I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Menyelamatkan Para Pengungsi




...-----+-----+-----+-----...


Beberapa hari yang lalu, dengan pengaturan dari Xiao Chui, Mei Hua dapat memenuhi keinginannya untuk turun gunung dan pergi ke Kota Dong Yan.


Oh, benar. Mei Hua tidak turun gunung seorang diri. Ada juga Roh Angin, kenalan lama Xiao Chui yang ikut menemaninya.


Xiao Chui secara khusus meminta Roh Angin untuk menunjukan jalan tercepat menuju Kota Dong Yan, menginstruksikan berbagai macam permintaan dan aturan untuk menjaga, menolong dan membantu Mei Hua kapanpun dia membutuhkan.


Menanggapi permintaan temannya yang sedikit rewel, Roh angin tidak merasa keberatan, dia tidak menolak, dan dengan senang hati menemani Mei Hua disepanjang perjalanan.


Disaat Mei Hua diperkenalkan pada Roh Angin, dia terkejut ketika melihat secara langsung wujud Roh Angin.


Bagaimana mengatakannya, Mei Hua juga bingung, namun yang jelas wujud Roh Angin terlihat sangat mirip seperti Peri kecil dalam cerita fiksi.


Hanya saja perbedaanya Peri itu bersayab tipis seperti sayab kupu-kupu dan capung, sedangkan Roh angin tidak, karena sayabnya adalah sayab berbulu yang mirip seperti bulu burung Biru Jay.


Warna bulunya adalah kombinasi dari tiga warna, yaitu biru, putih dan hitam, secara keseluruhan wujudnya terlihat seperti manusia normal dengan satu kepala, kedua kaki dan tangan. Hanya saja bentuk tubuhnya yang sangat kecil, hampir sekecil kelopak Bunga Persik yang berguguran.


Jika diletakkan diatas telapak tangannya, Roh Angin tidak akan menepati ruang banyak, mungkin hanya seperempat atau kurang dari itu. Bisa dibayangkan betapa kecilnya dan kerdilnya dia.


Jika tidak bertengger dirambut atau bahu Mei Hua, Roh Angin biasanya mengebor masuk ke telapak tangannya. Mei Hua tidak keberatan dengan tambahan kecil di tangannya, dia dengan senang hati menciptakan ruang nyaman untuk Roh angin menyempit.


Di tengah-tengah perjalanan, karena merasa bosan Mei Hua menghabiskan waktu mengobrol dengan Roh angin.


"Roh Angin, apa kamu punya nama?, nama panggilan atau sesuatu?".


"Nama?, umn...aku tidak punya".


"Jadi kamu tidak punya nama, tapi kenapa kamu disebut Roh Angin?".


"Yah, seperti itulah. Sejak lahir orang-orang disekitarku sudah mengakui betapa jeniusnya aku dalam menggunakan teknik terbang dan mengendalikan angin. Kemudian agar lebih simpel dan praktis mereka memanggilku dengan sebutan Roh Angin. Aku berpikir 'Roh Angin' juga terdengar bagus, jadi aku tidak menolak dipanggil seperti itu".


Mei Hua menggunakan jari telunjuknya untuk merapihkan bulu-bulu biru disayab Roh Angin, dia tersenyum seolah-olah telah memahami sesuatu.


"Baiklah, jadi intinya kamu tidak punya nama. Karena Roh Angin tidak terdengar seperti nama...."


Roh Angin merasa seperti telah ditampar oleh angin, "........"


Roh Angin menghela nafas berat, dia akhirnya memilih mengakuinya. "Kamu benar, nyatanya aku memang tidak memiliki nama".


Mendengar sedikit nada keluhan dari ******* Roh Angin, Mei Hua merasa patah hati karena beberapa alasan, "Mengapa?, baik Xiao Chui dan Xiao Fei, semua hewan dihutan, dan bahkan kamu sendiri tidak memiliki nama?".


