
...-----+-----+-----+-----...
Dipagi hari yang cerah Mei Hua berjalan ke luar rumah bambunya sambil meregangkan pinggangnya.
Menatap langit biru dan awan putih di angkasa, Mei Hua mendesah puas. Di ruang spiritual hanya ada malam hari dan tidak ada pagi, siang dan sore, jadi ketika Mei Hua keluar dan melihat langit pagi yang cerah dan berawan hatinya menjadi hangat dan nyaman.
Setelah memberikan minum air Ambrosia pada Xiao Chui dan Xiao Fei, Mei Hua bersiap pergi ke halaman belakang rumahnya untuk memulai kehidupan pertanian.
"Aku ingin menanam sayuran, buah-buahan dan beberapa bunga mawar untuk hiasan".
Banyak ide bermunculan di kepalanya, Mei Hua tidak sabar ingin melakukan semuanya. Hatinya juga diam-diam penasaran, dia sangat ingin tau sudah sampai level mana kekuatan atribut kayunya telah meningkat.
"Pertama-tama aku harus menyekop tanah dulu".
Dengan pacul di tangannya, Mei Hua bersorak riang, "Ayo kita mulai bercocok tanam!!!".
Sementara itu disisi lain.
Xiao Fei berlari sekuat tenaga melewati padang rumput yang lebat, seperti sekelebat angin, langkah kakinya begitu cepat hingga tidak bisa dikejar oleh tatapan mata setajam Elang sekalipun.
Ada sedikit kepanikan dimatanya yang polos, dan juga keraguan yang samar. Namun, meskipun begitu dia tetap tidak gentar dan ragu, dia terus bergerak maju.
Tidak butuh waktu lama dia pun sampai ditempat yang dia kenal. Xiao Fei berhenti sejenak dan menyapa Pohon Willow Xiao Chui yang sedang asyik berjemur dibawah cahaya Matahari.
"Oh?, ini Xiao Feifei. Mengapa kamu terlihat sangat tergesa-gesa?".
"Kiikk---!!".
"Oh?, hal darurat?. Memangnya apa yang terjadi?".
"Kikk---kikk--!!".
"Oh, oke. Kalau begitu cepatlah dan segera temui Hua'er. Dia ada di rumah bambunya".
"Kiikk---!!", Xiao Fei mengucapkan terimakasih dengan tulus, setelah itu dia berbalik dan berjalan ke arah selatan hutan.
...-----+-----+-----+-----...
Di rumah bambu, Mei Hua menarik nafas puas melihat hasil kerja kerasnya.
Ladang sayur-sayuran seperti kubis, tomat, cabai, dan terong diatur berjajar rapih di setiap sudut. Mereka semua sudah tumbuh tinggi, hanya saja masih belum berbuah, namun itu hanya masalah waktu untuk mereka berbuah.
Di pagar halaman yang terbuat dari bambu, tanaman mawar rambat berwarna merah muda menjalar luas kesegala arah. Mulai dari atap rumah bambu, pilar rumah, dan pintu halaman, tidak ada yang tidak tertutup tanaman mawar merambat.
Perlahan rumah bambu yang semula terlihat segar dan elegan menjadi lebih cerah, semarak, dan berwarna, hampir terlihat seperti rumah Peri dari negeri dongeng.
Mei Hua menggosok hidungnya dengan canggung, "Hm... Aku tidak menghiasinya berlebihan kan?".
Karena dia sendiri adalah Roh pohon, estetika Mei Hua perlahan juga berubah. Entah mengapa hatinya selalu berhasrat untuk hidup lebih dekat dengan alam. Setiap sudut rumah tanpa tanaman akan terlihat sangat menjengkelkan dimatanya. Jika bisa Mei Hua bahkan sangat ingin mengubah padang rumput di hutan ini menjadi ladang bunga dan sayur.
"Mungkin karena aku hidup di akhir dunia dan jarang melihat tanaman, aku jadi jatuh cinta ketika melihat mereka".
Memang di akhir dunia menemukan tanaman yang 'normal' itu adalah hal yang sangat mustahil. Karena rata-rata semua tumbuhan sudah bermutasi dan menjadi Monster yang tidak kalah mengerikan dari Zombie.
Berkat atribut kayunya, Mei Hua tidak terlalu takut dengan tanaman mutan tersebut, namun karena ingin aman dia memilih untuk berputar jalan ketika berjumpa dengan mereka.
