I Become A Peach Blossom Fairy

I Become A Peach Blossom Fairy
Sungai Ambrosia




...-----+-----+-----+-----...


Cabang Pohon Willow bergerak sedikit, dengan gerakan merayap daun pohon Willow yang panjang menggapai lengan Mei Hua dan melilitnya dengan centil.


Melihat daun yang dengan lembut melilit pergelangan tangannya, Mei Hua tersenyum.


"Berbicaralah padaku".


Sesama Roh Pohon, Mei Hua bisa mengetahui jika Pohon Willow memiliki kesadaran spiritual sama sepertinya. Makhluk yang memiliki kesadaran Spiritual memiki akal dan pemahaman yang baik. Dengan kata lain, Makhluk dengan kesadaran spiritual bisa mengungkapkan perasaan dan berkomunikasi dengan sesama rasnya.


"Dermawan yang baik hati, saya sangat berterimakasih, anda telah menolong saya".


Suara imut dengan nada malu-malu bergema di telinganya, Mei Hua agak terkejut. Awalnya dia berpikir suara roh pohon yang sudah berumur 700 tahu akan terdengar seperti suara orang tua yang netral tanpa emosi. Dia tidak menyangka suara Pohon Willow justru terdengar seperti suara anak kecil.


"Ya, sama-sama. Sekarang katakan padaku bagaimana kondisimu".


"Saya merasa seperti dilahirkan kembali, sungguh... Rasanya seperti kultivasi saja juga ditingkatkan".


Mendengar kata 'Kultivasi', Mei Hua memiringkan kepalanya. "Kultivasi?".


"Ya, saat ini saya berada pada periode empat Qi Condesation. Hanya butuh sedikit pencerahan lagi untuk saya memasuki periode lima Qi Condesation".


Mendengar kata-kata aneh yang sulit dimengerti, namun cukup familiar, ledakan besar tiba-tiba bergema dihati Mei Hua.


Ternyata begitu!. Dunia ini ternyata bukan dunia kuno biasa, ternyata ini dunia Kultivasi abadi!.


Pantas saja ada keberadaan seperti Roh Bunga Persik dan Pohon Willow. Ternyata itu awalnya karena pengaturan dunia ini.


Dalam cerita Novel bergenre Xianxia atau Xuanhuan, pengaturan seperti keberadaan roh, siluman, Dewa, dan Kultivasi sudah dianggap biasa.


Jadi tidaklah aneh jika ada keberadaan seperti Roh Bunga Persik dan roh Pohon Willow.


Meskipun awalnya hanya pohon biasa, namun setelah berkultivasi dengan menyerap esensi cahaya Matahari, Bulan, dan Bintang yang cukip mereka dapat bergerak, berbicara, bahkan bisa berubah wujud menjadi manusia.


"Pohon Willow, apa kamu punya nama?, memanggil namamu lebih enak didengar ketika kita berbincang-bincang".


"S-Saya tidak memiliki nama...jika Dermawan mengizinkan, mau kah Dermawan memberikan saya nama?".


"Ah?, oke. Tunggu dulu biar aku pikirkan nama yang cocok untukmu, umm...."


Setelah berpikir sebentar, tiga kata muncul di kepalanya. Mei Hua merasa itu cocok jadi dia bertanya pada Pohon Willow.


"Chui Liu Shu, bagaimana menurut mu?". Tanya Mei Hua, sedikit ragu-ragu.


"Aku menyukai nya!, tolong berikan nama itu untukku!".


Roh Pohon Willow berteriak girang, daun-daunnya bergetar mengekspresikan kebahagiaannya.


"Aku senang jika kamu menyukainya. Baiklah mulai saat ini aku akan memanggilmu Xiao Chui, bagaimana?".


"Yayaya--!!. Sekali lagi terimakasih Dermawan!".


"Jangan panggil aku Dermawan, namaku Mei Hua, dan aku adalah Pohon Bunga Persik. Panggil saja aku, umnn... Hua'er".


Setelah berpikir cepat, Mei Hua memutuskan menggunakan nama gadis kecil Hua'er sebagai nama panggilannya. Lagipula nama belakang mereka sama jadi tidak ada salahnya.


"Tentu!, Hua'er!, terimakasih!".


Mendengar antusiasme Pohon Willow yang sekarang bernama Xiao Chui, Mei Hua merasa senang. Dalam hatinya Mei Hua juga sangat antusias bisa berbincang-bincang dengan sesama ras Pohon, yang tidak lain adalah rasnya yang baru.


