintu gerbang kematian yang sangat ia nantikan.
Namun, pada saat Mo Xuan penuh antisipasi menunggu kematiannya, tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka dengan suara keras.
Lalu diikuti suara teriakan marah seseorang.
"Bocah, apa yang sedang kamu lakukan!!!".
Mo Xuan membuka matanya lebar-lebar, dengan tidak percaya dia menatap sosok berperangai indah yang baru saja memasuki pintu dengan seribu tatapan rumit. Kedua tangannya yang mencengkram erat lehernya sendiri tanpa sadar dilonggarkan.
Mata hitamnya yang semula mati rasa berubah menjadi sendu dan berair.
Air mata mengalir di sudut pipinya, Mo Xuan tidak bisa menahan rasa sakit dan kerinduan yang membuncah dihatinya dan mulai berteriak.
Suaranya terdengar serak akibat kurangnya udara, "Buu... Ukh.. Ibuu!!!".
...-----+-----+-----+-----...
Hanya Tuhan yang tau betapa syoknya Mei Hua ketika melihat adegan ini.
Detik-detik singkat ketika seorang anak yang baru beranjak 6-7 tahun, mengadah keatas langit sambil menatap kosong kearah kehampaan. Matanya penuh kesedihan dan keputusasaan, namun raut wajahnya gembira dan penuh antisipasi.
Mei Hua tidak bisa membayangkan, tekad seperti apa yang dimiliki anak itu untuk mati ditanganya sendiri yang mencekiknya.
Di dunianya, di zaman kiamat yang kacau balau, Mei Hua sudah sering menyaksikan orang-orang yang putus asa karena berubahan mendadak era dunia.
Berubahan yang membuat milyaran orang di dunia sulit mendapat makanan, minuman, pakaian, dan tempat aman untuk tinggal. Perubahan itu membuat populasi manusia jatuh ke titik rendah dan kehidupan berubah seperti kembali ke era primitif.
Dari pada mati dimakan oleh Zombie, atau bahkan mati di tangan sesama ras yang sama, mereka yang tidak siap dengan berubah tersebut memilih untuk melarikan diri.
Mereka melarikan diri dengan cara bunuh diri.
Karena itu adalah satu-satunya cara agar mereka selamat, aman, tidak merasakan sakit, dan...
...mendapat kebebasan.
Di era kiamat kebebasan itu dianggap seperti Eden di surga.
...-----+-----+-----+-----...
"Ayo nak, perlahan-lahan angkat tubuhmu dan minum ini".
Mei Hua dengan lembut mendukung punggung Mo Xuan, dia membantunya untuk bersandar di kepala kasur.
Mei Hua lalu menyerahkan segelas bambu berisi air Ambrosia. Dengan hati-hati dia membantunya minum.
Seteguk demi seteguk, Mo Xuan meminum semua air dengan kecepatan sedang. Mei Hua sangat puas, ternyata penjahat kecil ini sangat patuh. Dia menyuruhnya untuk minum obat yang dia buat, dan tanpa sepatah katapun dia langsung meminum semuanya tanpa mengeluh jika obat itu terlalu pahit.
"Apa kamu sudah tenang sekarang?".
Ditatap seperti itu, Mei Hua tanpa sadar menggigil. Dia jadi teringat kembali dengan sepasang pupil vertikal emas yang tidak manusiawi tengah menatapnya...
'Aku tidak boleh terlihat takut.. Ayolah!, Mei Hua!, jangan terlihat gugup. Sebrutal apapun penjahat tidak mungkin dia bisa menyakiti mu dengan tubuh kecilnya itu, jadi jangan takut!'.
Mei Hua dengan segenap kekuatan berusaha menyakinkan dirinya untuk tidak panik dan histeris ditempat.
"Aku sudah menunggu mu sadar sejak lama. Sekarang karena kamu sudah bangun biarkan aku menanyakan beberapa hal padamu".