Roh Angin menjawab pertanyaan Mei Hua dengan nada penuh keluhan. "Itu karena... Tidak ada yang memberi kita nama".


"Lalu kenapa kalian tidak memberi nama dirimu sendiri saja?".


"Apa menamai diri sendiri masih bisa disebut nama?". Mata hijau Roh Angin menatap Mei Hua dengan kepolosan yang menohok.


".........", kali ini Mei Hua yang terdiam.


Dia pikir yang diucapkan Roh Angin adalah benar. Ya, sebuah nama seharusnya adalah pemberian orang lain, dan bukan sesuatu yang diadakan maupun dipilih sendiri.


Pikirkan saja, mana mungkinkan seorang bayi yang baru lahir ke dunia bisa memutuskan sendiri namanya. Tentunya orang tua atau kerabat dekatlah yang akan memutuskan nama untuk bayi itu.


Bagaimanapun juga nama adalah simbol dan identitas yang membedakan satu orang dengan orang lain. Tidak bisa dipungkiri jika sebuah nama adalah hal yang paling istimewa dan berharga dihati setiap orang. Terlebih, jika nama itu ada pemberian dari orang tua atau orang terkasih.


Dan tentunya sudah menjadi naluri setiap orang tua ingin memberi nama anak-anak mereka dengan nama yang paling cantik, istimewa dan penuh berkah. Hanya dengan memberi dan mendapatkan nama maka seseorang akan benar-benar dianggap berarti oleh orang lain.


Tapi... Jika sejak lahir kita tidak memiliki orang tua sama sekali, maka jalan cerita dan hasilnya jelas berbeda.


Karena merasa kasihan dengan Roh Angin, Mei Hua menawarkan diri memberinya nama.


"... Roh angin, apa kamu menginginkan sebuah nama?".


"....!!??".


Roh angin sangat terkejut dan antusias ketika mendengar pertanyaan Mei Hua, sayab birunya bahkan ikut mengepak pelan.


"Ya, aku menginginkannya!, sebuah nama!, sama seperti Pohon Willow dan si Rusa Coklat. Oh, betapa aku iri dengan nama-nama mereka yang glamor dan cantik".


Melihat Roh Angin bersorak begitu gembira, hati kecil Mei Hua juga merasa terhibur.


"Baiklah, mari kita pikirkan nama yang baik. Karena kemampuanmu berhubungan dengan angin dan kamu sangat pandai terbang, maka akan lebih baik memasukan nama 'Feng' di dalamnya. Hm... Bagaimana kalau Mei Feng?, artinya angin yang cantik dan indah...."


"Sempurna, aku mau itu!. Terimakasih Mei Hua!, sepertinya yang dikatakan Pohon Willow itu benar, kamu tidak hanya cantik tapi juga baik hati!".


Lagi-lagi dipuji karena kecantikan yang sama sekali tidak bisa dia banggakan, Mei Huan hanya bisa tertawa garing.


"Sudahlah", dia pikir, "Asalkan setiap orang senang".


Mei Hua dan Mei Feng membutuhkan waktu tiga hari lebih menuju Kota Dong Yan, lima hari untuk menjelajahi seluruh kota, dan seharian penuh untuk.menukar batu permata dengan uang. Setelah mendapat uang yang banyak, barulah Mei Hua memulai kegiatan belanja yang gila.


Mei Feng sampai tertegun melihat banyaknya barang yang dibeli Mei Hua, namun lebih dari itu dia lebih penasaran dengan kemana perginya semua barang itu. Namun, walaupun dia penasaran Mei Feng tidak bertanya, karena dia tau jika hal itu adalah rahasia Mei Hua.


"Xiao Feng, aku sudah selesai. Ayo kita pulang!".


"Oke, ayo!".


