
...-----•°•-----•°•-----•°•-----...
"Sudah kuduga, ternyata itu kamu, Xu Minghao".
"Hehe... ini kamu lagi, Penatua Lan yang terhormat~".
Pria berjubah hitam menyingkap kain kasa hitam yang menutupi penampilannya. Ketika wajah dibalik kain itu terbuka, ekspresi Lan Mian yang tenang dan khusyu tidak berubah sedikitpun.
Seorang pria dengan wajah gelap, alis tajam dan mata merah, menampilkan seringai kejam dibibirnya. Tatapannya dengan kurang ajar melirik Lan Mian dan kedua muridnya yang berdiri dengan postur siaga dibelakangnya.
"Satu Kultivatir tahap akhir transformasi roh, dan dua Kultivator tahap pertengahan fondasi... yah ini cukup untuk memberi makan Hantu Yin-ku!". Ucap Kultivator Hantu, Xu Minghao dengan percaya diri, seolah-olah nyawa Lan Mian dan kedua muridnya telah berada dalam genggamannya.
"Kultivator Hantu, Xu Minghao. Menyerahlah, cukup sampai disini kegilaan yang kamu lakukan. Apakah memakan jiwa-jiwa tidak berdosa dari Tentara Kekaisaran Chu tidak cukup untukmu?",
Mata perak Lan Mian bersinar dengan kilau dingin, seperti sebilah pedang yang tajam dan kuat.
"...Kamu cukup serakah untuk menginginkan para pengungsi diluar sana menjadi tumbal ritual sesat mu".
Dibelakang Lan Mian, Murid keduanya, Liu Feng Jue berdiri diam tak bergeming, namun alisnya sedikit berkerut ketika mendengar kata-kata "pengungsi" dan "tumbal" dari mulut Shifu-nya.
Liu Feng Jue berpikir, pantas saja dia merasa ada yang aneh dengan tanah tempat para pengungsi dari Kekaisaran Chu berkumpul. Rupanya, kejanggalan yang dia lihat itu adalah Array pengorbanan yang samarkan oleh nafas manusia fana. Rupanya Kultivator hantu berniat membunuh para pengungsi pengungsi dengan formasi pengorbanan, merampas jiwa mereka dan menjadikannya tumbal.
Liu Feng Jue diam-diam berpikir, "Kultivator hantu itu, rupanya sejak lama dia sudah mengincar hal ini. Perang, kelaparan dan kematian, mereka semua adalah sumber utama dari energi kebencian. Dan kebetulan kebencian manusia fana adalah makanan utama yang sangat baik bagi para hantu".
Liu Feng Jue tidak bisa tidak curiga, mungkinkan Kultivator Hantu ini memiliki andil dari pecahnya perang antara dua Kekaisaran fana, Chu dan Wen?.
Disampingnya, Fang Yuli dengan wajah pucat melontarkan tatapan tajam pada Kultivator Hantu, dia mengutuk dengan marah "Iblis!, dasar sampah!".
"Hahahaha---!!!. Aku?, setan?. Haha... itu lucu". Mendengar makian dan kutukan Fang Yuli, Xu MingHao tidak tersinggung. Dia justru tertawa terbahak-bahak karena menganggap ucapannya lucu.
"Hehe...Gadis kecil, jangan salah paham. Aku bukan Iblis, aku adalah Pembudidaya yang sama seperti kalian, yang menginginkan keabadian dan kekuatan. Hanya saja aliran kepercayaan ku yang berbeda dari kalian, para Pembudidaya Abadi yang naif dan baik hati~". Nada suara Xu Minghao penuh ejekan, mata merahnya menatap Fang Yuli seperti sedang menatap sebuah lelucon yang pahit.
"Kamu--!!", Fang Yuli berteriak marah.
"Ah, benar!. Gadis kecil, jika kamu berbicara tentang Iblis, maka aku akan menunjukkan " Iblis" padamu. Dan Iblis yang asli ada disana". Jari telunjuk Xu Minghao dengan ujung kuku berwarna hitam menunjuk kearah tepian jurang yang gelap dan curam.
Lan Mian menjadi waspada, dia menatap Kultivator Hantu didepannya dengan tatapan tajam. Kerucut es terbentuk disekelilingnya, ujung bilahnya yang tajam siap diluncurkan kapan saja untuk menyerang lawan.
Melihat hal itu Xu Minghao tidak merasa terintimidasi, dia masih terus mengoceh tentang ini dan itu.
"Di dalam sana ada Iblis, Iblis yang sangat kejam dan jahat. Di era ketika Iblis itu berkuasa, dia takuti oleh semua orang, baik dunia fana dan dunia abadi ketakutan setelah mendengar namanya yang agung".
"Dia telah disegel di dalam sana seak zaman kuno hingga sampai saat ini. Dan segel itu adalah karya yang dibuat Yang Mulia Abadi Ren Wujun, pendiri Sekte Mingxia, yang tidak lain adalah leluhur Sektemu".
"Segel yang dibuat leluhur kalian sangat kuat, saking kuatnya bahkan membuatku membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengikis sedikit demi sedikit celah Array penyegelan...."
"Biarku tebak, kamu menggunakan energi kebencian dari sisa-sisa jiwa orang mati yang meninggal dengan keluhan kan?", Lan Mian tiba-tiba memotong ucapan Xu Minghao yang antusias dan bersemangat.
"Ya!, tebakan Penatua Lan adalah benar!".
