
...-----+-----+-----+-----...
"I-Ibuu...".
Suara sengau seorang anak yang tersesat di dalam kebingungan dan kehampaan bergema ditelinga. Suaranya begitu kecil dan menyedihkan, membuat hati beku seorang perawan tua nyaris meleleh menjadi genangan air.
"Ibu... aku sangat merindukan mu, jangan pergi meninggalkan ku sendiri".
Jgeeerrr---!!!
Rasanya seperti tersambar petir di siang hari, Mei Hua membulatkan matanya dengan tidak percaya.
"Penjahat memanggilku apa?, ibu?".
Kenapa dia memanggilku seperti itu?, apa anak ini masih bermimpi huh?. Eh, jangan menatapku dengan mata seperti itu seolah-olah aku sudah menganiaya mu!, penjahat aku bukan ibumu!.
"A-Xuan sangat kedinginan, tolong peluk Buu..."
"Ah!", Mei Hua hampir ingin berteriak, dia bisa merasakan ada dua pasang tangan kurus yang lemah berusaha sekuat tenaga memeluk pinggangnya. Merasakan gerakan menghindarnya dua pasang itu menjadi lebih keras untuk memeluknya. Mei Hua dibuat hampir mati lemas karena pelukan ini.
Menatap Penjahat yang seenaknya bergelantungan di pinggangnya, Mei Hua berniat ingin memarahinya dengan sekeras mungkin, tapi ketika matanya bersitatap dengan dua pasang pupil vertikal emas yang basah dengan air, dia mengurungkan niatnya sejenak.
Penjahat yang memeluknya memiliki rasa ketergantungan, kepercayaan dan harapan yang ditunjukkan dimatanya.
Mei Hua mulai merasa hidupnya sangat meragukan.
"Nak, kamu pasti salah paham, aku..."
Mei Hua tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika melihat Penjahat kecil memiringkan kepalanya kesamping sambil menatapnya dengan mata kuning vertikal.
Pupil matanya sangat gelap, begitu menyedihkan dan manja, Mei Hua sampai-sampai dibuat merinding olehnya.
"Ughh... Ayo sudahi dulu semua ini. Penjahat, maaf sebelumnya..."
Duukk--!!
Mei Hua memukul titik akupuntur tidur Mo Xuan. Alhasil, kesadarannya anak itu padam dan tubuhnya pun terhuyung dan jatuh.
Mei Hua buru-buru menahan tubuh kecilnya agar dia tidak mencium lantai bambu yang keras.
"Untuk saat ini lebih baik kamu istirahat dulu, Penjahat kecil".
Menggendong Mo Xuan sambil berjalan kearah kasur, Mei Hua membaringkannya diatas selimut. Setelah memastikan kondisi fisiknya cukup normal, dia mulai berkerja lagi untuk mengganti perban dan membuat obat.
...-----+-----+-----+-----...
Aku sedang tidak bermimpi kan?.
Ibu, aku baru saja melihat ibu!.
Wajah itu tidak salah lagi, adalah ibu!.
Ibunya yang telah mati dengan mengerikan dibawah ribuan senjata, tubuhnya hancur, terbelah, terpotong dan berceceran bersama genangan darah pekat, kini berdiri tepat di depannya dalam keadaan baik-baik saja!.
Mo Xuan tidak tau apakah semua ini hanya mimpi atau ilusinya saja, tapi yang jelas dia sangat senang.
Dia senang bisa berjumpa lagi dengan Ibunya, wanita cantik yang dia rindukan siang dan malam.
"Ini juga bagus, karena aku bisa bertemu lagi dengan ibu maka itu berarti aku sudah mati. Jika kematian bisa menyatukan ku lagi dengan ibu maka aku tidak keberatan".
"Ini lebih baik, dari pada hidup untuk menderita dan menanggung beban yang menyakitkan".
Mo Xuan tidak ragu, dia maju dengan langkah seringan awan dan memeluk ibunya.
Ibunya yang cantik masih tetap sama. Pinggangnya ramping dan halus sangat nyaman untuk dipeluk. Tubuhnya juga masih memiliki aroma persik yang sama seperti yang ada didalam ingatannya, baunya harum, menenangkan dan nyaman.
Mo Xuan ingin menenggelamkan tubuhnya lebih jauh kedalam kelembutan yang harum ini.