Dak---dak---dakk---
Suara langkah tapal kaki yang berat terdengar dari kejauhan, Mei Hua menoleh kebelakang dengan heran.
"Huh?, apa..."
"Kiikk---!!!". Dengan lompatan Xiao Fei mendarat dengan sempurna di depan Mei Hua.
"Xiao Fei?".
Hati Mei Hua terkejut sejenak sebelum kembali tenang. Dia tersenyum menatap wajah panik Xiao Fei dengan tanda tanya dimatanya.
"Ada apa?, kenapa kamu terlihat cemas seperti itu?, apa kamu bertemu dengan binatang buas dijalan?".
"Kiikk--!!", Tidak seperti Xiao Chui yang bisa berbicara dengan jelas, Xiao Fei masih belum membangkitkan kesadaran spiritualnya. Karena itulah dia masih belum bisa berkomunikasi dengan normal. Tapi meskipun begitu Xiao Fei sangat pintar karena dia bisa mengerti apapun yang diucapkan Mei Hua.
Mei Hua tidak bisa mengerti dengan jelas informasi apa yang ingin disampaikan Xiao Fei. Namun, menilai dari suara ringkikkan yang cemas dan gestur tubuh yang defensif, Mei Hua bisa mengetahui sesuatu yang tidak terlalu baik telah terjadi.
"Kikk--!!", Xiao Fei dengan tidak sabar menggigit lengan baju Mei Hua yang panjang dan lebar.
Mei Hua bertanya dengan ragu, "Kamu ingin menunjukan sesuatu padaku?, ingin aku mengikutimu ke suatu tempat?".
"Kiikk--!!!". Kepala Rusa dengan bulu coklat dan tanduk perak mengangguk dengan mantab.
Mei Hua melemparkan pacul ditangannya dengan asal-asalan, dia mengangguk, "Oke, tunjukkan jalannya".
Xiao Fei berputar-putar di tempat sebelum berhenti tepat disamping Mei Hua. Dia lalu menunduk dengan anggun, memperlihatkan seluruh punggungnya kepada Mei Hua.
"Kamu menawarkan tumpangan?".
"Kiikk--!!".
"Kalau begitu aku tidak bisa menolak". Mei Hua menyeringai, dia tidak ragu-ragu dan duduk dengan mantap di punggung Xiao Fei.
Dengan begitu seekor Rusa dan manusia dipunggungnya bergerak mulus menjelajahi hutan hijau rimbun yang luas.
...-----+-----+-----+-----...
Di petak rumput yang subur, sebuah tubuh bersimbah darah terlihat terdampar disana.
Semenjak dia pindah ke dunia ini, baru kali ini Mei Hua mencium bau darah lagi.
Baunya masih sama seperti diingatannya, pahit, astrigen, dan busuk.
Sebagai salah satu dari manusia yang telah mendapat pembaptisan di hari akhir, Mei Hua tentunya tidak akan takut melihat darah. Melihat lautan darah, taman tulang-belulang dan gunung mayat adalah hal yang biasa di akhir dunia.
Mei Hua tidak takut dengan darah tapi hanya merasa jijik. Dia jijik karena tidak suka dengan bau darah dan menganggap mereka kotor.
Biasanya sepulang dari misi hal pertama yang akan dia lakukan adalah mandi untuk membersihkan tubuhnya secara menyeluruh. Untuk menjaga kebersihan tubuhnya Mei Hua bahkan rela membuang-buang pasokan air yang sudah dia kumpulkan berbulan-bulan.
Xiao Fei berhenti berjalan, dengan hati-hati dia menundukkan punggungnya sehingga Mei Hua bisa turun dengan mudah.
Menepuk pelan kepala Rusa, Mei Hua memujinya dengan murah hati.
"Kerja bagus. Kamu telah menemukan mayat yang hampir membusuk di hutan. Ayo kita cari tempat untuk membuangnya, jangan sampai mayat ini menodai hutan ini".
Mei Hua menahan rasa jijik dan mualnya, dia memaksakan diri berjalan kearah seonggok mayat yang terkapar di rumput.
Dia menunduk dan menyamakan ketinggiannya dengan mayat, Mei Hua menyipitkan matanya.
Seonggok mayat tersebut ternyata adalah anak kecil. Anak kecil itu memiliki wajah yang kotor, rambut hitam yang acak-acakan, dan baju yang penuh compang-camping.
Menarik sedikit kain ditubuhnya, Mei Hua terkejut ketika melihat banyak luka yang menutupi tubuh kecilnya.