"Setelah mengumpulkan energi kebencian yang cukup maka aku bisa membangkitkan Iblis itu kedunia ini!, hahahah---!!!!".
"Dan sekarang....", Xu Minghao tersenyum jahat, "Waktunya telah tiba".
Xu Minghao mengeluarkan tengkorak merah, dia mencengkram tengkorak itu erat-erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi kelangit.
"Ini sudah waktunya mengambil jiwa-jiwa para pengungsi perang dan menelan energi kebencian mereka".
"Ini tidak baik...", Lan Mian mengerutkan dahinya.
"Shifu!", Liu Feng Jue berseru, telapak tangannya selalu setia berada di gagang pedang, siap menariknya kapan saja, hanya menunggu perintah Tuannya.
"Tidak ada pilihan lain, perbuatan orang ini harus dihentikan", pikir Lan Mian.
Lan Mian memadatkan energi spiritualnya, cahaya biru keemasan muncul dari telapak tangannya, diikuti munculnya sebilah pedang yang terbuat dari Giok es.
"Anak-anak, tetap waspada, ingat kalian harus berhati-hati dengan energi kebencian yang menyelimuti tengkorak merah jelek itu".
"Ya, Shifu!".
"Dimengerti Shifu!".
Akhirnya, pertarungan pun dimulai.
...-----+-----+-----+-----...
"Hua'er, kami hampir sampai!", Xiao Chui berseru, mengingatkan Mei Hua yang berlari tepat dibelakangnya.
Mei Hua mengangguk dalam diam, sambil menatap pemandangan yang baru saja dia lewati.
"Tempat ini sangat kacau, sangat mengerikan".
"Ya, semua ini adalah ulah dari Iblis Kabut Hitam. Pepohonan yang mati, bunga-bunga yang layu, dan hewan-hewan yang sekarat dan hanya menyisakan tulang-belulang... mereka semua terkorosi dengan energi kebencian yang disebabkan oleh Iblis Kabut Hitam". Mei Feng menjelaskan perlahan-lahan keraguan Mei Hua.
Mei Hua tidak mengatakan apa-apa, dia tetap berlari dengan kecepatan konstan, dibantu oleh angin yang dikendalikan Mei Feng, gerakannya menjadi lebih terkoordinasi.
Setelah berlari hingga sampai ketepian sungai yang kering, barulah dia menghentikan laju kecepatannnya.
Mata biru Zircon Mei Hua jatuh pada seonggok tulang belulang yang tidak jauh darinya.
Dari bentuk kerangkanya Mei Hua bisa menebak jika itu adalah tulang seekor kuda jantan yang besar.
Mei Hua buru-buru mengalihkan pandangannya, kembali berlari dan terus-menerus memacu laju gerakannya.
Semuanya yang ada disini berwarna hitam, suram dan berbau seperti kematian.
Tempat dimana Iblis Kabut kematian disegel berada diwilayah yang lebih dalam dan lebih terisolasi dari Lembar Qiancheng.
Sangat jauh berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya yang indah, subur dan penuh dengan vitalis kehidupan, sebaliknya tempat yang sedang kini dia lalui tampak mengerikan sampai-sampai tidak tertahankan.
Ini sepertu Hutan yang mati tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Melihat semua hal ini Mei Hua menjadi lebih paham alasan kengerian dan ketakutan Xiao Chui dan Mei Feng. Jika saja apa yang disebut dengan nama Iblis Kabut Hitam benar-benar terbebas dari segelnya, maka bukan hanya tempat ini saja, bisa dipastikan lingkungan tempat tinggalnya yang indah, rumah bambunya, ladang bunga dan sayurnya juga akan terancam mati karena terkorosi dengan energi kebencian.
Hasil akhirnya adalah seluruh Lembah Qiancheng menjadi Hutan mati yang mengenaskan.
Lalu ada kemungkinan energi kebencian bocor dan menyerang daerah-daerah disekitarnya. Desa-desa kecil dikaki gunung, kota Dong Yan yang pernah dia kunjungin, dan diperbatasan tempat para pengungsi perang menetap...
Akan sangat buruk jika wilayah di dunia fana terkena energi kebencian ini!.
Harus menghentikannya!
Bagaimanapun juga caranya semua ini harus dihentikan!.
Mei Hua bertekad didalam hatinya.
Mereka bertiga melaju dengan kecepatan maksimal, setelah sekian lama bergerak mereka pun akhirnya sampai.
"Ah, Mei Feng, turunkan sedikit kecepatan anginmu!". Xiao Chui tiba-tiba berteriak.
"Memangnya kenapa!?", Mei Feng tertegun, dia bingung dengan permintaan Xiao Chui.
"Seseorang, tidak, sekelompok orang!. Ada sekelompok orang tengah bertarung didepan sana!, dan masih pertarungan yang bar-bar dan intens!!!".
Mei Hua, ".....!!!".
Mei Feng, "Apa!!??".
Mei Hua dan Mei Feng terkejut, keduanya menoleh dan saling menatap, sepasang mata besar dan kecil seketika bertemu.
Ada ketidakpercayaan yang sama dimata keduanya.
Mereka berdua tidak bisa mempercayainya, karena...
Ada orang lain!, di Lembah QianCheng mereka!.
-----•°•-----•°•-----•°•-----
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Tolong tekan Like, terimakasih
(〃∀〃)ゞ💙🌺🍀