Mo Xuan tidak tau sudah berapa lama waktu berlalu, yang jelas sebelum dia bisa membuka mulutnya lagi dan memanggil "ibu", rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyerang tengkuknya, setelah itu perasaan mati rasa mengikuti, dan kesadarannya menjadi menjadi gelap.
Sebelum jatuh dalam tidur lelap, Mo Xuan sempat mendengar Ibunya yang cantik, anggun, dan lembut memaki keras dengan bahasa yang aneh.
Setelah itu dia tidak merasakan apapun lagi karena semuanya menjadi gelap dan samar.
...-----+-----+-----+-----...
Menatap Penjahat Mo Xuan dengan tatapan rumit, Mei Hua menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya.
Mei Hua mengeluarkan nampan air berisi air Ambrosia, setelah berpikir sebentar dia mengeluarkan gelas yang terbuat dari bambu hijau dan menuangkan semua air kedalamnya.
Mei Hua meletakan gelas di atas meja di samping tempat tidur, di berpikir ketika penjahat kecil ini bangun dia akan haus dan ada air untuk dia minum.
Mei Hua berdiri dan berjalan ke arah jendela. Menatap pemandangan taman bunga dan ladang sayur yang tumbuh subur, tiba-tiba semua rasa tertekan dan pengap dihatinya mulai surut.
Penjahat Mo Xuan memanggilnya ibu. Selain syok karena dipanggil dengan sebutan ibu, Mei Hua juga merasa agak frustasi.
Entah mengapa dia memikirkan masa lalu penjahat yang menyedihkan dan kehidupannya sendiri yang penuh keluhan.
Ternyata, hati seorang penjahat keji yang dapat dengan mudah membantai seluruh benua memiliki hati yang sangat rapuh.
Hatinya rapuh karena kelemahan terbesarnya, yaitu ibunya.
Hanya sang ibu yang menjadi duka dan penyesalan penjahat semasa hidupnya dan juga obsesi seumur hidupnya.
Walupun hanya sebentar, tapi penjahat Mo Xuan sangat menghargai kebaikan dan kasih sayang yang dilimpahkan ibunya. Dia sangat menghargai waktu-waktu yang indah namun singkat itu.
Hanya saja kematiannya ibunya yang mengenaskan telah menyisakan banyak rasa sakit, ingatan buruk dan penderitaan tidak berkesudahan untuknya.
Kebahagian dan rasa sakit tersebut seperti kutukan yang terus menerus menempel pada hidup penjahat Mo Xuan.
"Dia memanggilku 'ibu'. Tiba-tiba saja aku punya satu tebakan berani".
Mei Hua menyentuh wajahnya, sebuah wajah cantik androgini yang dapat menyebabkan bencana syura jika turun ke dunia fana.
"... Itu mungkin karena wajah ku mirip atau bahkan sama persis seperti wajah ibu Penjahat".
"Hanya itu satu-satunya penjelasan mengapa penjahat salah paham dan memanggilku ibunya".
Karena dunia tempatnya tinggal saat ini adalah dunia Novel, Mei Hua tidak terkejut ketika mengetahui ada aturan seperti itu.
Penampilannya dibuat agar mirip dengan ibu penjahat yang sudah meninggal.
Mei Hua tidak mengerti mengapa dunia Novel membuat aturan seperti itu. Karena setaunya di Novel The Battle Of The Gods tidak ada karakter tokoh bernama Mei Hua, si Peri Bunga Persik, yang memiliki penampilan yang sama dengan ibu penjahat.
"Aku pikir ini bukanlah kebetulan".
"Mungkinkah, semenjak aku pindah ke dunia ini alur cerita novel asli telah diubah?. Dan keberadaan ku lah yang mengubahnya?".
Mei Hua mengerutkan dahinya, dia berusaha mengingat kembali plot Novel yang pernah dia baca.
Karena Mo Xuan hanya penjahat dan bukan tokoh Protagonis, penulis jarang mengungkapkan banyak tentangnya.
Bab-bab yang menulis tentang penjahat tidak sedikit, namun juga tidak sebanyak protagonis.
Jika tidak salah, didalam plot Novel diceritakan ketika Mo Xuan kecil sedang melarikan diri dari kejaran Kultivator yang ingin memburunya, dia secara kebetulan bertemu dengan seorang pembudidaya Hantu.
Dan ditangan pembudidaya hantu inilah, awal mula kehidupan Penjahat yang sengsara dimulai.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Di Bab berikutnya riwayat karir seorang ibu akan segera dimulai!.
ヾ(・w・*)ノ゛💜💚🍀🌷