
...-----+-----+-----+-----...
[The Battle Of The Gods]
...Novel favoritku ketika masih remaja.
Novel yang selalu ku tunggu-tunggu kelanjutan Season nya.
Aku telah membaca semua edisi musimnya, dari musim pertama kedua, hingga ketiga...
Jika saja hari kiamat tidak pecah dan zombie tidak muncul, aku pasti bisa segera membaca edisi musim keempatnya.
Identitas penulis [The Battle Of The Gods] selalu menjadi rahasia. Tidak ada bocoran mengenai siapa sosok dibalik penulis Novel yang hebat itu. Dikalangan penggemar dia hanya dikenal dengan sebutan nama penanya, yaitu "The Spring Breeze In Your Eyes". Karena namanya terlalu panjang para penggemar menyingkat namanya menjadi "Spring Wind".
Mei Hua tidak tau apakah Spring Wind masih hidup atau tidak, apa dia memiliki kekuatan untuk bertahan hidup, atau justru sebaliknya dia telah mati sejak era kiamat dimulai.
Jika... Jika saja bisa, aku sangat ingin menyelamatkankan nya.
Aku ingin menyelamatkan penulis novel yang karyanya telah membuat darahku mendidih karena bersemangat.
Tapi aku tau itu mustahil. Karena sekuat apapun kemampuan atribut kayu ku, setinggi apapun posisiku di Organisasi, sangat mustahil mencari satu orang diantara milyaran juta orang diseluruh dunia ini. Tanpa tau nama, usia, dan ciri-ciri nya, menemukan Spring Wind adalah sia-sia.
Jadi aku menyerah. Pada akhirnya aku melupakan Novel yang ku suka, penulis yang kukagumi, dan secercah harapan dihatiku.
...-----+-----+-----+-----...
Mei Hua membuka matanya. Kabut halus menyelimuti sepasang mata berwarna biru Zircon, setelah berkedip sebentar kabut dimatanya menghilang, digantikan dengan kejelasan dan ketenangan yang sunyi.
...(Anggap ajah Warna mata Mei Hua, oke? (^_^♪))...
Mei Hua bangun dengan gerakan reflek, kasurnya sedikit berderit ketika dia bergerak dengan terburu-buru. Tanpa memperdulikan pakaiannya yang masih acak-acakan, Mei Hua berjalan ke aula samping, tempat anak kecil bermain Mo Xuan berada.
"Hahh... Hah... Ini mustahil kan?, jangan katakan padaku...."
Mei Hua menarik nafas dalam-dalam, dan menghembusnya perlahan. Dia berusaha untuk tenang dan berpikir jernih saat ini.
Deg... deg... deg...
Tapi itu sangat sulit, karena dia merasa nafasnya terasa sesak dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Mei Hua merasa tidak nyaman, namun dia tetap memaksakan diri untuk maju dan memastikan sendiri sesuatu yang penting.
Braakk---!!!
Mei Hua mendorong pintu dengan kasar, dia memasuki ruangan dengan langkah cepat, dalam sekejab sosoknya berhenti tepat disamping kasur.
Mei Hua menatap Mo Xuan dalam diam. Tatapannya dengan tajam menatap tulisan yang senantiasa muncul di atas kepalanya.
Nama: Mo Xuan
Identitas: Penjahat
Love: 0%
Black: 0%
Ternyata benar. Tidak salah lagi.
"A-Akuu...ini...", Mei Hua tergagap. Dia terkejut dengan penemuannya sendiri.
Sejak pindah ke dunia ini Mei Hua tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu.
Dia tidak pernah memikirkan jika dunia tempatnya pindah adalah dunia Novel. Dan itu masih Novel favorit nya, [The Battle Of The Gods], Novel yang dia rindukan kelanjutannya.
Mei Hua tidak tau apakah dia harus senang atau sedih, bingung atau tenang, menerima atau tidak menerima.
Dia tidak tau. Dia bingung dengan perasaannya sendiri.
"Pantas saja aku merasa namamu terdengar sangat familiar".
