
...-----•°•°•°•-----...
Xiao Fei berdiri diam disudut, tubuhnya ditutupi oleh rimbunan rumput liar, dari celah-celah semak belukar hanya terlihat dua pasang mata Almond dan dua tanduk putih yang mencuat keatas.
Dengan tenang dia menyaksikan ketika dua penyusup asing sedang asyik memakan Buah Persik dengan lahap. Mata almond Xiao Fei menyipit takala memikirkan asal-usul buah Persik itu.
Xiao Fei sangat yakin, buah persik itu pasti berasal dari pohon yang dibudidayakan oleh Mei Hua.
Jika Xiao Fei tidak salah ingat, seharusnya ada Pohon buah persik didekat pintu masuk hutan. Dan secara kebetulan, dua penyusup itu juga muncul dari arah sana.
Selain Buah Persik Mei Hua juga menanam berbagai macam jenis buah. Mulai dari apel, anggur, pir, dan loquat. Semua pohon buah tersebut tersebar secara luas dipenjuru Hutan, mereka dirawat dengan teliti sehingga selalu berbuah dalam waktu yang cepat, dan tentunya semua buahnya terasa manis dan enak.
Entah dari mana datangnya dua penyusup ini, mereka muncul tiba-tiba dan memakan buah milik Mei Hua tanpa meminta izin.
Xiao Fei menghentakkan kakinya ke tanah, mata Almondnya menjuling kesal.
Hmp, dia harus segera kembali dan melapor pada Mei Hua, biarkan Mei Hua memberikan pelajaran pada dua pencuri kecil ini. Nanti, apakah Mei Hua akan memaafkan mereka berdua atau tidak, dia akan membiarkan Mei Hua sendiri yang memutuskannya.
Xiao Fei berbalik, dengan empat tapal kakinya dia mulai berlari dan menghilang kedalam hutan hijau yang lebat.
...-----+++-----...
"Aku ingin pergi ketempat teman-temanku, apa kamu mau ikut?".
Merasa bosan seharian dirumah bambu, Mei Hua memutuskan untuk pergi menemui Xiao Chui.
"Saudara Hua, apakah teman yang kamu maksud adalah Rusa coklat itu?".
Akhir-akhir ini Mei Hua jarang keluar rumah, dia biasanya sibuk merawat sisa-sisa luka ditubuh Mo Xuan. Sedangkan Mo Xuan sendiri, karena kaki kirinya yang pincang gerakannya menjadi terbatas dan dia pun terpaksa harus beraktivitas tidak jauh dari rumah bambu.
Baru kali inilah Mo Xuan mengetahui jika ada orang lain yang tinggal di lembah Qiancheng ini selain dirinya dan Mei Hua.
Selain Mei Hua, ada juga Xiao Fei, si Rusa coklat. Didalam lubuk hatinya, Mo Xuan memiliki banyak perhatian dan kesan yang mendalam tentangnya. Itu karena, Mei Hua pernah memberitahunya jika Xiao Fei lah yang pertama kali menemukannya ketika dia hampir sekarat ditengah hutan.
"Rusa itu bernama Xiao Fei. Sedangkan sisanya masih ada dua orang lagi. Nanti aku akan memperkenalkan mu pada mereka".
Mo Xuan menunduk, dia mengepalkan tongkat yang ada ditangan kirinya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Oh, ngomong-ngomong tongkat itu adalah alat bantu jalan yang di buat Mei Hua secara pribadi. Bentuknya dia buat sedemikian rupa seperti kruk dari zaman modern, bedanya itu tidak terbuat dari besi aluminium melainkan dari kayu. Tentunya, ketinggian kruk disesuaikan dengan tinggi badan penjahat kecil agar dia dapat dengan mudah dan nyaman menggunakannya.
Setelah berpikir sejenak, Mo Xuan akhirnya mengangguk.
Mei Hua tersenyum, hati kecilnya merasa puas karena betapa penurutnya Penjahat kecil.
...-----•°•°•°•-----...
Setelah sampai dibukit tempat Pohon Willow Xiao Chui mengakar, Mei Hua terkejut ketika menemukan bahwa.... Pohon Xiao Chui menghilang!!!".
"Eh?, apa?, dimana Pohon Willownya?".