"Xiao Chui aku sudah tidur cukup lama dan baru bangun baru-baru ini. Pasti banyak hal yang terjadi sewaktu aku tidur. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi selagi aku tidur. Jadi bisakah kamu menceritakan aku beberapa gosip hangat?".


Mei Hua berbohong, tentunya dia tidak tidur melainkan belum dipindahkan ke dunia ini. Tidur hanya alasan yang dia buat untuk menutupi keadaan.


"Hua'er ingin tau gosip dunia sekuler atau gosip dunia peri?".


Mei Hua berpikir sejenak sebelum menjawab, "Keduanya!".


"Baik, aku akan menceritakan semua gosip yang ku tau. Menurut kabar yang terbawa angin...."


...-----+-----+-----+-----...


Hampir seharian Mei Hua mendengarkan gosip dari mulut Xiao Chui, baru setelah Matahari tenggelam dia baru menyadari langit sudah mulai gelap.


Mei Hua menepuk dahinya, dia lupa waktu karena terlalu asyik mendengar cerita Xiao Chui. Dia telah terbawa suasana dengan berita dan poin-poin penting yang dia dapatkan dari gosip yang diceritakan Xiao Chui.


"Xiao Chui, hari sudah senja, aku harus kembali dulu".


"Oh oh... Waktu sudah habis!. Waktu berjalan cukup cepat". Daun Willow Xiao Chui terkulai lemah. Waktu yang dia habiskan dengan Dermawannya terlalu singkat, dia tidak rela...


"Besok aku akan main kesini lagi".


"Benarkah!?", Sedetik kemudian daunnya perlahan naik, bergetar-getar sesekali seperti rumbai yang tertiup angin.


Melihat tingkah lucu Xiao Chu, Mei Hua merasa gatal ingin menyentuhnya.


'Kenapa Pohon bisa begitu imut?, mungkinkah karena aku sekarang menjadi pohon jadi persepsi ku terhadap pohon juga berubah?'.


Meskipun merasa aneh dengan penilaian batinnya sendiri, tapi Mei Hua tidak mengambil hati, dia tetap menuruti kata hatinya dan mulai menyentuh.


Menyentuh dan mengelus ranting pohon Willow, Mei Hua berkata, "Sampai jumpa besok, Xiao Chui".


...-----+-----+-----+-----...


Mei Hua kembali masuk ke dalam Ruang Spiritual. Dengan gerakan alami dia berjalan ke tepi sungai dan mulai melucuti pakaiannya.


Dua lapisan pakaian terlepas dan meluncur dari sepanjang bahu hingga jatuh ke mata kaki.


Melirik dengan santai penampilannya di permukaan air, Mei Hua terkejut ketika menemukan tinggi badannya telah bertambah sedikit.


"Begitu cepat...tinggi badanku naik 20 cm dalam semalam".


Awalnya tinggi badan Mei Hua setelah pindah hanya sebatas pinggang orang dewasa saja. Setelah berendam di air sungai tubuhnya beranjak tumbuh dewasa dengan kecepatan konstan. Sekarang tinggi badannya sudah mencapai dada orang dewasa. Menurut tinggi badannya saat ini tubuh Mei Hua bisa dikategorikan sudah berumur 10-11 tahun.


"Air sungai ku sangat ajaib!. Berendam sekali bisa langsung meninggikan badan hingga 20 cm!, jika aku rajin berendam akankan aku segera tumbuh dewasa?".


Mei Hua sangat menantikan ketika tubuhnya beranjak dewasa. Bagaimanapun juga dia masih menginginkan tinggi badannya yang ideal.


"Menyebutnya air sungai rasanya tidak begitu bagus, dan tidak keren. Hm... Bagaimana jika aku menamainya...Sungai Ambrosia?!. Ambrosia artinya keabadian, dan sungai ini memiliki banyak khasiat, mungkin saja meminum semua airnya akan membuat ku menjadi abadi?". Canda Mei Hua.


Hehehe...dia hanya bergurau, tidak mungkinkan dia meminum semua air sungai?.


Byyuuurrr----


Sosok kecil yang anggun melompat ke sungai, air terciprat ketepian, membasahi rumput hijau di pinggiran sungai.


Sebuah kepala menyembul dari dalam air, Mei Hua dengan rambut perak-merah mudanya muncul kepermukaan dengan tubuh yang basah.