Rupanya itu adalah dunia novel...
Ternyata kamu adalah karakter tokoh itu.
Kamu adalah penjahat yang terkenal karena sifatnya yang berdarah dingin, kejam, dan beringas.
Kamu adalah tokoh karakter yang paling sering diteriaki oleh penggemar di forum grup, dicaci maki dan dibenci oleh para para pembaca.
Aku tidak percaya bisa melihat kamu dalam bentuk yang nyata, bukan hanya sekedar goresan tinta di selembar kertas.
Penjahat.... Penjahat besar. Saat ini dia masih seorang anak, seorang anak yang baru saja berduka dan patah hati karena kematian ibunya.
Ibunya, satu-satunya wanita didunia ini yang akan memeluknya, menjadikan rengkuhan tubuhnya sebagai perisai penghalang rasa sakit dari siksaan keji yang dilakukan ayahnya.
Hanya dua kata yang terpikirkan dikepala Mei Hua tentang Little Mo Xuan.
Anak yang malang.
Sejak kecil dia sudah dibenci oleh ayahnya sendiri, sering diganggu oleh saudara-saudarinya, dan diperlukan seperti budak dirumahnya sendiri.
Semua rasa sakit dan ketidakadilan yang dia alami hanya karena sebuah rumor yang tidak jelas asal-usulnya.
Semua orang yang mendengar rumor tersebut percaya jika Mo Xuan memang adalah anak Iblis, tanpa alasan yang jelas dia sering dituding sebagai Iblis peminum darah yang menghisab kehidupan, dan hal itu bahkan diakui sendiri oleh ayah kandungnya yang bajingan.
Entah sejak kapan rumor tentang Mo Xuan meminum darah menyebar, tapi yang jelas ketika rumor itu mulai tersebar luas, kehidupan Mo Xuan dimasa depan dipastikan akan sangat pahit dan menderita.
"Penjahat oh penjahat, taukah kamu?, apa alasan namamu memiliki kesan yang sangat dalam di hatiku?, kenapa aku sangat berhasrat ingin mengetahui akhir cerita Novelnya?".
"Itu kamu!, semua ini karena kamu!. Aku ingin mengetahui akhir ceritamu!".
Mei Hua menatap Mo Xuan, dia tidak mengharapkan respon apapun, tapi meskipun begitu Mei Hua tetap melampiaskan keluh kesal dihatinya.
Penjahat, apa kamu tau?. Rupanya kami memiliki nasib dan masa lalu yang sama, kehilangan ibu kami sewaktu kecil, di benci oleh ayah dan kerabat sendiri, dan ditolak oleh semua orang.
Masa lalu kelam kami sama, karena itulah aku bersimpati padamu seperti bagaimana aku bersimpati pada diriku sendiri.
Mei Hua menyukai penjahat Mo Xuan, lebih tepatnya dia menyukai tindakan balas dendamnya yang kejam namun praktis pada semua orang yang telah menggertaknya dimasa lalu.
Mei Hua bangga dan iri pada penjahat. Penjahat memiliki masa lalu dan takdir yang sama dengannya. Tapi ada juga sedikit perbedaan.
Jika di akhir Mei Hua menyerah untuk balas dendam karena sedikit hati nurani yang telah ditanamkan ibunya padanya, maka penjahat Mo Xuan berbeda. Dari awal hingga akhir yang dia lakukan hanya untuk balas dendam, balas dendam tanpa ampun, tanpa menyisakan satupun yang hidup. Dia tidak pernah berbelas kasihan pada musuhnya, karena mengasihani musuh sama saja dengan menganiaya diri sendiri.
Orang ini, Mei Hua sangat mengaguminya, tidak salah menyebut Mo Xuan sebagai idolanya.
Tapi...itu hanya sebatas karakter tokoh cerita yang tertulis dibuku, bukan orang aslinya.
"Tidak masalah jika masih anak-anak, tapi jika itu yang versi dewasa, maka tanggapan ku tidak akan sama...."