"Luka goresan pedang, cambuk, tusukan jarum, dan beberapa luka bakar...", sebagai seorang penyembuh, mendiagonis luka adalah hal yang mudah bagi Mei Hua. Dalam waktu beberapa detik dia sudah mengetahui secara detail cedera dan luka apa saja yang diderita mayat itu.
"Bibirnya berwarna ungu-kebiruan, sepertinya dia diracuni. Luka anak panah ini cukup dalam dan hampir mengenai organ vital, dan kaki kiri yang patah jika tidak segera diobati mungkin akan membuatnya menjadi cacat seumur hidupnya.
"Anak ini pasti hidup dengan sangat menderita semasa hidupnya. Kematian memang obat dan jalan keluar terbaik untuknya". Tidak ada kesedihan dan simpati di hati Mei Hua, tapi tangannya yang menyentuh mayat sedikit bergetar.
Mei Hua tidak bodoh. Dia tau jika semua luka ditubuh anak kecil itu diperoleh karena siksaan dan pelecehan. Untuk seorang anak yang bisa menanggung semua itu, Mei Hua hanya bisa mendesah tak berdaya.
"Oh, anak yang malang. Aku turut berduka cita untuk kematianmu".
"Anggaplah ini sisa terakhir dari sisi kemanusiaan ku".
Mei Hua berubah pikiran. Dia tidak jadi membuang mayat anak kecil ini, melainkan dia akan mencari tempat yang tenang dan damai untuk menguburkannya dengan layak.
Baru saja Mei Hua ingin mengangkat mayat anak kecil ditanah, dia langsung dikejutkan dengan suara batuk yang tiba-tiba pecah.
"Uhuk--!!, uhuuk--!!".
"Ahh!!", Mei Hua berteriak dengan ngeri, dia melompat kebelakang karena syok.
"Apa-apaan...", dengan mata biru yang terbuka lebar, Mei Hua menatap mayat yang berkedut di depannya dengan tatapan tidak percaya.
Dengan matanya sendiri dia bisa melihat dada mayat itu bergerak naik-turun dengan cepat, uap putih keluar dari lubang hidungnya, dan bibirnya yang pecah dan berdarah mengeluarkan erangan kesakitan.
Rupanya mayat ini masih memiliki sedikit nafas yang tersisa....
"Sial!, dia belum mati!?, meskipun tubuhnya penuh luka dan sedang sekarat?!!".
Jika dia belum mati maka jalan ceritanya akan berbeda. Jadi apakah aku harus menyelamatkannya?.
"Xiao Fei, jangan katakan padaku kamu membawaku kesini untuk menyelamatkan mayat---tidak, anak ini?".
"Kiik--!!", Xiao Fei mengedibkan kedua mata almond nya yang besar, wajahnya masih tampak sepolos biasanya.
"Oh, menyebalkan", Mei Hua menepuk dahinya dan meratap dengan gusar.
Mata birunya menatap Rusa dengan wajah tidak bersalah lalu bergeser pada anak kecil setengah mati di tanah. Tiba-tiba pusing menghampiri kepalanya, Mei Hua mengerang pahit.
"Aghhh...Xiao Fei, jangan menatapku seperti itu. Aku berjanji akan menyelamatkan nya". Menepuk-nepuk kepala Rusa, Mei Hua memaksakan diri untuk tersenyum.
Dia ingin mengangkat anak kecil itu, tapi ketika tangan Mei Hua baru saja menyentuhnya, sengatan panas tiba-tiba menyerang tubuhnya, membuatnya terkesima ditempat.
"Apaa--!!?", Sengatan itu menghilang di detik berikutnya, yang tersisa hanya mati rasa di jari-jari tangannya.
Mei Hua menatap tangannya yang masih bergetar-getar dengan tatapan kosong. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sebenarnya baru saja terjadi?.
Menunduk dan menatap anak kecil ditanah, mata Mei Hua lalu tertarik pada pemandangan aneh yang dia lihat.
"Apa itu?".
Di atas kepala anak kecil itu tiba-tiba muncul sebuah tulisan.
Tulisan itu terdiri dari empat baris kalimat yang berbunyi...
Nama: Mo Xuan
Identitas: Penjahat
Love: 0%
Black: 0%
...-----+-----+-----+-----...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
A-Xuan sudah muncul. Tapi Mei Hua sepertinya agak ragu-ragu ingin menyelamatkan nya.
(´∧ω∧`*) 💙🌼🌸