
“Sebaiknya, aku obati sekarang lukanya sebelum infeksi.” Dengan perlahan jari-jariku mengusap lembut dahi dengan kapas yang sudah dibasahi alcohol. Membuang darah kering yang menempel di sana. Kemudian meneteskan povidon iodine dan setelah setengah kering menutupnya dengan plester khusus luka.
“Berantakan sekali.” Kulihat sekeliling kamarku penuh dengan kardus beserakan, tidak tersusun rapih menjadi satu tumpukan.
Aku menumpuk kardus yang sudah berisi barang-barang yang akan disumbangkan ke panti asuhan esok hari.
“Huft.” Mengelap keringat. “Akhirnya selesai juga.” Mataku terhenti pada sebuah kotak hitam berantena. Media informasi zaman dulu sebelum ada Tv.
“Radio ini, masih bisa dipakai tidak, ya?” Aku mencoba menyalakan radio tua pemberian Samantha di hari ulang tahunku, belasan tahun yang lalu.
Terdengar sebuah lagu dari speakernya saat kusentuh tombol On.
🎶 Dulu kita sahabat, teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu - kupu
Kini kita berjalan berjauh - jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu - kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na
Dulu kita sahabat, teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu - kupu
Kini kita berjalan berjauh - jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu - kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Kepompong 🎶
“Ternyata masih bagus suaranya.” Aku membiarkan frekuensi itu terus menyala. “Tidak kusangka, radio ini masih berfungsi dengan baik. Aku kira rusak, karena sudah lama tidak dipakai.”
“Hai-hai, balik lagi sama kita Si Kembar Arsu dan Azizah,” suara perempuan menyapa pendengarnya setelah back song habis.
“Baiklah tema kita malam ini, sahabat. Bosan juga, ya? Kemarin bahas cinta-cintaan terus. Dari mulai cinta bertepuk sebelah tangan, bagaimana tepuk tangan coba kalau cuma ada satu tangannya ha-ha-ha,” suara pria maskulin menyahuti rekan siarannya.
“Iya benar. Sampai ada cinta monyet, ya? Untung enggak jadi monyet beneran,” jawab Azizah, pemilik suara seksi.
“Masih ditunggu nih pesan sahabatnya, kirim ke nomor whatsapp 08123-321-123.” Arsu memberikan nomor hp yang bisa dihubungi selama acara mereka berlangsung. “Bahasa gaul zaman now juga sekarang banyak banget loh, seperti BAPER bawa perasaan,” lanjut Arsu.
“Ada lagi KOPER korban perasaan, hahaha,” balas Azizah.
“Nah yang ini perlu dihindari gaes BAGASI bahagia kagak, sedih iya, ha-ha-ha,” suara duo Announcer sebuah radio swasta membuatku tertawa.
Aku pun menulis sebuah pesan untuk dua penyiar kembar, “Salam kenal Arsu dan Azizah, saya Hoshiko. Senang sekali mendengar siaran kalian, akan lebih senang lagi kalau kalian bisa mempertemukanku dengan seorang yang sangat kurindukan. Samantha, sahabatku yang menghilang. Kami terpisah belasan tahun karena saya pindah negara. Semoga dengan acara ini kami bisa bersama lagi. Kalau tidak keberatan tolong putarkan lagu Heaven DJ. Sammy. Saya harap dengan lagu ini Samantha tahu kalau saya sedang mencarinya, karena ini lagu kenangan kami berdua semasa sekolah dulu.” Pesan terkirim.
“Buat kalian yang ingin curhat, berbagi info dan pengalaman atau mencari sahabat pena yang hilang karena kantor pos tutup tapi enggak tahu nomor whatsappnya bisa kirim pesan ke kita 08123-321-123. Siapa tahu di luaran sana temanmu atau saudaranya sedang mendengarkan radio ini terus kalian bisa ketemuan lagi deh.”
“Jangan sampai baper bawa koper terus masuk bagasi, ya ... hehehe.” Arsu menanggapi Azizah.
“Ada pesan yang membuat kami tertarik, akan dibacakan setelah lagu yang berikut ini.”
🎶 Oh - thinkin' about all our younger years.
There was only you and me.
We were young and wild and free 🎶
Lagu diputar pelan.
🎶 Now nothin' can take you away from me.
We've been down that road before.
But that's over now.
You keep me comin' back for more 🎶
“Sebuah lagu indah dari Dj. Sammy berjudul Heaven special untuk Samantha.”
“Dear Samantha, Hoshiko looking for you ...,” bisik Azizah mesra.
🎶 Baby you're all that I want.
When you're lyin' here in my arms.
I'm findin' it hard to believe.
We're in heaven.
And love is all that I need.
And I found it there in your heart.
It isn't too hard to see.
We're in heaven 🎶
***
“Hoshiko?”
“Samantha?”
Kami berpelukan. Samantha terlihat sangat cantik dan menawan. Kulitnya bersinar seperti bertabur berlian berkilauan.
“Kau ke mana saja, Sam?” Aku memeluknya erat, tak ingin melepaskannya.
“Salah, harusnya aku yang bertanya begitu padamu.” Samantha tersenyum padaku. Senyuman manis di wajahnya menyejukkan hatiku.
“Kau, apa kabarnya, di mana sekarang?”
“Alhamdulillah, baik. Aku di tempat yang paling kurindukan.”
“Tempat apa itu?”
“Surga.”
“Benarkah?”
“Ya, apa kau lihat ini?” Samantha menunjukkan kedua sayapnya.
“Tidak mungkin! Kau memiliki sepasang sayap?”
“Kau pun bisa.” Samantha mengepakkan sayapnya, ia bersiap terbang.
“Bagaimana caranya?”
“Berusahalah menjadi wanita soleha dan tetap baik ke semua orang dengan memaafkan semua kesalahan dan kejahatannya padamu.”
“Sam, tunggu! Jangan pergi!” Aku berusaha meraih kakinya.
“Kau tak bisa ikut denganku. Waktumu belum tiba! Hoshiko sahabatku, masih panjang petualanganmu di dunia dan perbanyaklah ibadah.”
Samantha menghilang di tengah cahaya yang menyilaukan mata. Aku terbangun. Ternyata tadi bermimpi bertemu dengannya. Mungkin aku sangat merindukannya, sehingga ia hadir dalam mimpiku. Mimpi indah yang penuh makna. Semoga sebuah petunjuk yang menuntunku ke jalan kebaikan.
Hari ini mentari pagi bersinar sangat indah. Kurasakan hangat sinarnya menyapa kulitku. Rona berhasil menembus jendela, masuk ke kamarku dan meninggalkan jejak tujuh warnanya di dinding. Ia melukis pelangi di sana. Konon katanya pelangi adalah media penghubung antara langit dan bumi. Tempat diturunkannya para Bidadari surga yang ingin merasakan sejuknya air mata langit yang telah berkumpul di bumi menjadi sungai sebelum akhirnya bersatu di laut.
Mungkin ini isyarat yang ditunjukkan Allah padaku. Sebuah pertanda bahwa aku akan menemukan seorang bidadari surga dari masa laluku. Bidadari yang -membuatku kuat- melanjutkan kehidupan yang sangat pahit -salah satu alasan untuk tetap hidup- dengan semua ujian-Nya yang semakin berat dan -sudah menjadi takdirku-