Bajingan gila, iblis kejam, Tiran sadis, abnormal, psikopat....
Segala macam julukan buruk mulai bermunculan di kepala Mei Hua ketika dia memikirkan sosok Dewasa dari penjahat besar Mo Xuan.
Mei Hua bertanya-tanya, jika jalan ceritanya tetap sama, apakah penjahat akan tetap berjalan kearah yang bengkok dan menjadi hitam?.
Jika seperti itu, bukankah berarti dia dalam bahaya?.
Siapa tau apa yang akan tejadi jika penjahat itu tiba-tiba kehilangan kendali dan melukainya?.
"Apa sudah terlambat untuk mengirim penjahat ini pergi?".
Memandang anak yang terbaring koma diranjang, Mei Hua meratap sedih.
...-----+-----+-----+-----...
Ketika Mei Hua datang menemui Xiao Chui dia disambut dengan teriakan girang darinya.
"Ya ampun~, Hua'er kamu sudah besar!, selamat, selamat sudah menjadi dewasa~, Uhh... Hua'er jadi tambah cantik~".
"Pujian yang terlalu manis", Tangan Mei Hua mengelus daun Willow Xiao Chui yang hijau dan lembut.
Xiao Chui mengerang karena merasa nyaman, "Uhhhh... Nyaman~".
Mei Hua berjalan kearah Xiao Chui. Dengan dedaunan yang terbuka lebar Xiao Chui menyambut kedatangan Mei Hua. Tanaman Willow mengikat simpul di pinggangnya, dan dengan lembut mengangkatnya ke atas.
Xiao Chui menurunkan Mei Hua dia di dahan pohon yang paling tinggi. Mei Hua tidak takut dengan ketinggian, karena itulah dia dapat berbaring dengan santai diatas dahan pohon.
"Ah, benar!. Apa Hua'er sudah selesai mengurus pasiennya?, Xiao Feifei bilang pasien itu terluka sangat parah dan sedang sekarat.".
"Dia baik-baik, untuk saat ini kondisi nya masih terkendali".
Mei Hua sedang tidak mood membicarakan Mo Xuan, jadi dia buru-buru mengganti topik lain.
"Ngomong-ngomong, Xiao Chui, apa kamu tau desa mana yang paling dekat dengan gunung ini?".
"Desa yang paling dekat?, hmm... Jika itu desa, ada satu... Namanya Desa Qishu. Oh, kenapa Hua'er tiba-tiba bertanya tentang desa?".
"Aku berencana untuk turun gunung sebentar, menukar mata uang, dan membeli beberapa perabot untuk menghiasi rumah bambuku". Mei tidak menutupi apapun dari Xiao Chui, dia merasa Xiao Chui adalah yang paling berpengetahuan disini. Jadi dia sangat butuh pendapat nya.
"Ah... Jika Hua'er berniat mendapatkan uang dan membeli berbagai macam barang keperluan rumah, Hua'er bisa pergi ke Kota Dong Yan. Kota Dong Yan jauh lebih maju secara ekonomi daripada Desa Qishu".
"Apa kota Dong Yan jauh?".
"Menurut informan dari roh angin, dari desa Qishu menuju Kota Dong Yan hanya berjarak 2-3 hari saja".
Mei Hua menjentikkan jarinya, "Oke, sudah diputuskan. Aku akan pergi ke Kota Dong Yan. Terimakasih Xiao Chui, semua informasi tadi sangat berguna, ini hadiah dariku...."
Mei Hua tidak ragu-ragu, dia menuangkan langsung lima nampan daun berisi air sungai Ambrosia pada tubuh pohon Xiao Chui.
Daun Willow Xiao Chui bergetar-getar tanpa henti, bisa dibayangkan betapa nyamannya dia saat ini.
"Hahaha---, hari ini aku merasa sangat, sangat, sangat nyaman--!!!".
Bagi Xiao Chui pagi hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan.
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Di Bab berikutnya Mo Xuan bangun.
Jadi tunggu kelanjutannya yahh...
(↑ω↑)🌺💛🍀