
...-----+-----+-----+-----...
"Saudaraku, aku sangat lapar..."
"Yingying, bertahanlah sebentar yah, tunggu, Saudara pasti akan menemukan makanan!".
"Uwwuuuu...."
Gadis kecil yang kurus dan lemah dalam dekapan remaja itu mengeluh pelan, dia kesakitan, kelelahan, dan kelaparan. Wajahnya yang kuyu sangat pucat, pipinya tirus, dan warna darah perlahan-lahan memudar dari kelopak bibirnya.
Mereka adalah sepasang Saudara kembar laki-laki dan perempuan. Mereka merupakan salah satu dari banyaknya pengungsi yang tinggal tidak jauh dari lembah Qiancheng. Setelah sekian lama mengikuti para pengungsi lain, mereka pun memisahkan diri dan bergerak sendiri kearah lain.
Saat ini mereka sedang beristirahat sejenak di pinggir hutan untuk memulihkan tenaga dan mencari makanan.
Ini sudah hampir seminggu lebih, mereka belum memakan sesuatu yang layak sebagai makanan. Mungkin beberapa waktu yang lalu mereka masih bisa memakan roti kukus yang enak dan harum, namun sekarang tidak lagi.
Setiap hari, untuk menyambung hidup dan nafas mereka terpaksa harus memakan akar pohon, rumput, tanah dan bahkan sampai memakan bangkai binatang yang mereka jumpai dijalan.
Sang Kakak memiliki raut wajah panik dan bingung, menatap sekelilingnya dia hanya bisa melihat pepohonan yang tinggi dan rimbun, daun-daun maple merah yang berguguran dan rumput kering.
Masih belum ada satu pun yang layak dijadikan makanan olehnya dan adiknya.
Yan Chen tidak putus asa, sambil mengubah posisi dan meletakkan adiknya di punggungnya, dia menatap ke satu arah.
Tepatnya itu adalah arah memasuki sebuah hutan.
Yang Chen ingat, sewaktu dia berjalan melewati pasar dia sempat mendengar beberapa gosip dari salah satu kedai teh.
Beberapa orang terlihat sedang bercerita, mereka bercerita tentang sebuah lembah yang letaknya tersembunyi dalam kabut.
Lembah itu dikatakan menjadi tempat dimana seseorang bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar. Orang-orang di desa sekitar menyebutnya sebagai hutan atau lembah terlarang yang tidak boleh dimasuki.
Orang-orang menganggap hutan dan lembah itu sebagai tempat terlarang karena mereka percaya jika ada monster ganas yang menjaga tersebut.
Dikatakan Monster itu terlihat berperangai kejam seperti binatang iblis. Dengan tubuh yang besar, dua gigi runcing yang menghiasi sisi mulutnya, mata semerah darah, tanduk ganda yang mencuat diatas kepalanya, dan cakar tajam yang bisa menghancurkan manusia dalam sekali cabikan. Penampilannya secara keseluruhan terlihat sangat mengerikan, begitu aneh dan tak tertahankan, sampai-sampai dapat membuat bahkan seorang Kultivator menggigil ketakutan.
Dulu banyak orang yang mencoba memasuki lembah tersebut untuk mencari beberapa keuntungan, namun satu-persatu dari mereka yang masuk tidak pernah kembali, bahkan jika ada yang kembali itu hanya sepotong sisa daging dan tulang-belulang.
Yan Chen menunduk, dalam diam dia berpikir.
Apa lebih baik aku masuk?. Ku dengar ada banyak hewan dan tanaman spiritual yang langka di dalam hutan itu. Juga, dikatakan ada beberapa bahan tanaman obat yang jika dijual akan menghasilkan uang yang banyak.
Jika saja, dia bisa mendapat satu bahan herbal lalu menjualnya, maka dia dan Saudarinya bisa memakan sesuatu yang layak hari ini hingga esok seterusnya.
Semangat tekad dan pantang menyerah tiba-tiba bangkit dalam hati Yan Chen. Seperti nyala api, membakar darahnya hingga mendidih.
Dia berpikir, dia tidak perlu takut. Karena jika memang hutan dan lembah itu berbahaya bukankah seharusnya tidak akan ada yang berani memasukinya?. Lantas, mengapa orang yang waktu itu berani memasukinya?.