Ketika urusan dan tamasya di Kota Dong Yan sudah berakhir, mereka berdua langsung bergegas kembali ke Lembah Qiancheng. Perjalanan pulang untungnya hanya memakan dua hari, segalanya berjalan lancar meskipun ditengah ada sedikit kendala, tapi pada akhirnya mereka dapat kembali ke rumah bambu dalam keadaan baik-baik saja.


Benar, awalnya Mei Hua tidak tau jika hutan tempatnya menetap bukanlah hutan dan Gunung biasa, melainkan sebuah Lembah yang dikelilingi dua gunung dan banyak perbukitan dan ngarai.


Namun, setelah mengetahui dari mulut Mei Feng jika tempat mereka tinggal adalah Lembah Qiancheng, entah mengapa sebuah ingatan tiba-tiba bangkit dari ceruk ingatan Mei Hua.


Dia ingat sedikit, di Novel ada sedikit tulisan tentang adegan di Lembah Qiancheng, dan jika dia tidak salah Lembah Qiancheng seharusnya menjadi tempat dimana Kultivator Hantu menggunakan para pengungsi korban perang sebagai makanan untuk hantu Yin-nya.


Dan Kultivator Hantu itu masihlah orang yang sama yang akan menangkap, menyiksa dan melakukan eksperimen jahat pada tubuh penjahat Mo Xuan.


Rasanya seperti tersengat listrik, saraf otak Mei Hua menjadi kacau balau karena rangsangan dan goncangan berat. Setelah mengingat semua Plot yang akan terjadi di Lembah Qiancheng, Mei Hua merasa panik. Dia takut, takut jika terjadi sesuatu yang tidak baik pada pasiennya.


Setelah kembali ke rumah bambu, hal pertama yang Mei Hua lakukan bukanlah membereskan barang belanjaannya, melainkan bergegas  melihat penjahat.


Di kamarnya Mo Xuan terlihat jauh lebih baik.


Awalny anak kecil itu memiliki banyak luka disekujur tubuhnya. Tapi sekarang semua lukanya sudah sembuh, hanya meninggalkan beberapa koreng dan bekas yang samar-samar. Hanya kaki kirinya saja yang masih kesulitan digunakan untuk berjalan. Tapi itu sepertinya tidak menjadi kendala untuknya.


Mo Xuan tidak terbiasa hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Terkadang dia berinisiatif untuk meminta pekerjaan pada Mei Hua. Ketika ditanya apa alasannya, anak itu hanya menjawab, dia hanya ingin meringankan beban Mei Hua.


Sebagai Dokter, sekalipun dia tidak memiliki lisensi, tetap saja Mei Hua adalah seorang Dokter, terlebih dia masih Dokter yang sangat rajin dan berdedikasi, terlebih lagi jika jasanya dibayar.


Sebagai Dokter yang berdedikasi, bagaimana mungkin Mei Hua tega menyuruh pasiennya sendiri untuk bekerja, itu jelas tidak mungkin.


Jadi Mei Hua menolak permintaannya mentah-mentah.


"Tidak perlu, kamu lebih baik istirahat saja".


"Tapi aku hanya ingin membantu, Saudara Hua percayalah aku cukup pandai membersihkan rumah, menyapu halaman, dan aku bahkan bisa mencuci pakaian..."


Mei Hua menggelengkan kepalanya dengan tegas, "Pokoknya tidak".


"Tapi saudara Hua!".


Sampai pasiennya sembuh total dia tidak akan mengizinkannya melakukan hal-hal berat. Setidaknya tidak untuk sekarang...


Sayangnya Mei Hua terlalu meremehkan ketangguhan dan tekad Mo Xuan. Akhirnya setelah beberapa hari, dibawah bujukan(terror) Mo Xuan yang tidak pernah ada habisnya, Mei Hua akhirnya memilih untuk berkompromi.


"Baiklah, aku akan mengizinkanmu membantuku mengurus tanamanku. Tidak perlu melakukan banyak hal-hal rumit, cukup siram saja kebun sayur dengan air di sumur itu, apa kamu mengerti?".