Hati Mei Hua gugup sampai mati, namun untungnya raut wajahnya tidak pernah bekerja sejalan dengan hatinya. Jadi wajahnya saat ini masih dengan ekpresi tenang dan elegan seperti petapa.
Mo Xuan membuka mulutnya, suaranya terdengar kecil dan serak karena dia baru saja kembali mulai berbicara.
"Y-Yaa".
"Siapa namamu nak?".
"Mo... Mo Xuan..."
"Umurmu?".
"Tujuh tahun..."
"Dari mana asalmu?".
"K-Kota Louyang, Kabupaten Yu Ming".
Anak ini menjawab semua pertanyaan dengan jujur, Mei Hua mengangguk puas.
"Lalu pertanyaan terakhir... Nak, aku bertanya, kenapa tadi kamu memanggilku ibu?".
Cengkraman Mo Xuan pada selimut semangkin kencang hingga kukunya memutih. Sesak nafas dan rasa sakit kembali menekan dadanya.
Wajah Mo Xuan memucat, matanya yang sehitam malam menatap sosok orang yang duduk didepannya dengan tatapan rumit.
Sangat mirip.
Bagaimana bisa ada dua orang yang identik di dunia ini?.
Bagaimana bisa ada orang yang memiliki wajah yang sama seperti ibu?.
Mo Xuan dengan susah payah membuka mulutnya, suaranya terdengar bergetar.
"Karena... Saudari, kamu... Kamu terlihat seperti ibuku yang sudah meninggal".
"Sungguh, kamu sangat, sangat mirip sepertinya".
'Karena itulah aku memanggilmu ibu, karena aku kira kamu adalah dia', batin Mo Xuan didalam hatinya.
Mendengar jawaban yang sudah dia duga, Mei Hua tidak bisa menahan diri dan meringis.
"Ya, Tuhah. penjahat... Kamu benar-benar..."
Mei Hua tidak tau harus bertanya apa lagi. Karena semua pertanyaan yang dia ajukan sendiri sudah dia ketahui jawabannya. Dia tetap bertanya hanya untuk memastikan saja.
Memastikan jika anak kecil yang lemah dan tidak berdaya di depannya ini benar-benar penjahat favorit nya.
"Karakter novel yang bernasib sama dengan ku..."
"Orang yang menjadi objek simpatiku".
Melihat sendiri nasib dan masa lalu penjahat yang kelam, Mei Hua merasa perspektif nya tentang Penjahat kembali berubah. Setidaknya sekarang dimatanya penjahat kecil ini tidak terlihat begitu mengerikan lagi, malah dia terlihat sedikit menyedihkan.
"Tapi, tunggu sebentar!!!".
Namun, pemikiran Mei Hua jika penjahat terlihat menyedihkan hanya untuk sementara waktu.
Karena Mei Hua merasa ada hal yang sangat penting telah dia lupakan.
Ah, benar...
Tadi, baru saja, penjahat memanggilku apa?, saudari?.
Saudari?
Saudari?
Saudari?
Persetanan dengan mu!.
Laozi adalah seorang pria!
"Mo Xuan, nak..."
Mendengar namanya dipanggil, Mo Xuan tanpa sadar mengangkat dagunya, mata hitamnya menatap orang yang tersenyum mengerikan di depannya dengan keheranan.
"Jangan panggil aku saudari, panggil aku saudara, oke?".
".....K-Kenapa?".
"Karena aku laki-laki".
"........."
Mendengar kalimat terakhir, Mo Xuan membulatkan matanya lebar-lebar.
Dia bisa merasakan telapak tangan yang hangat dan lembut membelai kepalanya, itu membuatnya nyaman.
Tapi...
Kenapa lama-kelamaan, belaian nya terasa agak sakit?".
"..........."
"Nak, anak baik, kamu sangat pintar, hahaha...", Telapak tangan Mei Hua berusaha keras untuk tidak memutar kepala penjahat menjadi sudut 120 derajat.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Mo Xuan: Kamu mirip ibuku, boleh aku memanggilmu Niang?
Mei Hua: Hehehe... bocah kamu mau mati, huh?.