Yan Chen ingat, beberapa hari yang lalu sewaktu mereka baru tiba ditempat ini, ketika dia dan adiknya sedang mengikuti rombongan pengungsi, mereka bertemu dengan sosok berjubah putih yang misterius.
Dalam balutan jubah putihnya yang panjang sosoknya tidak terlihat jelas, namun perangainya cukup tinggi, alami, anggun, dan juga elegan. Samar-samar bisa terlihat kulitnya yang putih dan menyilaukan, dan ketika angin berhembus terkadang beberapa helai rambut merah muda perak berayun dan jatuh dengan lembut di pundaknya.
Yan Chen yakin jika orang berjubah putih itu bukan orang biasa. Atau lebih tepatnya dia bukan manusia biasa seperti mereka yang fana dan lemah.
Tapi yang jelas orang berjubah putih itu pasti orang baik, karena jika tidak dia tidak akan meninggalkan sekantong besar penuh berisi makanan di tengah-tengah kerumunan pengungsi banyak.
Kantong besar itu berisi beberapa potong roti kukus. Yan Chen beruntung bisa mendapat dua bagian untuknya dan adiknya.
Dalam ingatan Yan Chen, Roti kukus yang lembut, harum dan lezat itu mungkin adalah makanan layak yang pertama kali dia dan adiknya makan setelah mengungsi ke sini.
Semua itu berkat orang itu, orang berjubah putih yang misterius.
Terakhir kali Yan Chen melihat sosoknya adalah disini, tepat diluar area hutan. Yan Chen melihat dengan mata kepalanya sendiri ketik orang berjubah putih itu memasuki hutan lalu menghilang dibalik rimbunan bayangan pohon.
Sosoknya, selulit punggungnya, dan aroma harum persik yang menguar dari tubuhnya masih terpatri dengan jelas diingatan Yan Chen, bahkan hingga saat ini.
"Kalau begitu aku akan masuk, jika orang berjubah putih itu bahkan sampai memasukinya, itu berarti hutan itu tidak terlalu berbahaya kan?".
Seharusnya kan?.
Yan Chen tidak tau, dan tidak mengerti, tapi yang jelas dia tidak boleh ragu-ragu. Demi adiknya dan untuk bertahan hidup melawan bencana alam, perang, dan kelaparan, dia harus bisa mengambil resiko dan menjadi berani.
"Yingying, apa kamu mendengar Saudara?".
"Umn... Yaa...", Yan Ying dengan susah payah membuka kelopak matanya. Matanya yang hitam, bulat dan besar menatap Saudaranya dengan tatapan lesu.
"Kita akan memasuki hutan itu, segera kita akan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Juga jika kita beruntung, kita dapat memetik herbal langka dan menjualnya!, bagaimana menurutmu Yingying?".
"B-Benarkah...?", Mendengar kata 'makan', secercah harapan muncul di mata gadis kecil itu.
"Ya!, Yingying ingin makan apa?, nanti akan saudara belikan apapun yang Yingying mau!".
"Begitu...jika kita bisa mendapat uang, Yingying ingin roti kukus seperti hari itu, rasanya sangat enak..."
"Hehehehe... Roti, roti kukus...".
Sepasang Saudara dan Saudari kembar itu sejenak melupakan rasa lapar dan takut yang mereka rasakan. Keduanya kini sedang memikirkan masa depan tanpa batas yang penuh dengan rintangan dan ketidaktahuan yang menunggu setiap langkah mereka.
Apakah masa depan mereka cerah atau suram?, hidup atau mati?, siapa yang tau kan?.
...-----+-----+-----+-----...
"Shifu!, Shifu!, kapan kita akan sampai?".
"...Itu akan segera sampai. Ah, duduklah dengan benar nak".
Kultivator wanita berjubah putih dengan lembut mengingatkan murid kecilnya yang terlalu bersemangat. Jangan sampai gerakan berlebihan dari Muridnya akan membuat mereka jatuh dari punggung bangau yang mereka naiki. Itu tidak akan terlihat elegan.
Murid kecil dengan gaun merah muda terkikik geli, dia berhenti bergerak dan memeluk lengan baju Tuannya dengan manja.