"Ya, saudara Hua". Ada senyum samar diwajah Penjahat kecil, tapi senyum itu langsung pudar seketika seolah-olah tidak pernah ada.


Selama Mei Hua pergi turun gunung, Mo Xuan lah yang bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat kebun sayur. Ada juga Xiao Fei yang ikut menemani Mo Xuan. Baik itu anak kecil dan seekor Rusa tampak damai dan harmonis bekerja bersama merawat dan menjaga kebun sayur.


Oke, mari kembali ketika Mei Hua mendobrak pintu kamar penjahat.


Ketika melihat Mei Hua datang ke kamarnya dengan raut wajah panik, Mo Xuan terkejut sampai-sampai menghentikan gerakan minumnya.


"Saudara Hua, ada apa?".


"Ah... Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan lukamu. Oh, apa kamu sudah menghabiskan obatmu?".


Mo Xuan meletakan mangkuk kosong diatas nakas, dia berkata dengan wajah datar yang hampir serius.


"Jangan khawatir saudara Hua, aku pasti akan rajin minum obat, dan tidak akan pernah menyusahkanmu".


"Oh, tidak, tidak. Bukan itu maksudku nak". Mei Hua mengecek suhu di dahi Mo Xuan dengan telapak tangannya. Dia menghela nafas lega setelah memastikan suhu tubuh penjahat berada pada kisaran normal.


Mo Xuan tampak terkejut dengan gerakan Mei Hua, dia memalingkan muka dengan canggung. Dibalik rambut yang menutupi telinganya ada semburan warna merah pucat.


"Pffft--- Penjahat rupanya merasa malu", Mei Hua tertawa kecil di dalam hatinya.


"Sepertinya penjahat masih belum terbiasa dengan wajahku yang mirip seperti ibunya".


Terkadang Mei Hua sering merasakan berbagai macam tatapan rumit dari Mo Xuan. Tatapannya begitu dalam, penuh obsesi dan kerinduan.


Mei Hua sebenarnya tidak terlalu terganggu dengan tatapan penjahat kecil. Hati kecilnya sudah mulai terbiasa menerima tatapan setajam pedang itu.


Tidak masalah, pikir Mei Hua. Saat ini yang paling dibutuhkan penjahat adalah waktu. Ketika tiba waktu dimana penjahat bisa mengatasi semua kelemahannya dan rintangan di depannya, maka pada saat itulah Penjahat Legendaris akan bangkit dan menunjukkan dominasi dan kekuatannya.


Ketika saat itu tiba, maka jalan cerita penjahat akan mengalir sama seperti yang tertulis di Novel.


...-----+-----+-----+-----...


Mei Hua memikirkan kembali sekelompok pengungsi yang dia temui di luar Lembah Qiancheng, hatinya perlahan menjadi tegas.


Mei Hua sudah memikirkannya, dia memutuskan untuk menyelamatkan pengungsi-pengungsi itu terlepas dari apapun yang terjadi. Dia juga akan mencegah Kultivator hantu menggunakan dan memanfaatkan nyawa para pengungsi yang tidak bersalah itu sebagai makanan Hantu Yin-nya.


Semua ini dia lakukan untuk mencegah Kultivator itu menangkap Mo Xuan seperti dalam alur cerita Novel. Mei Hua tidak mau pasien yang sudah dia rawat selama sebulan ini terluka lagi.


Dia tidak akan membiarkannya dan dia tidak rela.


...-----+-----+-----+-----...


Penulis Memiliki Sesuatu Untuk Dikatakan:


Me Hua: Bunuh!, bunuh!, bunuh penyusupnya---!!!


Mo Xuan: Aku akan mendukungmu, Saudari Hua (*Menarik pedang dari sarungnya)


Mei Hua: Kamu berani memanggilku Saudari!?, mau mati!?".


Penulis: Bab berikut adalah adegan pertarungan!


(☆/>u</)💛🌻🌷