"Saudara Hua, Pohon apa yang kamu bicarakan?". Melihat keheranan diwajah Mei Hua, membuat Mo Xuan tertarik untuk bertanya.
"Itu... Itu, mulanya disini ada Pohon, sebuah Pohon Willow yang tinggi dan rindang, tapi sekarang itu lenyap..."
Mei Hua melirik ke kiri dan ke kanan, dia yakin letak buktinya sudah benar, petak rumput juga sama dan ada ladang bunga yang sudah tidak asing lagi di benaknya.
Seharusnya dia tidak salah, bukit ini benar-benar tempat Xiao Chui mengakar.
Mei Hua menjadi gelisah. Dia merasa bingung dan panik ketika tidak bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Xiao Chui. Dia bertanya-tanya, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi pada sahabat pohonnya ketika dia tidak ada?. Atau mungkin yang terburuk tanpa sepengetahuannya ada orang yang berani menggali tubuh Pohon Xiao Chui dan membawanya pergi?.
Membayangkan hal itu, jantung kecil Mei Hua berdetak kencang. "T-Tidak mungkinkan!!??".
Sementara Mei Hua jatuh dalam kebingungan karena tidak bisa menemukan sahabatnya, disisi lain Mo Xuan yang berdiri diam di tempat dengan bantuan tongkatnya sedang menatap kearah lain.
Dari arah itu, muncul seorang wanita berambut coklat. Wanita itu memiliki wajah yang cantik, namun lebih kearah imut dan menggemaskan. Sepanjang waktu selalu ada senyum sumringah diwajahnya. Untungnya dia manis, jadi dia tidak terlihat terlalu bodoh dengan senyumnya yang konyol itu.
Tubuhnya yang ramping dibaluti dengan gaun hanfu berwarna hijau, rambut hitamnya diikat dengan Hairpin sederhana yang terbuat dari kayu cendana.
Dengan langkah berayun-ayun seperti Willow, dia berjalan kearah Mei Hua dan Mo Xuan berada.
"Saudari Hua, apa dia temanmu?". Mo Xuan meraih ujung keliman jubah Mei Hua untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Ehh...", menatap kearah yang ditunjuk Mo Xuan, kedua mata Mei Hua membulat lebar.
Dengan tidak percaya dia menatap wanita asing yang tidak dia kenal, namun memiliki aura yang familiar. Mei Hua terdiam, dia menebak sesuatu, tapi karena takut salah dia memutuskan untuk diam.
Disisi lain, gadis dengan hanfu hijau melihat sosok yang familiar di benaknya, dengan wajah imut dan senyum cerah, gadis itu yang tidak lain adalah wujud manusia Xiao Chui, berteriak dengan bahagia.
"Hua'er!!!!".
Dengan seribu langkah, Xiao Chui berlari kearah Mei Hua.
Dari balik punggungnya muncul cabang-cabang dahan Willow yang sudah dikenal Mei Hua.
Cabang-cabang Willow itu merambat lurus kearahnya, mereka mengait pinggang Mei Hua, mengangkatnya dari udara dan membawanya kedalam pelukan Xiao Chui.
".........", Mei Hua yang berada dipelukan seseorang sehingga tidak bisa berbicara ataupun bernafas.
"..........", Mo Xuan si Pasien yang menyebalkan dan disalahkan.
Oh, sial!.
Dengan seluruh wajah yang terkubur didalam dada yang lembut dan halus, Mei Hua, si pria jantan berwajah banci, diam-diam mengutuk didalam hatinya.
...-----+++-----...
"Jadi... Kamu telah berhasil membentuk inti emas dan berubah menjadi bentuk manusia".
"Ya!, Hua'er, bagaimana pendapatmu tentang penampilanku?, apakah cantik?!".
"Ya... Cantik, sangat cocok dengan tempramen Daun Willowmu".
"Hehe--!!, Benarkan!".
Sementara kedua orang itu sibuk bertukar kata, Mo Xuan yang duduk dipetak rumput disamping Mei Hua hanya mendengarkan dengan tenang.
Tubuh Mo Xuan sangat kecil dan kurus, keberadaannya sangat rendah seperti bayangan yang tertutupi cahaya. Butuh sedikit waktu untuk Xiao Chui menyadari keberadaannya.