"Shifu, bagaimana dengan Saudara kedua?".
Wanita berjubah putih, Lan Mian, dengan sepenuh hati menjelaskan pada muridnya.
"Saudara keduamu pergi lebih awal daripada kita, sekarang mungkin dia sudah sampai disana lebih dulu".
Si murid kecil, Fang Yuli, mengangguk paham. Ornamen Giok dikepalanya sedikit berdentingan mengikuti setiap gerakannya.
"Shifu..."
"Ya".
"Lembah Qiancheng, itu tempat seperti apa?".
Lan Mian terdiam, dia mengendalikan bangau perak yang dia kendarai sambil menjawab.
"Lembah Qiancheng, itu adalah sepotong keajaiban ditengah-tengah alam fana".
"Orang-orang dari Paviliun Chuhua berkata, jika Lembah Qiancheng memiliki aura magis dan aura spiritual yang sangat tinggi. Entah itu Monster, siluman, maupun tumbuhan mutan, mereka semua dapat lahir dan tumbuh dengan sangat baik disana".
"Rumornya baru-baru ini dikatakan ada beberapa orang hilang, dan orang-orang yang hilang itu adalah Kultivator tahap Jindan yang mencoba mencari peruntungan disana".
"Jadi Shifu, apa tempat itu sangat berbahaya?".
"Entahlah, aku juga tidak yakin. Yang jelas, sesuatu yang bersembunyi dalam kegelapan dan mengintai dalam diam itulah yang paling berbahaya".
Mata perak Kultivator berjubah putih itu mendingin. Dengan emosi yang sulit dimengerti dia menunduk, menatap sebuah hutan lebat dan rimbun dari balik gumpalan awan putih.
...-----+-----+-----+-----...
Duduk diatas tumpukan tengkorak dan tulang-belulang manusia, pria itu bernyanyi menyenandungkan sebuah lagu.
Sebuah senyum ditarik dari bibirnya yang hitam. Mata sehitam obsidian berputar dan jatuh pada bendera hitam dengan pola array kutukan dan kematian diatas kainnya.
"Sedikit lagi, ritual segera akan dapat dimulai".
"Mangsa-mangsa ku sudah berkumpul di satu tempat, ini sudah saatnya memanen nyawa hehehe..."
Pria itu berdiri, jubah hitamnya yang panjang terseret ke tanah ketika dia berjalan. Selangkah demi selangkah dia turun dari tumpukan tengkorak, hingga akhirnya dia tiba didepan bendera.
"Sayang sekali, aku tidak bisa menemukan wadah yang bagus untukmu".
"Tapi tidak apa-apa, itu bukan masalah besar".
"Ngomong-ngomong aku menemukan sesuatu yang menarik baru-baru ini. Dari arah yang berlawanan aku bisa merasakan keberadaan roh yang sangat istimewa..."
"Roh itu terlihat baru saja terbangun, itu terasa dari betapa lemahnya dia. Namun meskipun lemah aku begitu masih bisa merasakannya, roh itu pasti telihat bagus dan indah..."
"Oh, aku bahkan samar-samar bisa mencium aroma nya yang memabukkan".
Pria itu mengelus dagunya sambil berpikir. "Jika tebakanku tidak salah, seharusnya itu berbau seperti..."
"....seperti aroma bunga persik?".
Menatap langit-langit gua yang hitam, gelap, dan suram, pria itu tiba-tiba tersenyum lalu tertawa.
"Hahahahaha---!!!. Ini sangat menyenangkan!!!, hahahaha--!!!".
Tawanya yang gila, jahat, dan mengerikan bergema didalam gua itu. Frekuensi suara tawanya sangat tinggi sampai-sampai membuat kelelawar yang bergelantungan di tebing terkejut hingga terbangun. Semua kelelawar merasakan aura berbahaya dari pria berjubah hitam, dalam kepanikan mereka membuka sayab dan terbang mengitari gua yang sempit dan gelap, berusaha mencari jalan keluar.
Bendera hitam yang tertancap diatas satu-satunya tengkorak berwarna merah ikut bergetar, mengekspresikan perasaan gembira dan gila yang sama juga.
...-----+-----+-----+------...
Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Beberapa karakter baru akan muncul (^_^♪)🍁🌻💛