Sambil bersandar pada batu ditepian, Mei Hua tanpa sadar menutup matanya dan menghela nafas rileks. Karena tubuhnya terasa begitu nyaman dan ringan dia pun tanpa sadar jatuh tertidur lelap.


...-----+-----+-----+-----...


Sangat nyaman.


Itulah yang Mei Hua rasakan saat ini.


Air sungai yang jernih dan bersih menyelimuti tubuhnya, membuat semua pori-pori ditubuhnya bernafas jauh lebih mudah. Sekujur tubuhnya seperti sedang digosok dengan busa halus, dan semua kotoran ditubuhnya dibersihkan hingga ke sum-sum tulang.


Mei Hua sangat menyukai perasaan ini. Rasanya seperti kembali ke pangkuan ibunya yang hangat dan nyaman.


Kelembutan tangan ibunya yang membelai rambutnya, suaranya yang menenangkan, dan senyumnya yang cantik.


Ibu...


Bahkan sampai saat ini aku masih merindukan mu. Merindukan ketika saat-saat kamu masih ada dan saat-saat aku masih menjadi anak paling bahagia di dunia.


Bu, hati mu sangat lembut. Jika saja kamu tidak melarangku untuk membalas dendam aku pasti akan mendorong ayah dan wanita selingkuhannya ke Lautan Zombie.


Mereka kejam padamu, maka aku pun juga bisa kejam pada mereka. Untuk orang-orang yang serakah dan egois seperti mereka, belas kasihan terlalu mewah.


Karena berbicara tidak bisa menyelesaikan masalah, maka akan lebih mudah berbicara menggunakan tinjukan?. Setidaknya itu tidak akan terlihat busuk dan munafik.


Hanya sayang sekali....


Jika saja saat itu aku tidak bodoh, sedikit saja jika aku lebih pintar, maka semua ini tidak akan terjadi.


Andai saja aku bisa lebih kuat. Maka aku pasti bisa mencegah kematian mu, Bu.


Bu, aku ingin menjadi kuat. Jika aku kuat maka aku tidak akan mati, jika aku mati aku tidak akan hidup.


Dan aku ingin hidup!.


Di ruang Spiritual hanya ada langit malam, Lautan bintang, dan Bulan Perak.


Sosok anak sub-dewasa yang berendam di air memiliki kulit putih, tubuh yang indah, dan penampilan cantik yang sulit dibedakan gendernya.


Gambar bunga persik di dahinya menambahkan sentuhan magis pada wajahnya. Seperti sebuah lukisan salju yang ditumpahi tinta cinnabar merah terang, terlihat bersinar dengan aura mistis.


Kedua matanya terpejam, dan nafas didadanya naik dan turun dengan kecepatan normal.


Suasana begitu sunyi, hingga...


Satu-persatu sebuah titik merah muda muncul dari udara.


Mereka adalah titik merah muda yang sama yang menuntun Mei Hua keluar dari ruang kegelapan. Hanya saja titik merah muda itu tidak hanya berjumlah seratus, melainkan banyak. Sangat banyak.


Mungkin ada seribu, dua ribu, tiga ribu. Jumlahnya tidak terhitung karena setiap waktu titik cahaya merah muda tersebut terus-menerus bertambah.


Jumlah mereka terus bertambah banyak, sampai-sampai keberadaan mereka menutupi seluruh permukaan air sungai.


Satu-persatu, dalam satu gerakan lambat, titik cahaya merah muda bergerak menuju Mei Hua.


Mereka semua bergerak bergiliran, teratur, dan rapih untuk memasuki tubuh Mei Hua.


Entah sudah berapa lama, ketika Mei Hua membuka matanya lagi dia merasa sekujur tubuhnya sangat energik.


"Wah!, tanla sadar aku berendam disungai semalaman!. Untung saja kulitku tidak jadi keriput!".


Menatap langit malam yang sama seperti sebelumnya, sudut mulutnya berkedut, "Ya, meskipun ruang ku selalu dalam keadaan malam".


Beranjak dari sungai, dia memakai pakaiannya, bermain-main dengan bunga, lalu berguling-guling sebentar di petak rumput.


Setelah puas dia keluar dari ruang.


"Ayo temui Xiao Chui!".


...-----+-----+-----+-----...


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:


Masa lalu Mei Hua yang menyedihkan akan diceritakan dipertengahan bab.


ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ💚💛🌸🌸