"Eh, manusia?. Hua'er dia..."
"Namanya Mo Xuan, Pasienku yang tadi kamu sebut menyebalkan".
Pupil Hijau Emerald Xiao Chui membulat lebar. Disisi lain, Mo Xuan hanya menatap Xiao Chui dengan pandangan ringan dan tanpa emosi.
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud bahwa kamu benar-benar menyebalkan. Aku hanya sedikit kesal karena menghabiskan waktu sendirian, tanpa keberadaan Hua'er aku merasa hari-hari ku menjadi sangat membosankan".
"Tidak apa-apa", Mo Xuan menundukan kepalanya, "Nyatanya itu memang benar. Sebulan lebih ini aku sudah banyak merepotkan Saudara Hua".
Melihat sikap Mo Xuan yang mencela dan merendahkan diri sendiri, Xiao Chui merasa tidak enak. Jadi dia berkata dengan nada untuk menghibur.
"Ah, jangan terlalu dipikirkan Adik kecil Mo. Hua'er kami sangat pintar, cantik, berbakat dan berbudi luhur. Jangankan merawat satu pasien, seratus, tidak, bahkan seribu dia juga bisa!".
"Hei, Xiao Chui!". Mei Hua menatap Xiao Chui dengan tatapan tajam.
"Hehe...aku hanya bercanda, Hua'er~". Xiao Chui tersenyum dengan wajah lucunya.
Dibawah naungan langit biru dan hamparan padang rumput sebagai alas, mereka bertiga menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan ketenangan hati yang damai.
Sudah sebulan lebih mereka jarang bertemu, hal itu membuat Mei Hua dan Xiao Chui memiliki banyak topik diskusi untuk dibicarakan. Sedangkan untuk Mo Xuan, meskipun dia pendiam dan tidak ikut kedalam perbincangan, namun dia tetap menjawab ketika sesekali Xiao Chui bertanya.
Matahari dilangit begitu hangat dan tidak menyengat, udaranya sejuk dan segar, bunga Poppy liar dan Violet bermekaran dan tersebar luas diseluruh padang rumput, penuh keharuman dan warna.
Suasananya begitu harmonis dan damai, benar-benar cocok untuk menghabiskan waktu bercengkrama bersama teman di alam luar.
Namun, suasana yang indah itu hancur saat itu juga ketika...
'KA---BOOOM---OM!!!'.
Suara ledakan besar tiba-tiba mengejutkan seluruh penjuru hutan!.
"Apa itu?, ledakan?".
"Hua'er ini...."
"Saudara Hua!".
Duduk di atas tanah, Mei Hua bisa merasakan getaran dengan frekuensi samar. Getaran itu hanya berlangsung selama 15 detik, sebelum pada akhirnya berhenti dan menjadi benar-benar sunyi.
Jika hanya berupa getaran biasa Mei Hua mungkin bisa berspekulasi jika itu hanya gempa bumi biasa, namun ledakan yang memekakan telinga tadi adalah bukti jika itu bukan gempa bumi!.
Sekelebat angin tiba-tiba muncul didepan mereka bertiga, itu adalah Roh Angin, Mei Feng.
Dengan rasa takut yang tidak bisa ditutupi diwajahnya, Mei Feng bergegas menuju Xiao Chui, dia berkata dengan tergesa-gesa dan panik.
"Willow!, Xiao Chui!. Ini gawat, ada seseorang yang berusaha menghancurkan array pembatas!".
"Apa katamu---!!??". Mendengar ucapan Mei Feng, Xiao Chui terkejut, raut wajahnya juga berubah secara drastis. Dengan nada nyaris histeris dia bertanya, "Apa yang terjadi?, bagaimana penyusup bisa masuk!?. Apa penyusup itu telah menemukan tempat kita?".
"Aku juga tidak tau!, tapi yang jelas situasinya saat ini sangat berbahaya!. Kita harus segera mengambil tindakan dan menghentikan penyusup itu sebelum mantra pembatasan benar-benar lenyap!!!".
...-----•°•°•°•-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Pertarungan akan segera dimulai. MC kita akan menunjukan kemampuan aslinya di Bab berikutnya.
Tunggu kelanjutannya~
ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ🌻💛🍁